
Hengki yang tengah santai sambil duduk bersandar pada pohon besar itu melihat ke jauh arah pasukan kerajaan yang tengah asyik berpesta.
Ia melihat mereka semua banyak yang sudah tumbang akibat terlalu banyak minum arak, dan banyak juga yang sedang berbincang ria satu sama lain.
Tak jauh dari tempat Hengki bersantai. Ada Ajax yang saat ini sedang sibuk meraba-raba tangan kirinya, ia berpikir kapan kira-kira tangannya itu akan pulih.
Dan di sampingnya ada Jan si kapten II yang belum dikenal oleh Hengki dan juga Ajax. Jan dari tadi terlihat terus memegangi perutnya yang selalu berbunyi. Jan merasa sangat kelaparan karena ia belum makan makanan pokok selama 2 hari ini.
Sepertinya semua orang dari pasukan kerajaan sedang sibuk keasyikan berpesta sampai lupa kalau ada orang yang sedang mengalami sakit dan juga kelaparan.
Ajax yang melihatnya hanya bisa prihatin tapi terlalu malas untuk menegurnya, sementara Hengki tidak sadar atau bisa dibilang tidak mau peduli dengan apa yang sedang dialami oleh orang yang tidak ia kenal itu.
Hengki kemudian berusaha untuk bersikap lebih santai lagi dengan menyelonjorkan kedua kakinya. Ia berpikir, Yah, sepertinya aku juga perlu santai sedikit. Di saat begini, aku harus membuat pikiran menjadi lebih rileks lagi.
Ketika matanya mulai dipejamkan dan pikirannya sudah lebih rileks, tiba-tiba saja datang 3 orang tentara yang berjalan menuju ke arahnya.
Bruk!
Mereka kemudian terjatuh karena menginjak kakinya Hengki yang tengah duduk bersandar di pohon besar itu, mereka tidak sadar kalau ternyata ada orang yang sedang bersender karena mereka semua sedang mabuk berat dan jalannya juga terlihat sangat sempoyongan.
"Gob***! Kalau jalan lihat-lihatlah!" Bentak Hengki.
Ajax dan Jan yang mendengar Hengki marah kepada para tentara yang telah menginjak kakinya kemudian terkejut, ia kaget karena bentakan Hengki terdengar sangat menakutkan.
"Eh Ma-maaf, aku tidak sengaja menginjak kakimu. Aku tidak sadar kalau ada orang yang sedang bersandar di pohon ini," Si tentara yang menginjak kakinya Hengki itu lantas meminta maaf dengan sangat tulus. Raut wajahnya terlihat merah ketakutan, ia kaget setelah tadi dibentak oleh Hengki.
"Makannya kalau jalan itu pakai matanya tol**! Aduh... sakit lagi..." Hengki yang tersulut emosinya kemudian dengan spontan memaki orang yang telah menginjak kakinya tersebut.
Orang yang melihat Hengki membentak tentara itu kemudian merasa heran. Mereka tidak mengira kalau respons yang akan diberikan oleh Hengki akan seemosional itu, padahal postur badan dari orang yang telah menginjak kakinya jauh lebih besar dan juga lebih kekar jika dibandingkan dengan Hengki.
Hengki kemudian meredakan emosi sambil mengelus-elus kakinya.
"Maafkan kami juga karena tidak melihat kau sedang bersandar di pohon itu, kita tadi sedang tergesa-gesa kesini karena ingin lekas istirahat supaya besok bisa pergi ke Kota Blum lebih cepat," ucap orang yang sedang merangkul si pelaku yang sudah menginjak kakinya Hengki itu.
"Hah? Apa kalian akan pergi di pagi hari? Bukankah kita berangkat ke sana siang?" tanya Hengki yang sudah tidak emosi lagi.
Ia heran kenapa orang-orang yang ada di depannya ini pergi ke Kota Blum tidak bareng dengan pasukan yang lain.
"Kita adalah pasukan pengintai, oleh karena itu kita diperintahkan untuk berangkat lebih dahulu dibanding pasukan yang lain, supaya kita bisa menerka berapa banyak musuh yang akan kita hadapi," terangnya lagi.
"Pasukan pengintai tapi orang sedang bersandar dipohon saja tidak kelihatan! Tch..." Meski sudah tidak marah-marah lagi, tapi Hengki tampak masih kesal kepada mereka ber-3, terutama ke orang yang telah menginjaknya.
"Ma-maaf, kita dalam kondisi mabuk tadi makannya tidak bisa terlalu fokus melihat area sekitar." Lagi-lagi mereka meminta maaf kepada Hengki.
Melihat ketiga orang itu sepertinya sudah mulai tersadar dari efek mabuknya, Hengki kemudian mengambil sebuah ranting kecil yang tergeletak di sampingnya.
Kalau mereka pergi di pagi buta, apa jarak dari sini ke Kota Blum itu lumayan dekat? pikir Hengki.
Hengki berpikir kalau jarak menuju Kota Blum ini lumayan dekat, karena jika jaraknya jauh seharusnya pasukan pengintai ini berangkat dari malam bukan di pagi hari.
"Iya aku maafkan, tapi apa aku boleh bertanya sebentar?..." tanya Hengki kepada 3 orang itu.
Setelah meminta izin untuk bertanya, Hengki kemudian langsung membuat sebuah lingkaran di atas tanah dengan menggunakan ranting yang dirinya pungut barusan.
"...Anggaplah ini Wilayah Stabia, dan titik ini Kastel Stabia. Di mana Kota Blum berada dan di mana posisi kita saat ini?"
Hengki ternyata ingin bertanya tentang gambaran Wilayah Stabia dengan menggunakan lingkaran yang telah dibikin olehnya. Ia sengaja bertanya kepada mereka karena Hengki mengira seharusnya pasukan pengintai sudah hafal dengan denah lokasi dari tempat yang akan menjadi medan tempurnya.
"Maaf tapi lingkaran seperti ini tidak bisa disebut Wilayah Stabia, kau harus memotong sebagian wilayah karena ada teluk besar yang berada sebelah timur sini." terang orang yang dari tadi menjawab semua pertanyaan Hengki, ia menunjuk satu titik untuk dijadikan lengkungan oleh Hengki.
Orang itu sebut kalau ada teluk besar di sebelah timur, maka dari itu Hengki harus memperbaiki gambarannya.
"Masih salah, Wilayah Stabia itu bentuknya lebih panjang lagi dan tidak selebar itu."
"Kalau begitu... begini?"
"Umm... tetap masih terlalu lebar."
"Oke, yang benar begini kan?"
"Wah... Iya seperti itu, aku tidak mengira kau bisa menggambarkannya dengan sangat detail seperti ini," terkejut orang tersebut.
Setelah direvisi berkali-kali, akhirnya Hengki mampu membuat bentuk yang lumayan detail untuk menggambarkan Wilayah Stabia.
Aku pikir orang ini hanyalah orang emosian yang sangat bodoh, ternyata dia cukup pintar juga, pikir orang yang telah menginjak kakinya Hengki.
Baru kali ini aku tahu kalau kita bisa membuat peta Wilayah hanya dengan menggambarnya di tanah begini, pikir orang yang dari tadi merevisi peta yang dibuat oleh Hengki.
Mereka semua terkejut, karena baru kali ini mereka tahu kalau ternyata denah Wilayah itu bisa digambar di atas tanah begini.
Hengki kemudian tersenyum tipis, ia merasa bangga kepada dirinya sendiri.
Kalau begini butuh waktu beberapa jam saja untuk sampai ke Kota Blum, dan untuk ke Kastel Stabia butuh satu hari penuh kalau kita berangkat dari Blum. Hengki kemudian memprediksi kalau mereka bisa mencapai Kota Blum dengan menempuh waktu beberapa jam saja sedangkan untuk menuju Kastel Stabia butuh waktu satu hari itu pun berangkat dari Blum.
Walaupun terlihat kecil tapi luas wilayahnya lumayan juga yah. Hengki kemudian membandingkan Wilayah Stabia dengan Chandax, ia tadinya pikir kalau Wilayah Stabia sangatlah kecil, tapi ternyata lumayan luas juga. Mungkin ini karena wilayah Stabia yang bentuknya lebih memanjang makannya areanya menjadi lebih luas.
Tak! Tak!
Ketika Hengki tengah berpikir, tiba-tiba Ajax datang menghampirinya.
Meski masih kesakitan, ia memaksakan dirinya untuk turun dari kereta agar bisa mendekat ke arah Hengki.
"Anda benar-benar cerdas Tuan Hengki," sapa Ajax ketika sudah mendekat ke arah Hengki.
Apa? Tuan? Hengki agak kaget dan juga heran ketika Ajax memanggilnya dengan sebutan tuan.
Yang lainnya juga ikut terkejut, karena tiba-tiba saja Ajax yang mereka kenal menjabat sebagai seorang kapten memanggil nama Hengki diawali dengan sebutan tuan.
"Bukannya kau lagi sakit?" tanya Hengki kepada Ajax.
Makin terkejut lagi ke 3 pasukan pengintai itu, karena Hengki membalas sapaan dari Kapten Ajax dengan memanggilnya 'Kau' saja.
"Sakitnya sudah lumayan tidak terasa lagi, Umm... apa aku boleh mengobrol denganmu?"
Ajax kemudian meminta waktu Hengki untuk mengobrol sebentar dengan dirinya, Ajax menatap ke arah mata para tentara pengintai itu sebagai kode agar mereka segera meninggalkan dirinya dan juga Hengki karena tampaknya Ajax ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.
"Ka-kalau begitu kami akan langsung pergi saja. Sekali lagi maaf telah mengganggu waktu bersantai ka- maksudnya tu-tuan."
Sadar kalau Ajax sedang memberikan sebuah kode agar mereka segera untuk segera pergi, mereka pun lantas pamit kepada Hengki sambil meminta maaf untuk terakhir kalinya.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^)
*Terima Kasih sudah membaca episode 41.1 yang berjudul 'Gambaran Stabia' ini, kemungkinan besar nanti Author akan kasih ilustrasi tentang peta Wilayah Stabia yang digambar oleh Hengki di dalam topik yang telah Author buat, kalian bisa cek topiknya dengan cara klik saja foto profil atau nama Author, nanti di sebelah Dinding Medali ada kolom yang bernama #HengkitTheConqueror, Kalian tinggal klik itu dan nanti akan langsung masuk ke dalam topik yang berkaitan dengan Novel ini.*
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
👋≧◉ᴥ◉≦ Adiós.