The End Of The World

The End Of The World
Berpikir lebih keras




Ilustrasi Mortaq, sang pangeran tampan.


07.30 Pagi


Mortaq terbangun dari tidurnya. Dia meregangkan badannya dan berdiri. Sedikit tidak nyaman, tapi setidaknya mereka bisa beristirahat malam tadi dengan baik. Dia memandang Win Xie yang masih terlelap begitu juga dengan Meghan dan Tammy.


Perut Mortaq sedikit berbunyi, lapar menderanya. Dia mengambil sebungkus biskuit dan sebotol air mineral. Mortaq mengunyah biskuit itu sembari memandang lewat jendela. Dia melihat orang-orang diatas mobil sudah pergi, sepertinya mereka berhasil kabur atau malah sudah menjadi zombie?


"Uhuk..." Win Xie terbatuk dan terbangun.


Mortaq langsung melihat ke arah Win Xie dan langsung menghampirinya, menyodorkan sebotol mineral yang sedang dipegang ke arah Win Xie. Win Xie langsung meneguk air itu dan mengucapkan terimakasih.


"Ada yang tidak enak?" Tanya Mortaq


"Tidak ada, hanya tadi tiba-tiba tenggorokan ini tidak enak." Ujar Win Xie.


"Apa kamu mau makan sayang?" Tanya Mortaq lembut


"Nanti saja sayang. Aku masih belum lapar." Ujar Win Xie sembari tersenyum dan mengelus wajah Mortaq "Bagaimana keadaan diluar sana? apakah kita bisa bergerak?" Tanya Win Xie lagi.


"Sepertinya begitu. Aktivitas zombie itu tidak terlalu banyak. Seakan mereka tidak ada tujuan lagi." Jawab Mortaq sambil mencium pipi Win Xie


"Sebaiknya kita mengumpulkan makanan dan minuman ini, masing-masing menyimpan makanan dan minumannya, jadi tidak ada yang mengangkut beban banyak" Ujar Win Xie.


"Ide bagus, sehingga kita bisa bergerak cepat dan tidak mengganggu langkah saat berpindah ruangan." Jawab Mortaq setuju.


Tak lama Tammy dan Meghan terbangun. Mereka bangkit dan mencari air minum.


"Baru kali ini aku tidak mandi selama 24 jam." Ujar Tammy merasa lucu.


"Ya, kau benar, bahkan sepertinya kita tidak akan mandi beberapa hari kedepan." Ujar Meghan


"Tenanglah, jika kita bisa masuk di ruangan kostum, bukankah disana ada jalan tembus ke ruang mandi?" Jawab Win Xie.


"Oh ya? Darimana kamu tahu itu?" Tanya Meghan terkejut.


"Kalian tidak tahu? Aku pernah menemukan jalan itu karena salah mengira itu adalah pintu keluar." Ujar Win Xie.


"Hum, tidak ada yang tahu sebelum ini. Tapi baiklah, kita lihat saja nanti." Jawab Meghan. Dia mengambil sebungkus biskuit dan memakannya.


Tammy juga mengambil biskuit dan langsung melahap biskuit itu. Dia menyodorkan kepada Win Xie dan dibalas dengan gelengan kepala Win Xie.


--------


Di luar sana Hudson dan teman-temannya berusaha masuk ke sebuah Mall. Mall adalah tempat terbaik untuk bersembunyi. Selain makanan yang berlimpah, juga semua kebutuhan tersedia. Mereka sadar, saat kejadian Mall belum dibuka. Kecil kemungkinan para zombie banyak di dalam mall itu.


"Semoga kita bisa masuk ke dalam mall itu." Ujar Leon cemas.


"Tenang, setiap gedung pasti ada tangga darurat atau jalan belakang." Ujar Hudson yakin.


"Waspada, bisa saja zombie itu sudah ada di dalam." Ujar Hudson "Cari sesuatu yang bisa dijadikan senjata" Perintah Hudson lagi.


Mereka melihat banyak potongan kayu dari peti kayu di pojok gedung tak jauh dari tempat mereka berdiri, mereka lalu mengambil kayu yang paling kuat dan melangkah ke pintu besi itu bersama-sama.


"Wolly, buka pintu itu perlaha. Usahakan jangan ada suara." Ujar Hudson. "Leon dan aku akan berjaga di depan pintu. Ingat Leon, begitu zombie itu keluar, langsung hajar tanpa ampun." sambung Hudson.


"Baiklah." Ujar Wolly, dia berjalan perlahan dan meraih gagang pintu, membuka pintu itu kembali. Hudson dan Leon bersiap-siap dengan kayu ditangan. Pintu terbuka lebar, tali tidak ada yang keluar. setelah menunggu beberapa saat, mereka menjadi lebih rileks.


"Coba masuk ke dalam." Ujar Hudson "Ingat, jangan.lengah."


Hudson masuk terlebih dahulu dan disusul Leon serta Willy. Mereka melihat di ruangan itu tidak ada tanda-tanda serangan zombie, tidak ada darah dan tidak ada suara. Wolly menarik pintu besi itu dan menutupnya. Mereka menemukan gembok dan rantai tergantung di dinding, langsung saja Wolly merantai dan menggembok pintu besi itu.


"Hei, apa kau yakin menggembok pintu itu adalah jalan terbaik?" tanya Leon cemas.


"Bagaimana kalau zombie itu masuk dari pintu ini?" Tanya Wolly


"Bagaimana kalau jalan keluar hanya ini?" Tanya Leon lagi


"Sudahlah, jangan bertengkar. Kita akan mencari cara, jika harus keluar dari sini." Ujar Hudson "Bukankah Wolly juga memegang kuncinya?" Tanya Hudson dan Wolly mengangguk mengiyakan. "Karena memang ada kunci di gembok itu tadi" Ujar Wolly


"Ya sudah, ayo kita berjalan lagi. Ingat, waspada. Kita tidak tahu apakah mall ini bersih dari zombie, atau malah penuh zombie." Ujar Hudson waspada


"Ya, biaa saja mereka menyerang kita tiba-tiba." Jawab Leon


"Makanya usahakan jangan membuat keributan, sehingga mereka tidak terpancing dengan suara." Kata Hudson.


Sebelum sampai di mall, mereka sudah mengamati dan melakukan uji coba kepada para zombie itu. Mereka tahu apa saja yang memancing zombie dan bagaimana menghindari zombie itu. meskipun seperti mayat, mereka juga mesin pembunuh yang beringas. Jika tidak segera dilumpuhkan, maka mereka akan tetap bergerak menuju korbannya.


"Ke mana kita sebaiknya?" Tanya Leon lagi.


"Aku rasa ke bagian swalayan." Ujar Hudson.


"Swalayan terletak di lantai atas, dan kita juga perlu makanan, selain itu di lantai atas juga ada toko alat olahraga" Jelas Hudson


"Hum, aku tahu, kamu mau mengambil senjata kan?" Jawab Wolly cepat.


"Ya, tanpa senjata maka kita akan digigit mereka. Tidak ada kata sembuh setelah digigit." Timpal Hudson.


"Baiklah, bergerak bersamaan, jangan lepaskan pandangan dari arah sekitar." Aba-aba Hudson.


Mereka bergerak menuju lantai dua dengan formasi lingkaran. Mereka berusaha mengamankan tengkuk mereka, setidaknya tidak bakalan ada zombie yang mengigit dari belakang.


Bunyi langkah mereka terdengar di dalam mall yang sepi. Seakan tiada kehidupan di dalam mall itu. Mereka terus melangkah menaiki eskalator yang mati dan sampai di lantai dua mall itu. Sedikit bernafas lega karena tidak ada zombie yang menganggu. Tapi mereka terlalu cepat menyimpulkan. Karena di lantai dua ada kejutan bagi mereka yang tidak sadar bahaya mengintai.


"cepat menuju bagian perlengkapan, ada yang harus kita ambil dari sana." Ujar Hudson


Mereka mengambil rompi anti peluru, topi, senter serta alat pemukul golf. Lalu dengan cepat mereka melangkah ke arah swalayan. Disana lampu sedikit lebih terang. Hudson bergerak mencari sesuatu yang bisa mengenyangkan perut, dan dia mendapatkan sandwich di bagian roti. "Yah, setidaknya lebih baik daripada tidak ada sama sekali." Batin Hudson.