
Hudson tersentak ketika mobil mereka menempuh jalanan yang berlubang.
Dia seketika kembali tersadar dari lamunan panjang akan pengorbanan sahabat sekaligus keluarganya.
"Lihat, disana ada banyak mobil yang mengantri." Ujar Micha menunjuk ke arah barisan mobil yang mengular panjang di depan mereka.
"Huh...aku sudah bilang, jangan percaya dengan pemerintah" dengus Hudson. "Lihatlah, tidak akan ada yang bisa lolos ke negara bagian lain."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Leon sembari melihat ke kanan dan kiri mereka di balik kemudi.
" Keluar dari jalur ini dulu dan berputar kembali ke arah kita datang" perintah Hudson
Leon dengan cepat memutar mobil dan berbalik ke arah mereka datang tadi. Beruntung tidak ada yang terlalu curiga karena banyak juga yang memutar arah kembali.
" Sewaktu kami kabur dari sekolah balet, kami bertemu dengan pria gila yang sedang ber-eksperimen dengan anaknya yang telah menjadi zombie" Ujar Win Xie memecah keheningan.
"Lalu? apa yang terjadi?" Tanya Hudson tertarik.
"Dia sepertinya ingin merubah kami juga, atau mungkin mengobati anaknya. Entahlah, karena kami hampir menjadi korban disana dan....." suara Win Xie bergetar lalu berusaha melempar pandangan keluar mobil.
Hudson hanya terdiam, begitu juga dengan semua yang ada di mobil, mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi.
" Kami sempat mau membawa benda terkutuk itu. Tapi karena panik melarikan diri, kami melupakan benda itu" Sambung Meghan cepat.
"Ah, sayang sekali. Jika memang itu adalah semacam obat untuk penyakit zombie ini." Timpal Micha
" Aku tidak yakin. Jika memang bisa menyembuhkan, pasti zombie perempuan itu sudah kembali seperti sedia kala dan bukannya malah si pria tua itu menjadikan kami cadangan makanan" Dengus Meghan kesal.
Sebulir tetesan air mata mengalir di pipi Win Xie, tapi dia dengan cepat menyeka nya. Hudson hanya memandang tanpa berkata apa-apa. Kesedihan ditinggalkan orang yang dicintai memang sangat menyakitkan.
"Justru bagus jika kita bisa dapatkan benda itu dan kita selidiki, mungkin bisa di dapatkan antidote nya." Wolly tiba-tiba menjawab.
" Memangnya kamu bisa?" Tanya Meghan " Tapi, terlalu beresiko untuk kembali ke sana." Sambung Meghan lagi, mengingat bagaimana perjuangan mereka.
" Benar, Kita hanya akan membuang-buang nyawa dan waktu jika kita berusaha kembali ke sana hanya untuk itu. Dan tidak ada satupun diantara kita seorang peneliti kan?" Tanya Hudson.
Semua mengangguk- anggukkan kepala dan kembali sibuk dengan pemikiran sendiri.
"Lihat, ada jalan setapak disebelah kiri kita ini" Leon memecahkan keheningan.
" Hmmm...coba masuk ke jalan setapak ini." Perintah Hudson.
Jalanan yang tidak rata membuat semua yang ada di mobil limbung ke kiri dan kanan. Semua berpegangan pada sisi-sisi mobil ataupun pegangan yang ada.
Setengah jam mereka jalan melewati jalan setapak, akhirnya mereka melihat lahan yang luas. Leon masih mencoba menjalankan mobil hingga lebih jauh dari jalan setapak. Selain untuk menghindari kecurigaan juga mengantisipasi munculnya zombie-zombie.
Mereka mencapai wilayah yang datar dan luas serta ada danau kecil dengan air yang jernih.
"Ah, jika saja tidak ada zombie. Tempat ini sangat bagus untuk kemping" Ucap Leon sembari menghembuskan nafas berat.
"Ya, selain indah juga begitu menyenangkan dengan hamparan rumput yang indah." timpal Micha.
"Hati-hati tetap waspada. Jangan terbuai dengan keindahan alam dan kalian lupa zombie bisa muncul dari mana saja." Hudson membuyarkan lamunan indah kedua sejoli itu.
Win Xie dan Meghan hanya tersenyum simpul berusaha menahan tawa. Mereka sudah paham akan karakter Hudson yang dingin, tapi penuh dengan kehati-hatian.
"Kita akan bergantian jaga. Sisanya boleh istirahat dan tidur. Setiap 2 jam akan berganti. Masing- masing jam akan berjaga 2 orang." Perintah Hudson dengan cepat.
"Aku bersama Leon akan berjaga di jam 2-4 pagi" Jawab Micha cepat sembari memeluk lengan Leon.
"Wolly, bagaimana dengan mu? Tidak mungkin kedua wanita ini yang berjaga." Tanya Hudson kepada Wolly.
"Baiklah, kau akan berjaga duluan dengan Meghan. Bagaimana? Kalian setuju?" Tanya Hudson sembari melihat Meghan.
"Ok, no problem. Aku memang tidak bisa menggunakan pistol. Berbahaya jika aku berdua Win Xie yang berjaga. " Jawab Meghan cepat.
"Baiklah. Kalian berjaga dari pukul 12- 2 pagi, lalu lanjut dengan Micha serta Leon dan aku serta Win Xie di jam 4-6 pagi. Sarapan jadi tanggung jawab Wolly dan Meghan karena kalian yang pertama berjaga" Terang Hudson dengan singkat dan jelas.
Semua mengganguk setuju tanpa ada perbantahan, ya karena semua merasa adil sih.
"Sekarang masih ada matahari, lebih baik kita coba menyisir wilayah ini. Para wanita boleh menyiapkan makan malam dan kita menyisir area ini. Girls, ingat jangan jauh dari mobil. Usahakan pintu mobil tertutup tapi bisa kalian buka dengan cepat." Perintah Hudson lagi.
Semua kembali mengangguk seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Yah, mau melawan apa coba? hanya Hudson yang punya pengalaman di dunia militer (menurut perkiraan mereka)
Para pria berjalan menyisir wilayah dengan membawa senjata. Sedangkan yang wanita mengeluarkan bekal untuk dimakan.
"Apa yang akan kita makan duluan?" Tanya Win Xie ragu.
"Lebih baik makanan yang cepar rusak atau busuk duluan." Jawab Micha membongkar belanjaan yang dibeli sebelum mereka berangkat tadi.
"Wah, ada daging? Bagaimana kalian mendapatkannya?" Meghan terkejut melihat daging sapi yang begitu banyak.
"Hmmm...gratis kok." Jawab Micha sembari tersenyum simpul.
"Ha? Gratis?" Tanya Win Xie dengan heran.
" Huffttt....girls...ini zaman dunia gila. Penjual daging tidak bisa menjual daging karena penduduk daerah itu takut makan daging. Mereka beranggapan daging ini bisa menyebabkan menjadi zombie. Akhirnya daripada dibuang, mereka memberikan dengan gratis kepada kami. Mereka sendiri sudah muak memakan daging terus menerus." Jawab Micha santai sembari mencuci daging dengan air dari danau.
" Ha??? padahal zombie baru mulai menyebar hitungan hari, sungguh tidak masuk akal." Jawab Win Xie sambil menggelengkan kepala nya tidak paham.
"Ah, sudahlah. Kalian masih mau meributkan perihal daging ini atau mau mengolah daging ini bersama ku?" Tanya Micha dengan sinis. "Yang pasti ini daging sapi, bukan daging zombie." Tambah Micha lagi.
" Ah, tentu saja kami akan mengolah daging ini." Jawab Meghan cepat sembari menyikut Win Xie agar tidak berdebat lagi perihal daging.
********
Micha kembali teringat bagaimana mereka mendapatkan daging itu. Sambil membumbui daging dengan bumbu apa adanya, dia membakar daging diatas api yang mereka buat dari kayu-kayu kering.
"Hei pak, berapa daging ini?" Tanya Leon kepada penjual daging tua.
"Hah...ini daging mahal. Biasa digunakan untuk masakan di restoran mewah. Kalian anak muda memangnya paham?" Tanya pria tua itu dengan sinis sembari menghisap pipa rokoknya.
"Aku ini seorang chef di restoran Michelin dan aku tahu betul daging yang kau jual ini tidak segar lagi." Leon menjawab tanpa ragu.
Sang pria tua sedikit tertegun, tapi kembali menjawab, " Mana mungkin aku menjual daging tidak segar. Kau anak muda yang tidak bisa melihat dengan baik."
"Sudahlah pak tua. Kau tahu restoran di tengah kota? yang selalu memesan daging padamu? mereka sudah berencana untuk mengganti pemasok daging. Bukankah selama ini daging itu dipasok dari tempat ini?" ujar Leon dengan tegas.
"Hah? Bagaimana kau bisa tahu? Astaga, makan apa keluargaku jika mereka mengganti pemasok daging. padahal mereka harapan utama kami." Pria itu bergetar menjawab Leon dan mulai cemas.
"Makanya, lebih baik segera buang daging ini dan berjualan lah dengan jujur" Jawab Leon lagi.
"Aaah...ya ya..lalu sekarang bagaimana?" Tanya pria tua itu.
"Begini saja. Daging ini berikan padaku. Aku akan mengolahnya dan kau tidak perlu pusing dengan dimana harus dibuang, aku akan coba membujuk pemilik restoran itu untuk tetap mengambil daging hanya dari tokomu. Lalu mulailah dengan jujur menjual daging. Segar ya katakan segar." Leon mengutarakan jawaban yang masuk akal.
(Yah, tidak sepenuhnya masuk akal. Karena tetap saja si pria tua akan rugi.)
" Baiklah, untuk ucapan terimakasih ku. Kau boleh ambil daging ini dan olah lah serta berikan kepada yang membutuhkan." Jawab lelaki tua, berpikir Leon akan memberikan kepada yang tidak mampu.