
Waah!
Clang! Clang! Clang!
Jan memulai pertarungan dengan serangan yang membabi buta. Ia menyerang German dari berbagai sisi.
Namun karena memiliki kelincahan di atas rata-rata, German mampu menangkis semua serangan yang diberikan oleh Jan.
Akan tetapi di 2 serangan terakhirnya. Jan mampu meretakkan pelindung yang ada di pundak sebelah kanan German dan juga membuat jubah yang dikenakannya robek sedikit.
German yang dipaksa untuk bertahan, berpikir, Siapa bocah ini?... Perasaan dalam daftar orang terkuat dari Wilayah Chandax tidak ada yang sesuai dengan kriteria dia! Apa anak ini semacam orang yang dapat menyesuaikan kekuatannya tergantung siapa yang dia lawan?
Ia merasa janggal dengan bocah yang sedang dirinya hadapi. Seharusnya para informan yang berada di kubu pemberontak, sudah menulis dengan lengkap siapa saja sosok yang kuat dari masing-masing wilayah. Dan seingat German tidak ada sosok yang sesuai dengan kriteria yang dimiliki oleh Jan dalam daftar orang terkuat di Wilayah Chandax.
Hyah! KtuplaK!
Ketika German sedang berpikir. Jan kembali bergerak sambil mengacungkan senjata ke arahnya.
Clang!
Jan mengincar kepala atas musuhnya. Namun German masih bisa menahan serangan itu dengan sangat mudah, akan tetapi ia merasakan sesuatu.
Berat serangannya ini... German merasa kekuatan yang diberikan oleh lawannya cukup kuat.
Ketika German masih berusaha untuk menahan serangan Jan.
Di luar dugaannya, Jan langsung menarik kembali pedangnya dan kembali menyerang German dengan membabi buta lagi.
Clang! Clang! Clang!
"Woah!"
Lagi lagi German terpental ke belakang.
Akan tetapi kali ini ia tidak terpental jauh seperti sebelumnya.
"Apa cuman begini kekuatanmu! Ke mana omong kosongmu yang sebelumnya?!"
Merasa kalau dirinya sudah ada di atas angin. Jan langsung mengejek lawannya tersebut. Sampai-sampai dirinya lupa kalau orang yang tengah ia hadapi adalah orang yang telah membuat babak belur Bobs.
German yang diejek hanya diam dan juga tidak bergeming sedikit pun. Setelah kembali ke posisi yang lebih baik lagi, ia lantas memejamkan matanya.
Ktuplak! Ktuplak!
Jan kemudian menyerang kembali German dengan menghampirinya secepat yang ia bisa.
Seperti biasa, Jan mengacungkan pedangnya ke atas dan mengarahkannya ke kepala German.
Slash!
Serangannya kali ini berbeda. German yang biasanya dengan mudah menahan serangan Jan. Kini... German justru malah menghindarinya dengan cara membaringkan badannya ke belakang dan bahkan German mampu membalikkan serangan Jan dengan menusuk perutnya.
Jan yang kaget karena tiba--tiba ada kama menancap diperutnya hanya bisa mematung saja. Ia bahkan tidak sempat berteriak sama sekali.
(Buat mengingatkan lagi ilustrasi dari penampilan German itu seperti di bawah ini. Jujur Author tidak tahu senjata yang digunakan selain golok itu namanya apa. Ketika cari-cari di internet yang paling mirip dengan senjata itu namanya Kama Weapon. Mungkin kalian yang tahu namanya bisa tulis pada kolom komentar yang ada di bawah. )
Slash!
Beberapa saat kemudian, German menarik keluar kama yang menancap pada perut Jan itu dengan sekuat tenaga.
Jan pun langsung terjatuh dari kudanya.
Tentara pemberontak yang menyaksikan hal tersebut sampai terkagum-kagum, "Hebat, Tuan German."
Sementara tentara kerajaan terkejut ketika melihat German dengan mudah menghindar dari serangan yang diberikan oleh Jan dengan berkata, "Apakah orang itu manusia?!"
Bruk!
Jan yang terjatuh dari kudanya itu masih mampu untuk berdiri, walaupun sambil kesusahan karena darah yang berasal dari lukanya masih mengucur deras.
Ia pun berdiri sambil memegangi perut sebelah kanannya tersebut.
"Uhuk... A-aku tahu kalau kau memang kuat. Sepertinya memang benar bahwa kau telah mendaratkan pukulan pada Panglima Bobs Pintarr."
"Aku lebih suka kalau kau meremehkanku lagi seperti tadi..."
Ternyata German lebih suka dianggap lemah oleh lawannya. Sepertinya juga bertahan dan hanya menangkis semua serangan Jan adalah sebuah strategi baginya.
Hal itu ia lakukan supaya musuhnya menganggap kalau dirinya lebih lemah dari musuh.
"Hah?" Jan lantas heran dengan apa yang diucapkan oleh German.
"...Yah, Walaupun begitu. Aku pikir kau lebih hebat dari panglimamu itu," lanjut German.
"Tch, tidak mungkin." Jan berpikir kalau German kembali sedang memprovokasi dirinya.
Padahal apa yang dikatakan oleh German itu keluar dari sebuah kejujuran yang ada pada dalam dirinya.
"Aku tidak sedang memprovokasimu. Lagi pula kalau berbicara tentang panglima bodohmu itu aku jadi menyadari sesuatu. Kau mirip sekali dengan Paris, ya!?"
Ketika German menyinggung sosok Bobs. Ia kemudian berpikir kalau orang yang sedang dihadapinya ini mirip sekali dengan mendiang Paris, rekan satu perjuangannya Bobs dulu.
Setelah berkata seperti itu. Di luar dugaan tiba-tiba Jan mengeluarkan ekspresi yang sangat mencekam.
"Dari mana kau tahu nama itu?!" tanya Jan dengan nada yang terdengar seperti sebuah ancaman.
Melihat Jan tersinggung sesaat setelah dirinya menyebut nama Paris, membuat German heran. Ia kemudian bertanya, "Memangnya kenapa?"
"Kenapa? Aku adalah satu-satunya orang yang pernah di latih olehnya!..."
Jan mengucapkannya sambil menatap tajam ke arah German.
Setelah mendengar kalau lawannya itu pernah di latih oleh Paris. German langsung merasa panik dan juga tegang.
"...Dan aku adalah orang yang akan menggantikan sosoknya itu!"
Clang!
Sambil mengatakan hal tersebut. Jan berlari ke arah German dan langsung menyerangnya lagi.
Untung serangan tersebut masih bisa dihalau oleh German.
Namun karena saking kuatnya serangan yang diberikan oleh Jan. Pedang miliknya tidak bisa ditahan oleh German.
Pedangnya itu jadi turun ke bawah dan dengan sekuat tenaga Jan mengangkatnya kembali untuk menyerang German.
Slash!
"Akhhh!" German lantas mengerang kesakitan.
Serangan kedua yang diberikan oleh Jan, berhasil melukai dahinya German, bahkan lukanya terlihat cukup panjang.
Jleb!
Tak berhenti di situ. Jan kemudian langsung menusuk kuda yang ditumpangi oleh German. Agar musuhnya juga ikut terjatuh seperti dirinya.
Brak!
Karena matanya tertutupi oleh darah. German jadi terjatuh dengan posisi yang sangat menyakitkan.
Setelah membersihkan darah yang menutupi pandangannya itu. Tangan German terlihat gemetar ketakutan.
Ia bukan takut kepada Jan. Tapi dirinya takut ketika ia tahu kalau Jan pernah dilatih oleh Paris.
Walaupun ia juga tidak tahu detail ceritanya seperti apa, sampai-sampai Jan bisa kenal dengan sosok Paris tersebut.
Tanpa maksud untuk meremehkan lawannya. Jan terlihat menunggu musuhnya itu untuk berdiri dan membersihkan lukanya terlebih dahulu, sebelum mereka berdua melanjutkan pertarungan.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 46.2 yang berjudul 'Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (2)' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v