The End Of The World

The End Of The World
Kejutan lain



Setibanya di atap gedung sebelah, mereka berjalan di atas atap gedung itu untuk melihat apakah bisa berpindah ke gedung di blok sebelahnya. Mortaq mengira-ngira jarak dari gedung yang sekarang dengan gedung yang lain.


"Kali ini lebih jauh dari sebelumnya. Ini akan sulit." Ujar Mortaq.


"Apakah kita harus lewat bawah?" Tanya Meghan sambil melihat ke bawah.


"Terlalu bahaya, apalagi kalau ternyata banyak zombie digedung ini." Kata Mortaq lagi.


"Bagaimana kalau kita membuat jembatan?" Ujar Win Xie sambil menunjuk papan yang teronggok di atap itu.


Mortaq memeriksa papan itu dan melihat ke gedung sebelah.


"Sepertinya bisa. Tapi kita kekurangan bahan. Harus ada palu dan paku serta tali." Ujar Mortaq.


"Sepertinya kita harus ke bawah." Jawab Meghan "Disini tidak ada, aku sudah melihat sekeliling."


"Kalau begitu aku saja yang ke bawah, kalian tunggu disini." Mortaq memberi perintah.


"Tidak, akan membutuhkan waktu lama dan bisa saja kamu diserang." Jawab Meghan cepat.


"Ya, itu sangat berbahaya." Win Xie membenarkan apa yang Meghan katakan. "Bagaiamana jika kamu terluka dan kami masih tetap menunggu tanpa tahu apa-apa?" ujar Win Xie lagi dengan sedikit begetar.


"Baiklah, kita turun ke bawah. Berhati-hatilah, tidak ada yang bisa dijadikan senjata diatas ini." Jawab Mortaq lagi.


Mereka bergerak menuju pintu yang akan mengarahkan mereka ke lantai dibawah atap itu. Mortaq meraih pegangan pintu, mendorong pintu itu dan terbuka. Dia mengintip ke bawah, sedikit gelap. Lalu Mortaq mulai menapaki anak tangga satu persatu. Disusul Win Xie dan Meghan dibelakang Mortaq, mereka berusaha mengurangi suara langkah mereka.


Mortaq melihat sebuah ruangan di bagian kirinya lalu dia melihat ke kanan dan ada ruangan juga. Dia mengarah ke ruangan sebelah kanan yang pintunya tertutup rapat. Mortaq membuka pintu itu dan mengintip ke dalam ruangan. Ruang perlengkapan, sungguh beruntung.


Dia segera masuk dan memberi kode kepada yang lain untuk mengikutinya.


"Cepat, cari yang kita butuhkan." Ujar Mortaq


Mereka berpencar dan mencari di setiap sisi ruangan.


"Aku dapat palu." Ujar Win Xie.


"Aku menemukan paku, ada banyak jenisnya disini." Ujar Meghan


"Disini juga ada tali." Jawab Mortaq.


Mereka tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Mata itu mengikuti kemana mereka pergi.


Disaat mereka hendak keluar dari ruangan itu, tiba-tiba ada benda yang terjatuh. Ketiganya terkejut dan melihat ke asal suara.


Mereka bergegas keluar dan menuju tangga ke atap.


Diatap, Mortaq menyambung papan yang ada dengan memaku papan yang satu dengan yang lain. Supaya lebih kuat, dia mengikat erat papan itu sehingga tidak mudah patah.


Mereka mencoba menggeser papan yang telah jadi menuju ke gedung sebelah. "Tap" Ujung papan menyentuh gedung sebelah.


"Kamu hebat sayang, tepat sekali ukurannya." Ujar Win Xie senang.


"Aku hanya memperkirakan saja sayang." Jawab Mortaq malu.


"Baiklah, ayo kita menyeberang sekarang juga." Cetus Meghan


Disaat Meghan hendak melangkah ke arah papan jembatan tiba-tiba pintu dari arah tangga terbuka.


"Jangan bergerak! Angkat tangan kalian." Ujar seseorang.


Refleks mereka mengangkat tangan dan melihat ke arah suara.


"Tuan, anda pemilik gedung ini?" Tany Win Xie dengan nada gemetar.


"Ya, kalian kenapa bisa masuk kesini?" Tanya pria itu.


"Kami kabur dari sekolah balet, banyak zombie disana." Jawab Meghan dengan berani."


"Maaf jika kami masuk ke dalam tanpa izin, tapi situasi benar-benar tidak mendukung." Jawab Mortaq memperjelas keadaan.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya pria itu sambil melihat ke arah jembatan.


"Kami mau mencoba masuk ke mall dibelakang blok ini." Mortaq kembali menerangkan.


"Jadi makhluk aneh dan gila itu zombie? Apa-apaan itu?" Tanya pria itu.


"Kami juga tidak tahu persisnya, tapi mereka menggigit orang sehat dan yang digigit akan berubah menjadi zombie. Oleh karena itu kami menghindari jalan dibawah dan memilih melewati atap bagunan." Jelas Mortaq lagi.


Pria itu menurunkan senjatanya dan melihat ke arah Mortaq. "Jadi itu alasan kalian masuk ke gedung ku, dan mencuri peralatanku?" Tanya Pria itu.


"Maaf tuan, kami tidak menyangka ada orang disinj. Setelah pengalaman yang mengerikan itu, kami menjadi ragu jika masih ada yang bertahan." Ujar Mortaq dengan nada menyesal.


"Baiklah, aku percaya kepada kalian. Aku juga sudah melihat makhluk gila itu mengigit pelayanku." Ujar pria itu.


"Masuklah ke dalam, kalian pasti belum makan." Ujar Pria itu "disini aman, kalian bisa makan disini."


"Terimakasih tuan, tapi apa kami tidak merepotkan?" Tanya Win Xie.


"Tidak, aku sempat berpikir apa aku akan bertemu dengan orang hidup makanya ketika kalian masuk aku memilih bersembunyi dan mengawasi kalian. Melihat apakah kalian tidak terkena pengaruh dari zombie itu." Jelas pria tersebut. "Ayo, ikuti aku."


Mereka turun ke bawah dan sampai di ruang makan, banyak makanan di meja itu. Sepertinya banyak anggota keluarga di dalam gedung itu.


"Makanlah, aku tidak dapat menghabiskan itu sendiri." Sang pria tua itu menyuruh mereka makan makanan di atas meja.


"Terimkasih tuan. Oh ya, kenalkan saya Mortaq." Ujar Mortaq berdiri menyalami tuan rumah. "Aku Daniel" Jawab pria tua itu.


"Ini Win Xie dan itu Meghan." Mortaq menunjuk Win Xie dan Meghan, mereka membalas dengan senyuman. "Senang bertemu dengan anda tuan Daniel." Jawab mereka serempak.


"Senanh bertemu kalian juga. Aku pria tua ini tidak dapat berbuat banyak. Hanya berpikir untuk bersembunyi sampai bantuan datang." Ujar Daniel


"Kami awalnya juga begitu. Tapi kebutuhan akan makanan dan minuman lebih mendesak." Jawab Mortaq sambil mengambil kentang ***** dari mangkuk diatas meja.


"Karena kalian disekolah, sudah pasti tidak akan ada bahan makanan. Berbeda denganku. Kami berbelanja setiap awal bulan, jadi persediaan makanan banyak." Jawab Daniel.


"Apakah anda tidak berpikir untuk meninggalkan gedung ini? Anda bisa bersama dengan kami." Tawar Win Xie


"Tidak, orang tua hanya akan menyusahkan kalian. Terlebih kakiku sedikit bermasalah. Tidak akan kuat berjalan jauh apalagi berlari." Terang Daniel


"Jadi anda memilih tetap disini sampai bantuan datang?" Tanya Meghan memastikan, sembari menyuap kentang ***** beserta potongan daging bakar ke mulutnya.


"Ya, aku akan menunggu bantuan. Jika kalian bisa, tolong beritahukan juga kepada regu penyelamat, bahwa aku ada di gedung ini." Jawab Daniel tegas.


"Tentu ttuan kami akan menyampaikan hal itu." Jawab Win Xie sambil mengambil gelas untuk mengisi air minum dari teko kristal yang ada di meja itu.


Mortaq sedikit heran dengan makanan yang banyak diatas meja itu. Jika Daniel hanya sendiri, kenapa banyak makanan. Tapi Mortaq memilih diam.



Beretta 92 FS Type M9 A1