The End Of The World

The End Of The World
5 Hari sebelum hari pertunjukkan



Cahaya matahari pagi menyeruak masuk ke dalam kamar dan menerpa wajah gadis manis yang sedang tertidur lelap sembari memeluk boneka kesayangannya.


"Argh, kenapa silau sekali" Win Xie memutar kepalanya menghindari terpaan cahaya mentari pagi. Win Xie memang membutuhkan tidur lebih lama hari ini, karena kemarin dia memaksa diri untuk terus berlatih "Odette", hingga malam tiba.


Ya, Win Xie seorang penari balet yang sebentar lagi akan menjadi Ballerina terkenal, jika tariannya berhasil memukau para utusan dari The Royal Ballet School. Setiap tahun pasti mereka akan datang melihat para penari yang berada dibawah naungan Ballet School Franklin, dan Win Xie adalah salah satu kandidat utama yang akan terpilih.


Kringggg... Kringgggg...


Bunyi Alarm mengejutkan Win Xie. Dia sontak terjatuh dari tempat tidur.


" Hah, sudah jam berapa ini? Gawat, aku masih harus berlatih. Waktu tidak akan menungguku." Win Xie berdiri dengan tergopoh-gopoh dan berlari menuju kamar mandi yang terletak di dalam kamar tidurnya.


10 menit kemudian Win Xie keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi serta membawa tas ransel kesayangannya. Di tangannya, Win Xie memegang sepotong sandwich untuk mengisi perutnya yang lapar. Win Xie berlari kecil menuju gedung menjulang tinggi dengan warna merah bata yang berdiri kokoh diseberang bangunan asramanya.


"Win Xie"


suara yang sangat familiar memanggil Win Xie


"Meghan"


Win Xie melambaikan tangan sambil mengunyah potongan terakhir sandwich yang ia makan kepada teman akrabnya yang akan berjuang bersama di pementasan nanti.


Ya, mereka akan berada di panggung yang sama dan berharap bersama-sama terpilih sebagai penerima beasiswa menuju The Royal Ballet School.


"Win Xie, aku merasa cemas karena hari pementasan semakin dekat " ujar Meghan.


"Aku juga, tapi bukan berarti kita bisa bersantai kan?" jawab Win Xie.


" Iya, kamu benar Win Xie." Jawab Meghan dengan sedikit ragu- ragu.


" Jangan ragu, langkah kita di masa depan ditentukan dari hasil pentas 5 hari lagi. Tetap semangat teman." Win Xie berusaha membangkitkan semangat Meghan sembari menepuk pundak temannya itu.


Mereka melangkah ke dalam gedung dan menuju ruang latihan yang memang khusus disediakan untuk para Ballerina dan Danseur (penari balet pria) yang akan tampil 5 hari lagi.


Mereka berjalan ke arah barre (tiang pegangan) setelah memakai toe shoes (sepatu balet) terlebih dahulu.


"Wah, wah, wah." Suara bariton yang menggema di ruang latihan itu membuat kedua gadis yang sedang pemanasan melihat ke arah suara.


Pemuda tampan dengan garis wajah yang tegas, tatapan mata yang tajam namun lembut serta tubuh yang sempurna sebagai seorang danseur. Mortaq, sang pemeran pangeran Siegfried serta pasangan menari Win Xie.


"Kenapa dengamu Mortaq?" Win Xie bertanya dengan heran


"Aku salut melihat kalian yang berlatih setiap hari." Jawab Mortaq sambil melangkah bergabung dengan gadis-gadis itu di barre.


"Kamu selalu pandai membuat pujian bahkan untuk hal sederhana Mortaq. Terkadang aku merasakan sedang berada di Paris jika kamu mulai berbicara." timpal Meghan sambil menepuk pundak Mortaq dengan kuat


"Aw" Mortaq terkejut


"Hahaha, Paris? kita sedang di Florida sayang." Win Xie tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah-baiklah, kalian boleh menertawai Mortaq yang rupawan ini, tapi jangan sampai kalian tidak terpilih menjadi penerima beasiswa The Royal Ballet School." Mortaq pura-pura menjawab gurauan para gadis dengan nada menggerutu. "Susah melawan kalian para gadis ketika sudah bersama seperti ini." lanjut Mortaq lagi.


"Jangan sedih sayang, kami tidak pernah akan mem-bully-mu sayang." Meghan mengalungkan tangannya ke leher Mortaq.


Suasana sedikit ceria di pagi itu karena guyonan Mortaq yang disambut baik oleh Meghan. Setidaknya mereka lupa sejenak akan tekanan untuk tampil 5 hari lagi.


Mereka memilih sejenak setelah jam menunjukkan pukul 12.30 siang. Perut harus diisi jika mereka ingin tetap bugar. untungnya disekeliling bangunan Ballet School itu terdapat restoran-restoran yang bisa mereka jadikan pilihan untuk tempat makan siang.


Masalah makan, mereka juga harus menjaga menu diet. Tidak heran para Ballerina memiliki badan yang indah. Dengan adanya tuntutan makan yang harus dijaga, maka makanan cepat saji tidak menjadi pilihan bagi Win Xie, Meghan dan Mortaq. Mereka memilih makan di restoran khusus vegetarian.


Di restoran mereka memilih duduk dekat jendela besar yang langsung menghadap ke jalan besar. Jalanan yang selalu sibuk dengan aktivitas manusia. Setelah memesan, Win Xie mengirimkan pesan teks lewat perangkat selular kepada Ibunya yang berada jauh di negri asalnya, Taiwan.


"Ibu, wo (saya) minta doanya. 5 hari lagi wo (saya) pentas" Pesan itu selalu rutin dikirim kepada ibunya, dengan hitungan mundur setiap hari.


"Hei lihat!" Seru Meghan tiba-tiba. Win Xie langsung mengangkat kepalanya dari perangkat selularnya setelah menekan tombol send. "Ada apa?" Tanya Wkn Xie dan Mortaq hampir bersamaan.


"Aku melihat sesuatu yang aneh pada tunawisma itu" tunjuk Meghan ke arah seorang tunawisma yang sedang mendorong troli berisikan barang-barang. Ada yang aneh dengan gerakan tubuh tunawisma itu, seakan-akan sedang mengalami gangguan saraf, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menggeram.


"Apakah dia sedang sakit?" Tanya Mortaq kepada para gadis.


"Sepertinya begitu" jawab Meghan.


"Sakit apa yang seperti itu?" tanya Win Xie.


Sebelum sempat membahasnya, makanan mereka telah datang, dan mereka makan serta melupakan masalah tunawisma tersebut.


09.00 Malam


Sesi latihan selesai dan semua beranjak ke asrama masing-masing. Mereka kelelahan dan hanya menginginkan tidur di ranjang yang empuk. Malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka.


11.00 malam


Hiruk pikuk kota besar tidak akan pernah padam, terlebih dengan aktivitas kota yang tetap padat. Di sebuah lorong gelap tempat para tunawisma berkumpul, terdengar percakapan samar.


"Kita akan dibayar mahal hanya untuk 1 suntikan saja." Ujar seorang tunawisma pria tua yang menggenakan jaket coklat yang semakin bewarna gelap karena tidak pernah dicuci.


"Kita akan dibayar berapa? apakah itu tidak berbahaya?" tanya seorang pria tunawisma yang sedang berbaring dilantai beralaskan kardus. "1000 dollar" Jawab tunawisma yang berjaket coklat.


"Sebanyak itu?" tunawisma yang sedang berbaring langsung terperanjat.


"Ya, dan katanya tidak akan menyakitkan. Mereka hanya mencoba teknik menyuntik yang benar." Ujar sang tunawisma berjaket coklat lagi.


Sang tunawisma yang muda sedikit merasa ragu, mana mungkin bayaran sebanyak itu hanya untuk sekedar belajar teknik menyuntik. Tapi dia tidak dapat menahan temannya, karena mereka juga membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Akhirnya ia menyetujui saran temannya dan berjanji menemui orang yang akan membayar mereka untuk disuntik.


04.00 Pagi


Di sudut pemukiman kumuh, terlihat dua tunawisma yang tadinya berbicara membahas pembayaran 1000 dollar itu. Mereka menemui sesorang yang menutup wajahnya dengan topeng dan memastikan kedua tunawisma itu bersedia disuntik. Terlihat keduanya mengangguk tanda setuju, dan tak lama mereka melangkah mengikuti pria bertopeng itu.


"Apakah benar ini tidak masalah?" Tanya yang muda penuh keraguan.


Pria bertopeng hanya mengangguk tanpa jawaban yang jelas Dia melangkah ke dalam bangunan kosong dan menuju sebuah meja yang sangat tidak cocok dengan bangunan itu. Dia menyuntik kedua tunawisma itu dan memberikan uang 1000 dollar kepada masing- masing tunawisma.


Kedua Tunawisma merasa senang karena mendapatkan uang semudah itu. mereka melangkah dengan gembira, tanpa sadar bahaya yang akan menanti.


08.00 Pagi


Win Xie terbangun karena alarm yang sudah disetelnya. Dia melangkah gontai ke arah kamar mandi, mempersiapkan diri untuk sesi latihan. Tak lupa Win Xie mengisi perutnya untuk menghindari dirinya kelaparan di tengah-tengah sesi latihan.


20 menit kemudian Win Xie sudah melangkahkan kaki menuju ruang latihan. Sepitas di jalan dia melihat dua tunawisma yang sedang menggaruk-garuk tubuh mereka seperti gatal-gatal. Tunawisma itu menggaruk terus menerus tanpa jeda. Tapi Win Xie tidak terlalu mengacuhkan karena pikirannya sibuk memikirkan pentas 4 hari lagi.