
Mereka sampai di Birmingham disaat hari sudah malam. Leon memilih rute jalan lewat I-20W membuat mereka menempuh perjalan 10 jam 15 menit, jika memilih jalan lain, mungkin akan lebih lama. Semua bernafas lega, lalu secepatnya mencari tempat untuk menyembunyikan truk yang mereka ambil itu. Akan sangat berbahaya jika mereka masih mengendarai kendaraan tersebut.
Sebelum memasuki kota, mereka sudah menyembunyikan truk dan berjalan kaki terpisah. Hudson yang mengatur semuanya,"Akan sangat mencurigakan jika kota masuk ke kota dengan berombongan begini."
Suasana kota yang sepi sedikit terasa, tapi masih ada yang beraktivitas di luar. Mereka membutuhkan tempat untuk beristirahat. Sadar bahwa mencari tempat berlindung akan lebih sulit daripada sekedar menghindari tatapan curiga orang, mereka mulai memutar otak.
"Bagaimana kalau kita ke daerah taman? aku yakin bisa beristirahat disana. " Leon memberikan usulan.
"Tidak, kita terlalu banyak dan itu berbahaya. " Hudson menepis usulan Leon.
"Begini saja, aku memiliki sedikit uang untuk menginap. Aku rasa ini akan cukup untuk membayar penginapan kita" Micha mengeluarkan sejumlah uang dari dalam saku rahasia di balik celananya.
"Wow, kau membawa uang selama ini? " Leon sedikit terkejut.
"Ya, bagaimanapun kita pasti membutuhkan uang, setidaknya disaat situasi aman. " Micha menjelaskan.
"Ini sepertinya cukup untuk menginap, tapi bagaimana kalau kita dicari? Lebih baik kita berpencar. " Win Xie memberikan saran yang masuk akal.
"Begini saja. Diujung jalan ini ada losmen, tadi aku sempat melihat mereknya, aku akan masuk bersama Win Xie duluan. Lalu kalian Leon dan Micha seperti sepasang kekasih. nah terakhir kau Hudson dan Wolly. " Meghan mengusulkan saran yang tidak bisa diterima Wolly dan Hudson.
"Apaaaa??? " Jawan mereka serempak dan saling berpandangan, "Tidak, aku tidak akan seranjang dengan dia. " Kembali mereka kompak menjawab.
Win Xie tergelak melihat tingkah mereka berdua. "Lucu, padahal tidak akan ada apa-apa. Tapi kenapa pria tidak mau sekamar, ya? "
"Aku malah heran dengan wanita yang bisa kemana-mana dengan sesama wanita. " Hudson geleng-geleng kepala.
"Begini saja, bagaimana kalau bertindak sebagai pasangan kekasih? " Wolly memelas daripada harus bersama Hudson. "Meghan tolonglah, aku akan tidur di lantai daripada harus bersama Hudson"
"Hah? Kau pikir aku tidak apa-apa dengan itu? Justru aku yang takut bersama denganmu dalam satu kamar. " Meghan bergidik ngeri dan menggelengkan kepalanya.
"Hahahaha, kau lebih takut kepada Hudson dan memilih tidur dengan wanita. Wolly, ada apa dengan isi kepalamu. " Win Xie tidak kuasa menahan gelak tawanya sembari memegang perut.
"Kalian menggelikan, seakan aku pemakan pria. " sungut Hudson dengan kesal.
"Bagaimana Meghan? Kau mau menolong dia dari serangan terkaman Hudson?" Win Xie menyeka air matanya yang keluar.
"Baiklah, daripada dia mati serangan jantung. Tapi bagaimana denganmu Win Xie? Kau akan sekamar dengan Hudson? " Tanya Meghan.
"Oh iya, bagaimana ini? " Win Xie pura-pura cemas.
"Ah, sudahlah. Aku tidur di jalanan saja. Aku juga terbiasa tidur di jalan. " Hudson kesal dan beranjak pergi. Secepat kilat Win Xie menangkap tangan Hudson.
"Tidak ada yang keberatan. Aku percaya kamu akan menjaga kami semua. " Win Xie kali ini berkata serius. "Lagipula, jika dirimu kenapa-kenapa, kami pasti kerepotan. "
"Tapi, tidak etis aku tidur dengan seorang wanita." Jawab Hudson ragu.
"Sudah selesai? " Tanya Leon kesal.
"Kalian terlalu banyak drama. Aku lelah dam butuh istirahat."
Akhirnya mereka menuju losmen kecil yang ditunjuk Meghan, mereka masuk ke dalam Losmen dengan jarak set jam setiap pasangan. Mereka berharap ini akan membuat pemilik losmen tidak curiga.
Hudson dan Win Xie masuk belakangan, mereka mendapatkan kamar terakhir di losmen itu. Hanya ada satu kasur dan sebuah kursi kecil di dalam kamar. Mau tidak mau Hudson terpaksa tidur disebelah Win Xie.
"Oh ya, jangan kaget kalau seandainya malam hari aku mengigau ya. " Win Xie mengigatkan Hudson. "Meghan sering mengatakan bahwa aku selalu mengingau dan bahkan berteriak di dalam tidur, jika aku terlalu lelah sepanjang hari. "
"Sepertinya aku tidur di jalan saja." Jawab Hudson dan beranjak meninggalkan tempat tidur.
"Astaga, sebegitu mengganggukah jika aku tidur mengigau?" Win Xie terkejut dengan reaksi Hudson.
"Hahaha, aku berhasil membalasmu. Aku terbiasa tidur dengan kebisingan. Kau tenang saja. " Hudson tertawa dan kembali ke tempat tidur.
Win Xie pura-pura marah dan membalikkan punggung ke arah Hudson. "Selamat Malam." ujar Win Xie dingin, dia lalu melihat kembali ke Hudson dan mencibir ke arah Hudson.
Hudson hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi jauh dari dalam lubuk hatinya, dia sedikit gembira dengan tingkah Win Xie yang kembali ceria.
Waktu menunjukkan pukul 4 pagi.
"Tidak, tidak... jangan... tolong selamatkan ayah. " Win Xie menangis dan berteriak.
Hudson kaget melonjak dari tempat tidur. Dia melihat ke arah Win Xie. Gadis itu menangis tersedu-sedu dan dia seakan jatuh dalam kenangan paling pahit.
"Kembalikan ayahku bajingan. Kalian merebut ayah dan saudaraku. Sekarang kau juga merebut kegadisanku." Win Xie bergetar hebat, tangganya mengepal dan menghantam kasur.
"Win Xie... Win Xie... Bangun. " Hudson membangunkan Win Xie.
Tiba-tiba sebuah pukulan melayang ke arah Hudson, dengan cepat dia menangkap tangan itu. Win Xie terbangun dan terkejut, dia tidak menyangka akan memukul Hudson.
"Maaf, maafkan aku." Win Xie merasa malu. "Aku tidak pernah dibangunkan pria sebelumnya, jadi ketika mendengar suara pria, aku refleks memukul."
Hudson terkejut mendengar pernyataan Win Xie, artinya kekasih Win Xie juga belum menyentuh wanita ini.
"Pira jantan, dia menghormati gadis ini." Gumam Hudsom dalam hati. "Tidak salah gadis ini juga begitu mencintai pria itu. Sayang, nasib tidak berpihak kepada mereka. "
"Apa kau terluka? " Win Xie membuat Hudson kembali ke dunia nyata.
"Tidak apa-apa." Jawab Hudson. "Tidurlah lagi. Masih pukul 4 pagi lebih baik beristirahat daripada bangun sekarang. "
Win Xie mengangguk dan kembali rebah di tempat tidur, tidak lama nafasnya sudah kembali teratur. Hudson juga memilih tidur daripada bangun sepagi itu. Dia juga membutuhkan tenaga untuk hari yang baru. Belum ada rencana apa yang akan mereka lakukan, dia hanya berharap besok mereka bisa tetap lolos dari tentara gila Frimon Liang itu.