The End Of The World

The End Of The World
02 Hari Sebelum Pertunjukkan




(Ilustrasi Hudson, dan ada sedikit petunjuk dari gambar ini.)


Hudson memandang sekitar lorong tempat para tunawisna berkumpul. Semua asik menggaruk badan. Hanya Dia, Leon serta Wolly yang tidak menggaruk. Hudson merasakan keanehan.


"Sebaiknya kita segera keluar dari lorong ini. Aku merasakan sesuatu yang tidak beres." Ujar Hudson kepada 2 temannya.


Mereka bergerak keluar dari lorong itu. Memilih berjalan menjauh. Tak lama terdengar suarang erangan di dalam lorong. Suara teriakan minta tolong dan jeritan mengerikan. Sayangnya semua suara itu seakan tertelan dalam hiruk pikuk kota besar. Ya, kejadian itu jam 8 malam. Disaat semua aktivitas kota besar masih berjalan.


"Apakah tidak apa-apa jika kita meninggalkan begitu saja? " Tanya Leon cemas.


"Jika kita tidak lari, maka kita bisa saja digigit mereka. Kau tidak lihat bagaimana Jack berusaha mengigitku?" Ujar Hudson.


"Tapi, mereka tentu akan keluar dan mengigit orang lain?" Tanya Wolly cemas.


"Untuk sekarang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Berharap saja mereka dalam keadaan terbaring dan tidak bisa jalan." Jawab Hudson dengan ragu-ragu.


 


Mortaq terbangun dari tidurnya ketika tetangga di ruangan sebelah membuat gaduh.


"Prang...Prang" Bunyi suara benda jatuh.


"Astaga, kenapa mereka ribut sekali?" Gerutu Mortaq sambil mengibaskan rambutnya.


Dia membanting selimutnya ke lantai dan beranjak bangun dari tempa tidur seraya melirik jam di meja kecil disamping tempat tidurnya.


" Hah, baru jam 6 pagi?" Sungut Mortaq sambil berjalan ke kamar mandi.


 


Sementara itu keramaian kota mulai terasa, mobil-mobil mulai memenuhi jalanan kota. Para pekerja kantor mulai bersiap-siap dengan aktivitas mereka. Toko-toko mulai buka dan beraktivitas seperti biasa. Mereka tidak sadar akan bahaya yang mulai mengancam.


Para Tunawisma yang berubah menjadi makhluk seperti zombie di film-film. Mereka berusaha keluar dari lorong mencari sumber suara hiruk pikuk diluar.


Seorang tunawisma tua yang sudah berubah, berjalan di trotoar sambil menggeram dengan bergerak tanpa tujuan. Tiba-tiba dia menjadi beringas ketika melihat seorang wanita yang berjalan sendirian.


Zombie, istilah yang mungkin bisa disematkan ke tunawisma tersebut, dia menggigit sang wanita, dan wanita itu berteriak sebelum terdiam. Darah berceceran dimana-mana, dan bau darah memancing zombi yang lain. Pesta daging manusia dimulai.


 


Letak sekolah balet Win Xie berada di pusat kota, tentunya hal yang aneh belum terlihat disana. Persiapan semakin intens.


"Ingat, periksa kostum kalian."


"Adakah yang memiliki *tutu* rusak?, jangan gunakan lagi itu" Miss Roberta berteriak.


" Lihat panggung disebelah sana, jangan ada tumpukan karton lagi."


"Hari ini Miss Roberta kembali mengamuk." Bisik beberapa ballerina.


"Bagaimana dia tidak mengamuk? Besok hari besar bagi sekolah kita. Jangan sampai kesalahan sedikit membuat nama sekolah menjadi rusak." Jawab beberapa ballerina lainnya.


"Huh, kita tidak mendapatkan apa-apa dari pertunjukkan ini" Jawab Qonsie salah satu ballerina.


"Jangan begitu Qonsie, kita memang belum mampu untuk itu" Timpal Tammy.


"Kita hanya akan terus jadi peran pendukung." Jawab Qonsie kesal.


"Ketika mereka mendapatkan beasiswa, bukankah kita akan maju menempati posisi mereka?" Jawab Reana


"Ah, terserah kalian." Sungut Qonsie dan meninggalkan ruangan. Dia tahu, mereka mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itu selalu menyakitkan.


Di ruangan lain terlihat Win Xie dan Meghan mencoba pakaian mereka. Memastikan segalanya dalam keadaan sempurna. Win Xie dengan tutu putihnya dan Meghan dengan tutu hitamnya. Mereka benar-benar sempurna mengenakan kostum itu.


"Lihat, kamu sudah seperti angsa putih Win Xie." Ujar Meghan bergurau.


"Dan kamu seperti angsa hitam Meg." Timpal Win Xie lagi.


Win Xie melihat setiap inci jahitan di bajunya, takut ada bagian yang rusak. "Minimalisir kesalahan kecil. Usahakan semuanya sempurna." Batin Win Xie.


 


Hudson dan 2 teman yang lain menyaksikan bagaimana tunawisma yang menjadi zombie itu keluar dari lorong, berjalan menuju hiruk pikuk jalan besar. Mereka takut, bingung dan tidak tahu harus bagaimana.


"Kita harus melakukan sesuatu." Ujar Hudson.


"Apa yang kita bisa? Minta tolong polisi?" Jawab Leon.


"Aku tidak yakin, polisi malah akan menyalahkan kita. Kita tunawisma hanya dianggap sampah masyarakat." Jawab Wolly kesal.


"Kita akan coba cari cara, untuk sementara tetaplah berusaha hidup dengan menghindari zombie itu." Ujar Hudson.


"Kita tidak tahu apakah itu menular, atau hanya sekedar mencari makanan saja." Sambung Hudson lagi.


"Ya, kamu benar. Bisa saja kita ikut berubah jika dekat mereka." Jawab Leon.


"Aku tidak yakin kita berubah jika dekat mereka. Karena kita bersama-sama dengan mereka sebelum ini." Jawab Wolly.


"Benar, itu satu petunjuk. Setidaknya dekat dengan mereka tidak membuat kita berubah." Hudson manggut-manggut paham. "Coba kita selidiki dengan mengikuti salah satu dari mereka. Ingat, jangan sampai mereka sadar kita ada di dekat mereka"


"Ya, dari sana kita bisa tahu apa yg akan mereka lakukan dan seperti apa efeknya bagi orang yang digigit." Sambung Wolly.


"Lihat, itu ada Liam." Ujar Leon menunjukk salah satu zombie yang berjalan sendirian. "Kita ikuti dia saja." Dijawab dengan anggukan kedua temannya.


Mereka berjalan menjaga jarak dari Liam, mengikuti dan memantau apa yang dilakukan oleh teman zombienya. Liam bergerak tanpa tujuan dengan langkah gontai tanpa tenaga. Suara erangan terdengar dari mulutnya.


Tiba-tiba melintas seorang pekerja yang memakai jumpsuit, sepertinya seorang pekerja bengkel mobil. Pria malang itu tidak sadar bahaya sedang mengintainya. Liam yang mencium bau, langsung bergerak mengejar arah bau. Ternyata bau dari pria itu memancing nafsu zombie.


Liam mencapai pria itu dan menggigit lehernya. Pria itu tidak bisa melawan dan hanya terkulai lemas ketika Liam menarik daging lehernya dan darah berserakan dimana-mana. Tubuh pria itu kejang-kejang dan tidak bergerak lagi. Liam mengunyah daging yang ada dimulutnya, seakan itu daging terenak yang dimakan.


"Hoeeekk.." Leon muntah melihat pemandangan di depannya.


Wolly memalingkan muka dan tidak mau melihat lagi. Hanya Hudson yang terpaku dan sadar, bahaya besar mengancam kota mereka.


"Bahaya, ini sungguh bahaya." Ujar Hudson "Mereka ibarat mesin pembunuh tanpa ada rasa lelah."


Wolly memandang Hudson dengan heran. "Bagaimana caranya kita menumpas zombie ini?" Tanya Wolly.


"Cepat, persiapkan pakaian kalian, makanan dan obat-obatan." Perintah Hudson


"Tapi, kita tidak punya uang." Ujar Leon yang kembali tenang.


" BODOH! Ambil dari para zombie itu." Teriak Hudson "Mereka meninggalkan lorong tadi. Cepat ambil uang dan apapun yang dibutuhkan. Usahakan kalian bisa bergerak dengan barang-barang kalian." Ujar Hudson sembari berbalik ke arah lorong.


Di dalam.lorong hanya tinggal 3 temannya yang masih terikat. Mereka bergerak cepat membongkar barang tunawisma lain yang sudah menjadi zombie. Mengambil pakaian layak pakai, makanan dan obat serta uang ynag mereka temukan. Semua dimasukkan kedalam ransel.


"Ingat, persiapkan untuk beberapa hari kedepan. Atau kalian akan menyesal. Sebentar lagi bencana besar melanda kota ini." Teriak Hudson kepada temannya.