
Kembali ke tempat di mana Benedict serta para pemberontak yang ia pimpin sedang mengejar pasukan kerajaan berada.
Mereka merasa sedikit kesulitan karena banyaknya pohon besar yang menghalanginya membuat pandangan para pemberontak itu wajib mengikuti arah lari lawannya terus.
Ketika ada 1 orang yang berada di paling belakang tidak fokus karena pandangannya terhalang oleh debu hitam. Ia kemudian melihat ke arah belakang tempat mereka berasal.
Ketika kepala pasukan itu berbalik, ia lantas dikejutkan dengan adanya api yang membara besar menjalar dengan cepat dari sisi kiri menuju ke arah markas para pemberontak itu berasal.
"Haaaaah!?" Kagetnya.
Mendengar ada teriakan yang berasal dari barisan paling belakang membuat para pemberontak itu lantas berhenti dan kebingungan untuk sejenak.
Mereka lantas melihat apa yang terjadi di belakang sana.
"Ada apa?" tanyanya
Setelah melihat ada api yang menjalar di belakang membuat para pemberontak itu panik.
"Tuan Benedict!"
Salah satu ajudan Benedict kemudian berteriak untuk menghentikan tuannya itu yang sudah berada jauh di depan sana.
Pada akhirnya, mereka diam membeku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Jika mereka tetap maju maka nantinya bukit besar yang menjadi markas mereka itu akan dengan mudah di taklukan oleh kubu kerajaan. Sedangkan jika mereka memilih untuk mundur maka tuannya Benedict yang ada di jauh depan akan berjuang sendirian menghadapi pasukan kerajaan yang sedang melarikan diri itu.
"Sial! Sial! Sial!"
Terlihat para pemberontak itu menyesali apa yang sudah mereka perbuat. Mereka kemudian berpikir kalau musuhnya itu dari awal tidaklah melarikan diri melainkan memancingnya untuk menjauh dari tempat persembunyian dan panah yang ditembakkan tadi itu bukanlah serangan yang menargetkan pasukannya melainkan untuk membasahi area sekitar agar api semakin cepat menjalar.
...
Sementara dari dalam hutan yang sudah penuh dengan bara api itu, terlihat banyak sekali kuda yang secara sengaja dibakar bagian punggungnya dengan minyak tanah sedang berlarian sambil merintih kepanasan.
Meski merintih kesakitan tapi mereka bergerak secara teratur karena di belakang terlihat Louie Lane terus memecut kuda-kuda tersebut untuk bergerak sesuai arahannya.
( Fun Fact : Ketika merasa panik kuda secara naluriah akan berlarian ke tempat di mana rumah/kandang mereka berasal. )
Oleh karena itu, alasan mengapa Hengki di awal sebut kalau kunci dari kesuksesan rencananya ini adalah Ajax, karena ia berasal dari Wilayah Stabia otomatis kandang/rumah kudanya juga ada di Wilayah Stabia.
Meskipun orang seperti Bobs, Elias, Dominic, Roderick dan yang lainnya memprioritaskan untuk merebut salah satu bukit besar terlebih dahulu, Hengki justru berpikir untuk menguasai terlebih dahulu bukit tandus yang ada di sebelah kanan.
Sudah karena jaraknya yang lumayan dekat, bukit ini juga akan melindunginya nanti ketika api sudah membakar sebagian besar hutan yang ada di bawah mereka.
Awalnya Hengki berencana untuk membakar hutannya ini dengan anak panah yang dilumuri api saja, tetapi ketika melihat ada sekelompok orang keluar dari dalam hutan ia langsung merasa senang dan memikirkan ide baru karena gerombolan itu berasal dari Wilayah Stabia dan juga mereka secara kebetulan membawa kuda masing-masing.
Lantas mengapa ia bisa berpikir untuk menyusun rencana seperti ini?
Perlu di ingat ketika Hengki hidup di dunia lamanya, ia selalu menghabiskan waktu dengan hanya bermain games dan ia sangat ahli memainkan game yang mengambil tema peperangan dan juga sejarah.
Jadi banyak sekali strategi-strategi perang zaman dulu yang ibaratnya sudah ada di luar kepalanya Hengki.
Dan strategi membakar kuda untuk menargetkan langsung markas musuhnya ini adalah strategi yang pernah digunakan oleh Kublai Khan dulu ketika berperang dengan saudaranya Ariq.
( Meski banyak perdebatan mengenai kejadian ini tetapi teori tentang membakar hewan seperti babi, burung dan kuda untuk digunakan di medan perang sebagai cara agar bisa mengalahkan musuh itu sangat mungkin dilakukan. )
...
Di lain sisi Roderick beserta pasukannya yang berlarian sampai jaraknya sudah sangat jauh dengan para pemberontak baru sadar kalau area sekitar yang ada di belakangnya telah tertutup oleh api.
"Apa yang terjadi?!" heran Roderick.
Roderick langsung berteriak ke arah Ajax sesaat setelah ia melihat hutan yang ada di belakang sana terbakar.
Pasukan yang lain pun ikut heran karena mereka tahu hal ini itu menguntungkan bagi pihak kerajaan. Tapi mereka bingung kenapa rencana cerdik untuk membakar hutan ini tidak disebarkan ke mereka dan pasukan yang lain.
Di tengah perasaan bingung, mereka lantas memandang ke arah Roderick dengan tatapan kagumnya.
Sementara pasukan Ajax memandang ke arah Ajax dengan rasa hormat.
Sebagai pemimpinnya mereka lantas berpikir kalau rencana ini telah diatur oleh Roderick atau Ajax.
"Ini adalah idenya," jawab Ajax.
Menjawab pertanyaan Roderick tadi, Ajax bilang ini adalah idenya. Orang yang dimaksud olehnya itu jelas adalah Hengki.
"Hah? Terus bagaimana caranya api bisa menjalar sebegitu besarnya?" tanyanya lagi.
Roderick kemudian sadar kalau kantong yang terikat pada anak panah yang di pakai oleh anak buahnya di awal tadi kemungkinan besar adalah minyak tanah. Tapi tetap saja kantong sekecil itu tidak mungkin bisa membuat hutan terbakar sampai sebesar ini. Apalagi ia heran dari mana sumber api itu berasal.
"Dia menggunakan kuda-kudaku untuk membakar hutan itu," jawabnya.
Dengan nada lemas, Ajax menjawab kalau Hengki memakai kuda milik kelompoknya untuk membakar hutan tersebut.
"Maksudnya? Bagaimana kuda bisa membakar hutan ini? Tolong kau jawab serinci mungkin agar aku bisa paham dengan cepat."
"Dia membakar kuda-kuda itu."
Ajax kemudian menjawab dengan memalingkan wajahnya dari tatapan Roderick.
"Hah!? Bagaimana hal itu bisa dilakukan?... Tunggu, aku ingat sesuatu."
Roderick merasa hal yang dikatakan oleh Ajax ini tidak masuk akal.
Tetapi kemudian ia mengingat sesuatu.
Ya, dia ingat momen ketika kecil gurunya sedang mengajarinya cara untuk mengendalikan kuda.
\==============
Roderick kecil terlihat sedang kewalahan untuk mengendalikan kudanya.
Sambil ditemani gurunya ia berkata, "Guru, apa yang harus aku lakukan? Kudanya terus-terusan loncat ke sana kemari."
Ketika ia sudah mulai kewalahan karena kudanya ini tidak mau diatur olehnya.
Roderick kemudian terlempar ke belakang.
Brak!!
Roderick kecil itu terjatuh ke tanah dengan sangat kencang hingga merintih kesakitan.
Argh! "Sakit.."
Sementara kudanya kabur entah ke mana.
"Ahh... maafkan aku guru," ucapnya.
"Haha... tidak perlu meminta maaf, sudah sewajarnya ketika orang belajar satu hal yang baru maka ia akan mengalami kegagalan terlebih dahulu."
Sambil mengangkat muridnya, si guru itu menasihati Roderick kalau kegagalan di awal adalah hal yang sangat biasa.
"Sekali lagi, maafkan saya guru."
Roderick lalu meminta maaf lagi, ia tetap merasa bersalah.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita kembali dulu ke rumah, hari sudah mau malam. Kamu bisa belajar lagi esok hari," ucap gurunya tersebut.
"Umm... tapi bagaimana dengan kudanya guru? kudanya barusan kabur entah ke mana."
Roderick kemudian panik karena kudanya hilang entah ke mana.
"Sudah, yang namanya hewan peliharaan ketika lapar atau ketakutan mereka akan pulang dengan sendirinya."
Dan apa yang dibilang oleh gurunya ini ternyata benar terjadi.
Ketika hujan lebat turun di malah hari itu, Roderick mengecek ke kandang kuda dan benar saja kudanya sudah menunggu dengan santai di depan kandang itu.
\==============
Bagaimana anak itu bisa memikirkan strategi macam ini?
Roderick lantas merasa bingung sekaligus kagum.
Karena meskipun pengetahuan ini adalah hal yang sebenarnya sudah diketahui oleh orang umum, tapi tak ada satu pun dari mereka yang ke pikiran untuk menerapkannya sebagai strategi di saat perang terjadi.
Melihat Roderick yang membeku dengan ekspresi herannya, membuat Ajax juga berpikir, Aku juga akan mengeluarkan ekspresi semacam itu jika ada diposisi anda tuan.
...
Sedangkan dari atas bukit tandus, tempat di mana pasukan kerajaan berlarian menghampirinya. Hengki terlihat sedang fokus melihat ke arah Louie Lane berada.
Kuharap kau bisa selamat, meski kemungkinannya sangatlah kecil. .
Hengki berdoa untuk keselamatan Louie Lane, ia berharap anak muda itu bisa tetap hidup karena Hengki sudah tahu kalau Louie memiliki kesetiaan pada dirinya.
Buktinya ia dengan berani mempertaruhkan nyawa demi kelancaran strategi yang ia gagas hanya untuk sebuah balas dendam atas kematian tuannya.
Jika ia selamat maka tanpa ragu ke depannya Hengki bisa mengandalkannya lagi untuk menjalankan rencananya yang lain.
ketika selesai melihat Louie yang masih berjuang dengan sangat gigih.
Tatapan Hengki kini tertuju ke arah Roderick dan Ajax yang terlihat sudah semakin dekat dengan bukit tandus tempat ia berdiri.
Hmm... Sejauh ini strateginya berjalan dengan sangat mulus. Terima kasih banyak Kublai Khan yang agung.
Hengki kemudian memberikan rasa terima kasih yang sangat mendalam kepada sosok Kublai Khan. Karena tanpa dirinya tidak mungkin strategi macam ini bisa terpikirkan oleh Hengki.