
Mereka mulai.menjalankan van dan terus melaju di jalan yang mengarahkan mereka menuju ke arah luar kota.
"Sepi, sangat sepi." Gumam Hudson curiga.
"Apakah kita lebih baik bergerak dengan cepat?" Leon bertanya ragu-ragu.
"Jangan terlalu cepat, kita harus berhati-hati." Jawab Hudson waspada.
"Blarrrr"
Ban Mobil mereka meledak, membuat van oleng dan mereka kehilangan keseimbangan di tingkungan jalan. Van terjatuh di sisi kanan, semua yang ada dalam van menghantam sisi kanan badan van.
Van terseret beberap meter di sepanjang bahu jalan. Berbenturan dengan aspal dalam keadaan cukup cepat, memicu timbulnya gesekan api, dan kaca van pecah.
Beruntung Peter tidak secepat Leon, selain karena matanya yang mulai rabun, dia juga memilih untuk mejaga anak dan istrinya. Peter cukup terkejut ketika melihat van didepan mereka terjatuh.
Van itu berhenti dan mengeluarkan asap, semua di dalamnya terluka. Win Xie pingsan karena menghantam kursi di dalam van ketika jatuh.
Meghan terluka di pelipis kirinya, sedangkan Micha merasakan kakinya tertusuk pecahan kaca. Wolly mengerang kesakitan, kakinya terhimpit jerigen minyak dan tangannya tertancap pecahan kaca yang banyak.
Leon berlumuran darah karena kepalanya menghantam kemudi, dia pingsan tak sadarkan diri. Hudson lebih parah, dia membentur kaca jendela, luka di wajahnya cukup banyak, dan dia juga merasakan kakinya sakit luar biasa.
Hudson berusaha menyadarkan Leon, karena hanya dari posisi Leon lah mereka bisa keluar.
"Leon, bangun. Kita harus keluar. Van ini bisa saja meledak jika kita terlambat." Ujar Hudson berusaha membangunkan Leon.
Tidak ada gerakan, tapi Leon masih bernafas.
Tiba-tiba pintu di samping Leon terbuka. Seorang pria memakai topeng menarik Leon dari kursi kemudi dan mengaitkan tali ke pinggang celana Leon.
Ketika Leon dikeluarkan, Dia juga berusaha menarik Hudson keluar. Saat Hudson diluar, dia melihat semua yang lain telah disandarkan di sisi jalan. Semua terluka dan merintih kesakitan. Leon belum sadar, Win Xie juga.
"Siapa kalian?" Ujar Hudson kepada Pria itu.
"Kami memerlukan makanan dan pakaian." Jawabnya singkat.
"Apa yang kalian lakukan, dasar gila." Jawab Hudson.
Dia melihat Peter dan istrinya juga diseret keluar dari van mereka. Putra mereka juga dilempar keluar van.
Sejumlah pria muda dan beberapa wanita muda menggeledah van Hudson dan Peter. Semua mengenakan topeng.
"Gila, kami berusaha kabur dari zombie. Tapi malah manusia lebih gila dari zombie." Maki Hudson.
"Hey bung, kau harusnya berterimakasih karena kami mengeluarkan kalian dari van ini." pria itu terkekeh.
"Kalian memasang jebakan di jalan dan kalian bilang kami harus berterimakasih? Jika jebakan itu tidak ada, maka kami akan baik-baik saja." Geram Hudson.
"Plak"
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Hudson. Wanita berambut merah yang dari tadi mendengar ucapan Hudson langsung menampar Hudson.
"Diam." Geram wanita itu.
"Ba***** tengik." Hudason meludahkan darah di mulutnya.
"Buukkk"
Sebuah tinju mendarat di pipi Hudson, kali ini pria bertopeng itu yang melakukannya.
"Diam kau, atau aku akan membunuhmu." Jawab pria itu mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.
"Sepertinya itu pemimpin mereka." Gumam Hudson dalam hati.
Semua penjarah itu bergerak pergi dan meninggalkan mereka di pinggir jalan itu. Hudson mencoba berdiri dan mendekati van mereka. Dia merasakan sakit yang luar biasa di kakinya, setelah diperhatikan ternyata pecahan kaca cukup besar tertancap di sana.
"Tunggu, biar aku mencarikan kotak p3k di van ku, semoga mereka tidak mengambilnya." Peter mencegah Hudson berdiri.
"Cepat juga lihat di van mereka jika ada yang bisa digunakan untuk menolong anak-anak ini." Perintah Peter.
Tak lama kedua pasangan tua itu mendapatkan kotak p3k di van masing-masing. Seakan penjarah tadi tidak memerlukannya. Mereka mencabut bekas pecahan kaca di badan Hudson, Leon serta yang lainnya.
Selesai diobati dengan pertolongan pertama, Leon sudah sadar. Hanya Win Xie yang masih belum sadar, Meghan mulai cemas.
"Aku takut, trauma Win Xie membuat dia tidak sadarkan diri begini." Meghan menjelaskan
"Dia memiliki trauma?" Tanya Hudson heran.
"Ya, Win Xie kehilangan ayah dan adiknya dalam kecelakaan mobil disaat dia masih kecil. Mereka terlambat diselamatkan sehingga hanya Win Xie dan ibunya yang duduk di belakang yang bisa bertahan." Cerita Meghan.
"Dia sering bermimpi buruk sebelum bertemu Mortaq. Dan kehilangan Mortaq di depan matanya, justru memperburuk keadaan Win Xie." Lanjut Meghan lagi, karena dia selalu menemai Win Xie tidur.
"Kasihan, di depan mata kehilangan orang yang dikasih tanpa bisa melakukan apapun." Ujar Micha bersimpati.
"Baiklah, untuk sekarang kita terpaksa pindah ke van Peter. Bawa barang yang tersisa, kita harus melanjutkan perjalanan." Jawab Hudson.
Semua masuk di dalam van, sedikit sempit tapi mereka harus bertahan. Hudson memeluk tubuh Win Xie, hatinya merasakan iba ketika mendengar cerita Meghan, dia mengerti apa yang Win Xie rasakan.
---------
Bianca kekasih Hudson tidak bisa menerima dirinya terluka. Dia tidak mau makan, hanya termenung keluar jendela.
Kecelakaan itu membuat pementasan mereka gagal. Dijadwalkan ulang dengan pemeran pengganti. Hudson memilih mundur dan menemani Bianca di rumah sakit.
"Hai sayang, lihat aku membawakan bunga mawar ini untukmu." Hudson memaksakan tersenyum memasuki kamar Bianca.
Gadis itu bahkan tidak melihat ke arah Hudson. "Harusnya aku menerima itu setelah pementasan." Jawab Bianca.
"Bersabarlah, setelah pulih kita akan menari lagi." Hibur Hudson dan memeluk Bianca.
Bianca terisak dan menangis meraung-raung. Dia sadar Hudson hanya menghiburnya. Bianca telah mencari tahu apa yang terjadi pada tubuhnya. Dia tidak akan bisa menari lagi.
Hudson sendiri tidak bisa mengatakan kebenaran itu, karena dia tahu Bianca mencintai balet. Impiannya hanya balet dan apa yang terjadi jika dia tidak dapat menari lagi?
Hari-hari berlalu di rumah sakit, Bianca semakin kurus. Semangatnya tidak terlihat lagi, sedangkan Hudson lebih memilih menemani Bianca dibandingkan berlatih.
"Kenapa kamu terus menemaniku? Lebih baik terus berlatih. Jika tidak tubuhmu akan kaku." Bianca akhirnya membuka percakapan.
"Aku akan berlatih denganmu. Biarlah tubuh ini kaku, kita akan berlatih bersama dari awal lagi." Jawab Hudson lembut.
"Tidak perlu membohongiku, aku tahu keadaan tubuhku. Bgaiamanapun aku berlatih, aku tidak akan bisa menari lagi." Jawab Bianca dingin.
"Siapa yang berkata begitu kepadamu?" Tanya Hudson kaget.
"Perawat yang merawatku bercerita saat mereka memeriksaku. Mereka menyangka aku tidur, padahal aku mendengar semuanya." Bianca memalingkan mukanya ke arah jendela di sebelah kirinya.
"Sekalipun kamu tidak bisa menari, aku akan menemanimu." Jawab Hudson mantap
"Ah, sudahlah. Capailah impianmu. Jangan sampai mereka juga mengatai aku merebut impianmu." Bianca menjawab dengan ketus.