
Win Xie yang terlalu sibuk dengan pementasannya, tidak terlalu mengacuhkan tingkah aneh pada tunawisma itu. Dia bergegas memasuki bangunan yang telah menempa dirinya selama 3 tahun itu.
"Hai Win Xie, Good Morning." Ujar Mortaq dengan senyumnya yang maskulin.
"Good Morning Mortaq." Jawab Win Xie cepat.
"Good Morning All" Seru Meghan yang baru datang setelah Win Xie.
Tak lama ruangan dipenuhi para penari yang akan tampil bersama Win Xie, Meghan dan Mortaq. Mereka memulai sesi latihan dari babak awal. Miss Roberta selaku pelatih mereka, lebih banyak melihat dan tidak terlalu memberikan pengarahan lagi.
"Sempurna." Tepuk tangan Miss Roberta ketika mereka selesai menarikan Swan Lake tanpa cela. "Tetap kalian jaga tubuh kalian, sehingga kalian prima di hari pementasan tadi. Ingat, kalian semua memiliki impian." Senyum Miss Roberta dilayangkan kepada semua penari.
Win Xie, Meghan dan Mortaq tersenyum sambil memandang satu sama lain.
01.00 Siang
Tawa renyah terdengar di sudut restoran vegetarian. Siapa lagi kalau bukan Win Xie, Meghan dan Mortaq. Mereka merasa gembira atas pujian Miss Roberta. Sedikit mengangkat beban pikiran mereka.
"Akhirnya kata sempurna keluar juga dari mulut Miss Roberta." Ungkap Meghan.
"Ya, dan aku merasa bahagia dengan kata-kata itu." Timpal Wen Xie tersenyum bahagia.
"Aku bahkan tidak menyangka Miss Roberta mengatakannya. Setelah berbulan-bulan kita selalu melakukan kesalahan di matanya." Gerutu Mortaq.
"Yah, setidaknya sekarang kita bisa memberikan yang terbaik, hanya perlu mempertahankan seperti itu ketika pentas nanti." Jawab Meghan sedikit berbinar.
"Tentu, jangan lupa jaga stamina kalian. Ingat banyak makan buah, istirahat yang cukup serta vitamin" Cerocos Win Xie
"Astaga, kau terlihat seperti ibuku." Ujar Meghan pura-pura terkejut.
"Aku ragu, apakah kau seorang ibu tua?" Timpal Mortaq sembari mengernyitkan dahi memandang Win Xie.
"Hei, kalian mulai melecehkan aku." Gerutu Win Xie pura-pura marah.
Semuanya tergelak, dan sedikit melupakan beban mereka.
03.00 Sore
Ada aktivitas aneh dilorong berkumpulnya para tunawisma. Mereka berbisik satu sama lain perihal mendapatkan uang dengan mudah. Ternyata telah tersebar diantara para tunawisma, cara mendapatkan uang dengan mudah.
Mereka berbondong-bondong menuju ke arah pemukiman kumuh yang sudah tidak terpakai lagi, mencari pria yang bisa membayar mereka. 1000 dollar, siapa yang tidak mau? uang sebanyak itu menjamin mereka untuk tetap hidup selama 1 tahun kedepan. Mereka bisa membeli mantel hangat untuk musim gugur serta memiliki persediaan makanan yang cukup serta bergizi.
Sunyi sepi melanda lorong tempat mereka berkumpul tadi. hanya terlihat 3 tunawisma yang sedang tidur di atas kardus bekas. tunawisma berjaket coklat terus menggaruk di saat tidur, tak terkecuali tunawisma yang 2 lagi. Kepala mereka terus bergerak ke kiri dan ke kanan, sesekali menggeram mengeluarkan suara yang menakutkan.
07.00 Malam
Gelapnya malam mulai terasa, para tunawisma kembali ke lorong tempat mereka berkumpul. Semua merasa bahagia memiliki uang untuk bertahan hidup. ada yang membelanjakan uang itu langsung, ada yang menyimpannya. Para tunawisma itu ada sekitar 40 orang. Semua tinggal disana seperti keluarga besar.
"Ugh, Ugh. Arrrgggh." Tiba-tiba ada suara menyeramkan dari salah satu tunawisma yang sedang tidur di kardus bekas.
"Arrrgggh" Tunawisma berbaju coklat bergerak-gerak tak menentu diatas kardusnya. Seakan dia tidak bisa berdiri sendiri.
Dua tunawisma yang lain juga terus mengekuarkan suara "Arrrggghh, arrrggh" .
Hal ini membuat tunawisma yang lain heran. Mereka berusaha mendekat dan melihat temannya yang berteriak tak jelas itu. salah satu tunawisma yang menggenakan rompi militer mendekat dan tiba-tiba dia ditarik oleh temannya yang terus berteriak tak jelas itu.
"Tolong" Teriak Hudson
"Dia bukan Antony" Ujar Hudson menyebut nama tunawisma berjaket coklat yang terus mengerang itu.
Antony berusaha menggigit Hudson, beruntung teman-teman Hudson memukul kepala Antony dengan kayu, sehingga Antony tidak bergerak. Hudson segera berdiri dan menjauh. Dua teman Antony yang mengerang tanpa bisa bangkit dari tidurnya, juga dipukul oleh tunawisma-tunawisma lain.
"Apa yang terjadi pada mereka?" Tanya Hudson bingung. "Antony, Roan, Jack. Mengapa mereka bertingkah aneh? Sahut Tom yang memukul Antony tadi.
"Aku curiga mereka terkena sesuatu." Ujar Hudson lagi. Dia adalah tunawisma terpintar dikalangan tunawisma. Dia juga memiliki pemikiran kritis serta selalu waspada. Mereka tidak berani mengajak Hudson untuk ikut serta dalam transaksi dibayar untuk disuntik itu. Sehingga Hudson tidak tahu perihal suntikan itu.
Hudson mempelajari kondisi ketiga temannya itu. "Aneh" dia bergumam. " Ini bukan kondisi mabuk, ataupun pengaruh mimpi buruk, ada yang aneh di dalam tubuh mereka" ujar Hudson lagi.
"Apakah kalian tahu apa yang mereka lakukan belakangan ini? " Selidik Hudson.
Semua diam dan menggeleng. Mereka sempat merasa takut. "Apakah karena suntikan itu?" Mereka tidak bisa mengatakannya. Ya, Antony yang menceritakan perihal disuntik dan dibayar 1000 dollar itu. Antony menerima berita itu dari Jack.
"Ada yang aneh, sangat aneh" Ujar Hudson. "Ikat mereka dengan tali yang kuat, jangan dekati mereka dulu. Kita lihat apakah setelah sadar, mereka tetap begitu." Perintah Hudson kepada tunawisma yang lain. Para Tunawisma saling berpandang-pandangan. Sekilas Hudson seperti seorang kapten yang memerintah anak buahnya.
Tepat setelah mengencangkan ikatan terakhir, Antony kembali bergerak dan mengagetkan Wolly yang sedang mengencangkan ikatan. Wolly terjengkang dan menyumpah. Hudson langsung bergerak ke arah Antony dan berusaha mengamati.
"Antony, kenapa kau begitu? Apakah kau mabuk?" Tanya Hudson.
"Arrgh, arrrghhhh." Suara Antony seperti menjawab, tapi tidak ada satu patah kata pun.
"Jawab aku Antony." Ujar Hudson lagi
"Arghhh, arrrghhhh" Antony hanya mengeluarkan erangan tanpa kata.
"Aarrrrghhh" Suara lain terdengar. Seketika Hudson menoleh ke asal suara. Ternyata Jack yang bersuara. Tak lama Roan juga mengerang seperti Antony.
"Ini aneh, sangat aneh. Bukan mabuk, bukan pula sakit. Apa yang terjadi pada mereka bertiga." Hudson kesal, bingung. Tidak ada jawaban yang pasti akan kondisi mereka.
"Hudson" Bisik seorang pemuda dengan pelan. Dia sengaja berdiri di tempat gelap menghindari menarik perhatian yang lain.
"Kemari sebentar. Jangan ada yang melihatmu." Ujar pemuda belia itu pada Hudson.
Hudson melangkah ke arah sang pemuda setelah lebih dahulu memastikan tidak ada yang melihatnya.
"Kemarin aku melihat Antony dan Roan berbisik, dan terdengar soal suntik serta bayaran." Ujar sang pemuda setengah berbisik.
"Apa maksudmu Leon?" Tanya Hudson heran.
"Aku rasa mereka dibayar untuk disuntik." Ujar Leon lagi.
"Kenapa kau bisa berpikir begitu?" Ujar Hudson penasaran.
"Karena Aku mengikuti mereka ke arah pemukiman kumuh dan ketika mereka keluar, aku melihat mereka menekan lengannya dan berjalan ke arah toko, membeli beberapa keperluan mereka." papar Leon
"Bagaimana mungkin tunawisma seperti kita bisa masuk toko dan membeli jaket tebal untuk musim dingin?" Lanjut Leon lagi.
Hudson mengangguk-angguk tanda memahami terlintas pemikiran baru dalam benaknya