
"Tapi, impianku adalah kamu Bianca" Hudson akhirnya mengatakan isi hatinya.
"Lalu jika aku impianmu, apakah kamu akan berhenti menari juga?" Jawab Bianca bergetar.
"Tentu, hari-hariku akan berarti dengan keberadaanmu" Hudson menjawab dengan percaya diri.
"Jangan jadikan aku alasan untuk merampas impianmu Hudson." Bianca berteriak histeris
Hudson memeluk Bianca, tapi dia didorong menjauh.
"Pergi...Pergi dari sini. Aku benci melihatmu." Usir Bianca dengan emosi.
"Tapi, aku ingin menolongmu." Hudson bertahan di tempatnya.
"Pergiiiii, tinggalkan aku sendiri." Teriak Bianca lagi.
Teriakan Bianca membuat perawat yang lewat masuk ke ruangan, dan meminta mereka untuk tidak membuat keributan. Perawat lalu mengajak Hudson keluar.
"Lebih baik biarkan pasien tenang dulu tuan." Ujar perawat itu sembari menutup pintu kamar Bianca.
Hudson hanya bisa memandang Bianca Dari balik kaca yang ada di pintu itu. Hatinya hancur, dia ingin menolong Bianca. Tapi Bianca seorang yang berharga diri tinggi.
Selama berhari-hari dia tidak diizinkan masuk oleh Bianca. Di hari ke 4 saat Hudson mengunjungi Bianca, dia terkejut melihat perawat panik masuk ke dalam ruangan Bianca.
"Pasien tidak sadarkan diri." Ujar Perawat melapor kepada dokter yang datang.
"Kenapa? Padahal kondisi pasien harusnya dalam masa pemulihan. Dan tidak ada indikasi bahaya apapun." Jawab Dokter bergegas memeriksa Bianca.
"Sepertinya dia meminum sesuatu dokter." Seorang perawat menemukan botol obat yang kosong.
"Ini obat tidur. Darimana dia mendapatkan ini?" Tanya Dokter marah.
"Tidak tahu, dok." Jawab perawat yang lain.
"Sepertinya dia mencuri dari petugas yang memeriksanya." Jawab Perawat satu lagi.
"Bagaimana bisa?" Tanya dokter itu lagi sembari menyuruh perawat mendorong tempat tidur Bianca ke ruangan lain untuk mendapatkan tindakan lanjutan.
"Di ruangan sebelah ada ibu yang memang harus mengonsumsi obat tidur. Dan sebelum kesana, perawat ke sini dulu dokter" Jawab perawat itu panik.
"Kalian gila, seharusnya kalian membawa berapa yang dibutuhkan. Bukan sebotol begitu." Jawab dokter kesal dan berlalu mengikuti Bianca yang didorong keluar.
Hudson hanya bisa tertegun. Lalu dia mengejar Bianca.
Bianca tidak dapat diselamatkan lagi, meskipun segala upaya telah dilakukan. Bianca memilih mengakhiri hidupnya.
Hudson mendapatkan secarik surat di meja dalam ruangan Bianca dirawat.
******
"Dear Hudson,
Maafkan aku, aku memilih jalan ini agar impianmu tidak berubah.
Mimpiku hancur berantakan, dan aku tidak memiliki tujuan lagi. Sebelumnya keluargaku menentang impianku. Dan mereka mulai menerima disaat aku berhasil. Tapi sekarang semua hancur. Mereka pasti tidak akan menerimaku lagi.
Aku tahu aku pengecut. Aku lari dari masalah. Tapi, apa lagi yang bisa kulakukan? Semua orang mengataiku. Bahkan ada yang tega berbuat sekeji itu padaku. Mereka menghancurkan impianku.
Kejarlah impianmu juga impianku. Jangan lagi memikirkan diriku ini. Aku tahu aku egois, aku meninggalkanmu. Aku memilih jalanku sendiri. Tapi, ini yang terbaik.
Bencilah aku, buang semua kenangan. Jadilah Hudson yang dulu, Hudson yang tidak mengenal aku. Sekali lagi maafkan aku.
Bianca
******
Hudson menangis tersedu-sedu. Dia tidak ingin Bianca mengakhiri hidupnya, masih banyak jalan. Apa daya, Bianca tidak mau membuka hatinya untuk melihat jalan yang lain.
Hudson begitu terpukul disaat jenasah Bianca dijemput keluarganya untuk dikuburkan di tanah kelahirannya. Hudson tidak akan pernah bertemu Bianca lagi.
Suatu saat dia bertemu dengan salah satu temannya dan dari mulut orang itulah dia tahu bahwa ada seorang balerina pendukung yang merencanakan itu semua.
Hudson mencari wanita itu dan membunuh wanita tersebut. Dia lalu melarikan diri dan hidup menjadi gelandangan. Dia merasa puas telah membalaskan dendam Bianca. Tapi disudut hatinya ada sebuah lubang kosong tak berdasar yang tidak bisa ditutupinya. Dia kehilangan arah dan hidup menggelandang 9 tahun lamanya.
----------
Hudson tersentak merasakan sesuatu yang hangat di lengannya, air mata Win Xie.
Gadis itu menangis dalam tidurnya. Gadis itu belum bangun padahal 4 jam telah lewat.
Hudson berusaha memeluk dengan lembut dan membuat Win Xie senyaman mungkin. Lengan kekar itu merasakan tubuh yang ringkih seakan tiada lagi harapan.
Tiba-tiba Win Xie membuka matanya dan mereka saling bertatapan. Hudson tersentak kaget dan melepaskan pelukannya, sehingga Win Xie hampir terjatuh, beruntung Hudson cepat kembali mendekap Win Xie.
Yang lain tidak menyadari karena Hudson duduk di bagian dekat pintu, karena bagian itulah yang paling dekat ketika dia menggendong Win Xie masuk ke van.
"Ah, maafkan aku." Ujar Hudson saat kembali menangkap tubuh Win Xie.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu bisa melepaskan mku." Win Xie sedikit malu menatap Hudson.
Hudson melepaskan Win Xie ketika gadis itu sudah bisa duduk dengan baik.
"Ah"
Pekik Win Xie pelan, dia merasa pusing.
Hudson kembali menahan tubuh Win Xie.
"Sebaiknya kamu tetap bersandar kepadaku. Kepalamu terbentur dan 4 jam kamu tidak sadar" Jelas Hudson sembari menyandarkan Win Xie di dadanya yang bidang.
Win Xie hanya bisa menuruti Hudson karena dia melihat mereka dalam van yang berbeda.
"Maaf, aku merepotkan mu. Jika tidak pusing lagi aku akan duduk sendiri." Win Xie merasa tidak enak hati.
"Tidak apa, jangan sungkan. Kondisi dalam van ini lebih sempit dari van kita. Jadi buatlah dirimu senyaman mungkin." Hudson menenangkan Win Xie.
"Kakimu terluka?" Tanya Win Xie cemas melihat celana jeans Hudson yang berdarah.
"Sedikit, tadi sudah dibersihkan. Luka kecil begini tidak ada arti bagiku." Hudson sedikit menyombongkan diri.
"Huh, kamu menyombongkan diri karena kalian pria bisa menahan sakit?" Gerutu Win Xie terpancing.
Hudson tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.
Win Xie hanya mendengus dan tetap bersandar di dada Hudson.
Tanpa sadar, mereka terlelap dan terbangun disaat mobil berhenti mendadak.
Hudson menghantam pintu van, sedangkan Win Xie menghantam.dada Hudson.
"Aduh...." Win Xie memegang kepalanya, pusing kembali melanda Win Xie dan dia merasa mual.
Yang lainnya terbangun dan terhempas juga karena gerakan van yang tiba-tiba berhenti.
Hudson yang kembali memeluk Win Xie dengan tangan kirinya, membuka pintu van menggunakan tangan kanan. Wolly dan Leon melompat keluar menodongkan senjata yang mereka sembunyikan di van mereka sebelumnya.
Win Xie mengikuti mereka keluar dan terhuyung hampir jatuh ke tanah, cepat Hudson memeluk pinggang Win Xie dan bertahan dengan kakinya yang luka. Hudson meringis menahan sakit.
Win Xie muntah dan kembali pingsan.
"Apa itu?" Tanya Wolly bergerak menuju ke arah kemudi.
"Astaga, Peter sepertinya pingsan." Teriak Wolly.
"Iya, dia tiba-tiba menginjak rem dan lalu pingsan." Isak istrinya.
"Istirahat dulu disini." Ujar Hudson masih menahan tubuh Win Xie, lalu Meghan dan Micha membantu menarik Win Xie ke dalam van.