The End Of The World

The End Of The World
Pagi yang mengerikan



"Brak..Brak.."


Suara pintu dipukul membuat semua yang sedang tertidur lelap terkejut dan langsung bangun.


"Siapa yang membuat keributan?" Ujar Hudson bergegas turun ke bawah.


Dibawah, Wolly juga terkejut dan berusaha mencari asal suara. Ternyata dari pintu samping rumah itu. Wolly mengintip dari jendela dan melihat 4 zombie yang sedang berusaha merusak pintu.


"Aneh, kenapa mereka ingin masuk? Seharusnya mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu?" Ujar Hudson membandingkan dengan zombie yang dilihatnya di awal kejadian.


"Apa mungkin mereka bertambah pintar?" Tanya Wolly.


"Bisa jadi. Ada kemungkinan untuk itu." Jawab Hudson cepat sembari berbalik menuju ke atas untuk menyuruh semua orang bersiap berangkat.


"Tahan pintu itu dengan sesuatu yang berat" Hudson memberi perintah kepada Wolly sambil berlari ke lantai atas.


"Ada apa ini?" Tanya Micha dan Leon saat membuka pintu.


"Zombie, kemas barang kalian. Kita berangkat sebentar lagi." Ujar Hudson menuju kamarnya.


"Apa?" Meghan dan Win Xie cepat ke kamar dan mengemas barang mereka.


Tak lama sdmua berkumpul di pintu depan. Hudson, Wolly dan Leon bersiap dengan senjata mereka. Hudson membuka pintu utama dan melihat situasi aman. Dia lalu berlari menuju van.


Tak disangka, dari samping rumah muncul zombie yang ikut mengejar Hudson. Wolly dengan cepat menembak zombie itu.


"Dor..Dor..Dor..."


"Awas" Win Xie Berteriak. Karena tembakan Wolly meleset.


Win Xie dengan cepat mengambil pistol genggam nya dan menembak zombie itu. Tepat kena di leher zombie itu. Bersamaan muncul zombie yang lain.


Hudson segera memberi perintah. "Lari ke van, tembak mereka."


Semua mengeluarkan senjata dan menembak. Beberapa tembakan meleset. Ada tembakan yang mengenai bahu zombie, kaki bahkan badan zombie-zombie itu. Semua tembakan ini memperlambat gerakan zombie, sehingga para gadis mencapai van.


Setelah gadis-gadis itu masuk ke dalam van, Hudson menyuruh Leon dan Wolly masuk. Dia menembaki seorang zombie lagi.


Leon menghidupkan van," Hudson, cepat."


Hudson melompat masuk ke dalam mobil sesaat setelah zombie terakhir ambruk.


"Cepat, mereka bisa saja kembali bergerak. Aneh, seakan mereka berubah." Ujar Hudson menarik nafas.


------------


6 jam perjalanan mereka lalui. Sekarang mereka sedang memasuki jalur menuju batas kota. Bahan bakar mulai habis, pom bensin berjarak sekitar 4 km lagi.


"Semoga cukup sampai ke sana." Ujar Leon cemas.


"Kita bersiap-siap saja. Sepertinya wilayah ini bersih dari zombie. " Ujar Hudson setelah mereka berjalan lebih dari 1 jam, tidak terlihat zombie satupun.


Benar saja, beberapa meter kemudian mobil mulai ngadat dan berhenti total.


Semua keluar dengan tas nya masing-masing serta senjata ditangan. Mereka bergerak maju menuju ke arah pom bensin.


Perjalanan menuju pom bensin memakan waktu hampir 2 jam. Dan selama di jalan, semua sepi.


"Lihat, itu pom bensin." Ujar Micha


"Semoga masih ada manusia disana." Jawab Hudson cepat.


"Benar, dan kita bisa istirahat disana." Jawab Wolly berusaha mempercepat langkahnya.


"Dor."


Sebuah tembakan hampir mengenai Wolly.


Semuanya berhenti bergerak dan menunggu. Lalu Win Xie mengambil inisiatif dengan melambaikan tangannya, dia meangkat tangan tinggi dan melambai. Win Xie lalu mulai mendekat dan tidak ada tembakan.


"Kami manusia biasa, kami tidak terinfeksi." Ujar Win Xie.


"Bolehkah kami bersembunyi disini?" Teriak Win Xie lagi. Tak lama terlihat, pintu menuju mini market di bagian belakang pom bensin terbuka.


Mereka langsung kembali berlari dan masuk ke dalam mini market itu. Ternyata di balik jendela berdiri sepasang suami istri tua. Suaminya masih memegang senjata dan mengarahkan ke rombongan yang baru masuk.


"Kami tidak berniat jahat, Sir." Ujar Win Xie lagi. "Kami kehabisan bahan bakar dan kami melihat tempat ini untuk berlindung." Sambung Win Xie yang sepertinya dipercaya oleh pasangan tua itu.


"Kalian dari kota?" Tanya pria itu mulai menurunkan senjatanya.


"Ya, keadaan di kota kacau sekali." Ujar Win Xie.


"Kami memilih untuk kabur dari kota ini, karena zombie dimana-mana." sambung Hudson lagi.


"Apakah kami boleh berlindung disini? Sebentar lagi gelap, dan mobil kami tertinggal jauh." Tanya Win Xie dengan sopan.


"Baiklah, kalian bisa menginap disini malam ini. Tapi ingat , jika kalian berniat buruk maka aku akan membunuh kalian semua." Ancam.pria tua itu.


"Apa yang terjadi hingga ada zombie di kota ini?" Tanya wanita tua yang dari tadi memandangi semua pemuda dan pemudi dihadapannya.


"Kami juga tidak mengerti. Tiba-tiba semua menjadi kacau dan bahkan teman kami sendiri menjadi korban." Win Xie kembali teringat Mortaq, dan matanya berkaca-kaca.


"Lebih baik kalian beristirahat dulu. Aku ha


rap kalian memiliki makanan. Karena kami orang tua renta ini tidak memiliki stok makanan yang banyak." Ujar lelaki itu dengan ketus.


"Kami hanya perlu tempat menginap. Soal makanan, kami membawa stok makanan yang cukup." Ujar Hudson tegas.


"Baiklah, kalian boleh menginap di ruangan ini." Jawab wanita tua itu cepat dan menarik suaminya pergi.


"Terimakasih tuan dan nyonya." Ujar Win Xie


Setelah pasangan tua itu keluar, Mereka membuka sandwich yang masih ada di dalam ransel mereka.


"Disini cukup sepi." Ujar Hudson melihat keluar dari jendela.


"Darimana mereka tahu ada zombie? Sedangkan disini sepi sekali?" Tanya Meghan curiga.


"Mungkin mereka melihat televisi?" Jawab Micha yang telah menghabiskan sandwichnya.


"Bisa jadi, atau mereka menyimpan zombie seperti Daniel gila itu?" Meghan kembali bergidik teringat pengalaman mereka.


"Untuk berjaga-jaga, kunci semua akses masuk ke ruangan ini. " Jawab Leon setwlah berkeliling ruangan itu.


"Benar, sehingga mereka tidak akan membuat kita menjadi makanan zombie, terlepas dari benar atau tidaknya mereka memiliki zombie." Jawab Meghan cepat dan mencari benda berat penahan pintu.


"Aku akan berjaga malam ini, kalian tidak usah cemas." Hudson memilih duduk di pintu masuk sehingga Meghan mengurungkan niatnya mendorong kurai di pintu itu.


Malam semakin larut, semua tertidur karena lelah. Hanya Hudson yang masih terjaga.


"Tidak, janga..." suara Win Xie terdengar terisak.


Hudson berdiri dan melihat ke tempat Win Xie tidur, terlihat Win Xie mengigau. Air matanya membasahi wajah Win Xie, cahaya samar dari lampu di pom bensin menerangi wajah Win Xie.


Hudson sudah tahu apa yang dialami Win Xie. Ada saat dimana dia ingin memeluk Win Xie. Tapi pikiran warasnya masih memperingatkan. Setiap dia melihat Win Xie, hatinya terasa nyeri, tidak pernah dia merasakan hal itu sebelumnya.


Hudson menghapus air mata Win Xie dan


cepat bergerak kembali duduk di depan pintu. Dia takut gerakan nya akan membangunkan Win Xie. Hudson tidak sadar ada yang memperhatikan gerak geriknya malam itu.


Win Xie