The End Of The World

The End Of The World
Nasib tiada yang tahu



"Lepaskan" Win Xie" Ujar Mortaq.


"Tidak." Ujar Win Xie menangis.


"Kamu tidak akan kuat menarikku." Ujar Mortaq.


"Aku akan membantu menarikmu" Ujar Meghan


"Lepaskan saja." Ujar Mortaq lagi.


Tangan Win Xi mulai terasa sakit.


Meghan berusaha menarik tangan Mortaq yang dipegang Win Xie.


"Ulurkan tanganmu yang satunya." Ujar Meghan.


Mortaq berusaha menjangkau tangan Meghan.


Win Xie dan Meghan akhirnya memegang tangan Mortaq. Mereka berusaha menarik Mortaq ke atas. Kelihatannya mudah, tapi bobot badan Mortaq lebih berat dari mereka, dan ini membutuhkan usaha yang tidak sedikit.


Mereka menahan tangan yang sakit karena menarik tubuh Mortaq. Dan setelah beberapa kali sentakan, separuh tubuh Mortaq sudah di lantai atap bangunan tempat Win Xie dan Meghan berada. Mortaq lalu memanjat naik ke atas.


"Terimakasih" Ujar Mortaq.


Win Xie dan Meghan langsung memeluk Mortaq.


"Ingat, jangan menyerah semudah itu." Ujar Meghan sambil menunjuk kening Mortaq.


"Mortaq jika disaat terdesak, kekuatan manusia bisa bertambah dua kali lipatnya, kamu tahu?" Ujar Win Xie sambil menangis haru "Jangan berpikiran kami tidak bisa menolongmu. Buktinya sekarang kamu disini."


"Iya sayang, maafkan aku." Ujar Mortaq lagi.


Mereka lalu melihat sekeliling dan dari atas atap bangunan itu terlihat Mall Florida di depan bangunan tempat mereka berdiri.


"Lihat, sedikit lagi kita sampai." Ujar Meghan


"Hari sudah makin malam, ada baiknya kita bertahan disini dulu." ujar Win Xie.


"Ya, jika tidak akan lebih berbahaya karena gelapnya malam dan zombie yang berkeliaran bisa saja menyerang kita sewaktu-waktu" Tambah Mortaq.


"Kita beristirahat di atap ini saja" Ujar Meghan


Win Xie dan Mortaq mengangguk setuju. "Lebih aman di atas ini, karena kita tidak tahu bagaimana keadaan dibawah." Ujar Win Xie.


Kegelapan malam yang mulai merambat, membuat mereka kurang waspada. Terlebih ketika menyadari lampu di Mall terlihat menyala.


"Ada orang yang selamat di mall itu." Ujar Meghan


"Sepertinya begitu." Timpal Win Xie.


"Kita harus memikirkan cara bagaimana menuju ke sana." Ujar Mortaq memandang sekeliling.


"Hei, lihat. Ada tangga di samping gedung ini. Tangga ini menuju ke bawah." Ujar Meghan.


"Kita bisa turun lewat sana." Jawab Mortaq.


"Tapi kita akan memutar sedikit jika turun dari tangga itu." Win Xie berkata sambil mengamati.


"Lebih berbahaya, tapi itu jalan yang paling aman untuk mencapai bawah." Ujar Mortaq.


"Kita tidak tahu apakah di dalam.gedung ini ada zombie atau manusia gila lainnya." Lanjut Mortaq lagi.


Sesuatu bergerak dibalik kegelapan. Mencoba mendekati mereka. Ketiga nya merasa aman sehingga tidak waspada akan sekitar. Lalu sosok itu bergerak semakin mendekat. Dia berjalan dibelakang mereka, tepat dibelakang punggung Mortaq.


----------


"Besok pagi sekali kita akan keluar dari Mall ini. Aku akan mengecek kembali semua barang dan peralatan yang dibutuhkan." Ujar Hudson.


"Aku ikut, aku ingin memastikan mobil itu besok bisa langsung digunakan." Ujar Leon semangat.


"Pergilah, aku minta ditemani Wolly untuk mencari obat, aku lupa mengambil Ibuproven." Ujar Micha dan dijawab dengan anggukan oleh Wolly.


"Hei, bagaimana dengan manusia busuk itu?" Tanya Wolly tiba-tiba.


"Aku akan melepaskan dia tepat saat kita akan berangkat. Tapi aku tidak akan membawa dia. Manusia itu tidak bisa dipercaya." Jawab Hudson mantap.


"Lebih baik tidak usah membawa dia." Micha menyahut sembari bergidik ngeri membayangkan apa yang telah dilakukan Prims padanya.


"Baiklah, selesaikan urusan kita dan kita bisa beristirahat lebih awal." Perintah Hudson lagi.


"Siap kapten." Jawab Wolly sambil memberi hormat ala pasukan militer, dia lalu tertawa.


Mereka semua tergelak melihat tingkah Wolly.


--------


Bayangan itu bergerak dengan cepat dan menggigit bahu Mortaq.


"Arrrggghhhhh" Terika Mortaq.


Win Xie dan Meghan terkejut lalu melihat ke arah Mortaq.


Zombie wanita sedang menggigit bahu kanan Mortaq dengan beringasnya.


Mortaq berusaha melepaskan diri, rasa aakit yang dirasa seakan hilang karena terkejut. Dia memukul kepala zombie itu dengan kayu di tangannya. Pukulan itu tidak membuat zombie melepaskan gigitan. Mortaq berusaha menusuk mata zombie, tidak ada hasil juga.


Win Xie terkejut tanpa bisa bergerak.


Meghan yang awalnya terkejut lalu teringat pistol yang mereka bawa, dia mengambil dari tas Win Xie dan berusaha membidik zombie itu.


Tapi Mortaq bergerak terus karena berusaha melepaskan diri. Meghan langsung menembak dengan harapan mengenai Mortaq.


"Dor"


Ternyata meleset, malah melukai bahu Mortaq.


Win Xie yang tersadar dari kagetnya karena suara pistol langsung memekik kaget.


"Tidaaaakkkkk."


Dia lalu merampas pistol dari tangan Meghan dan berusaha menembak zombie itu. Kali ini tepat mengenai kepala zombie.


Zombie perempuan itu tidak bergerak lagi.


Sayangnya Mortaq digigit dan bersimbah darah. Bekas peluru juga terlihat di dadanya.


"Maaf, maafkan aku. Aku hanya ingin menolong." Ujar Meghan


"Tidak apa-apa." Hibur Mortaq, dia muntah darah.


Win Xie menangis ingin memeluk Mortaq, lengan kiri Mortaq yang tidak digigit menahan Win Xie. "Jangan mendekat, Aku sudah digigit." Ujar Mortaq sambil menggeleng.


"Kita...kita cari obatnya." Ujar Win Xie tercekat.


"Bukankah Daniel bilang ada obatnya?" Sambung Win Xie lagi sambil berderai air mata.


"Sudahlah sayang, aku tahu harus bagaimana." Ujar Mortaq.


"Malam ini juga kita turun ke bawah, aku akan melindungi kalian sampai ke Mall Florida" Ujar Mortaq.


"Tidaaakkk...Aku tidak mau." Jawab Win Xie menangis.


Meghan hanya bisa menangis dalam diam, dia merasa sangat bersalah dan tidah tahu harus berbuat apa-apa lagi.


Mortaq kembali muntah darah. Dia lalu bergerak turun ke tangga disisi gedung.


"Ikuti aku." Ujar Mortaq.


"Aku tidak mau, aku akan tetap bersama mu." Ujar Win Xie histeris.


"Ini permohonan terakhir ku. Selamatkan dirimu, capai impianmu dan impianku. Ingat, aku tidak ingin kamu berpikiran bodoh dan mengorbankan segalanya. Ibumu menunggumu sayang." Ujar Mortaq sembari meringis menahan sakit bekas gigitan dan peluru yang bersarang dalam dadanya.


"Ayo Meghan. Jangan merasa bersalah, engkau hanya mencoba menolongku. Sudah takdirku begini. Tolong jaga Win Xie untukku, jangan biarkan dia melakukan hal bodoh." ujar Mortaq menahan tangisnya.


Mereka akhirnya turun tangga demi tangga, berusaha meminimalisir suara yang ada. Sesampainya di jalan, suasana cukup sepi.


"Lari ke mall itu." ujar Mortaq.


"Tapi..tapi kamu bagaimana?" Tanya Win Xie.


"Selamatkan impian kita." jawab Mortaq.


"Aku.. aku tidak sanggup Mortaq." Win Xie menangis hebat.


"Ingat, ibumu membutuhkan mu. Lari." Ujar Mortaq.


Meghan menarik tangan Win Xie setelah mengangguk melihat ke arah Mortaq. Kedua gadis itu berderai air mata berlari ke arah mall.


Mortaq lalu menembakkan pistol ke udara


"Dor..."


Para zombie mendengar suara itu dan bergerak menuju arah suara.