
Win Xie terkantuk-kantuk duduk di samping tempat tidur Mortaq. Dia sudah sangat lelah menunggui Mortaq, tapi tidak ingin berbaring di kamarnya.
"Win Xie, tidurlah di ranjang." Ujar Meghan. Dia datang menepuk pelan bahu Win Xie.
"Ah, ngga usah Meghan." jawab Win Xie.
"Jangan begitu, Mortaq juga pasti tidak mau kamu menjadi sakit karena menjaga dia." Timpal Meghan.
Akhirnya Win Xie mengalah dan kembali ke kamar. Sekejap saja dia langsung terlelap dengan pulas.
"Xie, Win Xie." Ujar Meghan membangunkan Win Xie.
"Ada apa?" Tanya Win Xie. Dia tertidur selama 3 jam dengan pulas, ini membuat Meghan berani membangunkan Win Xie.
"Mortaq mulai bergerak walaupun sedikit" Ujar Meghan senang.
"Benarkah?" Tanya Win Xie sambil melompat dari tempat tidur.
Mereka lalu kembali ke kamar Mortaq, ternyata Mortaq mulai bisa menggerakkan kaki dan tangannya Win Xie langsung memeluk Mortaq dengan haru.
"Sayang, akhirnya kamu bisa bergerak lagi." Ujar Win Xie. Mortaq mulai bisa tersenyum.
"Benar-benar psikopat gila. Bagaimana bisa dia menjadikan orang lain makanan zombie. Dan apa yang ada dalam kepalanya? ketika melepaskan zombie itu?" Gerutu Meghan dengan kesal.
"Setidaknya kita bisa menyelamatkan Mortaq." Ujar Win Xie.
"Jika Mortaq pulih, sebaiknya kita keluar dari gedung ini, kembali ke rencana semula."
"Benar, apalagi sebentar lagi bau bangkai pasti akan menyengat di gedung ini." Jawab Meghan.
"Mortaq, kamu istirahatlah. Aku dan Meghan akan memeriksa ruangan yang ada untuk mendapatkan senjata atau apapaun yang bisa digunakan sebagai pertahanan diri." Ujar Win Xie
Mereka lalu bergegas memeriksa ruangan yang belum mereka masuki. Tida ada yang bisa digunakan, selain pistol yang Win Xie pakai sebelumnya. Meghan mencoba masuk ke ruangan labor Daniel. Bukannya manusia sering menyembunyikan hal penting di ruangan rahasia mereka?
Dia sempat mendengar perintah Daniel ketika Mortaq membukakan pintu, dan ternyata memang terbuka. Meghan berkeliling di ruangan itu.
"Tidak ada yang aneh ataupun yang menarik." Ujar Meghan.
Lalu matanya tertuju pada foto keluarga di dinding. ketika Meghan menyentuhnya, foto itu bergeser sedikit memperlihatkan kotak penyimpanan di belakang foto.
Dengan cepat Meghan melepaskan foto itu dari dinding dan melihat kota itu. "Hum, apa di dalam ini? Tidak seperti brankas. Hanya Kotak biasa tapi memiliki bahan yang tebal." Gumam Meghan.
Dia lalu membuka kotak itu dan melihat sebuah cairan di dalam botol di kotak itu.
"Pasti ini sesuatu yang penting." Ujar Meghan. Meghan lalu hendak menyimpan dalam sakunya. Tapi Meghan lalu tersentak. "Benda ini dalam kotak yang terjaga suhunya. artinya masih bisa difungsikan. Sepertinya aku harus mencari semacam cooler box." Gumam Meghan lagi.
Meghan berkeliling dan memeriksa setiap laci yang ada. akhirnya dia menemukan cooler box kecil yang bisa menyimpan botol itu.
"Win Xie, aku menemukan sesuatu yang menarik." Ujar Meghan dengan gembira berusaha mencari Win Xie di ruangan lain.
Setelah memperlihatkan kepada Win Xie, mereka kembali ke ruangan Mortaq bersama-sama. Win Xie hanya menemukan sekotak peluru untuk pistol yang dia gunakan. "Lebih Baik daripada tidak sama sekali." Ujar Meghan.
----------
Wajah Leon yang terluka tidak digubrisnya. Micha mencoba membujuk Leon untuk diobati. Mobil yang mereka dapatkan aman untuk sementara.
Micha mengoleskan obat luka ke wajah Leon, di ruangan tunggu mereka. "Meskipun baret, lebih baik waspada daripada dibiarkan begitu saja." Omel Micha pada Leon.
Mereka menunggu Mortaq dan Wolly yang akan kembali sebentar lagi.
"Hei, lihat yang ku dapatkan. Ini lebih baik daripada telepkn genggam" Ujar Wolly.
"Telepon satelit? Pasti lebih bagus. bahkan kita bisa menelpon di kedalam hutan tanpa khawatir sinyal." Ujar Leon.
"Kenapa dengan wajahmu?" Tanya Wolly
"Kami dikejar zombie karena menyalakan van dan tepat saat menutup pintu parkiran, tangan zombie itu menggores muka Leon." Jelas Micha.
"Aku rasa tidak, tapi ada baiknya kita perhatikan saja." Ujar Micha bingung.
"Tidak mungkin aku bisa terinfeksi begitu mudah." Ujar Leon.
"Ada apa ini?" Tanya Hudson.
Micha kembali menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka.
"Sebaiknya perhatikan kondisi Leon. Dan jika terjadi hal buruk, maaf kami harus bertindak." Ujar Hudson.
"Tidak apa, aku paham situasinya. Aku juga melihat sendiri bagaimana mereka menjadi ganas." Ujar Leon sembari tersenyum.
"Baiklah, untuk sekarang kita susun rencana dulu. Karena van sudah ada, artinya kita bisa memuat kebutuhan kita dengan lebih baik." Ujar Hudson.
"Bagaimana dengan bahan bakarnya?" Tanya Wolly
"Astaga, kami lupa mengecek bahan bakar." Micha terkejut sembari menepuk keningnya.
"Itu bisa nanti diperiksa." Ujar Hudson.
"Sekarang kita masukkan saja keperluan kita di dalam van itu. Sebisa mungkin jangan ada yang terlupakan. Sepertinya perjalanan kita akan panjang dan melelahkan." Lanjut Hudson.
"Jika ingin mandi, lebih baik kalian mandi. Sudah beberapa hari tidak mandi kan?" Tawa Leon.
"Benar, lebih baik bersihkan diri dahulu. Badanku sudah gatal karena belum sempat mandi." Ujar Micha
Malamnya mereka memasukkan perlengkapan yang akan dibawa, tak lupa peluru untuk senjata mereka.
"Bahan bakar cukup banyak." Ujar Leon setelah memeriksa.
"Baiklah, sebagian besar sudah selesai. Lebih baik kita melakukan perjalanan besok pagi. Menurut pengamatanku, jika kita tetap berjalan malam, maka akan menarik perhatian zombie itu." Ujar Hudson.
Mereka memilih menentukan jalan malam itu. Mereka juga mencoba melihat area dimana kemungkinan bisa beristirahat dan mengisi bahan bakar.
-------
Mortaq sudah bisa bergerak seperti biasa, mereka menyiapkan tas dan mengambil beberapa benda yang sekiranya mereka butuhkan nantinya.
Mereka kembali ke atap dan berpindah ke gedung sebelah. Dibawah Zombie terlihat berjalan, cukup banyak. Salah melangkah maka mereka akan menjadi makanan zombie.
"Cepatlah, kalian dulu. Aku akan menahan kayu ini." Ujar Mortaq. Win Xie berjalan lebih dahulu dan sampai ke seberang. Meghan mengikuti dari belakang.
Akhirnya Mortaq melangkah di di papan itu, tapi tiba-tiba papan bergoyang.
"Mortaq, cepat. Bergerak lebih cepat." Teriak Win Xie.
Teriakan ini membuat zombie terpancing, mereka mencari-cari sesuatu dan mereka bergerak di bawah papan yang sedang Mortaq pijak.
"Tenang, aku akan sampai ke sana. Jangan mengeluarkan suara lagi." Ujar Mortaq menenangkan Win Xie.
Mortaq mempercepat langkahnya, semakin banyak papan yang berderak. Tepat di tengah jalan, sebuah papan penghubung mulai patah, Mortaq sedikit berlari untuk mencapai seberang.
"Krak...krek...krak...ptaaaak"
sambungan papan itu terlepas, Mortaq belum menginjak lantai gedung tempat Win Xie dan Meghan berdiri.
Mortaq melayang, tanggannya menggapai tangan Win Xie.
"Mortaaaaaaqqqqq" Teriak Win Xie sekeras-kerasnya membuat para zombie semakin beringas.
Mortaq