
Ilustrasi Micha.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Leon kepada Micha.
Micha menggelengkan kepalanya, menahan jaket yang dipakainya.
"Bagaimana kalau kutemani mencari pakaian?" Ujar Leon menawarkan bantuan "Diujung lorong ini ada toko pakaian wanita, kita bisa kesana."
Micha kembali mengangguk dan berdiri dibantu Leon. Mereka berjalan ke arah toko pakaian yang tertutup. Leon terpaksa memecahkan kaca toko itu dengan kursi yang ada di depan toko. "Praaaangggg." Bunyi kaca pecah bergema dilorong mall itu.
"Hei, apa yang kau lakukan" Ujar Wolly cemas.
"Bisa saja suara ribut memancing zombie."
"Tidak ada cara lain selain memecahkan kaca, gadis ini perlu pakaian." Ujar Leon.
"Cepat, ambil pakaian yang bisa kamu pakai, kita tidak punya banyak waktu."
Micha dengan cepat mengambil T-shirt yang terpajang dan celana pendek. Dia langsung mengenakan pakaian itu.
"Ada tas disana, cepat isi beberapa pakaian lagi." Ujar Leon.
Micha dengan cepat memasukkan beberapa pakaian lagi beserta pakaian dalam ke dalam tas yang tadi ditunjuk Leon.
Tak lama Hudson mendekati mereka. "Kita harus bergerak. Kita tidak tahu apakah di dalam Mall ini aman dari zombie."
Mereka kembali bergerak ke dalam swalayan, menyuruh Micha mengambil makanan.
"Hari mulai malam." Ujar Micha "Dimana kita akan beristirahat?"
"Kau benar, harus ada tempat yang aman untuk kita." Ujar Hudson.
Wolly tiba-tiba berteriak, " Hei, coba lihat disini."
Mereka bergegas menuju ke arah wolly. Ternyata ada ruangan karyawan disana. Mereka bergegas menuju toko kamping, mengambil beberapa kantong tidur. Setidaknya mereka bisa beristirahat dengan aman, tanpa khawatir akan bahaya zombie.
"Hei, bagaimana dengan pria brengsek itu?"Tanya Micha cemas, dia takut Prims akan mendatangi mereka di malam hari.
"Aku sudah mengikatnya dibawah meja kasir. dan menyumpal mulutnya." Ujar Hudson
Micha menarik nafas lega dan meringkuk dalam kantong tidurnya. Tiba-tiba Leon datang dan meletakkan kantong tidur disebelah Micha.
"Bolehkah aku tidur disini?" Tanya Leon lembut.
"Silahkan." Jawab Micha sambil tersenyum.
"Tidak usah takut, ada kami disini. Tidak akan ada yang berani macam-macam denganmu." Ujar Leon "Kenalkan aku Leon." Ujar Leon sambil duduk dan menyodorkan tangannya
"Micha" Ujar Micha sembari mengulurkan tangannya menyambut tangan Leon. Leon lalu menunjuk Hudson yang tidur paling ujung. "Itu Hudson yang paling ujung, lalu Wolly." Leon menyebutkan nama teman-temannya.
"Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" Ujar Hudson bertanya.
"Aku sedang jalan di bagian belakang mall ini menuju tempat kerjaku di restoran Cina di ujung jalan. Sebelum mencapai mall ini, aku melihat seorang wanita mengigit pria, sungguh aneh, kekuatannya tidak seperti wanita. Pria itu berusaha melawan dan terluka, lalu wanita tersebut mengigit leher pria itu dan pria itu langsung tidak bergerak. Darah dimana-mana, begitu mengerikan. Lalu wanita itu melihat ke arahku sembari mengigit mayat pria itu. Aku langsung lari dan melihat pintu besi di mall ini. Aku mencoba membukanya dan ternyata bisa. Lalu aku menutup pintu kembali, berharap wanita gila itu tidak masuk ke dalam, dan berjalan dalam mall ini. hampir 1 jam aku berkeliling di dalam mall, dan aku mendengar langkah kaki. Ternyata pria gila itu." Ujar Micha dan terdiam
"Berarti kamu sudah memastikan disini tidak ada orang lain lagi?" Tanya Leon mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kelihatannya tidak ada dalam mall ini. Aku memang hanya berputar di lantai ini, karena takut menuju ke lantai lain." Jawab Micha lagi.
"Artinya kita aman disini. Besok kita cari sumber listrik untuk penerangan mall ini, akan lebih baik jika ada pencahayaan." Ujar Hudson lagi.
Lalu mereka beristirahat, terlalu lelah untuk memikirkan langkah selanjutnya.
-------
Mortaq berjalan ke arah jendela besar yang ditutupi dengan gorden besar dan berat bewarna coklat tua. Dia menggeser gorden itu dan terlihat pemandangan jalan yang penuh dengan darah serta mobil tanpa manusia di dalamnya.
Tiba-tiba Win Xie datang dan merangkul lengan Mortaq. Mortaq melihat ke arah Win Xie dan dia mencium Win Xie. Ciuman yang hangat serta penuh kelembutan, sejenak mereka terlarut dalam gejolak panas sentuhan bibir sang kekasih.
Win Xie dan Mortaq tersadar serta cepat-cepat memisahkan diri.
"Kalian sudah makan?" Tanya Meghan pura-pura tidak tahu.
"Sudah, hanya makanan ringan, betul-betul tidak ada tenaga." Ujar Mortaq mengeluh.
"Sepertinya kita harus keluar dari sini dan menuju pusat makanan." Ujar Meghan
"Kau benar, ada baiknya kita masuk ke toko atau mall?" Tanya Mortaq
"Bukankah dua blok dari sini ada mall?" Tanya Win Xie
"Mall?" tanya Tammy yang baru bangun.
"Ada, dua blok dari sini ada mall." lanjut Tammy.
"Kita bisa kesana dan mendapatkan makanan." ujar Meghan
"Tapi, apakah tidak terlalu bahaya?" tanya Win Xie
"Tidak ada pilihan, jika stok kita habis maka kita juga harus keluar mendapatkan makanan dan minuman." Ujar Meghan.
"Benar, cepat atau lambat kita harus bergerak." Mortaq membenarkan apa yang Meghan bilang.
"Jika dua blok dari sini, kita bisa lewat atap gedung ini dan gedung sebelah. Jarak antar gedung tidak terlalu jauh." Sahut Mortaq. "yang jadi masalah setelah itu, mau tidak mau kita harus turun di blok selanjutnya. Kecuali kita menerobos dalam perumahan di blok kedua."
"Apakah itu mungkin? tidak terlalu berbahaya?" Tanya Tammy ngeri.
"Akan lebih bahaya jika kita berjalan di jalan raya." Jawab Mortaq
Tammy teringat para zombie yang ada di jalanan, tidak mudah bagi mereka meloloskan diri jika zombie itu melihat mereka.
"Jika kita mau pindah ke gedung sebelah, artinya kita harus ke lantai paling atas." Terang Meghan.
"Ya, lebih baik begitu." Ujar Mortaq
"Sekarang jam 10 pagi. Kalian mau bermalam disini atau memilih bergerak ke lantai atas?" Tanya Mortaq lagi.
"Aku ikut denganmu." Ujar Win Xie
"Kami juga ikut." Jawab Meghan dan diikuti dengan anggukan kepala Tammy.
"Baiklah, sekarang kita cari senjata dulu. Ingat senjata yang kuat dan bisa menghancurkan musuh." Ujar Mortaq
Tak lama, mereka mendapatkan potongan kayu yang cukup panjang serta kokoh. Mereka menggeser penghalang pintu dan mengintip ke luar. Setelah dirasa aman, mereka keluar dan menuju tangga ke lantai atas.
Disaat mereka melangkah ke atas, terdengar suara erangan. "arrrghh...arrrghhhh...argghhhh" Tidak hanya satu, ada beberapa suara.
Semuanya mempercepat langkah menaiki tangga, tepat disaat Mortaq membuka pintu menuju ke atap, Tammy merasa kakinya ditarik. Tammy kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ternyata zombie di lantai bawah berhasil menarik kaki Tammy.
"Tolong...tolong aku." Ujar Tammy.
Zombie itu mengigit kaki Tammy. "Aaaahhhh...tidaaakkk, lepaskan." Teriak Tammy kesakitan.
Suara teriakan Tammy membuat zombie yang lain menjadi beringas. Mereka mengigit semua bagian tubuh Tammy. Meghan, Win Xie dan Mortaq sempat tertegun, lalu Mortaq melangkah ke atas, menarik Win Xie. Win Xie meraih tangan Meghan dan mereka terpaksa harus lari ke lantai atas.
Dengan cepat Mortaq menutup pintu, Win Xie melihat kesekitar dan menemukan beberapa meja untuk penghalang pintu. Dia bersama Meghan mengangkat meja itu dan meletakkan di depan pintu. Setelah dirasa cukup, mereka menarik nafas lega. Airmata Win Xie menetes jatuh, dia terisak.
"Tammy, kita tidak bisa menyelamatkan dia."
Mortaq menghampiri Win Xie dan memeluknya, Win Xie menangis tersedu-sedu dalam dekapan dada Mortaq.
"Kita tidak bisa menolongnya. Dia telah digigit. Kecil kemungkinan dia selamat." Ujar Mortaq
"Benar, jikalau kita bisa menarik dia jika sudah tergigit maka dia akan berubah juga." Ujar Meghan mengigit bibirnya menahan tangis.
Suasana Hening seketika, masih terdengar geraman zombie di balik pintu. Seakan mereka berpesta menikmati jamuan.