The End Of The World

The End Of The World
Sekarang atau tidak sama sekali



Setelah lebih menenangkan diri, mereka berjalan diatas atap untuk melihat keadaan sekitar. Banyak zombie yang berkeliaran di jalanan di bawah mereka.


"Bagaimana caranya kita ke gedung sebelah? " Tanya Win Xie dan melogok ke bawah


"Kita bisa meloncat ke sana." Ujar Mortaq


"Tapi itu sepertinya terlalu jauh." Ujar Win Xie sedikit takut.


"Jaraknya sekitar 3 kaki*" Ujar Mortaq mengira-ngira. "Anggap dirimu sedang melakukan grand jet." Jawab Mortaq


"Tapi ini terlalu bahaya" Jawab Win Xie lagi


"Apa kamu mau bertahan disini? Dengan zombie gila dibawah tangga itu?" Tanya Meghan


"Tapi apakah digedung sebelah tidak ada zombie?" Tanya Win Xie ketakutan.


Mortaq memeluk Win Xie, "Tenanglah sayang. Kamu sudah melalukan hal itu beribu kali. Kenapa harus ragu disaat ini?"


Akhirnya Win Xie terdiam. "Baiklah, kita akan coba berpindah ke gedung sebelah ujarnya."


Mortaq lebih dahulu mengambil ancang-ancang dan dia berhasil melompat serta sampai di gedung sebelah. Meghan juga mengikuti langkah Mortaq, dan Mortaq berhasil menyambut Meghan yang hampir oleng terjatuh.


"Win Xie, sekarang giliranmu." Meghan memanggil Win Xie.


"Ayo sayang, kamu pasti bisa." Ujar Mortaq memberi semangat.


"Aku..aku takut." ujar Win Xie.


"Tunggu, aku akan kembali ke.." Mortaq belum menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba pintu di belakang Win Xie berbunyi keras seperti dipukul-pukul.


"Win Xie, cepat kesini." Teriak Meghan panik.


Win Xie terkejut dan gemetar ketakutan.


"Cepat Win Xie." Ujar Mortaq "Lebih cepat kamu melompat kesini daripada menunggu aku kesana. Tidak ada waktu lagi." teriak Mortaq.


Pintu semakin digedor. Suara erangan para zombie semakin keras. Win Xie terpaku diam. Seakan tidak tahu harus bagaimana. Otaknya dengan cepat bekerja kembali setelah dia termenung sesaar. "Tidak, jangan diam saja. Melompat." Seakan ada suara menggerakkannya.


Win Xie melompat dan meraih tangan Mortaq. Dia hampir terjatuh. "Aaaaaaaa." Pekik Win Xie, kakinya tidak dapat berpijak dengan benar. Untung Mortaq meraih tangannya. Dia menarik Win Xie dan mereka jatuh bersamaan. Win Xie menimpa tubuh Mortaq. Dia gemetar hebat.


"Untung Mortaq meraih tanganmu." Ujar Meghan menarik nafas lega.


--------


Disisi lain di dalam mall, Micha terbangun karena mimpi buruk. Micha lalu beranjak keluar dari kantong tidurnya dan mengambil tas berisikan air minum. Dia meneguk air itu dengan cepat.


"Ada apa?" Tanya Leon pelan.


"Mimpi buruk." Jawab Micha.


"Hum, pasti karena banyak kejadian mengerikan belakangan ini." Ujar Leon lagi.


"Hei, bagaimana kalau kita melihat-lihat bahan makanan?" Ajak Leon sambil bangkit berdiri keluar dari kantonng tidurnya.


"Setidaknya kita memanfaatkan bahan makanan yang cepat membusuk. Lebih baik busuk di perut daripada busuk di luar." Canda Leon.


Micha tersenyum simpul dan berdiri mengikuti Leon yang sudah berjalan sambil menegak air minumnya. Leon mengambil troli yang tertinggal di bagian kasir, lalu mendorong troli itu.


"Sepertinya kita sedang merampok mall saja." Ujar Leon


"Daripada kita tidak makan." Ujar Micha sambil memilih daging untuk diolah.


"Bagaimana dengan kompor? kita perlu itu kan?" Tanya Micha


"Tenang, dibagian hobi aku melihat kompor portabel dan perangkat memasak untuk kemping lainnya." Jawab Leon.


"Ho, kalau begitu aku akan membuatkan kalian steak saja." Ujar Micha, sambil mengambil beberapa potongan daging sapi yang sudah dikemas rapi.


setengah jam kemudian mereka kembali ke ruangan tempat mereka beristirahat. Tapi karena memasak, mereka memilih melakukan di bagian swalayan.


Wangi daging yang dibakar membuat perut lapar. Hudson dan Wolly keluar dari ruangan dan melihat Micha yang sedang membakar daging. "Wow, kita pesta daging?" Tanya Wolly.


"Hanya untuk bertahan hidup teman. Lagian daging juga tidak tahan lama. Kita hanya membantu tidak membuang-buang makanan." Ujar Leon beralasan.


"Banyak alasan." Ujar Wolly sambil tergelak.


Tak lama mereka menikmati daging hasil bakaran Micha. Setidaknya mereka mendapatkan makanan yang lebih baik dibandingkan selama menjadi tunawisma. Tentu saja Leon, Wolly dan Hudson tidak menyia-nyiakan daging itu.


"Hum, perut ku kenyang." Ujar Wolly


"Bersyukur kita masih bisa makan hari ini." Ujar Micha


Micha lalu membereskan piring dan berjalan mencari tong sampah.


"Biar aku temani" Ujar Leon.


Hudson dan Wolly saling berpandangan, sembari tersenyum geli.


"Terimakasih Micha, kamu sudah membuatkan kami steak." Ujar Leon


"Tidak apa-apa, kalian sudah menyelamatkan aku dari pria gila itu. Justru aku yang harus berterimakasih." Jawab Micha dan membuang sampah-sampah yang dia bawa ke tong sampah.


"Bagaimana kalau kita ke bagian pakaian?" Tanya Leon.


"Kenapa? Kamu memerlukan baju?" tanya Micha


"Ada yang perlu diganti." Jawab Leon penuh misteri


"Hum, baiklah." Ujar Micha heran.


Tak lama mereka sampai di bagian pakaian pria. Leon memilih beberapa kaus dan Micha hanya menunggu di kursi yang ada dibagian pakaian pria itu. Tiba-tiba Leon menghilang dari pandangan Micha. Micha terkejut dan memanggil namanya.


"Leon, Leon." Panggil Micha cemas.


"Dimana kamu? Jangan mengerjaiku." Ujar Micha lagi.


"Dorrr" ujar Leon mengangetkan Micha.


"Astaga, Micha terkejut dan terduduk di lantai." Micha mulai menangis.


"Oh no, jangan menangis sayang." Ujar Leon cemas."Tadi hanya bercanda, aku tidak tahu kamu kaget seperti ini."


Leon langsung memeluk Micha berusaha menenangkan.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut." Ujar Leon lagi. Micha pun mengangguk memaafkan dan dia sudah tenang.


"Kamu benar-benar membuat aku kaget." Ujar Micha kesal, dia memukul pelan dada Leon. Leon tertawa dan mengetatkan pelukannya. Micha memeluk kembali Leon. Leon menurunkan wajahnya dan mencium bibir Micha lembut.


Mata Micha terbelalak, tapi sedetik kemudian dia membalas ciuman Leon. Mereka semakin mengetatkan pelukannya, ciuman yang begitu lembut membuat Micha melayang. Dia menginginkan lebih, tali ini bukan saatnya. Leon juga mengetatkan pelukan, seakan tidak melepaskan Micha. Ada gejolak panas di dalam tubuhnya yang membuat dia ingin segera mendapatkan lebih.


Tangan Leon mulai bergerak, tapi Micha menahannya. Micha melepaskan ciumannya dan menggeleng pelan. "Jangan sekarang." Ujar Micha pelan. Leon tersenyum dan mengangguk, dia berdiri serta membantu Micha berdiri.


"Ayo kita kembali ke ruangan kita." Ujar Leon.


Mereka melangkah bersama-sama kali ini sambil berpegangan tangan. Siapa yang menyangka? Dibalik musibah, ada jodoh menanti?


Hai, terimakasih bagi kalian yang sudah membaca novel ini sampai di chapter ini. Mohon dukungannya dengan likenya ya 😂.


saran dan masukan juga diterima.


karena novel ini mengambil budaya asing, jadi istilah malu-malu meong kurang dipakai. lebih ke arah tancap gas aja. sedikit dicocokkan juga dengan tokohnya. kalau tokohnya asia, masih ada norma timurnya.


sekali lagi selamat menikmati membaca novelnya dan likenya sangat ditunggu.


*1 kaki\= 30.48 cm jadi 3 kaki 91.44 cm hampir 1 meter.


grand jet: gerakan melompat dengan kedua kaki lurus sejajar lantai*.