The End Of The World

The End Of The World
Rencana Terbaik



Hudson da Wolly mendapatkan beberapa senjata untuk perlindungan diri mereka. Beruntung banyak senjata jarak dekat dan jarak jauh ada di toko senjata lantai atas mall .


Hudson mengambil M 500, MP 40 serta Spas 12


Wolly lebih memilih G 18, M 1873 beserta MP 5


tak lupa mereka mengambilkan senjata untuk Leon dan Micha, persis seperti yang mereka ambil.


Hudson juga melihat ransel yang cukup kuat serta lebih besar untuk menggantikan ransel yang diambil nya dari lorong tunawisma.


"Wolly, ambil ransel ini untukmu dan lebihkan untuk Leon serta Micha. Bahan ransel ini lebih tebal dan anti air juga." Jelas Hudson.


Wolly lalu memasukkan semuanya ke dalam troli yang mereka dapatkan di bagian troli dalam mall itu.


Hudson mencoba mencari HT, disaat begini HT lebih bermanfaat dibandingkan ponsel. Apalagi mereka tidak memiliki ponsel.


Setelah merasa apa yang diperlukan telah didapatkan, Hudson dan Wolly kembali ke ruangan dimana mereka berkumpul. Tak terasa perut sudah berbunyi.


"Hei, Hudson, Wolly cepat kemari." Ujar Leon


Mereka mempercepat langkah karena mencium bau makanan.


"Lihat, Micha membuatkan pizza, ada cream soup juga." Ujar Leon gembira


"Ayo cepat dimakan." Ujar Micha


Masing-masing menggambil piring serta sendok, menikmati cream soup hangat buatan Micha sembari mengunyah Pizza lembut yang hangat.


"Ternyata kamu pintar memasak." Ujar Wolly


"Ah, hanya pengalaman bekerja di restoran saja." Ujar Micha tersenyum


"Setidaknya kita bisa menikmati makanan lezat." Ujar Leon lagi sambi tersenyum memandang Micha penuh kemesraan.


"Hei, aku mendapatkan senjata beserta peluru untuk kita." Ujar Hudson sambil mengunyah potongan pizza di mulutnya.


"Benarkah?" Tanya Leon sambil melihat ke arah troli.


"Ya, kita harus bersiap-siap, dengarkan radio terlebih dahulu. Jika seluruh kota harus dievakuasi, kita harus keluar dari mall ini." Ujar Hudson.


"Brak, Bruk, Brak Bruk." Sebuah suara mengangetkan mereka semua. Arah suara dari meja kasir.


"Astaga, pria itu. Dia yang ada di meja kasir kan?" Ujar Micha.


"Oh ya?" Tanya Leon pura-pura lupa.


"Setidaknya berikan dia minuman dan makanan, jika dia mati maka mall ini akan berbau busuk." Ujar Hudson tenang.


"Biar aku saja yang memberikan padanya." Ujar Wolly menawarkan diri.


Wolly bangkit berdiri dan berjalan menuju meja kasir sembari membawa sebotol air serta semangkuk cream soup.


"Ba*****, makan ini." Ujar Wolly mencabut sumbat mulut Prims dan meminumkan air.


Wolly melepaskan ikatan Prims lalu memasang borgol yang dia dapatkan di bagian senjata ke tangan kiri Prims dan menghubungkan dengan tiang besi besar penahan meja.


Prims menyuap cream soup itu ke mulutnya dengan cepat. Dia sangat kelaparan, dalam sekejap smuanya habis. Wolly meninggalkan Prims sendiri setelah memborgol kedua tangannya di tiang besi.


"Dia sudah menghabiskan makanannya." Ujar Wolly. " Setidaknya dia tidak akan mati sekarang."


Selesai makan mereka duduk membicarakan rencana yang akan dilakukan.


"Jika kota ini dievakuasi, kita harus cepat menuju ke tempat berkumpul." ujar Hudson


"Bahkan jika tidak, kita masih harus berusaha keluar dari kota ini."


"Kita bisa bertahan hidup disini." Ujar Micha cemas.


"Nona, jika keadaan tidak memungkinkan, pemerintah bisa saja menghancurkan kota ini." Ujar Hudson lagi


"Baiklah, kami akan mengikuti seperti katamu." Jawab Leon dan Wolly berbarengan.


-------


Mortaq menjelaskan apa yang direncanakan Daniel. Dan apa saja yang dibutuhkan Daniel.


"Gila, dimana bisa dicari zombie seperti itu" Tanya Win Xie


"Ibarat mencari jarum dalam jerami." Sahut Meghan


"Yah, untuk sekarang aku akan mencoba merekayasa virus dalam badan Megara." Ujar Daniel. "Tapi bisakah kalian terlebih dahulu melepaskan ikatan ini? "


Mortaq memandang Daniel ragu.


"Baiklah kau akan dilepaskan, tapi aku akan menguncimu di ruangan ini. Makanan dan minuman akan diantar kesini." Jawab Mortaq


"Baiklah, lalu bagaimana dengan urusan ke kamar kecil?" Tanya Daniel lagi.


"Kau bisa mengatakannya." Ujar Mortaq. "Sekarang kau bekerja saja disini." Lalu Mortaq keluar dan mengunci pintu.


"Bagaimana mungkin kamu bisa mengunci pintu itu?" Tanya Win Xie


"Aku akan tidur disini." Ujar Mortaq


"Tapi itu terlalu berbahaya." Jawab Meghan dan Win Xie bersamaan.


"Pintu ini dirancang sedemikian rupa, jadi lebih baik berjaga-jaga di depan pintu daripada tidak sama sekali. Apa kalian ingin dia keluar lagi?" Lanjut Mortaq


"Lalu apa yang akan kita lakukan? Menunggu saja atau mencari cara lain?" Tanya Win Xie.


"Coba cari siaran televisi atau apapun yang bisa membuat kita mendapatkan berita dari luar. Aku yakin pria ini menyembunyikan sesuatu." Jawab Mortaq


"Baiklah, kami akan menyusuri setiap kamar untuk melihat benda yang bisa kita gunakan." Ujar Meghan


"Tetap waspada, kecil kemungkinan dia tidak akan membahayakan kita." Sahut Win Xie mencemaskan Mortaq.


"Tenang sayang, selama ada pistol ini. Semua akan baik-baik saja." Ujar Mortaq mengangkat pistol Daniel yang dia pegang dari tadi.


------


Di dalam ruangan, Daniel mengambil beberapa cairan yang begitu bening, dia meneteskan dua tetes ke atas darah anaknya Megara.


Darah itu bereaksi dengan berubah warna menjadi hijau. Dia tersenyum senang. Kali ini dia mengambil sedikit sampel untuk dilihat di bawah mikroskop.


"Bagus, virus ini bekerja seperti yang diharapkan." Ujar Daniel tersenyum licik.


"Kalian lihat saja, aku akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa dari penemuanku ini." Ujar Daniel dengan penuh kemenangan.


"Hahahahaha, siapa yang akan tertawa belakangan nanti. Kita lihat saja." Ujar Daniel dengan penuh kebencian.


Daniel lalu membuat campuran itu dalam jumlah banyak dan menyimpannya di botol kaca. Botol itu disembunyikan di dalam kotak penyimpanan khusus yang disemen di dalam dinding.


Daniel menutupi kotak itu dengan foto keluarganya. "Aman, mereka tidak akan tahu dimana benda itu berada."


Daniel lalu mencampur lagi beberapa jenis cairan, kali ini cairan itu akan membuat siapapun yang mencium baunya, mengalami kelumpuhan sementara. Hal ini akan memudahkan Daniel untuk bebas dari Mortaq. Dia bisa melaksanakan lagi niatnya jika Mortaq bisa dia lumpuhkan.


"Tunggu saja, aku tidak bodoh seperti kau. Kau tahu? usia membuat seseorang lebih berpengalaman." Gumam Daniel sambil terkekeh-kekeh merasakan kemenangan di depan matanya.


"Kalian kira kalian siapa? Kalian meremehkan pria tua ini. Aku akan menyelematkan kekasih hatiku." Gumam Daniel lagi.


"Tidak ada yang bisa memisahkan ku dari kekasih hatiku. Terlebih virus gila yang membuat jantung hatiku seperti itu." Lanjut Daniel.


"Kalian semua akan merasakan pembalasan dari ku, rasakan penderitaanku." Geram Daniel sambil memukul meja.


M 500 Shotgun