
"Sebaiknya cepat masuk ke dalam van, para pria akan berjaga di luar." Hudson memerintahkan dengan tegas.
Diluar Hudson, Wolly dan Leon berjaga-jaga di sekeliling van. Hudson lalu menghampiri istri Peter.
"Kenapa dia pingsan?" Hudson memeriksa denyut nadi Peter.
"Dia kelelahan, ada riwayat penyakit jantung dan dia tidak bisa mengemudi terlalu lama." Istrinya menjawab sembari memeluk anak mereka yang telah diikat dan ditutup mulutnya.
"Apa yang dilakukan ketika dia begini?" Hudson membenarkan posisi duduk Peter di kursi kemudi.
"Biasanya dia akan sadar tidak lama lagi." Istrinya memberikan selimut kepada Peter.
"Baiklah, kunci pintu. Kami akan berjaga di luar, dan jika dia telah sadar baru kita melanjutkan perjalanan." Putus Hudson cepat.
Hudson memiliki keraguan di hatinya karena mereka dalam kondisi tidak baik. Luka dimana-mana, jika perampok itu muncul lagi maka mereka akan tamat.
Beruntung senjata mereka tidak ditemukan di dalam van saat mereka dirampok tadi. Senjata inilah yang harus digunakan dengan sebaik-baiknya.
"Wolly, Leon, sepertinya kita harus berjaga-jaga hingga Peter bangun. Dan siap siaga dengan senjata kalian. Bisa saja ada perampok lain disekitar sini." Hudson mengingatkan kedua temannya.
Hudson juga mengingatkan para gadis di dalam van untuk berjaga-jaga. Dia sempat melihat Win Xie telah sadar, hati Hudson sedikit merasa senang.
Disekeliling mereka begitu gelap gulita. Jika ada yang bergerak maju menyerang, hal ini akan sangat membahayakan.
15 menit berlalu dan mereka mendengar suara dari kejauhan.
Semua yang berjaga diluar van bersikap waspada dengan pistol mengancung ke depan. Suara langkah semakin mendekat dan benar saja ada beberapa pemuda yang berjalan ke arah mereka. Jarak 4 m, Hudson melihat pemuda itu mengenakan topeng persis seperti penyerang sebelumnya.
"Berhenti! Atau aku akan menembak kalian." Perintah Hudson tegas.
Suara tawa terdengar menggema, dan mereka tetap terus mendekat.
"Dor" Sebuah tembakan dilepaskan.
Mereka terdiam sejenak, tapi terus berjalan.
Kali ini tembakan itu mengenai lengan salah seorang dari mereka.
Leon dan Wolly juga mulai menembak pemuda itu. Sayang tembakan mereka meleset. Tiba-tiba seseorang yang paling tinggi diantara pemuda itu mendekat dengan cepat dan menyerang Wolly dengan menendang senjata di tangan Wolly.
"What the...." Wolly terkejut karena senjatanya terjatuh dan masuk di bawah van.
Pemuda itu lalu menendang perut Wolly dan memberikan beberapa tinju ke muka Wolly.
Hudson yang melihat itu langsung menghantam pria itu dengan menendang kepalanya.
Pria itu terdorong ke samping dan menahan rasa pusing dari tendangan Hudson tadi. Leon yang sedari tadi tercengang tidak sadar jika ada orang lain dibelakangnya dan memukul kepala Leon. Leon langsung terjerembab ke aspal.
Pertarungan terjadi antara Hudson dan Pria itu.
Hudson mengarahkan tinju ke arah pelipis pria itu dan ditangkis dengan baik, dengan cepat Hudson menghantam rusuk nya menggunakan punggung kaki. Hantaman itu cukup menyakitkan, dan pria itu mudur beberapa langkah meringis sakit.
Hudson langsung menghajar orang yang memukul Leon dengan cepat. Pria yang memukul Leon tersungkur karena hidungnya patah terkena tinju Hudson.
Siapa yang bisa menahan kecepatan dan ketepatan Hudson? Dia seorang bodyguard bayaran yang memiliki keahlian di bidang karate dan taekwondo.
Kombinasi ini membuat Hudson cukup cepat menggunakan kaki dan tangannya.
Win Xie belajar beladiri Wing Chun saat dia kecil dulu. Ibunya memaksanya untuk belajar beladiri guna menjaga diri sendiri. Wing Chun adalah pilihan terbaik bagi Win Xie karena badannya yang kecil dan lemah. Ini juga beladiri jenis jarak dekat.
Berbeda dengan Karate atau Taekwondo yang mana lebih membutuhkan kekuatan fisik, sudah pasti Win Xie tidak bisa.
Seorang pria berusaha menangkap Win Xie, dengan cepat dia mengelak dan menghantam ulu hatinya dengan ujung jarinya. Pria itu tersungkur meringis menahan sakit.
Hudson terbelalak melihat kecepatan Win Xie. "Ilmu apa yang digunakan gadis ini?" Gumam Hudson heran melihat jurus Win Xie.
Win Xie berbalik dan seorang pria mencoba menghantam Win Xie dengan tinjunya. Win Xie menepis lengan pria itu kesamping dan menghantam ulu hati orang itu dengan tinjunya. Kembali pria itu tersungkur.
"Awas" Hudson langsung menendang pria yang mencoba memukul Win Xie dari belakang.
Tendangan Hudson tepat mengenai wajah sang penyerang.
Semua terkapar di tanah meringis menahan sakit.
Micha berlari menolong Leon yang sudah kembali sadar dan merasakan sakit di tengkuknya.
Dibawah todongan senjata, semua penyerang itu diikat dengan tali yang ada di van. Mulut mereka disumpal dengan pakaian mereka sendiri.
"Terimakasih Win Xie." Hudson menemui Win Xie yang sedang duduk di van.
"Sama-sama, kamu juga sudah menyelamatkanku sebelum ini." Win Xie tersenyum simpul.
"Aku tidak tahu kamu juga belajar ilmu beladiri" Hudson mengungkapkan kekagumannya.
"Tubuhku lemah, maka ibu memaksaku harus belajar Wing Chun untuk keamanan diriku sendiri." Win Xie menerangkan kepada Hudson.
"Oh, jadi namanya Wing Chun?"
"Ya, sejarahnya ilmu ini diberikan kepada wanita. Kamu tahu? ilmu beladiri ini memang sangat menguntungkan bagi kaum wanita. Selain serangan jarak dekat, Titik serang juga ke daerah vital. Bahkan tidak menggunakan banyak tenaga seperti beladiri yang lain." Win Xie bercerita panjang lebar.
"Ya, aku melihat bagaimana kamu menyerang mereka dengan lincah." Hudson mengiyakan.
"Hei, apa yang akan kita perbuat pada manusia ini?" Teriak Wolly
"Biarkan saja mereka terikat disana. Sebaiknya kita kembali jalan." Hudson bergerak menuju ke arah kemudi.
"Maafkan aku Peter. Tapi ada baiknya kita harus bergerak sekarang. Apakah dirimu mampu mengemudikan van ini? Hudson memperhatikan raut wajah Peter.
Pria tua itu mengangguk. Dia akan berusaha sampai titik terakhir. Demi keselamatan semua orang, terlebih istri dan anaknya sendiri.
"Tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Tapi aku akan menjalankan van ini." Peter mengatakan dengan yakin.
"Baiklah, semua masuk ke dalam van. Kita akan segera berangkat." Teriak Hudson kepada yang lainnya.
Semua masuk kembali ke dalam van.
Micha duduk bersama Leon. Meghan dan Win Xie duduk bersebelahan lalu Hudson dan Wolly di dekat pintu van. Mereka berjaga-jaga seandainya ada bahaya lagi.
Semuanya masih merasakan kesakitan bekas luka, tapi ketakutan terburuk adalah datangnya penyerang lain yang hanya mengambil keuntungan dari orang lain.
Di dalam van, Mereka hanya terdiam dalam keheningan malam, hanya terdengar suara mesin mobil dan bebatuan yang sesekali terdengar karena digiling ban mobil.
Entah apa lagi yang akan menanti di depan sana.