
Pagi hari pun telah tiba, dari kedua kubu kini mereka sedang kembali membuat barisannya masing-masing. Bobs lantas bergegas ke tenda besar tempat para petinggi akan berdiskusi.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya kita tidak ingin menurunkan kapten IV lagi di gelombang ke 2 ini. Kekalahan kemarin murni karena kesalahan orang yang kau utus," ujar Dominic kepada Bobs dan orang Chandax lain yang ada di dalam tenda itu.
Dominic berusaha untuk tidak menurunkan Kapten IV nya di gelombang 2 ini, ia masih mengungkit kekalahan kemarin yang disinyalir akibat dari kurangnya kontribusi Kapten IV yang di utus oleh Bobs yakni Alfred.
"Brengsek! Sudah dibantu malah tidak tahu terima kasih!" bentak Bobs sambil menggebrak meja.
Bobs dan yang lainnya kesal akibat perlakuan yang diberikan oleh Dominic dan para ajudannya. Wajar jika Bobs marah karena mau bagaimanapun peperangan ini sebenarnya bukanlah peperangan untuk mempertahankan Chandax tapi untuk mempertahankan Attica. Ia kesal karena mereka ini sudah dibantu dengan suka rela tapi malah tidak tahu terima kasih bahkan tidak menghormati orang-orang Chandax yang siap mati untuk mempertahankan Wilayah lain.
"Tch... Lagian kita juga tidak memaksa kalian untuk datang membantu kok..." Sambil berbisik para Kapten IV dari kubu Attica yang hadir dalam diskusi ini menjelek-jelekkan orang-orang Chandax, untung bualannya itu tidak sampai terdengar ditelinga orang Chandax yang hadir.
Srett...
Ditengah-tengah diskusi antara petinggi Chandax dan Attica tiba-tiba terdengar suara seseorang yang sedang membuka tenda. Orang yang membuka tenda tersebut ialah Roderick.
Roderick diizinkan masuk ke dalam tenda sementara 'asistennya' Hengki, diam menunggu dari luar.
"Kau dilarang masuk ke dalam."
Para penjaga memperingati Hengki untuk tidak masuk ke dalam.
"Siapa juga yang mau masuk," jawabnya dengan tidak menatap mata si penjaga tersebut, di mana hal yang dilakukannya ini dianggap cukup kurang sopan.
Setelah Roderick masuk, ia lantas disambut oleh Bobs dan para ajudannya.
"Tuan Roderick, kenapa anda datang kemari?" tanya Bobs.
Roderick yang baru saja masuk langsung melihat suasana sekitar yang tampaknya sedang tidak kondusif, tatapan antara orang-orang Chandax dan Attica terlihat begitu tidak enak dipandang.
"Kalian terlalu lama, kapan kita akan berangkat?"
Walaupun berbicara dengan sangat santai agar suasana tidak semakin runyam, Roderick mengingatkan kepada orang-orang yang menentukan jalannya peperangan untuk memutuskan sesuatu dengan sangat cepat dan sigap. Roderick mengeluh karena dirinya tak kunjung diberi perintah untuk memasuki Perbukitan Avis.
"Maaf Tuan Roderick, tapi kami sedang mendebatkan sesuatu terlebih dahulu," jawab Bobs.
"Apa yang kalian debatkan, kita bisa kehilangan waktu jika kalian terus berdebat seperti ini."
Roderick tampak sangat kesal karena mereka sudah membuang-buang waktu, padahal situasi saat ini pasukan kerajaan sedang mengalami kerugian akibat kekalahan telak kemarin.
"Kami tidak ingin menurunkan Kapten IV untuk hari ini, yang kami siapkan hanyalah Kapten III saja."
Meskipun asalnya Dominic bersikap sangat ramah kepada Roderick, sekarang justru ia menunjukkan sifat aslinya dengan bilang kalau mereka tidak ingin menurunkan Kapten IV yang secara tidak langsung ia menyuruh Roderick untuk memimpin pasukan dan berjuang sendirian.
"Siala-"
Ketika Bobs hendak marah atas sikap Dominic kepada orang yang dirinya hormati, Roderick langsung menghentikannya dengan menepuk dada Bobs menggunakan tangannya.
Tanpa ambil pusing, Roderick mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dominic. Roderick merasa kalau perdebatan ini terus dilanjutkan maka tidak akan ada habisnya. Karena ia sudah tahu watak Dominic dan Bobs yang sama-sama keras kepala.
"Tapi tuan-"
"Sudah! Sudah kubilang kita harus cepat bergegas sebelum siang hari datang. Kau juga! sudah kuperingatkan beberapa kali untuk bersikap tenang!"
Sebelum keluar, Roderick memarahi Bobs terlebih dahulu karena ia merasa kesal sudah beberapa kali ia ingatkan kalau Bobs harus bersikap lebih santai tapi sampai detik ini Bobs masih saja selalu mengedepankan amarahnya.
"Maafkan saya tuan."
Setelah dibentak oleh Roderick. Bobs langsung membungkuk sambil meminta maaf, Roderick tidak membalas permintaan maafnya itu, ia langsung keluar begitu saja.
Roderick kemudian kembali ke tempat pasukannya berasal sambil diikuti oleh Hengki.
"Kau kuperbolehkan untuk tetap diam di tenda. Tampaknya hari ini kita akan mengalami kekalahan lagi."
Setelah mengiyakan permintaan Dominic yang hanya akan menurunkan Kapten III, Roderick langsung merasa pesimis kalau mereka akan memenangkan pertempuran. Dan ia pun menyuruh Hengki untuk tetap tinggal di tendanya supaya tidak ikut terbunuh nanti.
"Kalau kau berpikir tidak akan memenangkan pertempuran, lantas kenapa kau masih bersedia untuk berperang?" tanya Hengki.
Pertanyaannya ini ia lontarkan untuk mengejek Roderick secara halus.
"Mungkin karena aku sudah lama tidak bertempur sejak terakhir kali pada saat memberantas para penjarah, jadi tidak masalah kalau aku kalah dan terbunuh di medan perang hari ini toh aku sudah tua juga," ucapnya.
Sepertinya Roderick tidak mahir membuat sebuah alasan.
Mendengar perkataannya itu, Hengki lantas meresponsnya dengan tatapan sinis.
"Hmm... tidak masuk akal. Aku akan tetap ikut bertempur," balas Hengki.
Roderick kemudian merasa heran dengan keputusan yang dibuat Hengki untuk tetap ikut berperang, karena ia merasa aneh kenapa orang sepertinya rela berjuang padahal situasinya sedang tidak mendukung bagi pasukan kerajaan.
"Apa kau merasa yakin kalau kita bisa menang?" tanya Roderick.
"Ya iyalah, kalau tidak yakin buat apa aku ikut. Memangnya aku ini orang yang rela mati percuma seperti yang anda katakan tadi."
Ternyata alasan mengapa Hengki masih ingin ikut berperang karena ia yakin kalau dirinya dan pasukan kerajaan masih bisa memenangkan peperangannya. Bahkan kalau diliat dari gelagatnya tampaknya Hengki merasa kemenangan akan didapatkan dengan sangat mudah.
"Apa ini ada kaitannya dengan apa yang kau dan Ajax bicarakan tadi malam?" tanya Roderick.
Roderick lantas ingat kalau semalam gelagat Hengki dan Ajax cukup aneh, jelas sekali kalau mereka berdua sedang merahasiakan sesuatu.
Setelah mendengar pertanyaannya itu, Hengki hanya menjawabnya dengan mengangkat bahu dan tangannya. gesturnya ini bilang 'Mungkin', 'Siapa tahu?' atau 'Bisa jadi', yang pasti Roderick semakin penasaran dengan rahasianya ini dan membuat dirinya lumayan antusias menyambut pertempurannya sebentar lagi. Karena ia penasaran hal aneh apalagi yang akan diperbuat oleh anak muda yang datang entah dari mana ini.