
Wolly mencoba menghidupkan perangkat radio yang telah dia atur sedemikian rupa. Setelah mencari sinyal dari siaran yang mengudara, terdengar beberapa kalimat berita.
"Bzzzzz...bzzzz....Kota Florida sudah tidak ama...bzzzz....bzzzz.... zombie dimana-mana...bzzzz...bzzz...pemerintah...bzzzz....evakuasi keluar kota bzzzzz." Tak lama suara dari radio itu hilang digantikan bunyi desis.
"Benar ternyata, pemerintah menyuruh warga dievakuasi." Ujar Hudson
"Coba terus Wolly, siapa tahu kita bisa mendapatkan berita yang lebih lengkap. Berita seperti ini akan terus diulang." Lanjut Hudson.
"Tenang, ini baru pemanasan." Ujar Wolly kembali mengutak-atik perangkat radio itu.
"Kalian bisa mengambil makanan kering dan memasukkan ke dalam ransel-ransel itu?" Tanya Hudson kepada Leon dan Micha.
Mereka baru kembali dari memberikan Prims air serta makanan.
"Bisa, kami akan mengambil makanan yang bisa dibawa. Apakah obat-obatan juga perlu?" Tanya Leon.
"Obat penting saja. Kecuali jika ada diantar kita yang memang harus meminum obat tertentu." Sambung Hudson melihat ke arah Micha.
"Tidak, aku tidak pernah harus meminum obat khusus, tapi karena fisikku lemah ada baiknya aku mengambil vitamin serta obat demam." ujar Micha menjawab pertanyaan Hudson.
"Baiklah kalian atur saja. Soal makanan, minuman dan obat-obatan kuserahkan kepada kalian. Aku akan mencoba melihat situasi dan kondisi diluar mall ini." Ujar Hudson.
"Sebaiknya kau cepat kembali Hudson. Hari mulai malam, kita tidak tahu bagaimana mereka bereaksi di malam hari." Jawab Wolly.
"Tenang, aku hanya mengamati dari salah satu restoran di mall ini. aku melihat restoran itu memiliki pintu menuju ke halaman parkir. " Jawab Hudson lagi.
"Baiklah kawan, perlu kutemani? " Tanya Wolly
"Tidak, aku ada ini." Hudson mengangkat senjatanya
Hudson lalu berjalan menuju ke arah restoran yang dia maksud.
Leon dan Micha juga beranjak menuju swalayan dengan mendorong troli yang dibawa Hudson serta Wolly tadi.
"Pastikan membawa makanan yang cukup mengenyangkan serta tidak terlalu berat." Ujar Leon
"Bagaimana dengan pematik api?" Tanya Micha.
"Perlukah? Apa kita seperti kemping?" Tanya Leon ragu.
"Bisa saja kita harus memasak sesuatu." Ujar Micha.
"Baiklah, ku rasa kamu bisa membawanya sayang." Ujar Leon sambil mencium pipi Micha.
Mereka hanya mengambil 4 botol air mineral untuk ditaruh di tas, karena tidak mungkin membawa banyak barang dengan zombie yang menggila setiap saat. Siapa yang tahu apa yang zombie itu lakukan?
--------
Hudson melangkah masuk ke dalam restoran itu dan mencari pintu yang menuju ke arah parkiran. Sebagian restoran itu terbuat dari kaca, sehingga tidak sulit melihat sisi kiri restoran itu langsung menuju ke halaman parkir.
Hudson melangkah semakin mendekat. Dia melihat beberapa zombie bergerak perlahan berjalan tanpa tujuan. Tak lama zombie yang lain juga bermunculan. Tiba-tiba lampu jalan menyala, dimana zombie sedang jalan. Zombie bereaksi dan mengamuk. Mereka berusaha mengejar sesuatu yang tidak terlihat. Tak lama zombie itu kembali tenang.
"Aneh, bisakah mereka melihat cahaya?" Gumam Hudson "Atau mereka merasakan ada suatu perubahan"
"Ini perlu diselidiki lagi, tidak mungkin keluar begitu saja tanpa tahu apa yang akan terjadi nanti. Anak-anak itu bisa terancam." Gumam Hudson sendiri.
Dia lalu membuat penghalang di pintu restoran yang menuju dalam mall. Lalu Hudson kembali melangkah menuju ke tempat Wolly.
---------
Mortaq mengantuk berat. Malam mulai merangkak ke peraduan. Siapa yang tidak akan mengantuk?
Dibalik dinding ada sepasang mata yang sedang mengamati Mortaq. Akal licik sedang disusunnya. Dia tidak akan menyerah pada cecunguk kecil itu. Di saat dia hendak meraih tuas di dalam ruangan, dia terkejut melihat Win Xie datang. Dia mengurungkan niatnya.
"Astaga Mortaq, kenapa tidur disini?" Ujar Win Xie
"Hah? Mortaq terkejut dan terbangun.
"Lihat, kamu begitu mengantuk, bagaimana bisa menjaga disini?" Tanya Win Xie.
"Lebih baik pindahkan pria itu di ruangan zombie, ikat dia dan kunci pintunya." Saran Win Xie.
"Baiklah, ide bagus. Aku tidak ingin ditipu oleh dia lagi." Ujar Mortaq.
Mereka lalu membuka pintu dan melihat Daniel sedang bekerja di meja nya. Mortaq lalu mengancungkan pistol dan memberi perintah.
"Letakkan itu semua. Angkat kedua tanganmu dan menjauh dari meja." Ujar Mortaq lagi.
Daniel mengangkat tangan serta menjauh dari mejanya. Win Xie lalu mengikat tangan Daniel ke belakang dengan tali tambang.
"Cepat, keluar dari ruangan ini." Perintah Mortaq.
Daniel hanya mengikuti saja. Dia tersenyum sinis melihat Mortaq. Mortaq menyuruh Daniel menuju ruangan zombie. Win Xie membukakan pintu dan membiarkan Daniel masuk.
"Sekarang duduk, selonjorkan kakimu ke depan." Perintah Mortaq lagi.
Daniel melakukan seperti yang disuruh. Dan secepat kilat Win Xie mengikat kaki Daniel dengan kuat.
"Malam ini kau tidur dengan zombie-mu. Lebih baik begini daripada kau macam-macam lagi." Ujar Mortaq.
"Ayo Win Xie, kita keluar dari sini." Ujar Mortaq dan mengarah ke pintu. Win Xie menyelinap dengan cepat keluar dan disusul Mortaq. Mereka mengunci pintu itu dan mengantongi kuncinya.
"Dengan latar belakang penari serta pemain teater, aktingmu cukup bagus Mortaq." Puji Win Xie.
"Kita masih tidak tahu apa yang akan dia lakukan, lebih baik berhati-hati daripada tidak sama sekali." Ujar Mortaq.
"Kamu benar, dia pernah membius kita. Bukan tidak mungkin dia bisa melakukan hal lain." Ujar Win Xie.
"Dimana Meghan? " Tanya Mortaq teringat.
"Dia di kamarnya. Sepertinya dia sedikit terguncang." Ujar Win Xie.
"Benar, temani dia. Aku juga akan beristirahat dikamarku." Ujar Mortaq sambil mencium kilat Win Xie.
-------
"Cecunguk sialan, aku akan membalas perbuatan kalian." Ujar Daniel
"Akan ku buat kalian memohon untuk mendapatkan bantuanku." Lanjut dia lagi.
"Sabar sayang, aku akan melakukan sesuatu untuk mereka. Sebentar lagi kamu akan memiliki teman, atau mungkin santapan? hahahahaha, semua terserah padamu sayang." Ujar Daniel sambil melemparkan ciuman jauh kepada zombie perempuan itu.
Daniel memandang sakunya. Di dalam saku itu dia menyembunyikan senjatanya. Cukup untuk membuat mereka memohon dan dia akan bisa mengendalikan mereka. Menjadikan teman kesayangannya? Atau makanan? Tergantung suasana hatinya nanti.
"Kita lihat saja nanti. Kalian telah salah berurusan dengan seorang ahli." Seringai Daniel.
"Kalian akan menangis darah. Tapi tunggu dulu, mungkin salah satu dari perempuan itu bisa memuaskan hasratku." Ujar Daniel.
"Bukan begitu sayang? Kaupun akan mendukungkan? atau kau juga ingin mengulang kejadian indah kita? Bertiga? Kedengarannya menarik. HAHAHAHAHAHA." Tawa Daniel membuat siapapun yang mendengarnya bergidik. Sayang, saat itu diluar sana hanya zombie dan Mortaq serta kedua gadis sudah terlelap.