
Hyah!
Clang! Clang!
Setelah bertarung cukup lama dan tak ada perkembangan apa pun, karena Jan yang terus menggempur masih bisa ditahan oleh German.
Jan menjadi cukup kesal. Akan tetapi dirinya masih berusaha untuk mencari celah.
Apa pun yang aku lakukan. Jangan sampai aku memberikan celah kepadanya, pikir Jan.
Sadar kalau musuhnya sudah mulai kelelahan dan kehilangan fokus. German langsung berusaha untuk memprovokasi Jan dengan berkata, "Kau harusnya tahu, ada beberapa tembok di dunia ini yang tidak bisa kau dobrak begitu saja."
German memperingati Jan. Mau seberbakat apa pun dirinya, Jan masih belum cukup untuk mengalahkan orang-orang kuat seperti German.
Clang!
Belum satu detik setelah berkata seperti itu, Jan lagi-lagi menyerang German tanpa arah yang jelas.
Jan malah memaksa German untuk beradu siapa yang paling kuat dengan saling mendorong senjatanya masing-masing, sambil berkata, "Tahu apa kau!"
German menahannya dengan menyilangkan kedua senjatanya.
Secara sekilas tampak Jan lebih unggul karena berhasil membuat German agak tertunduk akibat dari dorongan kuatnya.
Jan berusaha dengan sangat keras sampai bercucuran keringat. Namun yang aneh justru German tampak masih santai dan juga tenang, padahal dirinya tampak sedang ditekan.
Beberapa saat tiba-tiba hal yang di luar dugaan Jan terjadi. German melonggarkan senjatanya yang menyilang itu sehingga membuat Jan sedikit terjungkal dan ia pun tertunduk ke depan.
"Hah?..." Saking kagetnya, Jan hanya bisa bereaksi 'Hah?' saja dengan ekspresi pasrah, karena di situasinya yang seperti ini kepala Jan benar-benar ada tepat di bawah pandangan German. Dan leher bagian belakangnya terbuka untuk ditebas.
Sreet!
Namun ternyata sial bagi keduanya. Jan ditebas oleh German dan terluka cukup parah, akan tetapi sialnya untuk German karena serangannya tadi sedikit meleset.
Niatnya German ingin langsung memenggal Jan, akan tetapi karena kaki yang sudah kelelahan itu membuat mereka berdua oleng. Serangannya menjadi sedikit meleset dan justru malah mengenai pundak sebelah kanannya Jan.
...
"KAPTEN!!!"
Dari kejauhan pasukan kerajaan terutama pasukan yang dipimpin oleh Jan sangat panik. Karena posisinya tidak begitu terlihat jelas, mereka mengira kalau kaptennya sudah dipenggal oleh musuh. Apalagi darah secara jelas terlihat muncrat keluar dari badan Jan.
Sedangkan dari sisi Hengki yang sudah lumayan unggul di pertempurannya juga ikut syok. Karena kalau Jan berhasil dipenggal oleh musuh, ini menjadi pengalaman pertamanya melihat kepala yang terpisah dari badannya.
Hengki yang melihat dari jauh pun langsung membeku, matanya melotot dengan tatapan kosong, bahkan busur silang yang ada di genggamannya hampir jatuh.
Mau bagaimana lagi, walaupun sering menonton film thriller yang bertema bunuh membunuh dengan sangat keji. Tapi untuk adegan kepala yang terpotong itu biasanya terlihat jelas editannya.
Jadi wajar ketika Hengki syok pada saat ia pikir Jan akan kehilangan kepalanya.
Namun setelah beberapa detik, mereka akhirnya merasa tenang kembali. Karena Jan tiba-tiba bergerak mundur ke belakang dan terlihat kepalanya masih menempel di badan.
Akan tetapi Jan sudah kehilangan tenaga untuk mengangkat tubuhnya. Apalagi pundaknya terluka cukup dalam dan juga lebar. Darahnya terus mengucur deras tak terhenti.
Hengki yang melihat hal itu kemudian menjadi sedikit panik, karena kalau dibiarkan Jan bisa dengan mudah dibunuh oleh lawan.
ia yang tahu kalau apitan musuh sudah mulai melemah bergegas untuk keluar dengan tubuh kecilnya itu.
Dirinya berlari sekuat tenaga.
Roderick yang kemudian sadar kalau Hengki sudah tidak ada di dalam barisan dengan instingnya langsung melihat ke arah markas musuh. Dan benar saja ia melihat Hengki sedang berlari ke arah tersebut.
Namun dari jauh ia juga melihat ada beberapa pemberontak yang sedang mengejar Hengki.
...
"Tampaknya kita sudah sangat kelelahan." ucap German kepada jan.
Tahu kalau German sering memprovokasi dirinya sebelum menyerang. Jan memaksakan diri untuk mengangkat kepalanya supaya bisa melihat gerak gerik German.
Clang!
Dan benar saja German langsung berusaha untuk menebas lehernya Jan untuk yang kedua kalinya. Akan tetapi karena sudah melihat gerakannya, secara sigap Jan menahan serangan tersebut.
Jan menahan serangannya hanya dengan memegang pedang menggunakan satu tangan, karena tangan yang lainnya tidak bisa ia gerakan.
Oleh sebab itu, Jan tampak tidak bisa menahannya terlalu lama.
...
"Pasukan! Tutup jalan keluar menuju markas lawan! Jangan sampai ada yang lolos!" Perintah Roderick pada pasukannya.
"Siap!" jawab pasukannya.
Setelah mengeluarkan perintah tersebut, Roderick langsung bergegas mengejar Hengki dan berusaha untuk menghalau musuh yang sadang membuntutinya.
Ktuplak! Ktuplak!
Kuda yang ditumpangi Roderick bergerak dengan sangat cepat.
Sementara dari sisi Hengki, ia terlihat sedang merogoh kantong yang berisi anak panah di pinggangnya.
Hengki berhasil mengambil satu dan langsung memasangkannya pada busur silang miliknya.
Swoosh!
Ketika ia sedang memasang anak panah tersebut, tiba-tiba ada anak panah lain yang berukuran lebih panjang terbang ke arahnya.
Sontak saja Hengki panik, dan ketika ia melihat ke belakang ternyata ada 3 tentara dari kubu pemberontak sedang mengejar. Bahkan lebih parahnya mereka mengejar Hengki menggunakan kuda.
Sementara Hengki mengandalkan kemampuan berlarinya yang tidak seberapa itu.
*Bangs*t! Kenapa aku tidak menyadarinya?! Sambil menggerutu dalam hatinya, Hengki menjadi jauh lebih panik lagi.
Namun karena kepanikannya ini membuat kekuatan yang tersimpan dalam dirinya keluar, yakni ia dipaksa untuk berlari lebih cepat lagi. Seperti ketika orang sedang dikejar anjing atau mengejar maling.
"Berhenti kau!" Teriak orang yang mengejar Hengki sembari membidiknya.
Swoosh!
Namanya juga kurang berpengalaman, tembakannya terus saja meleset, bahkan melesetnya cukup jauh.
Akan tetapi karena ini pengalaman pertamanya berada dalam situasi hidup dan mati tanpa bisa berpikir dengan jelas apa yang ia akan lakukan. Hengki menjadi lebih panik lagi dan lagi.
Ya Tuhan, andaikan ini betulan mimpi. Aku tidak ingin bangun dengan cara terbunuh! Hengki yang masih tidak mengerti kenapa ia ada dunia ini, berharap kepada yang di atas agar dirinya tetap diberi keselamatan.
Roderick yang semakin mendekat, melihat Hengki sedang ditembaki anak panah musuh. Namun dirinya tidak panik karena tembakannya juga meleset jauh.
Ia justru malah salah fokus ketika melihat Hengki yang berlari semakin kencang dan terlihat jelas dirinya sedang merasa panik dengan sangat hebat.
"Kenapa anak itu panik sampai sebegitunya?" tanya Roderick pada dirinya sendiri.
...
Kembali ke situasi Jan. Kini dirinya yang masih berusaha menahan serangan German sudah mulai kehilangan kesadarannya sedikit demi sedikit.
Pandangannya sudah mulai menggelap dan juga tampak semakin buram.
Aku tidak bisa mendengar apa pun?... Bahkan ternyata pendengarannya juga sudah tidak berfungsi dengan baik.
Jan sudah mulai kehilangan harapan untuk bisa selamat dari serangan musuhnya, ia berpikir, ...Apa ini berarti aku sudah kehilangan waktu untuk tetap hidup? Aku minta maaf kepadamu dewa, tapi tolong, berikanku sedikit tenaga lagi. Ku pikir aku mungkin... Telah memahami sesuatu...
Ia kemudian membayangkan sosok dari orang yang sempat mengajarinya bertarung dan juga sosok yang selama ini ia kagumi, ...Tuan... Paris..., Tuan... Zeno..., Aku ingin seperti mereka berdua kelak dikemudian hari. Aku telah menyadari sesuatu. Bukan karena jumlah pasukan yang ada di bawah perintahnya yang membuat seseorang itu kuat... Hal ini mungkin... karena mereka berjuang dan mampu mengatasinya... Tolong... Tolong... Berikan aku sedikit kekuatan.
Jan berkata dalam hatinya sambil kornea matanya bergetar. Ia mulai paham kalau orang hebat adalah orang yang mampu mengatasi ujian yang menerpanya. Ia terus meminta kepada dewa yang diyakini olehnya untuk diberikan kekuatan lebih.
German yang masih berusaha menebas leher Jan kemudian teralihkan pandangannya.
Karena tiba-tiba ia melihat ada satu orang asing sedang membidik ke arahnya.
Tak lain orang yang dimaksud itu adalah Hengki. Di belakangnya juga terlihat ada 3 orang pemberontak sedang mengejarnya. Dan tak hanya itu di belakangnya lagi ada Roderick yang berusaha mencoba menghentikan para pemberontak yang sedang mengejar Hengki tersebut.
"Apa yang kalian lakukan?! Tangkap anak itu!" teriak German dengan sangat kencang ke arah pasukannya.
German merasa panik, ia melihat busur yang digunakan Hengki berbentuk sangat aneh, dirinya tidak tahu bocah yang sedang membidiknya itu mengarah ke bagian tubuh sebelah mana.
Dan juga ia tidak akan tahu sekencang apa anak panah yang sebentar lagi ditembakkan ke arahnya itu.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 47.1 yang berjudul 'Jan, Mimpinya & Penyelamatan Hengki' ini.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v