
Hudson beranjak menuju lantai 3 di mall itu. Dia mencari radio atau apapun yang bisa digunakan untuk mendapatkan berita dan lebih bagus jika bisa berkomunikasi dengan orang selamat lainnya. Sekilas dia melihat Leon dan Micha yang berjalan kembali sembari bergandeng tangan. Leon juga menenteng beberapa pakaian baru. Hudson hanya menggelengkan kepala.
"Ya, situasi begini tidak ada lagi istilah mencuri." Gumam Hudson sendiri.
Dia menapakai anak tangga eskalator satu demi satu sambil mempertajam pendengaran. "Tidak ada suara, sepertinya aman." Gumam Hudson lagi.
Tidak jauh dari eskalator dia melihat lorong yang cukup terang. ternyata langit-langit mall itu terbuat dari kaca. "Tidak heran mall ini tidak terlalu gelap." Pikir Hudson lagi.
Wajar Hudson tidak mengenal mall itu. Ketika tiba di Florida dia sudah menjadi gelandangan. Semua karena dia kehilangan ingatan. Saat sadar dia sudah ada di perkumpulan pemulung. Antony yang menolongnya. Nama Hudson juga Antony yang memberikan. Selama ini dia berusaha mencari jati diri, semuanya nihil.
Hudson terus melangkah dan melihat-melihat toko yang ada disana. Matanya tertuju pada toko eletronik. Dia bergegas ke arah toko itu. Seperti umumnya toko, toko ini juga terkunci. Mau tidak mau dia memecahkan kaca. Beruntung tidak ada alarm yang berbunyi.
Hudson masuk ke dalam toko dan melihat ada seperangkat radio beserta HT, dia mengambilnya dan membawa kembali ke ruangan tempat mereka tidur.
"Hei lihat ini." Ujar Hudson memanggil temannya.
Wolly dan Leon langsung menghampiri.
"Radio? Bagus! Kita bisa mendapatkan berita." Ujar Wolly senang.
"Sebelum itu, bagaimana kalau mencari sumber listrik?" Tanya Leon.
"Benar, kita bisa mengaktifkan ini nanti." Jawab Hudson.
"Aku rasa aku tahu dimana panel listrik mereka." Jawab Wolly.
Wolly melangkah masuk jauh ke dalam swalayan dan dibalik ruangan tempat pemotongan daging, ada sebuah pintu kecil. Wolly membuka pintu itu dan menghidupkan senter yanh dia keluarkan dari sakunya.
Ruangan itu sedikit jauh ke dalam, dan tiba-tiba Wolly berhenti lalu tangannya menarik sesuatu. "Tak, ceklek." Bunyi sebuah tuas ditarik dan tombol ditekan. Saat itu juga semua lampu menyala. Hudson terheran-heran melihat Wolly.
"Bagaimana kamu tahu disini panelnya?" Tanya Hudson.
"Aku pernah bekerja disini diawal pembangunan gedung ini sebagai teknisi listrik. Hanya saja awalnya aku lupa dimana, karena saat mall ini sudah mulai dioperasikan, aku tidak pernah lagi kesini." Ujar Wolly "Tadi aku memperhatikan lagi dengan seksama gedung ini dan aku mengingat-ngingat denahnya dulu dan ternyata benar disini." Sambung Wolly lagi.
"Kamu dulu seorang teknisi?" Tanya Hudson heran.
"Ya, kehidupanku cukup baik saat itu hingga sesuatu yang buruk menimpa keluargaku. Aku kehilangan motivasi untuk bekerja lagi, dan aku memilih menjadi tunawisma." Sahut Wolly sendu.
"Itulah kehidupan, penuh dengan misteri. Terkadang lebih baik begini daripada hidup sebagai bagian dari masyarakat yang kejam." Tutur Hudson.
"Ayo kita keluar." Ajak Wolly
----------
Mortaq berusaha memakan sedikit mungkin makanan yang disediakan. Dia curiga ada maksud lain dibalik ini semua. Meghan dan Win Xie tidak menyadari nya. Setelah selesai makan, pria itu menawarkan tempat istirahat di ruangan kamarnya yang banyak kosong.
Win Xie dan Meghan langsung menerimanya. Mereka bisa mandi dan membersihkan badan. Pria itu menunjukkan kamar kepada kedua gadis itu. Karena banyak kamar kosong, masing-masing bisa beristirahat di kamar sendiri-sendiri.
Mortaq merebahkan tubuhnya di kasur, yah lebih nyaman dikasur daripada di lantai. Dia lalu bangkit berdiri memeriksa seluruh kamar. Di dalam kamar terdapat kamar mandi, "Tidak heran, rumah yang mirip gedung ini sangat luas." Gumam Mortaq
Mortaq memilih untuk mandi dan mengganti paakaiannya. Dia merasa lebih segar setelah mandi dan mulai mengantuk. Hal yang sama juga terjadi pada kedua gadis itu.
3 jam kemudian
Terdengar suara benda jatuh. Dari suaranya seperti benda yang berat dan besar.
Mortaq terbangun dan terkejut, " Astaga, aku tertidur. Bagaimana bisa?"
Dia mendengar suara benda jatuh itu dan langsung waspada. Mortaq mengintip lewat celah pintu, karena tidak kelihatan dia memilih membuka sedikit pintu nya.
Terlihat Daniel sedang menyeret sesuatu yang besar, ditutup dengan selimut. "Apa itu?" gumam Mortaq dalam hati.
Pria itu menghilang dibalik lorong sederetan dengan kamar Mortaq tempati. Mortaq bergegas keluar dan mengintip ke lorong, dia melihat ujung kain yang menghilang di dalam sebuah kamar.Mortaq berjalan perlahan berusaha menuju ke kamar itu tanpa membuat suara.
"Arrrgggghhh....arrggghhhh.." Tedengar suara yang tidak asing lagi. "Astaga itu zombie" Gumam Mortaq.
"Tenanglah sayang, aku menyediakan seorang teman bagimu. Sekalian menjadi santapanmu." Ujar Daniel.
Mortaq terperanjat. "Apa yang dimaksud pria itu? " Dia mengintip dari daun pintu yang sedikit terbuka. "Astaga, itu Meghan." Gumam Mortaq.
Daniel membuka selimut yang membungkus Meghan dan membiarkan Meghan terbaring di lantai. Ada zombie wanita di dalam ruangan itu yang terikat dengan rantai besi besar ke dinding. Terlihat zombie itu masih muda.
"Apa yang harus aku lakukan? Dia memiliki senjata, jika dia menembak maka segalanya akan runyam." Mortaq berpikir keras. Dia melihat vas bunga di pojokan lorong itu. Mortaq mengambil vas itu dan kembali ke depan pintu ruangan zombie itu. Lalu Mortaq membuat suara gaduh di depan pintu.
Sang pria tua berjalan keluar, tepat saat dia membuka pintu, Mortaq memukul kepalanya dengan vas, dan pecah berkeping-keping mengenai Daniel . Tapi ternyata Daniel masih belum pingsan, kepalanya berdarah dan dia melihat Mortaq.
Dengan cepat Mortaq menerjang perutnya dengan kaki. Tendangan Mortaq membuat Daniel mundur beberapa langkah sembari memegang perutnya.
Tanpa menunggu lama, Mortaq menhujamkan tinjunya ke muka Daniel. Kali ini Daniel berhasil menahan pukulan Mortaq, dia kembali memukul Mortaq di muka dan mengenai Mortaq. Mulut Mortaq mengeluarkan darah. "Sialan." Ujar Mortaq.
Mortaq kembali menerjang dengan tendangan ke arah kepala Daniel, kali ini tepat mengenai Daniel, pria itu tersungkur jatuh. "Pria Ba******, manusia biadab." Ujar Mortaq sambil menghajar muka Daniel dengan menduduki tubuh Daniel.
"Berhenti." Sebuah suara menyadarkan Mortaq
.
Win Xie, dia berdiri di lorong sambil memegang dinding lorong. Mortaq melihat Win Xie dan melihat Daniel. Pria itu pingsan tidak sadarkan diri. Mortaq lalu berlari memeluk Win Xie.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Mortaq. Win Xie menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa ini?" Tanya Win Xie, dia tidak pernah melihat Mortaq memukul orang.
"Kamu bisa lihat sendiri di ruangan itu." Ujar Mortaq kesal, dia beranjak ke arah Daniel, berjaga-jaga jika Daniel bangkit dan melakukan sesuatu yang mencelakakan mereka.
"Astaga Meghan." Win Xie terkejut dan makin terkejut ketika melihat zombie perempua di ruangan itu." Ya Tuhan, kenapa ini." Ujar Win Xie, dia dengan cepat berlari ke arah Meghan, menepuk pipi Meghan untuk menyadarkan Meghan.
"Bangun Meghan, bangun." Ujar Win Xie cemas.
Meghan bergerak dan mulai membuka matanya. "Win Xie, dimana ini?" Tanya Meghan tersadar.
Meghan terbelalak melihat zombie di ruangan ini. "Aaaaghhhh, zombie." Teriak Meghan.
"Tenanglah, zombie itu terikat. Sekadang bisakah kamu berdiri? " Ujar Win Xie menenangkan Meghan.
Meghan bangkit berdiri dan Win Xie mengajak Meghan keluar dari ruangan itu. Diluar Mortaq sudah mengikat Daniel dengan selimut yang tadi digunakan untuk menyeret Meghan.