
Ilustrasi Meghan, bayangkan aja Pocahontas versi modren. Bedanya dia sedikit humoris tapi berani.
---------
Perut mereka sudah terisi dengan cemilan yang ada. Setidaknya sekarang mereka sudah lebih tenang. Tapi bagaimana dengan kekacauan diluar?
"Tidak terdengar suara di bawah." Ujar Meghan sembari mendekatkan telinga di pintu.
"Tetap wapada Meg, kita tidak tahu apakah mereka pura-pura diam atau memilih bersembunyi." Ujar Mortaq, dia berdiri menatap keluar jendela, mengawasi gerak gerik zombie yang sekarang sudah lebih tenang.
"Apakah kita bisa keluar dari sini?" Tanya Win Xie cemas.
"Pasti, kita akan keluar dari sini. Tenanglah sayang." Ujar Mortaq menenangkan Win Xie. Pengalaman Mortaq selama wajib militer membuat dia bisa lebih tenang. "Ternyata ada gunanya juga mengapa pria harus wajib militer." Batin Mortaq
"Kalau diperhatikan, mereka sekarang lebih tenang, hanya bergerak tak tentu arah. mencari sesuatu yang tidak jelas." Ujar Tammy mengatakan pendapatnya.
"Ya, hanya saja apa yang bisa membedakan mereka dan kita? Bau? Denyut jantung? Suara?" Ujar Mortaq lagi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Hei lihat itu." Tunjuk Tammy ke arah ujung jalan. Meghan bergegas menuju jendela dan melihat ke arah yang ditunjuk Tammy.
"Ada 2 orang diatas kap mobil, mereka tidak bisa kemana-mana." Ujar Meghan
"Ya, tapi kenapa para zombie itu tidak sadar?" Ujar Tammy lagi.
"Suara, sepertinya mereka bereaksi karena suara." Ujar Mortaq, dia juga sedikit ragu.
"Apakah kita mau mengetes nya?" Ujar Meghan tergelitik " Siapa tahu dengan begitu kita bisa mengalihkan mereka dan keluar dari sini."
"Rencanakan dulu yang matang. Jangan sampai tindakan bodoh kita malah merugikan kita sendiri." Ujar Mortaq tegas.
Kedua gadis itu terdiam. Ya, bagaimana kalau justru zombie itu mengetahui ada pergerakan? Dan zombie itu menyerang ke arah mereka? Terlalu berbahaya.
"Mari Kita susun rencana dulu, perhatikan apa kelemahan mereka dan apa yang memicu mereka mengejar kita." Ujar Mortaq memecahkan keheningan.
"Ya, ada baiknya kita pantau dulu mereka. Jangan lupa perhatikan juga yang dibawah tangga, siapa tahu kita bisa keluar dari ruangan ini." Tambah Tammy.
"Sejauh ini, mereka sepertinya bereaksi dengan suara, jika dilihat dari orang yang berdiri di atas mobil, mereka diam tanpa suara dan zombie itu tidak menyadarinya." Jelas Meghan setelah lama mengamati.
"Ya, itu satu petunjuk. Pertanyaan selanjutnya, apa mereka bisa melihat beda antara yang belum digigit dengan yang sudah digigit? Karena sesama yang sudah digigit, tidak lagi saling menyerang. Atau mereka menyadari dari bau?" Pertanyaan Mortaq
"Selanjutnya, jika kita keluar dari sini. Kemana arah tujuan kita? Kita tidak tahu sampai dimana kekacauan ini. Jika ingin bersembunyi, dimana?" Tanya Tammy lagi.
"Benar, jika seandainya kita keluar sekarang, kita tidak tahu gedung mana yang aman atau apakah dijalan akan aman." Timpal Meghan mengiyakan.
"Yang lebih penting, pakaian kita harus diganti dulu." Win Xie mengingatkan.
Mereka masih mengenakan kostum menari, tentunya tidak nyaman jika mereka harus kabur dari para zombie.
"Benar, Meghan masih dengan tutunya. Sepertinya rencana awal kita adalah mencoba mendapatkan pakaian ganti." Ujar Tammy melihat ke badan sendiri dan menyadari pakaiannya juga masih belum diganti.
"Dari ruangan ini, ada 3 ruang lagi untuk mencapai ruangan kostum. Jika mengharapkan pakaian kalian yang kalian bawa, aku tidak yakin bisa ke ruang ganti tadi." Jawab Mortaq
"Ya, di ruang kostum sepertinya ada beberapa pakaian harian. Aku pernah melihat pakaian itu dibagian pojok ruang kostum." Jawab Meghan.
"Baiklah jika kita bergerak semua kesana, bawa ransum kita ini." Tammy menunjuk cemilan dan air mineral yang ada. "Kita tidak tahu apakah kita bisa berbalik ke ruangan ini atau tidak." Lanjut Tammy
"Ya, saran yang bagus. Jika kita terkurung disana, setidaknya makanan dan minuman masih ada. Ruangan itu juga dekat dengan gedung sebelah." Lanjut Meghan
"Hei, siapa tahu kita bisa menyebrang ke gedung sebelah. Jika ada yang selamat disana, kita bisa semakin menguatkan. banyak orang lebih baik daripada sedikit." Tiba-tiba Mortaq mendapatkan ide.
"Kapan kita akan bergerak?" tanya Win Xie. Dia berusaha menguatkan diri. Disaat begini dia tidak boleh lemah dan menjadi beban bagi teman-temannya. Terlebih menjadi beban Mortaq.
"Kita pantau dulu situasi. Sekarang sudah senja. Kita tidak tahu, apakah suasana gelap membuat mereka beringas, atau lampu yang ada membuat mereka bergerak makin tak beraturan." Ujar Mortaq berjalan ke arah Win Xie.
"Apakah kamu sanggup melalui ini?" Bisik Mortaq lembut ditelinga Win Xie.
"Thanks Honey." Ujar Win Xie lagi sembari membalas memeluk Mortaq.
"Karena hari sudah mau malam, lebih baik kita disini saja dulu, melihat pergerakan para zombie itu. " Ujar Tammy memecahkan keheningan.
Dia berjalan mengelilingi ruangan, membuka pintu lemari yang belum mereka periksa. "Lihat, ada kain besar disini." Ujar Tammy.
"Bisa jadi alas tidur kita, atau selimut?" Meghan merasa senang.
"Lebih baik alas tidur, cuaca juga tidak terlalu dingin." Ujar Tammy.
Kain itu cukup besar ketika diletakkan diatas lantai. Kelebihan kain juga bisa menjadi selimut mereka.
"Sepertinya ini digunakan untuk background pentas." Ujar Meghan lagi. "Sedikit berdebu, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali." lanjutnya.
Lampu jalan mulai menyala, mereka bisa melihat banyak gedung yang gelap gulita. Kecuali gedung yang memiliki sistem elektrical otomatis, dimana lampu langsung hidup disaat gelap.
"Lihat, lampu jalan sudah menyala." Ujar Meghan menunjuk cahaya berpendar di seberang jalan. "Perhatikan, apakah mereka mulai bertingkah aneh?" Tanya Mortaq cepat.
Mortaq langsung menuju ke arah jendela. Mereka belum menyalakan lampu di ruangan itu, mereka takut cahaya lampu justru menarik perhatian zombie.
"Sepertinya cahaya lampu tidak memberikan efek apa-apa." Ujar Mortaq. "Mereka tetap bergerak tanpa tujuan yang jelas. Kadang mereka juga saling bertubrukan, tapi tidak saling menyerang, ini aneh." lanjut Mortaq lagi.
"Berarti kita bisa menyalakan lampu diruangan ini?" Tanya Tammy
"Sepertinya begitu, tutup gorden jendela ini dulu. Setidaknya cahaya lampu itu tidak terlalu terang dilihat dari luar." Jawab Mortaq dan langsung menarik gorden jendela itu.
"Pats" Lampu ruangan itu menyala.
Mereka merasa sedikit lebih tenang.
"Tik tik tik" Suara jarum jam yang berdetak memenuhi ruangan.
"Jam 7 malam" Ujar Meghan memecah keheningan.
"Kita hanya punya camilan jika ada yang merasa lapar." Lanjut Meghan sambil melihat ke tumpukan cemilan.
"Bagaimana bisa merasa lapar, jika kita berada di situasi mengerikan begini." Sungut Tammy.
"Yah, setidaknya kita harus bertahan hidup, tanpa makanan tidak ada tenaga. Kita tidak tahu bagaimana situasi sekarang."
"Hei, televisi yang tadi kehilangan siaran, bisakah kita mencari siaran lain?" Tanya Mortaq. Dia mengambil remote televisi dan berusaha menekan tombol yang ada berharap ada siaran tentang keadaan sekitar.
"Nihil, tidak ada berita sama sekali." Ujar Mortaq sedikit kecewa.
"Bagaimana dengan radio?" Tammy teringat aksi di film-film.
"Dimana kita bisa mendapatkannya?" Tanya Meghan
"Sepertinya di ruangan audio ada." Ujar Tammy yakin.
"Apakah kamu pernah melihatnya?" selidik Meghan memastikan.
"Ya, aku pernah melihatnya." Jawab Tammy dengan pasti.
"Ruang audio berada di lantai bawah, terlalu berbahaya jika kita langsung ke sana." Ujar Win Xie tiba-tiba.
" Ya, jika mau mendengar radio juga lebih baik jika kita pergi ke ruang kostum dulu." Timpal Meghan.
"Jika kita selamat sampai ke ruang kostum, baru kita melihat situasi lagi." Jawab Win Xie
"Bisa saja kita pindah ke gedung lain dari ruangan kostum, atau malah kita mendapat bantuan di gedung sebelah daripada kita ke bawah, lebih berbahaya jika kita bergerak ke bawah." Terang Win Xie.
Tammy dan Meghan mengangguk, mereka juga sadar bahaya yang menanti jika mereka bergerak ceroboh.