THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 25 - Thriller



Di Keesokan siang harinya, Kubu Pemberontak terlihat sudah berkemah memenuhi area Bukit Avis untuk menghalau pergerakan tentara Attica yang sedang menuju Kastel Stabia, mereka mengerahkan 5 kapten dengan Hubert sebagai pemimpinnya sedangkan sisanya bertahan di Kastel Stabia karena dikhawatirkan pasukan kerajaan lain datang dari arah utara.


Apa yang dia lakukan? Pikir salah satu kapten yang paling muda dari ke-4 kapten yang ada. Ia heran kenapa Hubert yang menjadi pemimpin misi ini justru malah menunjuk Redjack yang berada disisinya.


Wajar jika ia merasa heran, karena anak muda ini adalah orang berbakat yang bergabung menjadi pemberontak karena ia berusaha menjunjung tinggi rasa keadilan yang sudah lama hilang, jadi dirinya bisa dibilang sangat anti dan berseberangan dengan orang yang selalu berbuat jahat seperti bangsawan korup dan para bandit, dan perlu diingat bahwa Redjack Esdog adalah salah satu bandit yang sangat terkenal di bagian selatan kerajaan ini.


"Hehe... Sekarang aku benar-benar sudah panas. Pasukan hebat yang berasal dari Attica dan Chandax bekerja sama, padahal biasanya mereka sering berseteru."


Bukannya takut si kapten gendut justru malah makin bersemangat padahal asalnya ia adalah orang yang paling tidak setuju dengan misi ini. Mungkin dirinya berusaha untuk terlihat gagah di hadapan kapten yang lain atau justru ia memang betul-betul bersemangat. Pemikiran orang tua yang masih aktif berperang memang sulit ditebak.


"Kecuali Bocotia," sanggah German Rainer, kapten dari kelompok yang asalnya berusaha untuk membunuh Minna Spanner namun gagal.


German mengingatkan kalau Bocotia, Wilayah yang paling dekat dengan Attica justru malah bersikap diam tidak membantu Attica.


"Hmm... Iya, aneh juga ya. Mungkin mereka kepalang takut dengan kita kali. Haha...," ucap kapten gendut itu.


"Hubert... Aku tidak tahu mengapa Gui memercayaimu sebagai penasihatnya. Tapi ide-idemu selama ini memang selalu membawa kita menuju kemenangan. Namun perlu kau ingat lawan kita kali ini cukup kuat, jika kau tidak membawa kita menuju kemenangan maka siap-siap saja pedangku akan menggorok lehermu nanti." ucap kapten gendut yang sangat cerewet itu.


"Aku senang mendapatkan pujian dari Tuan Benedict yang begitu pemberani, dan aku juga cukup terhormat jika kau menjadi orang yang akan menebus dosaku semisal aku membawa pasukan ini ke dalam jurang kekalahan nanti."


Si kapten gendut itu ternyata bernama Benedict. Hubert membalas pujian sekaligus ancamannya dengan sangat hormat meskipun Hubert sedikit sarkasme kepadanya dengan menyebut Benedict adalah 'Pemberani' padahal ia selalu menentang idenya dan juga ide tuannya Gui.


"Aku pikir dulunya kau hanyalah gelandangan ceking yang dipungut oleh Gui untuk dijadikan mainannya, tapi ternyata kau memiliki otak yang lumayan encer yah," puji Benedict, meskipun tanpa bermaksud untuk meledeknya tapi perkataan yang dilontarkan Benedict kepada Hubert memang selalu blak-blakan.


"Ada bagusnya juga Chandax membantu mereka, setelah kita memenangkan pertempuran ini kita bisa langsung menguasai Wilayah Stabia dan bergegas menuju WIlayah berikutnya yaitu Bocotia lalu merampas semua kapal tempurnya untuk menyerang WIlayah Naxos yang cukup lemah dan Chandax yang sudah kehilangan banyak pasukannya," ucap Benedict.


Hubert merespons pemikirannya itu dengan ekspresi heran karena apa yang diucapkan Benedict itu sungguh naif, soalnya mau bagaimanapun situasinya tidak mungkin mereka bisa menaklukkan Wilayah lain dengan sangat mudah dan cepat.


"Apa yang kau bilang itu sungguh tidak masuk akal," sanggah German.


German Rainer yang dari tadi memperhatikan perbincangan antara Hubert dan Benedict tiba-tiba menyanggah pemikiran Benedict yang terkesan tidak masuk akal.


"Heh?..." Benedict lantas berbalik ke belakang untuk menghadap ke arah German.


"Yang lebih penting adalah... Kenapa orang sepertinya ada di sampingmu?" tanya German kepada Hubert.


Ucapannya ini ditujukan kepada Hubert, German bertanya kenapa Redjack yang seorang Bandit licik itu justru ada di samping Hubert yang menjadi tanda bahwa Redjack akan menjadi asistennya di medan perang nanti.


Mendengar German yang sepertinya tidak setuju dengan keputusan Hubert menjadikan Redjack sebagai asistennya, Si Kapten Muda yang dari tadi juga ingin bertanya alasannya ikut penasaran. Sedangkan si Benedict justru malah baru sadar kalau Redjack dari tadi ada di samping Hubert.


"Di medan perang seperti ini, dia adalah orang yang paling bisa diandalkan untuk ikut memimpin jalannya pertempuran. Lagi pula di kelompok ini tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, semuanya dipandang setara," ucap Hubert.


"Tapi..." German sepertinya kurang setuju dengan alasan yang diberikan oleh Hubert, ia berusaha menentangnya tapi tidak jadi.


Wajar jika ia tidak terima dengan keputusan Hubert menunjuk Redjack sebagai penasihatnya, karena mau bagaimanapun harusnya German lah yang menjadi orang nomor 2 di kelompok ini karena ia adalah seorang pembunuh yang sudah terbiasa menyerang lawan dengan sembunyi-sembunyi terlebih dahulu. Tapi ia juga sadar kalau terakhir kali ia menjalankan misi untuk membunuh Minna dirinya malah berakhir dengan kegagalan total.


Si Kapten Muda yang melihat German kecewa dengan keputusan Hubert itu ikut bersimpati, karena ia juga tidak setuju kalau yang memimpinnya adalah seorang bandit.


\==============


Ktuplak!! Ktuplak!! Ktuplak!!


Sementara itu di beberapa KM jauhnya, Tentara Kerajaan yang berisi gabungan antara Pasukan Attica dan Chandax sudah sampai di daratan Prousos perbatasan antara Attica dan Stabia.


Sedangkan Hengki berada di tengah-tengah pasukan yang dipimpin oleh Bobs, dengan alasan tidak bisa berkuda dan dianggap sebagai orang penting karena telah menjadi pendamping Roderick, Hengki dipersilakan untuk menaiki kereta bersama para wanita yang biasa menjadi pelayan para tentara di sela-sela peperangan terjadi.


Seperti biasa, setiap Hengki berada di dekat para wanita ia selalu menjadi pusat perhatian mereka. Saat ini ia tengah di goda oleh para pelayan yang satu kereta dengannya. Ada di antara mereka yang merangkul Hengki lalu menempelkan lengannya di dada wanita yang merangkulnya dan ada juga yang hanya sekedar melihat paras Hengki yang ketampanannya tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Namun Hengki tampaknya sudah tidak peduli dengan perlakuan yang ia terima, Hengki justru dari tadi terus melihat ke arah Bobs.


"Kenapa kau terus melihatnya?" tanya Roderick yang sedari awal berkuda di samping kereta yang dinaiki Hengki. Ia bertanya kenapa Hengki terus melihat ke arah Bobs.


"Tidak, aku cuman kurang yakin saja orang sepertinya mampu memimpin pasukan sebanyak ini," jawab Hengki.


Sepertinya Hengki sedang meragukan kemampuan Bobs untuk memimpin pasukan, karena yang ia tahu Bobs itu orangnya sangat emosional apalagi kemarin malam ia baru saja berkelahi dengan rekan koalisinya.


"Pengalamannya memimpin pasukan memang sangat minim, tapi tetap saja dia harus melakukannya karena itu sudah menjadi tugasnya sebagai panglima besar," jawab Roderick.


Meski tidak membantah keraguan Hengki terhadap Bobs, tapi Roderick berkata kalau mau tidak mau Bobs harus memimpin pasukannya ini.


"Ngomong-ngomong kenapa kau terlihat tidak begitu tegang menghadapi situasi seperti ini?" tanya Roderick.


"Maksudnya?"


Pertanyaannya ini membuat Hengki merasa ambigu, situasi dan tegang apa yang dimaksud olehnya.


"Maksudku tegang menghadapi peperangan? apa kau sering berperang dulu?"


Roderick kemudian memperjelas pertanyaannya supaya tidak ambigu.


"Tidak pernah, bahkan aku tidak pernah melihat mayat secara langsung seumur hidupku," jawab Hengki.


Roderick dan para wanita yang sedang menggodanya itu sontak kaget dan heran dengan jawaban yang diberikan oleh Hengki, karena kalau ia tidak pernah berperang dan tidak pernah melihat mayat seumur hidupnya harusnya saat ini Hengki sedang kencing di celana saking takutnya atau paling tidak merasa gugup.


"Kalau begitu kenapa kamu tidak merasakan takut sama sekali kalau belum pernah berperang?" tanya wanita yang ada di rangkulan kirinya Hengki sambil mengelus tangannya yang sangat halus.


"Iya, kenapa?" ucap Roderick.


"Iya, yah. Kenapa aku tidak takut? tapi jujur dibanding takut aku justru antusias menyambut peperangan ini karena biasanya aku hanya melihatnya di dalam video game saja, terus aku juga sepertinya tidak begitu takut ketika melihat mayat yang terbunuh nanti karena aku sudah terbiasa menonton film thriller yang tanpa sensor dari kecil bersama teman-temanku dulu," jawab Hengki.


Semua yang mendengar jawabannya semakin bingung.


"Thriller? apa itu? apa itu pertunjukan di mana orang saling bunuh?" sekarang giliran wanita yang ada di depannya yang bertanya.


Mendengar pertanyaannya itu membuat Roderick dan semua yang ada di situ ikut penasaran dengan thriller yang dimaksud oleh Hengki.


"Aku juga tidak begitu mengerti, tapi bisa dibilang itu tontonan tentang bunuh-bunuhan, dan biasanya orang yang menjadi tokoh utama atau penjahat utama akan membunuh lawannya dengan sangat sadis seperti menggorok lehernya dengan gunting ketika sedang makan, membakar 2 sejoli yang tengah berhubungan intim atau juga menggergaji perempuan yang sedang mengendarai kendaraan sambil telanjang. Huh... kalau diingat malah jadi nostalgia, sayang sekali ketika aku sudah dewasa tayangan seperti itu sudah sulit diakses karena aturan sensor yang semakin ketat."


Hengki menerangkan arti thriller dengan sangat santai, sementara orang yang mendengarnya justru malah dibuat ngeri dengan penjelasan yang disampaikan oleh Hengki.


"Se-sepertinya tempatmu berasal su-sungguh sangat mengerikan, pertunjukan macam apa yang menampilkan aksi saling bunuh dengan cara kejam seperti itu."


Roderick kemudian menepuk pundak Hengki, setelah mendengarkan penjelasannya itu ia berpikir kalau tempat asal Hengki adalah tempat yang sangat mengerikan saking mengerikannya ia bahkan sampai tak habis pikir kalau Hengki justru malah kangen dengan pertunjukan mengerikan itu.


Umm... Sepertinya mereka salah paham, Pikir Hengki.


Para wanita yang tadinya menggoda Hengki sekarang justru malah agak jaga jarak karena mereka merasa ngeri dengan perilaku Hengki yang kangen dengan pertunjukan sadis yang baru saja Hengki ceritakan.