
Saat ini Kubu pemberontak tengah menekan pasukan kerajaan yang sudah masuk di area Avis. Strategi yang digunakan atas perintah Elias tampaknya sama sekali tidak membuahkan hasil positif yang ada justru kubu pemberontak yang dipimpin oleh Benedict malah semakin dipermudah.
Awalnya Elias dan pasukan kerajaan lain mengira kalau yang ada di garda depan dari kubu pemberontak ialah sosok seperti Redjack atau German yang notabene selalu sembunyi dan mengendap-endap ketika peperangan berlangsung maka dari itu Elias pikir akan lebih baik yang masuk ke Perbukitan dibagi menjadi beberapa gelombang.
Entah disengaja atau tidak sepertinya semua ini sudah diperkirakan oleh Hubert, ia tampaknya tahu kalau perbukitan dalam sejarahnya memang sulit untuk dilewati apalagi ditaklukkan maka dari itu pihak kerajaan pasti akan cenderung hati-hati dan tidak akan mengambil risiko dengan mengerahkan langsung semua personelnya.
Ktuplak! Ktuplak! Uwaaah!
Rintihan dari prajurit yang terbunuh masih berlanjut, saat ini para pemberontak sudah berhasil membelah barisan pasukan kerajaan, dan Benedict memfokuskan menyerang barisan kiri terlebih dahulu di mana barisan itu adalah barisan yang diisi oleh tentara Attica.
"Habisi mereka sampai tak ada lagi yang tersisa!" teriak pasukan pemberontak yang tengah menghampiri barisan kiri musuhnya.
Cassius kemudian menerjang balik tentara pemberontak itu, ia mengangkat senjatanya sambil berteriak, "Coba saja kalau bisa sialan!"
Slash!
4 Pasukan pemberontak yang menerjang di paling depan itu seketika terpental dari kudanya dan langsung tewas sekaligus.
"Kita tabrak balik mereka! Tentara Attica!" teriak Cassius kepada pasukannya.
"Laksanakan!" jawab pasukannya.
Meski telah mengalami kerugian yang sangat besar, pasukan yang berada di bawah perintah Cassius masih tetap berjuang dengan begitu gigih. Harga diri yang mereka miliki meronta tidak ingin jika mereka dengan hinanya menyerah pada saat menghadapi para pemberontak yang mereka anggap sekedar rakyat jelata yang sangat menjijikkan.
Untuk sementara pasukan pemberontak yang ada di paling depan tumbang satu persatu.
"Lawan mereka!" teriak Cassius.
Kini ritme pertempuran yang tadinya di kuasai oleh Benedict dan pasukannya sudah berhasil dihentikan untuk sementara waktu. Pasukan Cassius ingin sekali membalikkan keadaan.
Sementara itu dilain sisi, Alfred dan pasukan Chandax yang lain tidak bisa membantu pasukan Attica yang sedang digempur habis-habisan karena mereka juga sedang dihadang oleh para pemberontak yang memblokadenya.
(Hijau = Pasukan Kerajaan | Merah = Pasukan Pemberontak | Lingkaran Besar = Kapten/Pemimpin pasukan.
Di sebelah kanan ada 3 lingkaran merah di mana itu latak dari bukit yang pasukan kerajaan incar. Sedangkan di bagian kiri terdapat 1 bukit kecil tandus yang selalu Hengki perhatikan.)
"Bagaimana ini Tuan Alfred? Pasukan Attica sedang bertarung sendirian di sana, Sial... Kita tidak bisa bergerak maju karena mereka menghalangi jalan kita," tanya Jin kepada Alfred.
"Tenanglah," jawab Alfred.
Alfred hanya bisa diam saja, ia juga sebenarnya bingung harus melakukan apa disituasi seperti ini.
Orang yang memimpin kubu pemberontak itu sungguh tidak masuk akal, dia menembus pertahanan kita dengan sangat mudah, kekuatannya benar-benar, pikir Alfred.
Tampaknya Alfred merasa takjub dengan kekuatan yang dipunyai oleh Benedict.
Setelah berjalannya waktu. Tentara Attica yang masih bertahan mulai kehilangan staminanya, kini mereka benar-benar kelelahan.
Dan tak lama kemudian medan tempur ini telah dikuasai kembali oleh Benedict dan pasukannya.
"Kapten!" teriak salah satu tentara Attica kepada Cassius.
Mendengar dirinya di panggil, Cassius lantas berbalik badan dan berkata, "Ada apa?!"
Dan ketika ia berbalik, dirinya dikejutkan karena ternyata Benedict sedang menuju ke arahnya, Ia berhasil mengapit pasukan Attica dengan begitu cepat.
Cleb! Cleb! Cleb!
Sambil bergerak ia dengan mudahnya membunuh semua orang yang menghalangi jalannya.
"Mereka...!" kaget salah satu kapten muda yang ada terjebak tengah-tengah capitan musuh.
"Mereka langsung menuju ke arah tuan Cassius!" teriak salah satu personel si kapten muda itu.
"Sial! Kita benar-benar sedang dalam bahaya!"
Si kapten itu kemudian sangat panik ketika ia melihat pemimpin lawan yang sangat beringas itu semakin dekat dengan Cassius, karena jika ia berhasil membunuh Cassius maka selesailah sudah pasukan Attica yang masih tersisa.
"Rasakan ini!" teriak para pemberontak itu sambil berlari kencang ke arah Cassius.
"AKU TAHU KALIAN MENGINCARKU! SIALAN!" teriak Cassius dengan mengeluarkan suaranya yang sangat kencang.
Ketika ia berteriak seperti itu sontak membuat semua orang yang ada di sana terdiam dan melihat ke arahnya.
"JELATA SEPERTI KAU PASTI INGIN SEKALI MERAMPAS SEMUA YANG AKU PUNYA! TETAPI SAYANG SEKALI KARENA HAL ITU TIDAK AKAN KALIAN DAPATKAN DENGAN SANGAT MUDAH! KETAHUILAH BAHWA ORANG SEPERTI KALIAN TIDAK PANTAS MENDAPATKAN SEMUA YANG KALIAN INGINKAN!" teriak Cassius kepada musuh yang menghampirinya.
Mendengar teriakan tadi membuat kubu pemberontak menjadi sangat marah, mereka tidak terima karena terus menerus disebut jelata dan hina oleh musuhnya.
Dan yang paling marah terhadap kelakuannya itu ialah Benedict.
Sialan! Memangnya seberapa kuat kau! marah benedict.
Sekarang Benedict dan Cassius sama-sama berlari untuk menyerang satu sama lain, sebentar lagi mereka akan beradu kekuatan satu lawan satu.
"Tuan Alfred! sepertinya sebentar lagi tuan Cassius akan berhadapan dengan pemimpin lawan!"
Di sisi lain, Alfred mendapatkan laporan dari tentaranya kalau Cassius akan bertarung menghadapi pemimpin lawan yakni Benedict.
Cassius!
Alfred tahu kalau Cassius adalah orang yang sangat tangguh, tapi setelah ia memperhatikan cara bertarung Benedict, Alfred merasa bahwa Benedict sepertinya lebih unggul dibanding Cassius.
Sekarang akhirnya Benedict dan Cassius bertemu dan mereka berhenti sejenak sebelum memulai pertarungan.
"Aku benar-benar merasa sangat hina sekarang! Berani-beraninya orang sepertimu melawan pasukanku!" ucap Cassius kepada Benedict.
"Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang lebih cerewet dibanding diriku, Tapi sepertinya ocehanmu itu sama sekali membuatmu tidak terlihat menjadi lebih kuat. Sini, majulah... Aku akan langsung membunuhmu tanpa belas kasihan," balas Benedict.
"Kau tidak layak membuka mulutmu, dasar monyet!" ucap Cassius.
"Astaga... mereka berdua terlihat sangat kuat!" "Kita tidak boleh mengganggu pertarungan ini." "Jika Cassius tewas, maka itu akan membuat pihak kerajaan mengalami kerugian yang sangat besar."
Masing-masing pasukan yang menyaksikan pertarungan antara Cassius dan Benedict dibuat terkesima dengan duel yang akan terjadi yang membuat mereka tidak ada berani untuk ikut campur.
Ktuplak! Ktuplak!
Mereka berdua lantas mulai memacu kuda yang mereka tunggangi untuk maju menghampiri lawan duelnya.
Hyah! DWARR!
Cassius dan Benedict lantas beradu kekuatan hingga serangan mereka membuat area sekelilingnya bergetar dengan sangat kencang, semua orang yang menyaksikan pertarungan itu dibuat kaget karena seketika muncul getaran hebat.
Tentara Attica yang menyaksikan hal itu dibuat kaget ketika tuannya ternyata kalah kuat.
Setelah terdorong ke belakang, Cassius mulai kehilangan keseimbangannya.
Huff! JDARR!
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Benedict langsung menyerang Cassius hingga ia terpental ke belakang. Beruntung Cassius tidak jatuh dari kudanya, ia dan kudanya terpental bersama. Namun tetap saja sekarang hal itu membuat Cassius terlihat lebih lemah dari lawannya.
"Tuan Cassius!" Teriak pasukannya sambil tak bisa menahan wajah paniknya.
"Apa hanya segini kekuatan yang dimiliki oleh orang suci sepertimu! Sialan!" ejek Benedict kepada Cassius.
Tch.
Mendengar dirinya dihina oleh rakyat jelata, Cassius kembali bangkit, terlihat dahinya mengeluarkan darah akibat dari serangan yang ia terima tadi.
"Hidup Benedict!" teriak para pemberontak yang semakin percaya diri kalau pemimpinnya dapat memenangkan duel.
Sial!
Hanya 2 ayunan saja!
Kalau seperti ini bisa-bisa tuan Cassius akan kalah!
Sementara disisi pasukan Attica, mereka semakin tidak percaya diri dan mulai kehilangan harapan.
"Jangan merasa terhina begitu! Sialan! Walaupun dimatamu hal ini sangat memalukan, tapi asal kau tahu saja aku bukanlah rakyat jelata seperti yang kau pikirkan! Namaku adalah Benedict orang terkuat yang selama ini sembunyi sambil mengelana ke berbagai tempat! Maka dari itu sangat jarang orang mengetahui seberapa kuatnya aku! Selama beberapa tahun terakhir ini aku tidak pernah punya rasa dendam kepada siapa pun karena semua lawan yang aku hadapi dapat kukalahkan dengan sangat mudah! NAMUN! setelah aku mengetahui kalau pemberontakan mulai merebak di penjuru kerajaan ini, aku memutuskan untuk bergabung di kubu mereka supaya bisa melawan orang-orang kerajaan yang terkenal selalu menyombongkan kekuatannya yang tidak seberapa itu!" Ketika lawannya mulai terseok, Benedict menyempatkan diri untuk memberitahu siapa dirinya itu, ia bilang kalau selama ini dirinya telah berpetualang ke berbagai tempat maka dari itu wajar jika namanya tidak terlalu dikenal oleh khalayak umum apalagi oleh orang dari kerajaan ini.
Ktuplak! Clang! Bletrak!
Setelah selesai memperkenalkan dirinya, Benedict mulai menyerang Cassius kembali. Ia mengayunkan senjatanya ke badan bagian kirinya Cassius. Beruntung serangannya itu masih bisa ditahan oleh tangannya sehingga badannya tidak mengalami luka serius. Tapi ada konsekuensi yang harus ia terima yakni zirah yang menjadi pelindung tangannya rusak dan menyebabkan tangannya terluka parah hingga mengalami patah tulang.
Kuda yang ditumpanginya pun ikut terdorong lagi semakin ke belakang.
"Tuan Cassius!" pasukannya hanya bisa meneriakkan namanya terus menerus, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan agar tuannya bisa membalikkan keadaan.
"Apa kau memang selemah ini! Jika kau masih belum mengeluarkan semua yang kau punya maka kujamin kau akan mati dengan sangat mengenaskan!" ucap Benedict.
Benedict sepertinya merasa kecewa karena lawan yang ia hadapi ini ternyata sangat lemah padahal di awal tadi ia berpidato dengan sangat angkuh.
"Tch! Membosankan sekali! Sampai kapan peperangan tidak berguna ini terus berlanjut?! apa tidak ada orang kuat di bagian selatan ini?!" lanjut Benedict.
JDARR! JDARR! JDARR!
Benedict kemudian menggempur Cassius dengan serangan beruntunnya, Kini Cassius hanya bisa bertahan menghadapi hantaman beruntun itu dengan hanya mengandalkan tangan kanannya.
"Tuan!" teriak pasukan Attica ketika melihat Cassius dibuat babak belur akibat dihantam terus-terusan oleh lawan duelnya itu.
"Hihihi.... tidak ada yang bisa mengalahkan tuan Benedict." sedangkan dari kubu pemberontak merasa sangat percaya diri, mereka hanya tinggal menunggu waktu sampai lawan yang dihadapi bosnya itu tumbang.
\==============
"Hidup Benedict! Hidup Benedict!"
Dari kejauhan letak di mana pasukan kerajaan yang lain berada, mereka dengan jelas mendengar teriakan yang sangat keras berasal dari dalam Perbukitan Avis.
"Kedengarannya sebentar lagi mereka akan kalah," ucap Hengki.
"Ya, Benedict yang mereka teriakan itu sepertinya adalah lawan yang akan menyambut kita nanti," balas Roderick.
Setelah mendengar teriakan tadi, pasukan kerajaan yang lain diperintahkan untuk mulai bersiap masuk ke dalam perbukitan itu, sebentar lagi giliran gelombang II yang akan menghadapi orang bernama Benedict itu.
"Tuan Roderick!" teriak Bobs. Ia menghampiri Roderick dengan tergesa-gesa sambil ditemani oleh orang yang mengikutinya dari belakang.
"Ada apa?" tanya Roderick.
"Maafkan saya tuan, setelah ini anda akan memimpin pasukan di gelombang dua nanti, apa anda benar-benar bersedia?" tanya Bobs.
Bobs terlihat masih tidak enak hati karena kini ia terpaksa untuk memberi perintah kepada orang yang sangat dirinya hormati.
Melihat Bobs yang ragu seperti itu, Roderick lantas berkata, "Ada apa dengan raut muka itu? Sudahku bilang dari awal memang aku ingin ikut mengambil bagian di pertempuran ini."
"Woy! Kau ini panglima kan di sini, bersikaplah lebih tegas sedikit layaknya seorang pemimpin," ledek Hengki kepada Bobs.
Karena saking tidak enak hatinya kepada Roderick, Bobs lupa kalau orang yang sangat dirinya benci juga ada di sini dan dari tadi ia melihat ke arahnya terus.
"Sial! Aku tidak sadar kalau bocah ini ada di sini!" kesal Bobs.
"Haha... Makanya kalau tidak mau diejek olehnya, bersikaplah layaknya seorang panglima besar, Bobs."
Mendengar Hengki mengejek Bobs membuat Roderick tertawa, ia bilang kepada Bobs kalau tidak mau di ejek maka bersikaplah layaknya seorang panglima.
Mendengar nasihat yang diberikan oleh Roderick kepada dirinya membuat Bobs menjadi percaya diri.
Kenapa anak itu berani mengejek panglimanya? dan siapa orang tua ini? kenapa ia sangat menghormatinya? Sementara itu orang yang ada di belakangnya Bobs merasa keheranan karena Bobs yang menjabat sebagai panglima tertinggi tampak sangat menghormati sekali lawan bicaranya itu, dan juga ia merasa aneh ketika anak muda yang ada di sampingnya mengejek Bobs.
"Siapa dia?" tanya Roderick kepada Bobs, siapa orang yang ada di belakangnya.
Ketika ia menyadari kalau orang yang bersama Bobs dari tadi melihatnya terus, Roderick lantas bertanya siapa dia.
"Ahh... aku hampir saja lupa, kenalkan dia adalah Ajax Traverse. Orang ini akan memandu anda nanti pada saat memasuki Perbukitan Avis."
\==============
Singkat cerita, Cassius yang sedang mati-matian bertahan dari gempuran lawannya sudah terluka sangat parah dan juga sudah babak belur.
Hyahh! BUKK! CLANG!
Serangan yang diberikan oleh Benedict masih bisa ditahan oleh Cassius, namun itu justru membuat zirah yang melindungi tangannya hancur dan membuat tangannya ikut terluka parah, kini kedua tangan Cassius sudah tidak kuat lagi untuk ia gunakan.
SLASHHH!
Setelah melancarkan serangan pamungkasnya, semua yang menyaksikan duel itu langsung diam seketika dengan mulut yang menganga.
Karena serangan tadi membuat kepala Cassius terlempar jauh terpisah dari badannya.
Bukk! Glinding! Glinding!
"TUAN CASSIUS!" Teriak histeris pasukannya.
Melihat lawannya sudah tewas, Benedict langsung melihat kepala lawannya dan berkata, "Selesai sudah!"