
"Aku benci, dia selalu kasar."
"Dia bicara tanpa mikir."
"Lihat gayanya yang sok"
Banyak balerina yang membenci Bianca. Terlebih karena Hudson berpasangan dengan Bianca.
"Hei, bagaimana dengan pakaianmu?" Ujar Bianca mencoba mengecek kembali semua persiapan untuk tampil besok.
"Beres, Hudson seorang perfectionis. Aku tidak akan melewatkan hal kecil apapun" Ujar Hudson sembari mengumpulkan semua peralatannya dan bergegas mau pulang.
"Aku ingin melihat panggung dulu. Sepertinya botol minumku tertinggal disana." Bianca bicara sembari melangkahkan kaki ke ruangan panggung.
"Aku akan menunggumu diluar." Teriak Hudson
Saat Hudson melangkah di pintu keluar, terdengar gema suara teriakan dan disusul suara benda jatuh dari ruangan panggung.
"Bianca" Hudson berlari menuju ke tempat asal suara.
Saat sampai, Hudson melihat panggung yang bersimbah darah. Lampu panggung jatuh ke lantai dan menimpa tubuh Bianca. Hudson langsung lari mencari bantuan.
Tak lama Bianca dibawa ke rumah sakit dan langsung masuk ruang operasi. 2 Jam berlalu dan akhirnya dokter keluar.
"Bagaimana dokter?" Tanya Hudson.
"Sepertinya ini akan sulit bagi dia." Jawab dokter sambil memandang Hudson.
"Tendon kakinya rusak, dan tulang punggungnya tidak akan bisa menopang untuk menari lagi." Jelas dokter sembari menepuk bahu Hudson.
Hudson terduduk dan terdiam. Padahal pementasan besok adalah impian Bianca. Dan sekarang semua hancur begitu saja. Jika saja dia menemani Bianca waktu itu, hal ini tidak akan terjadi.
--------
"Ugh" Sebuah suara membuyarkan lamunan Hudson, dia menoleh ke arah Win Xie.
"Dimana ini?" Tanya Win Xie berusaha untuk duduk.
"Mall Florida" Ujar Hudson dan memberikan sebotol air kepada Win Xie
"Ah, iya. Mana temanku Meghan?" Tanya Win Xie setelah meminum air.
"Dia diluar ditemani temanku yang lain." Ujar Hudson.
Win Xie hanya mengangguk dan terdiam.
"Lebih baik kau beristirahat disini, sepertinya kalian mengalami hal yang buruk diluar sana." Ujar Hudson sembari berdiri dari tempat duduknya.
Air mata Win Xie mengalir lagi, dia ingat akan Mortaq yang mengalah dan menjadi umpan zombie agar Win Xie dan Meghan selamat.
"Menangis lah sepuasnya. Menangis akan membuatmu lega. Tapi ingat, hidupmu harus terus melangkah maju." Ujar Hudson sembari keluar ruangan.
Win Xie menangis tersedu-sedu sembari memeluk kakinya. Setelah lelah menangis, dia mengusap airmatanya dan berusaha berjalan keluar.
Diluar semua orang duduk mendengar cerita Meghan. Meghan sesekali menghapus air matanya yang meleleh. Begitu dia melihat Win Xie, dia berlari dan memeluk Win Xie.
Malam itu mereka beristirahat di mall dan Hudson memilih memundurkan jadwal keberangkatan, melihat kondisi jiwa kedua gadis itu yang masih terguncang.
---------
Paginya
"Wow, aku beruntung sekali ada teman yang membantu membuat sarapan." Ujar Micha gembira.
"Kami membantu sebisa kami." Ujar Meghan.
"Terimakasih sudah menolong kami." tambah Win Xie sambil mengaduk sup.
"Ternyata karena suara tembakan kami selamat." Jawab Win Xie getir, dia berusaha menahan air matanya.
"Hei, ini sudah siap semua. Bagaimana kalau kita memanggil mereka untuk makan?" Meghan berusaha mengalihkan perhatian Win Xie.
"Boleh, selesai makan nanti aku akan membawa kalian memilih pakaian ganti dan mandi." ujar Micha senang.
"Hei boys, semua selesai. Ayo makan bersama." Teriak Micha memanggil para pria yang sedang duduk menghadap peta yang didapat Hudson.
"Sekarang semua makin cepat selesai ya?" Goda Leon kepada Micha sembari merangkul Micha.
"Tentu, memiliki teman wanita lebih baik." Jawab Micha sembari tergelak karena Leon pura-pura marah.
Win Xie hanya tersenyum pedih melihat tingkah mereka.
"Ayo makan." Hudson memerintahkan mereka, ketika melihat ekspresi Win Xie.
"Kapan kita akan berangkat dari sini?" Tanya Micha penasaran.
"Melihat kondisi Win Xie dan Meghan, kita undur dulu beberapa hari." Jawab Husdon sembari menyendok sup.
"Jangan menunda keberangkatan karena kami." Ujar Win Xie cepat.
"Benar, kami sudah menguatkan diri sejak keluar dari sekolah ballet." Jawab Meghan menguatkan
"Kalian yakin?" Tanya Wolly
Kedua gadis itu langsung mengangguk.
"Kalau begitu, aku tidak ingin ada teriakan histeris atau isak tangis diluar sana. terlebih ketika kalian melihat seseorang yang tidak bisa kalian selamatkan." Ujar Hudson dingin.
"Ya kami berjanji." Jawab Win Xie dan Meghan serempak.
"Baiklah, Micha nanti bantu mereka mempersiapkan apa saja yang akan dibawa untuk ditaruh di van." Perintah Hudson lagi.
"Ya, kami memang berencana akan mengumpulkan kebutuhan kami setelah selesai makan." Jawab Micha cepat.
Benar saja, selesai makan maka mereka mulai mengumpulkan pakaian, kebutuhan makanan dan obat yang dirasa perlu. Lalu semuanya dimasukkan ke dalam Van dibantu Leon.
"Baiklah, semua selesai. Kita berangkat besok pagi." Ujar leon menepuk kedua tangannya.
"Bagaimana kalau kita membuat bekal?" Celutuk Win Xie
"Ide yang bagus." Jawab Meghan
"Kamu akan membuat apa?" Tanya Micha bingung.
"Sesuatu yang setidaknya tahan untuk perjalanan besok." Jawab Win Xie, "Kita tidak tahu bagaimana kita akan bisa memperoleh tempat untuk menyiapkan makanan. Selagi masih bisa makan makanan yang dimasak, bukankah lebih baik?" Sambung Win Xie.
"Benar, bisa-bisa setelah itu kita hanya makan makanan instant atau malah tidak makan sama sekali." Jawab Micha sembari mengangguk membenarkan.
"Ayo ke bagian kebutuhan sehari-hari." Ajak Meghan bersemangat.
Mereka juga mengambil beberapa kotak makanan yang bisa dipakai untuk menyimpan makanan.
Win Xie menggoreng daging ayam tanpa tulang, lalu beberapa potong ikan "protein sangat diperlukan tubuh" Jelas Win Xie
Meghan memilih apel yang masih baik untuk dibawa, lalu memotong melon untuk dimakan besok.
Micha menyiapkan roti yang akan dibuat menjadi sandwich untuk besok pagi. Dia juga mengambil beberapa telur.
Persiapan mereka cukup matang, orang yang melihat akan berpikir mereka pergi piknik, padahal mereka akan menempuh perjalanan yang tidak bisa diprediksi siapapun.
"Lakukan yang terbaik hari ini, hari esok? Siapa yang tahu?"