The End Of The World

The End Of The World
Perkembangan Mengerikan



Di sisi lain di kota terpencil sekitar 175km dari tempat Hudson dan teman-teman berkumpul, terlihat pergerakan yang signifikan. Banyak mobil yang melaju dalam kemacetan dan orang-orang yang terus menekan klakson agar mobil di depan bergerak terus.


Asap kendaraan membumbung dan teriakan serta sumpah serapah terdengar di mana-mana. Tangisan bayi juga anak-anak bersatu dan tenggelam dalam kericuhan gelombang suara orang dewasa yang diselimuti ketakutan, cemas dan kemarahan.


"B***s**, cepat jalankan mobil kalian yang di depan itu" Seorang pria berusia 30an tahun menjulurkan kepalanya yang botak keluar dari jendela mobil dan lengan yang penuh tato terus menekan klakson mobil dengan kuat.


"Hei, kami juga mau cepat" Jawab seorang pria berkemeja putih dan berdasi biru gelap melihat ke arah mobil pria botak yang tepat dibelakang mobilnya.


"Mam, aku lapar dan haus" Rengek seorang anak perempuan manis berkepang dua sambil menarik lengan baju ibunya yang sudah panik di kursi penumpang mencari botol air anaknya.


"Oh sayang, kita perlu mencari Diapers untuk Joe kecil." Seorang ibu di mobil Lamborghini metalik keluaran terbaru memberitahukan suami nya. " Yah, akan ku usahakan mencari mini market terdekat. Jika tidak, terpaksa gunakan apa yanga da saja." Jawab suaminya meremas rambut pirang di kepalanya karena pusing kapan bisa mencapai mini market dengan kondisi macet merayap begini.


"Ah...aku melupakan album keluarga. Aku meninggalkan begitu saja." Pekik seorang wanita berusia 18 tahun di mobil lain. " Dalam kondisi begini, kau masih memikirkan album?" Tanya pria yang mengemudikan mobil dengan kesal melihat ke-totolan sang kekasih. "Itu kan berharga sayang." Jawab si wanita lagi. " Pakai otakmu, kondisi begini bagaimana mungkin masih membawa album?" Sang pria mengetuk kening pacar nya dengan keras.


"Hum...sepertinya wabah penyakit ini sedikit aneh" Ucap Chloe kepada Jada teman akrabnya. "Ya, aku rasa penelitian rahasia yang dilakukan Professor Lumberd berhubungan dengan ini" jawab Jada berusaha mengingat- ingat lagi kejadian beberapa bulan lalu.


******


"Jada, tolong ambilkan cairan kimia yang aku catat ini." Seru Prof. Lumberd kepada Jada yang sedang sibuk dengan tikus putih peliharaan laboratorium mereka.


Ya, Jada adalah asisten Prof. Lumberd selama 5 tahun terakhir ini dan banyak sekali rahasia Profesor ini yang diketahui Jada. Jada juga diserahkan beberapa tugas penting untuk membantu pekerjaan Profesor.


"Baik Prof." Jawab Jada singkat dan bangkit berdiri lalu mengarah menuju ruang lain.


Sepanjang jalan Jada agak sedikit heran dengan daftar bahan yang diperlukan sang Profesor. Semuanya merupakan bahan berbahaya yang bahkan akan merusak organ tubuh. Padahal tugas Profesor untuk menemukan obat-obat baru yang membantu mengatasi berbagai penyakit mematikan.


Yah, Jada tidak mau pusing. Jika ini yang diinginkan, pastilah Profesor yang lebih tahu kegunaannya. Jada pun bergegas menuju ruangan yang dijaga Chloe dan meminta semua bahan-bahan di daftar.


Sama seperti Jada, Chloe juga heran dengan permintaan Professor. Chloe lebih lama menjadi asisten Profesor dan paham bahwa Profesor tidak pernah menggunakan terlalu banyak bahan berbahaya dalam satu kali eksperimen. Tapi karena ada permintaan baru dari investor, mungkin saja terjadi, batin Chloe.


******


"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan" Ujar Chloe. "Masalahnya juga belum jelas kan?"


"Apa yang terjadi?" Tanya Chloe mengalihkan pandangan ke Jada.


" Tikus itu awalnya seperti akan mati, lalu tidak bergerak dan setelah beberapa menit tikus itu terlihat hidup tapi bertingkah dengan aneh." Jada menceritakan apa yang dilihatnya saat itu.


"Apakah tikus itu bertahan hidup? Dan apa yang terjadi pada tikus itu?" Tanya Chloe kembali memusatkan perhatian ke depan karena mobil di depannya telah bergerak maju.


"Tikus itu mulai menyerang sekeliling kandang dan terus berusaha menggigit tanganku ketika aku hendak menangkapnya." Terang Jada lagi.


"Apakah Profesor tahu akan itu?" Tanya Chloe berusaha mengerem mendadak karena mobil di depan tiba-tiba berhenti. Mereka berdua terlempar sedikit ke depan tapi tidak terluka.


"Ya, tapi Profesor hanya diam dan tidak berkata apa-apa. Akhirnya aku hanya membiarkan tikus itu di dalam kandang tanpa berani memasukkan tangan ke sana. Oh ya, beberapa hari setelah itu, Profesor menyuntikkan sesuatu lagi ke badan tikus itu dan si tikus kembali bertingkah biasa." Jada teringat eksperimen terakhir.


"Apakah artinya yang dibuat Profesor adalah semacam penyakit? dan juga membuat penawarnya?" Chloe bergumam sendiri dan berusaha mengingat apa saja bahan kimia yang digunakan Profesor terakhir kali.


"Jika memang ada penawarnya, maka semua wabah ini akan bisa diatasi." Chloe kembali bergumam.


"Ya, aku rasanya memiliki salinan data yang diminta Profesor terakhir kali yang mungkin adalah penawar untuk penyakit misterius ini." Jada menjawab gumaman Chloe.


"Baiklah, kita usahakan mencapai mini market untuk bisa menyalakan laptopmu dan membuka salinan data itu." Chloe bersemangat dan berharap semua kegilaan ini cepat berlalu. Kesenangannya menikmati akhir minggu dalam damai dan ketenangan membaca novel detektif karangan Agatha Christy sembari mendengar alunan musik Bethoven malah terganggu gara-gara wabah gila ini.


"Tapi kemana ya Profesor setelah ekperimen terakhir?" Jada bertanya-tanya karena mereka ditinggalkan di labor tanpa berita selama beberapa hari.


"Jangan-jangan Profesor memang mencobakan eksperimen itu langsung, makanya tidak memberitahukan kepada kita. Bukankah kita sudah mencurigai wabah ini tidak beres dan berhubungan dengan profesor?" Terang Chloe lagi kepada Jada.


"Iya ya, biasanya Prof tetap membawa salah satu dari kita ketika keluar dari labor. Tapi hari itu Prof langsung keluar tanpa berita dan tidak ada pemberitahuan kapan kembali." Jada menjawab dengan cemberut. Karena dia sadar, Profesor selalu baik kepada mereka berdua dan tidak pernah memiliki rahasia.


"Yah, kita tidak tahu tepatnya bagaimana. Ada baiknya tetap hargai dia sebagai seorang manusia saja. Semoga saja bahan penawarnya bisa kita perbanyak dan kita bagikan kepada rakyat. " Chloe berusaha menenangkan Jada yang sedikit cemas.


"Ingat, tidak ada racun yang tidak ada penawarnya. Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Hanya kemalasan yang tidak ada obatnya." Chloe me- ngerlingkan matanya kelada Jada berusaha mencairkan suasana tegang tadi.