THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 44 - Elliot Lascaris



Dengan mundurnya para pemberontak ke kota Blum, pasukan kerajaan menjadi lebih diunggulkan dan langsung mulai bersikap agresif dengan menyerang para pemberontak yang sedang di pimpin oleh Hubert dan Redjack.


Namun karena intensitas peperangan kali ini diperkirakan akan sangat berat dan juga berjalan cepat, Hengki jadi tak punya waktu banyak lagi untuk berpikir dan juga mau tak mau ia harus ikut terjun ke dalam pertempuran.


Ini adalah ujian yang sangat berat baginya, karena lawan yang akan ia hadapi sekarang adalah 4 orang kuat dari kubu pemberontakan.


Hengki hanya bisa berharap pada kemampuan improvisasi dalam merancang strateginya saja, karena tidak mungkin ia berperang hanya dengan mengandalkan kemampuan bertarungnya.


"Apa aku sudah tidak bisa mundur saja, Paman?" tanya Hengki kepada Roderick dengan nada bercanda.


Walaupun Hengki merasa kurang percaya diri, tapi ia berusaha untuk tidak mundur.


"Sepertinya tidak bisa," jawab Roderick, dengan nada bercanda juga dan wajah yang pura-pura serius.


Ajax dan Jan yang mendengar kalau Hengki ingin mundur menganggapnya dengan serius.


"Kenapa tuan ingin mundur?" tanya Ajax kepada Hengki.


Hengki lalu memalingkan pandangannya ke arah Ajax, dengan muka yang terlihat kesal. Ia berkata, "Sudah kubilang jangan panggil tuan bisa tidak? Lagian wajar saja aku bilang ingin mundur, toh aku tidak bisa menggunakan pedang. Bagaimana mungkin orang sepertiku ikut terlibat langsung di medan tempur nanti."


"Hah?" Kaget Ajax.


Ajax dan yang lainnya pun kaget. Mereka sadar kalau selama ini Hengki memang tidak membawa senjata apa pun yang menempel pada dirinya. Tapi mereka tidak tahu kalau ternyata Hengki tidak bisa menggunakan pedang.


"Apa aku tidak salah dengar? Siapa tadi yang bilang tidak bisa menggunakan pedang?"


Tiba-tiba saja datang seseorang ke rombongan Roderick, Hengki dan yang lainnya. Orang itu tanpa basa-basi langsung mengejek Hengki yang bilang kalau dirinya tidak bisa memakai pedang. Dan orang itu tak lain adalah Bobs.


"Bobs?" Sebelum terjadinya keributan, Roderick langsung menegur Bobs.


Hengki yang menjadi korban ejekannya hanya bisa cuek dan pura-pura tidak sadar dengan kedatangan Bobs.


"Haha... Tadinya aku hanya ingin memastikan kesiapan dan bertanya, apakah tuan sudah siap untuk menghadapi pertempuran selanjutnya? Tapi ternyata ketika sudah dekat, tiba-tiba aku mendengar ada orang yang biasanya bersikap sombong bilang kalau dirinya payah dalam menggunakan pedang," ucap Bobs.


Tadinya ia ingin memastikan kesiapan Roderick dalam pertempuran yang akan datang.


Namun tampaknya Bobs tanpa sengaja menemukan momen bagus untuk mengolok-olok Hengki.


"Apa kau tuli, hah? siapa yang bilang payah? Aku hanya bilang tidak bisa menggunakan pedang karena bahkan aku tidak pernah melihat pedang sebelumnya."


Setelah di ejek seperti itu, Hengki merasa tidak terima karena ia disebut payah oleh Bobs. Hengki kemudian melakukan pembelaan diri dengan bilang, wajar kalau dirinya tidak bisa menggunakan pedang karena seumur hidupnya ia tidak pernah memegang pedang, bahkan Hengki tidak pernah melihat langsung seperti apa itu pedang yang asli di dunia lamanya.


"Blablabla... Alasan macam apa itu? Begini saja, karena aku adalah seorang pemimpin yang sangat baik dan murah hati. Bagaimana kalau aku angkat kau untuk menjadi muridku. Nak Hengki yang payah dalam berpedang."


Bobs tidak terima alasan yang diberikan oleh Hengki, karena ia pikir tidak mungkin ada orang yang sudah menginjak dewasa tidak pernah melihat pedang selama hidupnya. Ia pun kemudian melanjutkan ejekannya.


"Bac*T, Lebih baik aku mati daripada punya guru sepertimu," kesal Hengki.


Tak sudi di ejek lebih lama lagi, Hengki kemudian menjauh dari Bobs.


\= = = = = = = = = = = = = =


Sementara itu di sisi dalam Kota, tampak Redjack dan yang lainnya sudah menggunakan baju tempurnya masing-masing.


German Rainer sedang terlihat melangkah di sekeliling kota sambil mengeluarkan ekspresi kesalnya. ia menggerutu dalam hatinya, Maafkan aku, Benedict. Aku membiarkan kau mati dalam kematian yang sangat menjijikkan bagi orang sepertimu... Aku pikir aku tidak bisa meminta maaf kepadamu sementara aku sendiri ikut kabur ke kota ini. Tapi yang pasti dari semua orang yang ada di sini, akulah yang paling terpukul ketika sadar kalau kau sudah tewas. Namun tidak ada alasan untuk merasa kesepian, Benedict. Segera aku akan mengirim orang yang telah membunuhmu itu ke neraka!


Sambil menggemeretakkan giginya dengan sangat kuat. German berjanji kepada mendiang Benedict, kalau ia akan menghabisi semua pasukan kerajaan yang sudah membuat Benedict tewas di pertempuran Avis kemarin.


Beberapa jam kemudian matahari sudah terbenam.


Pihak kerajaan dan pemberontak, keduanya sadar kalau tidak mungkin mereka memulai pertempuran di tengah malam yang sangat gelap ini. Apalagi sudah sangat minim sekali cahaya yang bisa digunakan untuk menerangi kota.


Dari dalam kota yang gelap, terlihat si kapten muda dari kubu pemberontak sedang merenungkan sesuatu sambil duduk di atas kudanya.


"Kapten Elliot. Maaf kalau aku telah mengganggumu, tapi anda dipanggil agar bisa segera pergi ke markas untuk memulai pembahasan tentang strategi perang oleh tuan Hubert."


Ternyata selama ini nama dari kapten muda itu adalah Elliot, atau lebih lengkapnya Elliot Lascaris, nama yang sangat bagus terlebih juga sangat cocok dengan wajahnya yang rupawan.


"Karena ketidakpiawaian tuan Benedict dalam membendung serangan kerajaan, kita sudah mengalami kerugian yang sangat besar," ucap lagi orang yang menghampiri Elliot itu.


Setelah berbicara panjang seperti itu, Elliot hanya diam tak menggubris semua omongannya.


"Kapten, apa kau mendengarkanku-" Karena Elliot hanya diam saja dan omongannya juga tidak digubris, orang yang menghampirinya itu menjadi lumayan geram, dan bertanya apa Elliot mendengarkan dirinya.


"Apa kau bisa tinggalkan aku?" balas Elliot.


Akhirnya si orang yang berbicara kepada Elliot itu sadar kalau kapten muda itu sedang merenungkan sesuatu.


Ia pun tidak berani untuk berbicara lagi, karena bisa-bisa Elliot akan mengamuk kepadanya.


"Hmm... Apa aku boleh cerita sesuatu?" tanya Elliot ke orang yang dari tadi berbicara kepadanya yang memilih untuk tetap berada di belakang Elliot. .


Dari awal sampai sekarang Elliot sama sekali tidak memalingkan kepalanya untuk melihat wajah dari orang yang terus berbicara dengannya. Elliot terus melihat ke atas langit.


"Aku kehilangan orang tuaku pada saat penjarah datang ke negeri ini, lalu aku diselamatkan oleh tuan Gui ketika aku berada di ambang kematian akibat tidak makan dan minum selama berhari-hari..."


Sambil bercerita, orang yang mendengarkannya itu hanya bisa diam dan mulai ikut masuk ke dalam cerita yang dikisahkan oleh Elliot.


"...Sejak saat itu, aku telah mengabdikan segalanya untuk menjadi pedang tuanku. Tapi ketika aku kecil aku sangat ingin melawan para penjarah yang telah membunuh kedua orang tuaku dulu. Dan kau juga tahu bukan, kalau pasukan dari Attica dan Chandax adalah pasukan yang telah mengusir para penjarah dari negeri ini. Tentu saja, ketika aku mendengar tuan Benedict telah kalah oleh pasukan kerajaan aku juga ikut bela sungkawa. Tetapi ketika melihat asap tebal keluar dari dalam hutan kemarin membuat aku sangat kagum kepada pihak kerajaan. Hal itu yang membuatku bimbang." Di akhir perkataannya, Elliot memalingkan wajahnya kepada tentara yang ada di belakangnya dari tadi.


Setelah menceritakan semua kisahnya, tentara yang dari tadi mendengarkan lantas kaget sampai matanya melotot ketika Elliot bilang kalau dirinya kagum kepada pasukan kerajaan.


"Pe-permisi, apa anda tahu apa yang baru saja anda katakan...?" Dengan sangat gugup, tentara itu bertanya kepada Elliot sambil menundukkan pandangannya.


Mberr! [bunyi suara kuda]


Elliot lantas menggerakkan kudanya sambil berkata, "Jangan khawatir tentang hal itu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap berada dipihak pemberontakan dan akan menumpas semua lawan musuh yang akan kita hadapi besok."


"Ya, kapten." Si tentara itu pun akhirnya lega ketika Elliot menegaskan kalau dirinya masih berada dipihak pemberontak.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^)


*Terima Kasih sudah membaca episode 44 yang berjudul 'Elliot Lascaris' ini.*


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


*(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ🎔 *또 보자.