
Win Xie kecil tidak sadarkan diri bahkan sampai bantuan datang. Ketika dia bangun, dia sudah berada si rumah sakit.
"Ibu, Ibu." Tangis Win Xie mencari ibunya.
"Tenanglah adik kecil. Ibumu sedang berisitrahat." Ujar seorang perawat yang sedang memeriksa infus Win Xie.
"Dimana ayah dan adikku?" Tanya Win Xie lagi.
Dia ingat kecelakaan yang mengerikan itu, mengingat bagaimana kondisi mengerikan ayah dan ibunya.
"Sebaiknya kamu beristirahat dulu nak. Kamu memerlukan istirahat yang cukup." Ujar perawat itu sembari menyuntikkan suatu cairan ke dalam selang infus Win Xie.
Tak lama berselang, Win Xie merasa mengantuk dan tertidur dengan cepat. Di sampingnya, Ibu Win Xie masih terlelap.
Esok Hari
Win Xie terbangun sambil berteriak "Tidaaaakkkkk" Dia membuka matanya dan air mata mengalir deras.
"Ada apa sayang?" Sebuah suara yang menenangkan Win Xie, suara ibunya.
Mei Fang ibu Win Xie duduk di kursi mengusap kepala anaknya. Ibunya memiliki perban dikepala serta ada infus di lengannya.
"Ibu, kenapa ibu diperban? Apakah ibu terluka?" Tanya Win Xie cemas. Dia tidak sadar dirinya juga terluka. "Tenang sayang, ibu hanya terluka sedikit." Ujar ibunya menenangkan Win Xie. Senyum sedih tampil di wajahnya.
"Ibu, bagaimana dengan ayah dan adik?" Tanya Win Xie lagi.
"Jangan kamu pikirkan itu, sekarang pulihkan dulu kesehatanmu." Jawab Mei Fang sambil berkaca-kaca.
Win Xie bukan anak umur 5 tahun, dia tahu ada yang tidak beres. Ibunya menghindari menjawab pertanyaannya. Dia memilih diam dan tidak lagi bertanya. "Baiklah bu, aku akan cepat sehat dan tidak akan membuat ibu khawatir" Jawab Win Xie.
"Anak baik." Jawab Mei Fang dan mengelus kepala anaknya.
-------
Beberapa hari berlalu, mereka sudah bisa keluar rumah sakit. Banyak warga desa yang datang menjenguk Win Xie dan Ibunya. Selama itu juga tidak ada satupun yang mengungkit masalah ayah dan adik Win Xie. Mereka pulang dijemput supir keluarga Won Fuk.
"Nak, kita akan pergi ke suatu tempat. Ibu harap kamu kuat melihatnya." Ujar Ibu Win Xie dengan bergetar.
"Iya ibu." Jawab Win Xie dengan tegar. Dia sudah tahu mereka akan kemana, karena sejak kejadian kecelakaan itu, ayah dan adiknya tidak pernah terlihat di rumah sakit.
Dugaan Win Xie benar, mobil mereka menuju arah kompleks makam. Dan Ibunya mulai meneteskan air mata. Win Xie menggenggam tangan ibunya.
"Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa memberitahukan kebenarannya." Ujar Ibunya.
"Ibu aku sudah tahu apa yang terjadi, aku sudah 10 tahun bu." Ujar Win Xie bergetar menahan tangisnya.
"Ibu merasa bersalah kepada ayah dan adikmu, disaat mereka terbujur kaku, ibu malah tidur di rumah sakit." Tangis ibunya pecah. Win Xie hanya bisa menggenggam erat tangan ibunya.
Mereka sampai di makam yang baru saja dibuat. tertulis nama ayah Wong Won Fuk dan adiknya Wong Win Fei. Ibu Win Xie menangis tersedu-sedu. "Maafkan aku suamiku, maafkan ibu nak. Aku adalah istri dan ibu yang memalukan. Warga desa yang mengurus pemakaman kalian. Aku hanya tertidur di rumah sakit, padahal kalian memerlukan ku." Ujar Ibunya.
"Ibu, ayah dan adik tahu bahwa kita terbaring di rumah sakit. Mereka akan lebih sedih melihat ibu menyalahkan diri." Ucap Win Xie dengan menahan tangis, suaranya bergetar.
"Ibu, kuatkan dirimu. Sekarang hanya ada kita berdua bu." Jawab Win Xie, air matanya jatuh menetes. "Lebih baik kita beri penghormatan terakhir bu." Kata Win Xie lagi. Dia membakar lilin dan mengambil dupa kemudian mengarahkan dupa itu ke api lilin. Sebatang dupa untuk dirinya dan sebatang lagi untuk ibunya.
Setelah memberikan penghormatan terakhir, Win Xie dan Ibunya keluar dari kompleks pemakaman. Sambil terisak-isak, mereka melangkahkan kaki ke arah mobil yang telah menunggu mereka.
-------
"Xie...Win Xie..." Seseorang memanggil Win Xie, dia tersadar dari lamunannya. "Mortaq" Ujar Win Xie lemah.
"Jangan takut sayang, aku disini." Sahut Mortaq sambil memeluk Win Xie dengan erat dalam dekapan dadanya yang bidang. Wangi parfum mortaq membuat Win Xie tenang.
"Hei...kalian masih bisa bermesraan disaat begini." Ujar Meghan berkacak pinggang. Meghan berusaha mencairkan suasana. Meghan kenal Win Xie, trauma masa kecil Win Xie selalu menghantuinya.
"Hmmmm...kalian sepasang kekasih?" Tanya Tammy tiba-tiba.
"Ya, sepasang kekasih yang menyembunyikan hubungannya." Ujar Meghan.
"Oh lala, pantas kalian bisa menampilkan gerak tubuh jatuh cinta dengan luar biasa." Ujar Tammy lagi.
" Ya senorita, kami memang berpacaran sekitar 7 bulan lalu." Ujar Mortaq menjawab Tammy. Dia tetap memeluk Win Xie dengan erat, merasakan gemetar badan Win Xie.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Meghan bingung "Mau keluar ada makhluk aneh itu, sedangkan kita tidak mungkin terkurung begini disini."
"Hei, coba nyalakan televisi itu." Ujar Tammy menunjuk televisi yang ada dalam ruangan.
"Meghan mencari remote televisi di dalam laci meja. dan dia menekan sebuah tombol.
"Pats" Televisi hidup dan menampilkan berita daerah.
"Terjadi kejadian aneh di Florida. Tiba-Tiba orang-orang menjadi aneh, mengigit orang yang ada disekitarnya. Darah dimana-mana." Ujar Reporter cantik di siaran langsung itu. "Keadaan tidak aman, segera kunci pintu rumah anda. Jangan bukakan bagi orang yang sudah tergigit. Mereka seperti terinfeksi dan akan mengigit yang lain." Sang Reporter berlari menyelamatkan diri dalam gedung. dan bisa dilihat zombie itu mengejar reporter itu. Beruntung mereka cepat menutup pintu gedung. Siaran berita terputus, dan hanya video rekaman sebelumnya yang diulang.
"Mengerikan, bagaimana ini bisa terjadi." Ujar Tammy bergidik ngeri.
"Hmmm..sepertinya keadaan mereka begitu kacau, apakah itu virus? bakteri? " Ujar Meghan mengernyitkan dahi melihat video yang diputar.
"Apapun itu, kita harus mencari bantuan." Ujar Mortaq mengetatkan pelukannya pada Win Xie. Membelai rambut Win Xie berusaha menenangkan gadis itu.
"Sekarang kita coba cari apa yang bisa kita gunakan dalam ruangan ini." Ujar Meghan berjalan menuju salah satu pojok ruangan. Dia mendekat ke arah sebuah lemari besar. Dia menarik pintu lemari itu dan menemukan makanan ringan serta air mineral.
"Kita beruntung. Lemari ini penuh makanan ringan dan air mineral. Cukup banyak untuk kita berempat." Ujar Meghan berseri.
"Hum..Tidak salah banyak makanan. Bukankah ini ruangan Mr Albert? Guru yang suka ngemil itu? Hebatnya dia tetap bisa menjaga berat badannya." Gerutu Tammy melangkah ke arah lemari itu.
Meghan membawakan dua botol air mineral untuk Mortaq dan Win Xie, dia juga menyerahkan 2 bungkus biskuit gandum. Mortaq mengambilnya dari Meghan. Membukakan botol mineral dan memberikan kepada Win Xie.
"Terimakasih sayang" Ujar Win Xie yang sudah lebih tenang, mengambil botol itu dan meminumnya. Mereka mengisi perut dengan makanan ringan yang mereka dapatkan. Manusia membutuhkan air dan makanan bukan? meskipun kekacauan dimana-mana, mereka tetap harus bertahan.
&&&&&&&&&&&&
(Haiii, Terimakasih bagi kalian yang sudah mau membaca cerita ini sampai chapter ini. Mohon bantuan dan dukungannya ya. silakan tekan tombol like jika kalian suka ^-^ , saya hanya pejuang baru di dunia ini. dulu sukanya membaca saja, dan terpikir tidak ada salahnya mencoba membuat cerita dengan saling menabrakkan profesi /jarang diangkat jadi cerita)