
Ketika situasi sedang tidak menentu. Tiba-tiba terdengar suara lonceng dari arah kota. Meskipun pihak kerajaan tidak tahu untuk apa lonceng itu dibunyikan. Akan tetapi Pasukannya Roderick bisa menebak kenapa lonceng tersebut berbunyi.
Dan tebakannya itu benar, bunyi lonceng itu menandakan bahwa ada satu sosok penting yang baru saja gugur. Yakni German Rainer.
Roderick, Hengki dan lainnya sedang bergegas menjauh dari markas pertahanan musuh. Meski sudah unggul tapi mereka sudah sangat kelelahan.
Jan yang baru saja bertarung dengan German juga terkapar pingsan. Kini ia menumpang pada kuda yang digunakan oleh Ajax.
Pertempuran ini sudah berjalan cukup lama. Bahkan sebentar lagi hari akan gelap.
Langit terlihat sangat gelap. Pandangan lurus mereka terhalang oleh debu yang timbul dari pertempuran antara pihak kerajaan dan pemberontak. Sementara di atas, langit terlihat gelap karena tertutup oleh awan kelam.
Tik! Tik! Tik!
Perlahan hujan mengguyur tanah. Sedikit demi sedikit hujan itu menjadi lebih deras.
Ktuplak! Ktuplak!
Ketika sedang bergerak mundur. Hengki menatap wajah Jan yang sudah terkulai lemas.
Kau (Merujuk Pada Jan)... ucap dalam hati Hengki.
Hengki kagum sekali dengan kemampuan yang dimiliki oleh Jan.
"Meskipun kita belum melihat mayatnya. Kata-kata masih akan menyebar! Katakan bersama bahwa kita, pasukan dari Tuan Roderick, Telah membunuh salah satu dari pentolan musuh!" Sementara Roderick yang sadar kalau situasi sudah semakin tenang, memerintahkan pasukannya untuk menyebarkan informasi kalau mereka telah membunuh salah satu orang penting dari pihak musuh.
Beberapa saat berlalu. Kini Hengki dan yang lainnya sudah berhasil menemukan tempat yang cocok untuk di pakai berteduh sekaligus beristirahat.
Dari salah satu sudut terlihat pasukan kesehatan sedang merawat luka yang diderita oleh Jan.
Jan tampak masih dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
Melihat hal tersebut Hengki lantas datang menghampiri dan bertanya, "Bagaimana keadaannya?!"
Hengki sangat khawatir kepada Jan, karena ia takut kehilangan salah satu sosok tangguh sekaligus muda seperti Jan. Karena siapa tahu ke depannya Hengki bisa menggunakan jasanya Jan.
"Entah bagaimana, Tuan Jan tidak menderita luka fatal! kondisinya semakin membaik setelah kami menghentikan pendarahannya! " ucap medis itu dengan nada tak percaya.
Ia sendiri tampak tidak percaya dengan kondisi Jan yang ternyata tidak mengalami luka fatal. Padahal kalau dilihat sekilas, banyak sekali luka yang diderita oleh Jan. Bahkan perban yang digunakan kepadanya saja sangat banyak begitu.
"Bagus!" jawab Hengki dengan sangat lega.
Suasana di tempat peristirahatan itu tampak sangat sunyi diiringi dengan suara rintik dari hujan yang masih deras. Apalagi bau hujan ini sangat membuat para tentara merasa lebih rileks.
Para tentara di sana masih tidak percaya kalau mereka berhasil menang dan juga selamat. Dan yang paling merasa terharu adalah Ajax beserta tentaranya.
"Tuan...," ucap salah satu tentaranya Ajax dengan nada yang tersedu-sedu.
"Ya. Untuk saat ini, itu tampak seperti semuanya sudah berjalan baik bagi kita," jawab Ajax.
Di sebelahnya, terlihat salah seorang tentara sedang tampak kebingungan sambil menatap ke satu arah.
Karena penasaran orang yang berdiri di sebelahnya bertanya, "Apa ada yang salah?"
"Itu... Bagaimana dengan pasukan lainnya. Apa mereka juga bertarung seperti kita?"
Ternyata orang itu penasaran, apakah unit lain juga sedang berperang. karena sepanjang berjalannya pertempuran antara Pasukan Roderick dan Pasukan German tak ada satu pun bala bantuan yang datang dari masing-masing kubu.
Hengki yang berada tak jauh dari perbincangan itu mendengar perkataan dari tentara tersebut. Ia juga akhirnya sadar kalau selama ini tak ada bala bantuan yang datang, baik itu dari kubu kerajaan atau pemberontak.
Karena saking fokusnya berperang, Hengki beserta pasukan yang lain tidak sadar kalau selama ini Bobs telah menahan bala bantuan yang akan dilakukan oleh Elliot Lascaris.
Namun ketika mereka sedang bersantai di tengah guyuran hujan. Tiba-tiba suara gemuruh yang amat kencang terdengar sampai ke telinga mereka semua. Gemuruh itu jelas berasal dari sisi sebelah kiri.
...
Ya, gemuruh itu berasal dari tempat di mana pasukan Bobs dan Elliot bertempur.
[Beberapa saat yang lalu ketika lonceng masih berbunyi]
"Hah? Suara apa itu?" tanya Bobs pada dirinya sendiri.
"Apa mereka akan mengirimkan bala bantuan?!" Sementara itu ada satu tentara yang malah panik ketika mendengar lonceng itu berbunyi.
Dirinya berpikir kalau bunyi lonceng itu adalah tanda kalau musuh akan mengerahkan pasukannya lagi.
"Sepertinya bukan. Aku tidak melihat ada tanda-tanda pergerakan dari arah kota." Dengan penglihatannya yang sangat tajam. William bilang kalau dirinya sama sekali tidak melihat adanya pasukan musuh yang bergerak keluar dari dalam kota.
Hyah! Hyah! Huwaah!
Di tengah kebingungannya itu. Tiba-tiba saja pasukan yang sedang mereka lawan menjadi lebih beringas. Bahkan para pemberontak itu tampak seperti sedang berduka.
Teriakannya terdengar agak serak, tidak seperti biasanya.
Klang! Klang! Klang!
Meskipun kemampuannya tidak seberapa, tetapi daya dobrak yang diberikan oleh para pemberontak itu tampak jauh lebih kuat.
Mereka semua seperti sedang kerasukan sesuatu.
"Apa... Itu...?" kaget Bobs.
"Kenapa mereka tampak jauh lebih mengerikan seperti itu?!" kaget salah satu tentara yang berada di belakang Bobs.
"Sial! Mereka seperti sedang kerasukan iblis!" kaget juga tentara yang lain.
Tentara kerajaan yang melakukan tugas untuk bertahan pun kemudian menjadi panik.
"Datang!" Salah satu dari tentara itu ada yang mengingatkan kalau musuh sebentar lagi akan datang, tetapi bukannya memperbaiki formasi. Mereka malah bergerak tak karuan, dan pada akhirnya formasinya pun menjadi acak-acakan.
"Apa yang kau lakukan! Cepat kesini! Datang kesini, cepat!" Tentara yang masih fokus dengan misinya kemudian menjadi marah. Ia mengamuk kepada pasukan yang lain dan memerintahkannya untuk kembali ke posisinya masing-masing.
Yang ditegurnya itu terlihat sangat panik.
"K-Kita tidak bisa menghentikan musuh seperti itu!" jawabnya dengan terbata-bata.
"Kau bodoh, apa yang kau katakan?... Kita adalah tentara kerajaan dari Wilayah Chandax. Kenapa kita harus takut dengan gerombolan pemberontak itu." Tentara yang ada di sampingnya itu kemudian membisikan sesuatu kepadanya. Ia mengingatkan rekannya itu agar jangan terlihat seperti sedang ketakutan.
"Tapi...," Tentara yang ketakutan itu ingin beralasan lagi, tapi ia juga berusaha untuk menghilangkan rasa takutnya.
"Mari kita maju!" perintah rekannya yang tadi.
"Ba-Baiklah!"
Ketika moral pasukan kerajaan perlahan membaik, akan tetapi William Artemis justru malah terlihat masih bimbang.
Kita tidak harus maju. Entah kenapa... Para pemberontak saat ini terlihat seperti sudah tidak memedulikan nyawanya lagi. Sekarang... Percuma saja untuk menghentikan mereka. William yang melihat cara para pemberontak itu bertarung merasakan ada sesuatu yang janggal. Tadinya para pemberontak itu tampak masih kaku dan juga sedikit ketakutan, tapi kini mereka justru berubah total. Tak ada satu pun yang terlihat kaku dan juga merasa gentar bahkan ketika ada rekannya yang mati di depan mata mereka sendiri.
Brakk! Klang!
"Apa yang harus kita lakukan Tuan Bobs?!" Para tentara yang panik itu menunggu perintah dari tuannya.
"Waakh! Apalagi kalau bukan membalas perbuatan orang-orang bodoh itu!..." Sepertinya Bobs tidak menyadari kerugian apa yang akan dirinya alami dari apa yang akan dirinya perintahkan.
"...Pasukanku serang balik mereka!" Dan ternyata benar. Bobs bergerak tanpa menganalisa situasi yang sedang terjadi terlebih dahulu.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 48.1 yang berjudul 'Belum Usai' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v