
"Wah, apakah benar kamu seorang chef?" Tanya Micha penasaran.
"ah, belum sampai menjadi chef kok." Jawab Leon sembari menggaruk kepala nya.
************
"Leon, cepat ambil daging dari tempat bahan" Ujar Kepala Chef.
Leon segera berlari dan harus memilih daging yang diminta.
Leon hanyalah pegawai magang yang mencari pengalaman dengan bekerja di sebuah restoran terbaik di kotanya. Bukan restoran Michelin sih, tapi masakan di restoran itu memang enak dan selaku ramai dikunjungi para eksekutif papan atas.
Di restoran itu Leon belajar memilih bahan-bahan masakan yang berkualitas dan membedakan mana yang masih segar mana yang sudah sekian hari.
Kepala Chef memang terkenal ketat dalam hal menentukan kualitas bahannya. Justru karena itulah, restoran itu bisa terkenal. Sayang saja belum mendapatkan bintang Michelin.
Leon masih ingat di awal dia bekerja, dia hanya disuruh mengupas kentang. Lolos dari kupas kentang? lanjut dengan bahan sayur-sayuran dan kemudian lanjut dengan menjadi pengambil bahan.
Kelihatannya sepele tapi semua pekerjaan ini memiliki hubungan dan saling membutuhkan, tidak ada yang lebih hebat atau lebih tidak berguna. Semua sama.
Leon bahkan terkejut ketika Kepala Chef juga membuka kentang dikala pesanan sedang banyak. Dari Kepala Chef lah semua Chef yang lain belajar, bahwa mereka tidak boleh memandang rendah pekerjaan siapapun juga.
Mereka juga kompak dan saling menyokong. Terlebih ketika Chef yang khusus memasak saus mengalami musibah kebakaran, mereka bahu membahu mengumpulkan uang bantuan dan pakaian.
Atau ketika seorang pelayan restoran mengalami kecelakaan, mereka juga memberikan bantuan.
Sering kali setiap selesai menutup restoran mereka akan makan bersama-sama tanpa memperdulikan identitas dan kedudukan. Bahkan seorang pelayan bisa mengkritik masakan para chef itu.
Keluhan pelanggan? juga bisa disampaikan pada acara makan itu. Yah, sudah seperti keluarga besar.
Sayang, semuanya tidak bertahan lama. Ketika Kepala Chef meninggal, anak-anaknya tidak ada yang mau menggantikan dan menjalankan restoran itu. Mereka memilih menjadi pekerja kantoran dan merasa memasak begitu melelahkan.
Akhirnya restoran itu tutup dan Leon kehilangan semangatnya untuk mencari pekerjaan baru. Bukan dia tidak mencoba, tapi dia kehilangan kenyamanan yang selama ini dia dapatkan.
Sudah beberapa restoran yang dia jajal. Tapi selalu saja ada kesalahan kecil yang dijadikan besar. Belum lagi para senior yang selalu merasa benar, padahal salah. Mereka juga selalu melemparkan kesalahan kepada junior. Tentu saja Leon tidak bisa menerima itu. Makanya dia memilih menjadi gelandangan daripada harus mencari kerja lagi. Dia begitu muak dengan semua kepura-puraan dalam hidup.
**********
"Ahhh...sudah lama berlalu rupanya" Desah Leon teringat kenangan lama nya di restoran itu.
"Lama berlalu apa?" Tanya Micha karena terheran dengan Leon yang tercenung dan tiba-tiba mendesah penuh beban.
"Ah, hanya kenangan lama sebagai pekerja serabutan" Jawab Leon cepat. "Hei, cepat jalan. Mereka sudah selesai dan hanya menunggu kita." Sambung Leon lagi melihat kendaraan yang akan mereka kendarai.
*********
"Wah, wangi sekali." Ujar Win Xie membuyarkan lamunan Micha.
"Humm...iya, aku jadi merasa sangat lapar." Jawab Meghan sembari mebolak balik daging yang sudah mulai matang.
"Sebaiknya kita panggil dulu para pria itu, supaya mereka juga bisa mengisi perutnya dengan makanan hangat." Cetus Win Xie berusaha menuju ke arah para pria berjalan.
"Eh, tidak usah Win Xie." Larang Micha cepat. "Lihat mereka sudah kembali" Tunjuk Micha ke arah yang berlawanan dengan dituju Win Xie.
"Ah ya, betapa goblok nya aku. Mereka pasti berkeliling dan tidak mungkin hanya di satu tempat saja." Win Xie menepuk jidatnya sendiri.
"Sekitar 100 m disekitar kita aman, tidak ada apapun." Hudson memecahkan keheningan mereka yang sedang asik menyeruput susu coklat.
"Artinya kita bisa tidur dengan nyenyak malam ini?" Jawab Meghan bersemangat.
"Jangan senang dulu. Zombie itu bisa saja berjalan terus dan akan mendekati kita" Timpal Wolly merusak kebahagiaan Meghan.
Mendengar itu Meghan hanya bisa mendesah kesal.
"Wajar, kita berada dalam masa yang tidak jelas, jangan berharap bisa kembali ke keadaan seperti dulu." Jawab Win Xie pelan.
"Kita memang mengharapkan keadaan kembali aman, tapi itulah, semua hanya harapan. Yang penting sekarang kita berjuang hidup saja dulu." Jawab Leon dengan bijaksana.
"Setelah malam ini, kita akan melanjutkan perjalanan. Ingat untuk terus cek perbekalan dan minyak mobil." Hudson memberikan perintah.
"Untuk sekarang masih aman, tapi jika kita melewati pom bensin, tetap saja mengisi penuh dan isi jiregen" Lapor Wolly cepat.
"Lebih baik kalau mendapatkan beberapa senjata." Sambung Hudson dan dijawab dengan anggukan oleh semuanya.
Mereka teringat perihal perampokan yang terjadi sebelum ini dan mereka sekarang makin percaya dengan Hudson.
Malam menjelang dengan cepat dan yang bergiliran jaga mulai berjaga di atap mobil. Yang bertugas duluan jaga adalah Wolly dan Meghan. Mereka tidak banyak berbicara, apalagi dengan sikap Wolly yang menurut Meghan agak sedikit aneh.
Tidak terasa jam demi jam berlalu dan Micha membangunkan Win Xie untuk berjaga. Win Xie sedikit meregangkan tubuh karena kaku tidur di dalam mobil. (Ya, orang gila mana yang mau tidur diluar jika zombie menyerang? Di dalam mobil kan tinggal jalan.)
"Win Xie, sekarang giliran kamu berjaga." Tepuk Micha pelan.
"Ugh? Ah, sudah waktunya?" Tanya Win Xie mengucek matanya.
"Tidurlah Micha, masih ada waktu menjelang pagi." Ujar Win Xie memberikan saran dan beranjak keluar dari mobil.
Win Xie memanjat atap mobil dengan tangkas dan Hudson sudah duduk di sana sembari memandang ke kejauhan.
"Selamat Pagi" Sapa Win Xie kepada Hudson dan dijawab dengan anggukan Hudson.
Win Xie memulai peregangan di atas atap mobil meskipun terhukum dengan luas tempat, Win Xie tetap bisa melakukannya.
"Sungguh rajin" Ujar Hudson melihat Win Xie.
" Aku masih memiliki harapan untuk menjadi balerina terkenal, dan biarlah sedikit peregangan bisa menjaga kelenturan tubuh." Jelas Win Xie
Hudson hanya menghela nafas panjang dan mengalihkan pandangannya menatap jauh dengan tatapan kosong.
Win Xie bisa melihat dengan jelas bagaimana Hudson terlena dalam memori nya. Ntah apa yang dipikirkan Hudson.
Win Xie hanya terus melakukan pemanasan dan kelenturan. lalu dia memilih duduk di samping Hudson.
"Sebentar lagi matahari akan terbit" Ujar Win Xie membuyarkan lamunan Hudson.
"Ah ya, sudah lama aku tidak menikmati matahari terbit ini." Jawab Hudson buyar dari lamunannya.
" Memang apa yang dulu kamu lakukan?" Tanya Wkn Xie sedikit penasaran.
"Aku dulu seorang Danseur (penari balet pria)" Hudson tanpa sadar malah menceritakan kenangannya kepada Win Xie.