The End Of The World

The End Of The World
Harapan Palsu



Peter merasakan tubuhnya kelelahan, tapi dia harus mengemudikan van itu demi istri dan anaknya.


Hudson juga cemas dengan keadaan Peter, tapi mereka harus bisa menjaga diri mereka jika ada serangan lagi. Dan Peter terlalu tua untuk berkelahi jarak dekat.


"Hei, di depan ada blokade" Peter berteriak senang.


"Ya, dan sepertinya ada tentara disana." Hudson mengintip keluar.


"Akhirnya, kita bisa dievakuasi dari kota ini" Leon bersemangat.


Perasaan bahagia menyelimuti semuanya, tapi muncul sebersit kesedihan di hati Win Xie. Mortaq mengorbankan diri untuk keselamatan mereka, dan sekarang Win Xie harus berbahagia? atau bersedih?


Win Xie murung dan merasakan gelombang kesedihan yang besar bersamaan dengan kenyataan bahwa mereka akan selamat.


"Yang berlalu tidak akan kembali. Sekarang kita harus menentukan langkah ke depan." Hudson melihat perubahan wajah Win Xie dan dia berpura-pura bicara sendiri untuk menghibur Win Xie.


"Ya, kita belum tahu bagaimana nasib kita di tempat lain." Meghan mulai merasakan sedikit kecemasan.


"Jika kalian tidak memiliki tempat, kalian boleh tinggal di rumah orang tua ku di Texas." Micha memberikan saran.


"Texas? kedengarannya cukup bagus." Leon bersemangat.


"Aku...mungkin aku akan pulang ke kampung halamanku." Win Xie ragu-ragu.


"Kenapa tidak mencoba dulu di kota lain?" Hudson memberikan saran, sedikit berharap bisa bertemu dengan Win Xie lagi.


"Ya, kita bisa mencoba di kota lain." Meghan mendukung saran Hudson.


"Aku ragu, apakah aku bisa meraih impianku lagi." Win Xie menjawab dengan bergetar.


"Sudah-sudah, kita hadapi dulu masalah di depan." Wolly menghentikan pembicaraan mereka.


Di depan terlihat beberapa orang tentara yang sedang menuju ke arah mobil mereka. Tentara itu menyuruh semua keluar dari van. Lalu semua orang diperiksa tubuhnya. Untuk yang wanita, mereka memanggil seorang dokter wanita memeriksa.


Selesai pemeriksaan, semuanya diarahkan berjalan menuju tenda kecil yang ditegakkan tidak jauh dari sebuah tenda besar dan beberapa van.


Mereka diauruh menunggu di depan tenda kecil dan satu per satu masuk ke dalam secara bergantian. Di dalam tenda terlihat seorang dokter dan perawat yang mengecek kesehatan mereka dan menyatakan bahwa mereka tidak digigit ataupun menunjukkan tanda infeksi.


Peter dan keluarganya di bawa menuju tempat terpisah setelah mereka mengetahui anak Peter memiliki gangguan kesehatan mental meskipun mereka tidak terinfeksi.


Selesai dari pemeriksaan, semuanya digiring ke tenda yang lebih besar. Di dalamnya ada tempat duduk untuk mereka beristirahat. Di samping tenda terlihat minuman dan beberapa roti yang bisa dimakan. Leon mengambil beberapa dan membagikan roti itu.


Semua merasakan lapar yang luar biasa, bagaimanapun mereka juga butuh makanan dan minuman. Suasana aman membuat mereka menyadari perut yang lapar, berbeda dengan situasi diluar tadi.


"Selamat siang." Sebuah suara bariton terdengar mengejutkan semua yang ada di dalam tenda.


"Selamat siang." Hudson menoleh dan melihat seorang tentara yang cukup berwibawa.


"Kenalkan, saya Frimon Liang. Saya yang memimpin misi evakuasi ini." Frimon menyalami satu per satu tamunya.


"Senang melihat ada yang selamat di kota ini." Lanjut dia lagi sembari memperhatikan semua yang selamat.


"Kalau boleh tahu, mengapa kita masih harus menunggu?" Wolly heran.


"Kami mendapatkan berita bahwa masih ada sekelompok orang yang selamat. Dan kami diperintahkan menunggu." Frimon memandang Win Xie dengan pandangan aneh. Pandangan menusuk yang sangat tidak nyaman bagi Win Xie.


"Nona, sepertinya saya mengenal anda." Frimon Liang langsung menyatakan rasa penasarannya. "Mungkin kita pernah bertemu di suatu tempat"


Win Xie hanya diam dan tidak melihat ke arah Frimon. Sebersit udara dingin menjalar di punggung Win Xie, dia ketakutan.


"Bolehkah kami beristirahat?" Meghan memotong dengan cepat.


"Oh, tentu van di luar bisa digunakan untuk istirahat. Tenda ini adalah ruang makan kita." Frimon berjalan keluar menujukkan van untuk mereka tinggali.


Di dalam van, Meghan mencoba bertanya kepada Win Xie.


"Diakah pria gila itu?" Tanya Meghan.


Win Xie menggangguk ketakutan. Begitu banyak trauma yang dialaminya. Sekarang dia harus kembali mengingat trauma itu.


 ~


Win Xie sudah menginjak usia 15 tahun. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik, bagaimana tidak? Dia mendapatkan kecantikan itu dari perpaduan genetika ayah dan ibunya yang juga terkenal tampan dan cantik di desa mereka.


Banyak pemuda yang menaruh hati kepada Win Xie. Tidak sedikit yang berusaha meminta Win Xie menjadi kekasihnya. Semua ditolak Win Xie dengan halus.


"Nak, jika kamu tidak memiliki hati untuk seorang pria maka jangan sakiti mereka dengan berkata kasar. Tolaklah dengan halus perasaan mereka. Ingat, hukum karma selalu ada." Petuah Ibunya sejak Win Xie menginjak masa remaja.


Win Xie yang berbudi pekerti halus lagi sopan, membuat semua penduduk desa mencintainya. Tak Terkecuali Liang Long Fei, anak tertua dari keluarga Liang. Saat itu Long Fei berusia 20 tahun. Lebih tua 5 tahun dari Win Xie.


Dia juga menaruh hati kepada Win Xie, meskipun keluarganya membenci keluarga Win Xie. Long Fei selalu mencari cara mendapatkan hati Win Xie. Dan Win Xie selalu menolak perasaan Long Fei dengan halus.


Tuan muda yang terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, tentu saja merasa kesal di puncak kesabarannya. Dia mulai merencanakan rencana jahat.


Di saat Win Xie pulang dari sekolah, di tengah jalan anak buah Long Fei menculik Win Xie. Mereka membawa Win Xie ke sebuah gubuk di lahan keluarga Liang.


Disana, Long Fei sudah menunggu. Win Xie dilemparkan di atas tempat tidur dengan posisi tangan serta kaki terikat. Long Fei mulai membuka pakaian Win Xie.


"Tidak, jangan. Tolong jangan begini Long Fei *ke*" Win Xie memelas.


"Kau tidak menerima perasaanku. Maka aku akan membuat dirimu tidak diinginkan laki\-laki lain." Ujar Long Fei dengan kejam.


"Ampuni aku, tolong bebaskan aku. Jangan begini. Aku mohon, jangan nodai aku." Win Xie menangis terisak-isak.


Long Fei tidak peduli, dia mulai melepaskan semua pakaian Win Xie. Sebelum itu dia telah menyuruh anak buahnya untuk berjaga-jaga di depan pintu.


Long Fei menyeringai lebar keluar dari gubuk itu. Dia tertawa bahagia. Sedangkan di dalam Win Xie hanya bisa terisak mendekap pakaiannya yang dicampakkan begitu saja oleh Long Fei. "Liang Long Fei Ban*****" Win Xie mengutuk Long Fei.


Dunia serasa hancur, dia tidak lagi seorang gadis suci. Apa yang akan dilakukan ibunya jika mengetahui hal ini?


 *ke panggilan untuk abang.