The End Of The World

The End Of The World
03 Hari sebelum pertunjukkan




bagi yang ingin membayangkan Win Xie, foto sebagai referensi (dari pinterest)


Pagi yang indah, dan tinggal 3 hari lagi sebelum pementasan. Entah kenapa Win Xie terbangun lebih cepat, padahal alarmnya belum berbunyi. Seakan ada yang memanggil dia bangun.


" Kenapa begini? apakah karena terlalu bersemangat untuk pementasan?" Win Xie keheranan, tapi dia tetap beranjak dari tempat tidurnya.


" Ya, lebih baik cepat-cepat mempersiapkan diri. Setidaknya aku bisa sarapan dengan santai." Ujar Win Xie lagi.


 


Meghan yang biasanya datang tepat waktu, kali ini juga berangkat lebih cepat.


"Entah kenapa rasanya ingin cepat-cepat berangkat saja, aneh" Gumam Meghan sembari menyusuri terotoar menuju tempat latihan.


"Ah, Win Xie. Tumben dia juga cepat berangkat." Ujar Meghan, seraya mempercepat langkah kakinya mengejar temannya.


"Xie...Win Xie..." Meghan meneriakkan nama Win Xie.


Win Xie yang melangkah dengan banyak pikiran, tidak mendengar namanya dipanggil.


"Hei." Tiba-tiba bahu Win Xie ditepuk dengan keras.


"What The..." Ujar Win Xie kaget dan menoleh ke arah bahu kirinya yang ditepuk. Ternyata Meghan yang menepuknya.


"Kalau jalan, jangan termenung **beb**. Sudah beberapa kali aku memanggilmu, tapi kamu tidak mendengarku." Ujar Meghan sambil melipat tangannya.


"I'm Sorry beb." Ujar Win Xie memasang tampang memelas memohon maaf.


"Aku heran, kenapa hati ini merasa tidak nyaman. Seakan ada sesuatu yang salah." Lanjut Win Xie mengutarakan isi hatinya.


"Sama, aku juga merasakan begitu." Timpal Meghan. "Apakah karena pementasan kali ini menentukan langkah kita selanjutnya?"


"Entahlah Meg, aku juga tidak tahu. Bisa jadi begitu, makanya kita menjadi sedikit tertekan." Jawab Win Xie berusaha menata hatinya yang dilanda perasaan cemas.


"Sudahlah sobat, kita persiapkan saja sebaik mungkin. Apapun yang terjadi, semua pasti yang terbaik." Jawab Meghan berusaha menghibur diri dan Win Xie.


Meskipun mereka sudah sering melakukan pementasan, tapi ini sangat berbeda. Bohong jika mereka tidak cemas, grogi dan penuh keraguan. Karena hasil pementasan kali ini, menentukan apakah mereka berhak menerima beasiswa sebagai murid di Balet Scholl.


 


Disaat yang bersamaan, Hudson berusaha mencari cara menyelamatkan ketiga temannya yang makin kelihatan aneh. Dia sibuk berpikir tanpa memperhatikan ada perubahan aneh pada para tunawisma yang lain.


Banyak yang mulai menggaruk-garuk badannya. Tapi mereka seakan tidak memperdulikan, dan bergerak keluar mencari makanan. Ada yang berniat membeli makanan dengan uang yang didapat. Ada yang ingin membeli pakaian lebih baik untuk persiapan musim dingin nanti.


"arrrghhhh, arrrrghhh" Ketiga teman Hudson ini terus bergerak tidak ada tanda kelelahan.


"Mereka seakan tidak butuh istirahat" Ujar Hudson.


"Ya, mereka terus bergerak tidak jelas begitu" Jawab Leon.


"Apakah yang terjadi sebenarnya? Seakan mereka bukan lagi manusia." Timpal Hudson.


"Bagaiamana kalau kita memberikan mereka sesuatu? Mereka seperti mau mengigit" Cengir Leon ke arah Hudson.


"Ya, aku juga berpikir begitu. Apa mereka lapar?" jawab Hudson tanpa melepaskan pandangan dari ketiga teman anehnya. "Coba berikan mereka potongan ayam sisa itu" ujar Hudson kepada Leon.


"Oh, No. Jangan aku." Leon mundur beberapa langkah.


"Hah, Kau penakut." Gerutu Hudson sembari mengambil ayam dan menyodorkan kepada Jack.


"Arrgghhhhh...." Tiba-tiba Jack mengamuk dan berusaha menggigit ke arah tangan Hudson. Hudson dengan cepat menarik tanggannya sebelum digigit Jack.


"Astaga, mengapa bisa begitu? Dia mau menggigit tanganmu." Leon terperanjat.


"Aneh, ada yang salah dengan tubuh mereka." "Aku perlu tahu apa yang dimasukkan ke dalam tubuh mereka." Ujar Hudson emosi.


 


Kedua gadis itu sudah berlatih sampai siang. mereka lelah tapi juga merasa cemas. Kecemasan yang berlebihan.


"Agh, Meghan. Sepertinya kita harus berjalan-jalan sore ini. Melepaskan sejenak stress yang ada." Usul Win Xie kepada Meghan.


"Hum, boleh juga. Aku ingin melihat butik yang baru dibuka di ujung jalan sana." Celutuk Meghan sengan bersemangat.


"Hei gadis-gadis. Kalian sudah ingin membeli gaun baru?" Timpal Mortaq mendengar jawaban Meghan.


"Hanya sekedar melihat-lihat sayang." Jawab Meghan sambil mengerlingkan matanya.


"Ow, **senorita** ". Tidak ada wanita manapun yang bisa mengerlingkan mata begitu padaku." Canda Mortaq kepada Meghan "Benarkah? lalu seperti apa aku harus mengerlingkan mataku? dengan begini?" Ujar Meghan sambil mengerjap-ngerjapkan kedua matanya dengan cepat.


Semua tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Meghan. ya, mereka berdua benar-benar duo badut. Selalu bisa membuat suasana menjadi lucu penuh tawa.


"*Lebih baik banyak tawa daripada terus bermuram durja*" kata-kata ini terus terngiang di telinga Win Xie. Kata-kata yang selalu ibunya ucapkan setiap kali Win Xie menekuk mukanya dikala ada masalah.


"Kalau kalian mau, aku akan mengajak kalian ke suatu tempat istimewa." Ujar Mortaq lagi.


"Kemana?" Tanya Meghan bersemangat.


"Ke tempat favoritku. Selama ini aku selalu menghabiskan waktu disana. Aku yakin kalian suka" Jawab Mortaq penuh misteri.


"Baiklah, aku ikut." Jawab Meghan cepat.


"Hum, aku juga ikut." Jawab Win Xie.


"Deal, sekarang lebih baik kalian pulang, mandi yang bersih dan wangi. Sedikit Make Up juga diperlukan *ladies*." Perintah Mortaq dengan penuh percaya diri.


"Dandan? Kau tidak akan menjual kami kan?" Tanya Meghan dengan curiga.


"Hahahaha... mana mungkin aku menjual kalian *ladies*." Tawa Mortaq tak tertahankan.


"Syukurlah kalau begitu" Jawab Meghan pura-pura lega.


Win Xie hanya bisa tersenyum simpul melihat mereka bercanda.


 1 jam kemudian


Meghan dan Win Xie sudah rapi dan wangi. Mereka juga sedikit berdandan sesuai dengan permintaan Mortaq.


Meghan mengenakan dress Bohemian bertali tipis dengan warna putih ditaburi bunga-bunga daisy di seluruh dress, dia melengkapi dress nya dengan jaket jeans dan Meghan semakin kelihatan menarik dengan sepatu bootnya. Ia mengikat tinggi rambutnya ke belakang. "Khas Meghan. Bohemian Style." Ucap Win Xie dalam hati.


Sedangkan Win Xie lebih memilih Tank Top warna biru dengan cardigan hitam dipadukan celana jeans ketat semata kaki. Ia lebih memilih menggunakan sepatu kets putih kesayangannya untuk padanan gaya sehari-hari.


"Wow, berbeda sekali dengan penampilan kalian yang tadi." Ujar Mortaq


"Inilah kami kalau diluar sekolah balet, sayang." Ujar Meghan


"Kamu bertingkah seakan tidak pernah jalan diluar bersama kami Mortaq." Jawab Win Xie tenang.


"Hahaha, ini hanya pujian untuk kalian *senorita*\" Jawab Mortaq cepat, sebelum para gadis marah.


"Baiklah, kamu dimaafkan." Jawab Win Xie sambil tertawa.


"Ayo, kita ke butik yang baru dulu. Setelah itu baru ke tempat rahasia Mortaq." Potong Meghan cepat, sambil menarik tangan Win Xie.


"Baiklah ladies, Senor Mortaq siap menemani kalian" Gurau Mortaq lagi berjalan mengikuti gadis-gadis itu.