
Ilustrasi Penampilan Di panggung. Saat pangeran menari dengan Odette.
Di Panggung
Win Xie menarikan "Odette" dengan sangat baik, Seakan dialah sang putri yang disihir menjadi angsa. Tariannya begitu memukau, penuh dengan emosi dan cinta. Tak jauh berbeda dengan Mortaq, mereka benar-benar menampilkan pasangan yang sedang jatuh dalam pusaran cinta. Hal ini memang berbuah manis karena mereka berpacaran diluar sekolah balet. Meskipun mereka tidak menunjukkan tingkah laku romantis di depan teman yang lain.
Pertunjukkan selesai dengan baik, standing applause membahana dalam ruangan itu. dan para utusan dari Royal Ballet tersenyum senang. Bibit baru sudah ditemukan, 3 orang terpilih akan segera dibawa ke London.
Di Lorong, Hudson dan 2 temannya telah selesai mengumpulkan persiapan mereka. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kedepan. "Lebih baik bersiap untuk yang terburuk" Ujar Hudson. Pengalamannya di militer membuat dia bersikap waspada dan langsung membekali diri.
Tunawisma yang menjadi zombie mengigit manusia yang mereka temui. Manusia yang digigit seakan mati tak berdaya, tapi tak lama tubuh itu bergerak. Tubuh yang berlumuran darah mulai berjalan dan bergerak mencari mangsa lain. Pelan tapi pasti kekacauan mulai terjadi di pinggiran kota.
"Congratz guys." Ujar Tammy kepada Win Xie dan Mortaq. Kalian benar\-benar seperti pasangan dimabuk cinta. Win Xie hanya tersenyum simpul.
"Of Course, karena dialah senorita ku" Ujar Mortaq mengerlingkan matanya ke Win Xie. Kerlingan mata seorang mexican? membuat luluh hati para wanita.
"Hahaha, kamu bisa saja Mortaq." Tawa Tammy yang tidak paham.
Sebuah hubungan yang dirahasiakan. Win Xie memang tidak mau terlalu menarik perhatian dengan kisah cintanya. Apalagi Mortaq pujaan para ballerina di sekokah ini.
"Tolong.....!!!!!" Suara teriakan mengejutkan mereka.
"Ada itu?" Tanya Mortaq heran.
Mereka melangkah keluar dari ruang ganti dan terkejut melihat ke arah pintu samping. Seorang wanita digigit di depan pintu masuk karyawan. Yang mengigit adalah Kru penjaga pintu masuk. Pria itu bersimbah darah dengan lehernya tercabik mengeluarkan darah serta mata yang merah.
"Ya Tuhan, apa itu?" Mortaq terperanjat melihat pemandangan mengerikan di depan mata mereka.
Pria itu tiba\-tiba melepaskan gigitannya dan wanita yang digigit terkulai lemas tak berdaya. Pria itu melihat ke arah Mortaq dan mulai bergerak mengejar mereka.
"Lari!" Ujar Mortaq.
Mereka berlari di lorong menuju ke hall utama. Pemandangan di hall utama tampak lebih mengerikan. Ada yang berteriak minta tolong, digigit oleh temannya sendiri. Ada yang setelah digigit kembali bergerak dan mengigit teman yang masih sehat.
"Oh tidak, lihat." Tunjuk Win Xie ke arah panggung.
"Meghan! Ke arah sini." Teriak Win Xie memanggil Meghan yang kebingungan.
Meghan tersentak dan segera bergerak ke arah mereka sebelum zombi mengejar dia.
"Cepat, kita harus keluar dari ruangan ini." Teriak Mortaq lagi.
tepat saat Meghan sampai, zombie yang mengejar Mortaq tadi muncul dibelakang mereka. Mereka segera berlari menuju sebuah tangga. Tangga ini mengarah ke lantai atas. Bersyukur zombie itu bergerak lambat, sehingga mereka masih bisa lari.
Pintu diujung tangga terbuka, mereka masuk dan menutup pintu. Mencari beberapa kursi untuk mengganjal pintu.
"Perhatikan sekitar. Jangan sampai makhluk mengerikan itu masuk ke dalam sini." Ujar Tammy.
"Apa yang terjadi? Mengapa begitu banyak darah?" Ujar Win Xie ketakutan, badannya gemetar hebat.
"Mengerikan, aku tidak tahu darimana datangnya, tiba\-tiba serombongan makhluk aneh itu masuk ke hall dan mengigit tamu. Tamu yang digigit terkulai lemas, lalu bergerak dan mengigit lagi tamu yang lain." Ujar Meghan bergidik ngeri.
Win Xie terjatuh lemas di lantai, dia gemetar hebat. Mortaq yang menyadari hal itu segera memeluk Win Xie. "Jangan cemas sayang. Kita segera akan keluar dari sini. Setidaknya sekarang kita aman."
Win Xie hanya bisa membenamkan wajahnya di dalam pelukan dada Mortaq yang hangat. Win Xie memang sangat takut melihat darah, ada pengalaman buruk yang akan kembali teringat ketika dia melihat darah.
"Apakah kita bisa keluar dengan selamat?" Ujar Tammy cemas.
"Jangan takut. Bantuan pasti datang." Ujar Meghan menenangkan mereka.
"Coba lihat ke arah jalan. Hati\-hati, kita tidak tahu apakah makhluk itu bodoh seperti di film atau mereka cerdik dan sadar kita bersembunyi." Ujar Mortaq kepada Meghan sembari membimbing Win Xie untuk duduk di kursi kosong disudut ruangan itu.
Mortaq bergerak ke arah jendela dimana Meghan sudah berdiri disana melihat ke arah bawah di jalan raya. Kekacauan terjadi. Orang di jalan saling mengigit. Yang sedang membawa mobil menabrak mobil lain. Teriakan , jeritan menahan sakit. Kekacauan besar dimana\-mana.
"Mengerikan. Kenapa begini?" Ujar Meghan bergidik. " Bagaimana kita bisa keluar dari gedung ini, jika kekacauan seperti ini."
Tammy bergerak dan melihat ke jendela. Dia pun terkejut dan terduduk lemas.
"Oh Tuhan, apakah ini mimpi? Mengerikan." Ujar Tammy.
Win Xie hanya bisa diam membisu. Dia ketakutan dan tidak bisa bergerak untuk melihat sendiri. Bayangan masa lalu kembali berputar di kepala nya.
Won Fuk ayah Win Xie adalah seorang pengusaha kaya di kampung halamannya di Tiongkok. Dia sukses memasarkan hasil panen kampungnya di kota besar. Meskipun begitu, Won Fuk tidak pernah menjadi rakus dan tidak mau memakan hak para petani. Dia membeli dengan harga yang pantas dan menjualnya dengan harga yang pantas juga.
Penduduk desa menghargai ayah Win Xie dan mereka bersyukur bisa memperoleh hidup yang baik dengan keahlian ayah Win Xie memasarkan hasil panen mereka. Meskipun begitu, tetap saja ada yang tidak suka dengan keluarga Won Fuk. Keluarga Liang yang juga bergerak dibidang yang sama, selalu menaruh benci dengan apa yang dilakukan Won Fuk.
Suatu hari mereka merencanakan rencana jahat untuk menghabisi Won Fuk dan keluarganya. Dibuatlah rencana untuk mencelakakan Won Fuk beserta keluarganya dalam perjalanan membawa hasil panen penduduk desa. Mereka menyusup ke rumah Won Fuk dan mengutak-atik rem mobil Won Fuk.
Paginya Won Fuk yang tidak tahu, membawa hasil panen beserta keluarganya ke kota. Sekalian membeli beberapa pakaian baru untuk menyambut musim dingin bagi kedua anak Won Fuk, Win Xie dan Win Fei adik laki-laki Win Xie.
Ditengah jalan disisi tebing yang curam, tiba-ada mobil yang mendadak datang dari arah berlawanan dan hampir menabrak mobil Won Fuk , langsung Won Fuk membanting setir dan mereka terjatuh ke jurang. Semua berteriak ketakutan dan tak terlelakkan, mobil menghantam batang pohon yang ada di dasar jurang. Posisi kepala mobil ke bawah, dan ini membuat ayah Win Xie terluka parah.
4 jam mereka di dalam mobil yang hancur menabrak batang pohon, Win Xie yang saat itu berumur 10 tahun, menangis menahan sakit. Ibunya terluka dan memeluk Win Xie. Mereka yang duduk di kursi depan tidak bergerak. Ya, Won Fuk dan Win Fei yang berumur 8 tahun tidak bergerak. Pecahan kaca mengenai tubuh mereka. Atap mobil yang dihantam batang pohon menekan tubuh mereka di kursi depan. Win Xie tidak sadarkan diri, pingsan dalam pelukan ibunya.