The End Of The World

The End Of The World
Akhir dan Awal



"Hei, kau dengar itu?" Tanya Hudson.


"Apa?" Tanya Leon lagi.


"Suara Tembakan." Ujar Hudson lagi.


"Dor.."


Kembali terdengar suara tembakan kedua kalinya.


"Iya, ada seseorang yang menembak." Ujar Hudson.


Hudson dengan cepat bergerak menuju arah suara. Dia keluar dari pintu samping parkiran dan melihat ada dua sosok yang sedang berlari.


Hudson bersiap mengarahkan senjatanya. Dia memperhatikan secara seksama dan melihat cara lari yang cukup cepat. Bukan gerakan zombie.


Hudson menunggu dengan sikap waspada. Tangannya sudah siap di pelatuk. Dia akan menembak kedua sosok itu, jika itu adalah zombie. Tapi, tembakan tadi membuatnya ragu. Seakan menandakan ada manusia yang selamat di luar sana.


Tak lama, terlihat dua orang gadis yang berlari dengan cepat menuju ke arah mall.


Hudson sudah dapat melihat dengan jelas, mereka berpakaian rapi dan tidak ada bekas gigitan. Jadi dia menurunkan senjatanya dan berteriak.


"Sini, ke arah sini." Ujar Hudson.


Kedua gadis itu mendengar dan berlari ke arah suara. Mereka sampai ke tempat Hudson dan mengikuti Hudson masuk ke pintu samping tempat Hudson keluar tadi.


Ketika kedua gadis itu masuk, Hudson langsung menutup pintu dengan cepat. Tepat sebelum menutup pintu, terdengar sekali lagi suara tembakan.


Bersamaan dengan itu salah satu gadis menangis dengan histeris dan meneriakkan "Mortaq..tidaaakkkk" Dan gadis itu tersungkur pingsan. Beruntung Hudson bergerak cepat dan menangkap tubuh ringkih gadis itu dengan cepat.


Temannya hanya bisa menangis tersedu-sedu. Leon lalu menepuk pundak gadis itu dan mengajak dia menuju ke dalam mall.


Hudson menggendong tubuh gadis yang pingsan, sambil jalan Hudson memperhatikan wajahnya, wajah oriental khas Asia


"Jepang? China? Korea? Mereka sepertinya mirip. Sungguh susah membedakan mereka." Gumam Hudson. "Wajar, aku memang tidak pernah dekat dengan teman Asia." Ujarnya sendiri.


Hudson teringat masa-masa dia sebagai seorang penari balet.


--------


"Selamat kawan. Kau terpilih sebagai perwakilan sekolah ini." Ujar temannya Gregory.


"Yah, anggap saja sebuah keberuntungan." Jawab Hudson sembari menyeka keringatnya dan meneguk air minum.


"Kau akan berpasangan dengan Bianca. Bukankah itu keberuntungan yang liar biasa? " Ujar Gregory lagi.


"Greg, please. Shut up." Jawab Hudson kesal.


Nama Bianca memang membuat dia kesal. Bagaimana tidak? Seorang ballerina dari Asia yang sombong dan angkuh. Ballerina ini bahkan sering mengolok-ngolok ballerina lain yang tidak semahir dia.


Hudson sangat tidak suka dengan sifat begitu. Tapi dia juga tidak bisa memilih dengan siapa akan berpasangan. Selain karena tinggi badan dia dan Bianca yang pas, kemampuan menari Hudson sama baiknya dengan Bianca.


"Stupid girl. Latihan lebih banyak lagi!!" Bentak Bianca kepada penari latar, ketika mereka melakukan kesalahan.


Hudson melihat ke arah Bianca dan langsung membuang muka. Jika bukan karena alasan profesionalitas, dia tidak akan mau berpasangan dengan Bianca.


"Lihat sifatnya itu. Seakan dia terus menjadi Primadona."Bisik beberapa penari merasa kesal.


Hudson lalu bergerak pergi dan memilih meninggalkan ruangan. Sesi latihannya sudah selesai. "Tidak ada gunanya berlama-lama dengan pembuat onar." Gumam Hudson.


Memang tidak dipungkiri, Bianca cukup mempesona dengan bola matanya yang hitam, mata sipitnya dan bibirnya yang tipis dengan semburat pink. Ditambah lagi dia memiliki lesung pipi, sehingga setiap kali dia bicara ataupun tersenyum, lesung pipinya akan terlihat jelas.


Tapi, apakah kecantikan akan selalu jadi faktor utama? Tidak.


Bianca memang seorang pekerja keras, dia berlatih pagi-pagi sekali dan pulang paling larut. Tiada hari tanpa latihan, Dia menjaga pola makan dengan baik, menghindari minum-minum apalagi berpesta pora.


"Dipikir-pikir memang dia cukup cantik dan pekerja keras. Sayang sifatnya tidak cocok denganku." Gumam Mortaq. Dia menggosok sabun di tubuhnya, membasahi tubuhnya dengan air dari shower kamar mandi sekolah tari.


-------


"Dia pingsan." Jawab Hudson singkat dan meletakkan tubuh Win Xie di kantong tidur Micha.


"Astaga , kasihan sekali. Pasti mereka mengalami sesuatu yang mengerikan." Ujar Micha sambil melihat Win Xie dan melihat ke arah Meghan yang duduk sambil minum teh hangat.


"Sepertinya begitu. Gadis ini tadi meneriakkan nama seseorang." Ujar Hudson.


Disisi lain


Wolly menyapa Meghan sambil mengambil posisi duduk di sebelah Meghan.


"Sudah lebih baik?" tanya Wolly.


Meghan hanya mengangguk, masih tersisa butir airmata di pipi Meghan.


"Bolehkah aku tahu kalian dadimana?" Tanya Wolly.


"Kami dari sekolah ballet 2 blok dari sini." Ujar Meghan sambil meminum tehnya.


"Hebat juga kalian bisa sampai kesini." Ujar Wolly.


Tiba-tiba Meghan menangis terisak lagi. Wolly salah tingkah dan tidak tahu harus bagaimana.


"Maaf, maafkan aku jika aku salah berbicara." Ujar Wolly.


Meghan menggeleng. Dia masih meneteskan air mata dan mulai bercerita apa yang mereka alami sebelum sampai ke mall florida ini.


Wolly akhirnya mengerti dan hanya terdiam menemani Meghan.


Leon dan Micha berinisiatif mengambil kantong tidur untuk Meghan dan Micha, karena Win Xie tertidur di kantong tidur Micha.


Hudson memilih menemani Win Xie yang baru dia selamatkan. Entah kenapa ada kesedihan mendalam dihatinya ketika melihat wajah gadis itu. mengingatkan akan luka hatinya yang dulu.


--------


"Hudson, aku ingin kita latihan lebih lama sedikit. Jangan engkau terus lari kabur setelah sesi latihan selesai." Ujar Bianca.


"Bukankah yang kita tarikan sudah sempurna?" Ujar Hudson.


"Tapi perasaan cinta antara Giselle dan kekasihnya itu tidak muncul." Jawan Bianca tajam.


"Bagaimana bisa bersikap seperti kekasih jika aku membencimu." Gumam Hudson.


"Aku tahu kau membenciku. Tapi tolong profesional sedikit. Berikan hatimu untuk tarian ini." Ucap Bianca seakan bisa membaca pikiran Hudson.


Jlebb...


Kata-kata Bianca memang benar. Hudson tidak profesional, jika dia tidak bisa mengatur perasaan pribadi dengan ballet. Akhirnya Hudson berusaha mengesampingkan kebenciannya dan lebih menjiwai tariannya.


Hari demi hari berlaku, dan seperti kata orang-orang


"Cinta tumbuh karena kebiasaan."


Kata-kata klise tanpa arti tapi penuh makna.


Perlahan Hudson mulai menyukai Bianca. Dia gadis yang ulet, rajin dan dia memang ceplas ceplos. Kata-katanya tajam tapi bukan karena membenci orang yang dia tegur.


Hudson mulai paham akan sifat Bianca dan benih-benih cinta mulai tumbuh. Mereka semakin dekat dan semakin akrab. Hudson mulai merindukan Bianca, jika dia tidak sedang berlatih.


Setiap hari selalu dinanti dengan penuh semangat, berusaha mencari Bianca jika dia belum bertemu dengan Bianca di hari itu. Hal yang sama juga dilakukan Bianca. Dia seperti merindukan Hudson.


Banyak yang iri dengan Hudson. Para gadis? Mereka semakin membenci Bianca, apalagi sejak Bianca dekat dengan Hudson. Karena Hudson juga pujaan para ballerina.


"Berhati-hatilah dengan wanita yang sedang marah."