
Pagi menyambut mereka. Leon Sudah terbangun dan memilih mencari jerigen untuk membawa bensin ke mobil mereka yang ditinggalkan kemarin.
Disaat Leon sedang mengisi jerigen, Lelaki tua itu menghampiri Leon dan menanyakan perihal mobil mereka.
"Kami mengendarai van kesini. Tapi sebelum mencapai pom bensin ini, van kami kehabisan bahan bakar." Ujar Leon panjang lebar sembari melihat jerigen yang dibawanya.
"Jika kalian memang ingin keluar dari kota ini, bawa serta juga istriku. Aku akan tetap menjaga pom bensin ini dan menunggu sampai keadaan aman kembali." pinta Pria itu.
"Apa yang kamu katakan? Tidak, aku tidak mau" Ujar istrinya marah.
"Tidak sayang, biar aku disini menjaga anak kita. Jika memang ada bantuan, kamu bisa membawa mereka." Suaminya berkata dengan lembut.
"Kenapa dengan anak kalian?" Tanya Hudson curiga
"Dia sakit, sehingga kami tidak bisa membawanya untuk keluar dari tempat ini." Sang suami menjawab dengan gugup.
"Aku ingin melihat keadaan anakmu, aku memiliki pengetahuan paramedis." Hudson berbohong untuk mendapatkan kesempatan mengetahui kondisi anak pria itu.
"Benarkah? Tapi berjanjilah jangan terkejut." Jawab istrinya dengan penuh harapan.
"Tidak, aku tidak percaya dengan mereka." Pria tua itu melarang sang istri.
"Tapi Peter, siapa tahu mereka bisa membantu." Sang istri memelas kepada Peter suaminya.
"Penyakit ini susah disembuhkan sayang, dan aku tidak percaya kepada mereka. Kita bahkan tidak kenal mereka" Ujar Peter sedikit emosi kepada istrinya.
Sang istri hanya diam membisu, dia mulai menangis dan masuk ke dalam rumah mereka.
"Sampai seberapa parahkah, sehingga kau tidak percaya kepada orang lain?" Tanya Hudson penuh selidik
"Ini bukan urusanmu, jika ingin pergi maka pergilah. Biarlah istriku disini saja. Kami akan mencari jalan keluar." Peter menjadi emosi.
Hudson diam dan melanjutkan langkahnya menuju van yang mereka tinggalkan kemarin.
"Aku curiga anaknya menjadi zombie." Leon berusaha mengejar Hudson sembari membawa jerigen minyak.
"Ya, bisa jadi. Makanya dia menutupi itu dari orang asing." Jawab Hudson sembari memandang sekitar "Bukankah disini terlalu sepi?"
"Aku juga merasa begitu. Seakan daerah ini bersih dari zombie." Leon juga memandang sekeliling.
Tak lama mereka telah melihat van mereka. Leon bergegas menuju tangki van itu. Tepat saat Leon mendekat, bayangan hitam melompat hendak menyerang Leon.
Seketika itu juga, Hudson berusaha menembak bayangangan itu.
"Dor"
Bayangan itu terjatuh ke tanah.
Leon terduduk di tanah dan menatap ke arah penyerangnya tadi.
"Dia...dia manusia biasa?" Tanya Leon tergagap
Hudson mendekat dan melihat dengan seksama. "Ya, dia sepertinya tidak memiliki luka bekas gigitan."
Hudson juga melihat bekas tembakan nya, syukurlah hanya menyerempet lengan saja. Pria muda berusia 20 tahunan, sepertinya berusaha menyelamatkan dirinya juga. Pria itu jatuh pingsan karena terkejut ditembak Hudson dan kepalanya membentur aspal.
"Isi dulu bahan bakar van ini, dan kita bawa dia ke tempat orang tua itu." Hudson berusaha mengangkat pria itu.
--------
"Apa-apaan ini?" Wolly terkejut melihat Hudson membawa tubuh seorang pria muda.
"Ambil peralatan P3K dari van, kita obati dia dulu." Perintah Hudson kepada Wolly.
"Hei, kalian membawa van kalian? Peter masuk dan terkenut melihat pria yang dibawa Hudson.
"Anakku, apa yang kalian lakukan padanya?" Tanya Peter seraya mendorong Hudson menjauh dari anaknya.
"Kami tidak tahu dia anakmu, dia menyerang kami ketika kami mendekati van kami." Ujar Leon dari pintu masuk, dia melihat Peter mendorong Hudson.
"Sialan, dia memiliki gangguan kejiwaan dan kalian melukainya." Peter marah dan berusaha merebut kotak P3K yang dibawa masuk Wolly.
"Hei, harusnya kau bersyukur anakmu tidak mati. Dia menyerangku dan Hudson menolong, kau yang salah karena tidak membiarkan kami tahu penyakit anakmu dan siapa anakmu. Lalu kenapa dia bisa diluar sana?" Teriak Leon
Istri Peter masuk dan terkejut mendapati anaknya, dia lalu memeluk anaknya," Oh anakku Tomy, kenapa kamu begini?"
"Kau yang salah, kau membiarkan dia keluar dari ruangannya." Peter memarahi istrinya.
"Aku...aku hanya ingin dia mendapatkan udara bebas, dan dia bertingkah dengan baik tadi." Jawab wanita tua itu sembari terisak.
"Tenanglah nyonya, dia hanya terserempet peluru. Ini tidak akan membahayakan jiwanya." Hudson berusaha menenangkan wanita itu.
Megahan dan kedua gadis yang baru masuk ke ruangan itu juga terkejut, tapi mereka memilih tidak bertanya apa-apa.
"Anakku, dia mengalami gangguan kejiwaan. Terkadang dia bertingkah dengan normal. Tapi disaat dia merasa terancam, dia langsung berubah menjadi ganas." wanita itu menjelaskan.
"Artinya dia memang memerlukan bantuan medis. Akan lebih baik jika dia dibawa keluar dari kota ini.Di kota tidak ada lagi bantuan untuk anakmu." Jawab Hudson.
"Ya, kami tahu. Ada serangan virus gila. atau apapunlah namanya itu." Jawab wanita itu.
"Ikutlah dengan kami, kami akan membawa kalian tempat yang aman." Leon memberikan saran.
"Benar, lebih cepat lebih baik. Kita menunda waktu dan kita tidak memiliki kabar apapun untuk evakuasi." Jawab Win Xie tiba-tiba.
"Kami barusan mencoba siaran radio. Pemerintah telah mengetahui perihal masalah ini, dan seluruh kota telah ditutup." jawab Meghan cepat. "Semua zombie yang terlihat akan dimusnahkan, jika ada yang masih hidup maka diharapkan segera keluar dari kota."
"Mereka hanya memberikan batas waktu 4 hari lagi. semua yang selamat harus segera menuju batas kota." tambah Micha "Lewat dari batas itu, maka pemerintah akan menghancurkan semua zombie di kota ini."
"Ada baiknya kita segera berangkat. Makin cepat makin baik, karena kita tidak tahu apa yang ada di perjalanan nanti." Jawab Micha.
Istrinya melihat Peter, "Bagaimana?"
"Pergilah, aku akan menjaga tempat ini Winny." Jawab Peter tegas.
"Tidak, kita bersama melalui semua ini." Winny membantah suaminya. "Apa gunanya kau bertahan disini, sedangkan satu kota sudah hancur. Kita bisa memulai yang baru di kota lain."
"Benar, istrimu membutuhkanmu. Egois rasanya jika kau hanya tinggal disini." Hudson berusaha membuat Peter emosi.
"Baiklah, aku akan membawa mobilku sendiri. Istri dan anakku akan ikut denganku." Jawab Peter akhirnya.
"Siapkan semua bawaan kita, aku akan mengeluarkan mobil." Peter menyuruh istrinya berkemas, membawa harta mereka dan pakaian serta makanan. Gadis-gadis juga membantu Winny sehingga lebih cepat selesai.
"Bawa bahan bakar lebih, lebih baik berjaga-jaga daripada tidak sama sekali." Peter mengingatkan Hudson, dan Hudson paham maksud Peter.
5 jerigen diisi dan ditaruh dalam van. lalu 5 lainnya dimasukkan dalam van Peter. Beruntung dia juga memiliki van, sehingga bisa membawa barang yang dibutuhkan lebih banyak.
Hudson sekarang.