The End Of The World

The End Of The World
Kesempatan



Pagi nya semua sudah mempersiapkan diri. Hudson mengajar teknik dasar untuk menembak kepada Win Xie dan Meghan, tentu saja hal ini sangat perlu. Mereka harus bisa membela diri sendiri.


Tak lama terlihat mobil van sudah keluar dari mall, deru suara mobil terdengar di jalan itu. Mereka benar-benar sendirian. Seakan semua warga telah menjadi zombie.


Leon menyetir mobil dengan hati-hati, karena dia juga tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia terlalu cepat. Mereka memilih rute menjauhi tengah kota menuju pinggiran kota dengan harapan zombie lebih sedikit.


"Hei, bagaimana dengan Prims" Tanya Micha lewat jendela kecil ke arah depan


"Aku membuat dia pingsan dan menaruh dia di luar mall." Ujar Hudson sembari mengamati jalan bersama Leon.


"Apa? terlihat bagus bagi ba****** itu" Jawab Wolly di dalam van.


"Terakhir sebelum kita jauh dari mall itu, dia diserang zombie. Banyak zombie yang mendatanginya. Aku yakin dia tidak akan selamat." Ujar Leon.


Semua memilih diam selama perjalanan setelah percakapan singkat itu. Zombie yang tertarik dengan suara mobil mulai mendekati mobi mereka.


Semakin lama semakin banyak. Hal ini membuat Leon ngeri.


"Tambah kecepatan, mereka tidak akan bisa mengejar kita." jawab Hudson mempelajari langkah zombie itu.


"Hei, bagaimana kalau kita mencoba menangkap satu zombie yang tidak digigit? Seperti yang aku katakan kemarin, bisa saja ada ilmuan yang menemukan obatnya." Meghan tiba-tiba memecahkan keheningan.


"Tidak itu terlalu berbahaya, kita juga tidak tahu kapan bakal bertemu seorang yang bisa menemukan obat." Jawab Hudson sembari meminum air yang dibawanya.


"Ya, kamu benar juga. Terlebih zombie itu pasti akan ribut disepanjang perjalanan."Jawab Meghan kembali ke kursinya di dalam van.


"Lihat Leon, disana sepertinya ada rumah yang tertutup rapat." Tunjuk Hudson ke arah rumah yang terletak dipinggiran hutan tak lama setelah mereka keluar dari kota.


"Apakah aman?" Tanya Leon ngeri karena mengingat entah sudah berapa banyak zombie yang ditabraknya sejak mereka keluar dari mall dan bebas dri jalanan kota.


"Semoga." Jawan Hudson singkat, sembari mengangkat senjatanya dan mengarahkan ke arah pintu rumah.


"Coba jalan kesana. Kita periksa apakah di rumah itu aman." Ujar Hudson kepada Leon.


Semua yang di dalam van memilih untuk tinggal kecuali Wolly, dia keluar dan membawa senjatanya.


"Cklek"


"Hei, tidak dikunci." Ujar Leon.


Hudson memberi tanda supaya Leon bergerak menjauh dari pintu, lalu Hudson mengarahkan ujung pistolnya ke arah dalam rumah. Dia melihat ke dalam dan tidak ada gerak gerik.


Leon dan Wolly menyusul di belakang Hudson. Mereka lalu berpencar sembari mengancungkan senjatanya.


Hudson menuju ke ruang utama, kosong. Semua rapi pada tempatnya.


Wolly menuju dapur, kosong.


Leon menuju ke halaman belakang, kembali kosong tanpa ada apapun.


Ketiganya berkumpul di bawah tangga, "Hanya lantai atas yang belum diperiksa" Ujar Hudson sambil mengarahkan pucuk senjatanya ke atas.


Mereka naik ke atas perlahan, melihat ada 4 kamar, kembali berpencar dan tidak ada orang di dalamnya.


"Aneh, kemana para penguhuninya?" Tanya Wolly heran.


"Mungkin mereka kabur dari kota ini." Jawab Hudson melangkah keluar untuk memanggil ketiga gadis itu masuk.


Tepat saat dia keluar, dia terkejut melihat zombie wanita yang berjalan menuju pintu van.


"Dor..." Hudson dengan cepat menembak kepala zombie itu.


Zombie wanita tersebut jatuh tergeletak tak bergerak lagi.


Hudson berlari dengan cepat untuk menangap Win Xie. Tepat sebelum kepala Win Xie menyentuh tanah, Hudson berhasil menahannya. Meghan dan Micha hanya bjsa melongo melihat kecelatan Hudson.


"Masuk dulu ke dalam, biar ini kami yang urus." Leo menyuruh Micha dan Meghan masuk ke dalam rumah.


Hudson menggendong Win Xie ke dalam ruang tamu dan menaruh tubuh Win Xie di sofa besar ruang tamu itu. Meghan dengan sigap menolong menyelimuti Win Xie.


Tak lama Win Xie sadar, " Ah, dimana ini?"


"Di dalam rumah, kamu pingsan tadi." Ujar Meghan menyodorkan air minum kepada Win Xie.


"Kita bisa bermalam disini dan besok melanjutkan perjalanan lagi." Ujar Hudson yang masuk bersama Wolly dan Leon.


"Ada 4 kamar diatas, kalian bisa memilih kamar yang mana. karena kita banyak 1 kamar untuk 2 orang." Ujar Wolly.


"Terimakasih Hudson atas bantuanmu tadi. Aku memang lemah ketika melihat darah. Ada pengalaman buruk dengan darah." Win Xie melihat Hudson


"Tidak apa, tapi ada baiknya kamu harus mengendalikan dirimu. Ada saat dimana orang lain tidak bisa menolongmu." Ujar Hudson berlalu ke atas.


"Baiklah, Aku dan Meghan berdua. Lalu bagaimana denganmu Micha?" Tanya Win Xie


"Tenanglah, aku bisa mendapatkan tempat tidur nanti." Ujar Micha sambil melirik ke arah Leon.


Wolly yang mengetahui hal itu memilih tidur di sofa malam ini.


Mereka makan malam setelah selesai menguburkan mayat zombie dan membersihkan mobil yang penuh darah zombie.


Meghan dan Win Xie telah terlelap tidur disaat ada suara-suara dari kamar yang paling ujung.


"Ayolah sayang." Ujar Leon.


"Aku begitu menginginkan dirimu" Leon menarik tangan Micha sehingga Micha terjatuh di atas tempat tidur.


Leon melucuti satu demi satu pakaian Micha.


Mereka bercumbu dengan mesranya, Jari jemari Leon menelusuri setiap jengkal kulit Micha. Lalu dia sampai ke bagian paling sensitif Micha, Leon bermain dengan sangat baik disitu. Micha merasakan getaran kenikmatan, seakan tidak ingin berhenti.


"Ugh, Leon. Kamu pintar sekali." Ujar Micha menggigit bibir bawahnya sembari tangannya menggapai milik Leon.


"Sudah siap rupanya." Ujar Micha.


"Masih ingin dipermainkan?" Ujar Leon sembari menikmati keindahan tubuh Micha sembari sesekali mengecup kulit tubuh Micha.


"Aku ingin lebih. Lihat aku basah." Ujar Micha setengah memohon.


"Baiklah sayang." Leon berusaha menelusup masuk ke dalam Micha, dia juga begitu menginginkan Micha.


"Aaah, betapa hangatnya dirimu Micha." Ujar Leon.


Leon semakin mempercepat goyangan pinggulnya. Seakan dia sedang berlomba memacu kuda. Micha semakin merasakan kenikmatan yang begitu indah.


"Leon, biarkan aku yang memacu mu." Pinta Micha.


Lalu Micha berada diatas, dia memacu Leon dengan tubuh sintalnya. Rambutnya yang tergerai sebahu menambah kesan seksi Micha malam itu.


"Leon, aku akan segera keluar." Ujar Micha.


"Ayo, kita bersama menuju puncak." Jawab Leon lagi. Mereka terus berpacu dengan bercucuran keringat. Sampai akhirnya gelombang kenikmatan itu mendera mereka. Keduanya terkapar kelelahan.


Mereka jatuh tertidur dengan keadaan telanjang. Tanpa terasa malam yang panjang akan segera berlalu.