
Jauh di Kota Blum berada, pasukan pemberontak terus menyisir area-area terpencil guna mencari orang dari kerajaan yang masih tersisa.
Redjack Esdog sosok yang memimpin divisi yang dipenuhi oleh bandit telah berhasil membantai puluhan pasukan selama patroli di sekitar Blum. Kini ia tengah bertempur dengan salah satu petinggi Wilayah Stabia, Cyrus O'Brian ia adalah salah satu 'Senechal' di Stabia yang masih hidup dan tengah memimpin sekitar 300 pasukan yang tersisa di bawah perintahnya.
( Senechal adalah suatu jabatan yang pernah ada di Abad pertengahan sampai Periode Modern Awal, biasanya seorang Senechal bertanggung jawab mengurus masalah rumah tangga kerajaan seperti administrasi keuangan dan mengatur para pelayan, bisa dibilang Senechal itu memiliki arti yang sama dengan Pelayan Senior. Jika di Chandax salah satu Senechal yang telah di perkenalkan adalah Herena. )
"Laporan!"
Salah satu pasukan pembawa pesan hendak melapor kepada Cyrus.
"Garda terdepan telah dikalahkan! Sebanyak 80 pasukan yang menjadi korbannya!" Lapornya.
"Apa?! Lalu bagaimana dengan unit yang lain?"
Mendengar pasukannya telah dikalahkan, salah satu ajudan Cyrus terkejut dan bertanya bagaimana dengan pasukannya yang lain.
"U-Uh... Setelah kami menemukan 80 pasukan kita yang terbunuh, musuh tiba-tiba menghilang dari tempat kejadian," ucapnya.
"Apa maksudnya?" Heran si ajudan tadi.
Mendengar laporan yang memberitakan hal buruk tersebut, Cyrus mengerutkan dahinya. Ia merasa ada suatu yang janggal dengan lawan perangnya ini. Sampai saat ini mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi.
Sementara itu disisi Redjack, ia sedang memimpin pasukannya berkuda di tengah perkotaan yang padat akan perumahan dan pertokoan yang sudah kosong melompong.
Mundur setelah berhasil menaklukkan beberapa pasukan kerajaan adalah salah satu strategi andalannya, ini berguna untuk menghindari bentrok yang lebih lanjut. Mengingat ia dan pasukannya adalah gerombolan bandit jadi mereka tidak terbiasa dengan perang terbuka mereka biasanya menyergap musuh dengan unit yang kecil lalu mundur dan bersiap lagi untuk menyergap musuh yang lain.
Hal ini membuat lawannya sangat frustrasi karena pembawa pesan terus menerus datang mengabarkan kalau pasukannya sedikit demi sedikit terbantai tanpa sebab yang jelas. Dan rasa frustrasi itu dialami juga oleh Cyrus, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini hingga membuat dirinya takut untuk memutuskan strateginya. Ia sekarang malah diam tak mengambil keputusan apa pun.
"Hahaha... Kita berhasil mengalahkan mereka lagi, Boss!"
Saat ini Redjack dan pasukannya tengah bergembira karena berhasil menumpas pasukan lawan yang masuk ke dalam perangkapnya.
"Hehe...." Redjack hanya tersenyum mendengar kegembiraan pasukannya itu.
Meski ada suatu sistem jabatan di dalam sebuah unit divisi formal, tetapi yang namanya bandit itu memiliki hubungan yang sangat erat satu sama lain tidak peduli itu antara ketua dengan pasukan biasa atau hubungan jabatan yang lainnya.
"Sialan... Beraninya kau berbuat licik seperti ini... Kau benar-benar monyet jelata..."
Salah satu pasukan yang masih hidup kemudian menghina Redjack karena telah menyergapnya diam-diam.
"Siapa di sini yang terlihat seperti monyet!?"
Redjack sama sekali tidak terbawa perasaan ketika mendengar dirinya di bilang monyet jelata oleh salah satu pasukan Stabia yang selamat, yang ia lakukan justru malah menghinanya balik dengan muka yang terlihat masih dalam suasana senang.
Redjack lantas mengangkat pedangnya yang berbentuk tidak karuan itu untuk membunuh orang yang menghinanya tadi, si pasukan kerajaan itu tampak begitu ketakutan, badannya bergetar dengan begitu kencang. Cerminan pedang yang perlahan menghampiri kepalanya terpantul jelas di matanya.
Cleb!!
"Arghhh..."
Si Pasukan itu lantas menjerit kesakitan ketika pedang yang berbentuk tidak karuan itu tertancap secara perlahan di tengkuk lehernya.
Salah satu perempuan yang menjadi ajudan Redjack melihatnya sambil tersenyum walaupun sedikit merasa kasihan karena orang yang dibunuh oleh Redjack itu mati dengan cara yang cukup menyakitkan.
"Baiklah, aku pikir yang di katakannya tadi ada benarnya, aku sudah cukup bosan melakukan hal ini," ucap Redjack ke pasukan yang dipimpinnya setelah ia membunuh orang tadi.
Redjack merasa strategi penyergapannya ini sudah selesai sampai sini, mengingat jumlah musuh yang sudah berkurang drastis dari jumlah awalnya. Kini ia hendak menjalankan strategi selanjutnya untuk mengakhiri pertempuran.
Beberapa saat kemudian, ketika unit pasukan kerajaan yang lain tiba di salah satu belokan jalan, mereka dibuat terkejut karena ketika jalan yang ada di belokan itu mulai terlihat, tampak tiang menjulang tinggi di mana banyak sekali tubuh dari mayat pasukan kerajaan ditancap di tiang kayu itu.
( Ilustrasi )
Jika dihitung mungkin 30an mayat yang tertancap seperti itu, berjejer di pinggir jalan.
Semua yang melihat itu sontak terdiam, mereka untuk sesaat tidak bisa bergerak dan mengatakan apa pun saking kagetnya.
Semua itu... adalah mayat yang baru saja mereka bunuh..., pikir kapten unit yang baru saja tiba itu.
"Laporan!"
Belum selesai dengan kagetnya, tiba-tiba pasukan pengintai yang biasanya maju ke depan terlebih dulu untuk mengecek keadaan melaporkan sesuatu kepada sang kapten tersebut.
"Di depan sana ada mayat lainnya...!" ucap si pengintai.
"Apa benar?..." salah satu pasukan tidak percaya dengan apa yang si pengintai laporkan.
"Cukup!"
Sang kapten tersebut kemudian menyuruh semuanya untuk diam.
Situasi mengerikan ini akan menjatuhkan moral pasukan yang tersisa, Sial... apa yang mereka lakukan benar-benar sudah terlalu jauh. Aku pikir pertempuran ini sudah tidak ada lagi jalan kemenangan bagi kita, aku harus menyuruh pasukanku kabur ke Attica dan bergabung dengan pasukan yang ada di Kastel Naupaktos. Aku tidak pernah mengira kalau pasukan yang telah terlatih bisa ketakutan seperti ini ketika melawan para pemberontak, mereka adalah lawan yang sulit untuk dihadapi...
Si kapten berpikir jika hal ini akan membuat moral pasukannya hancur dan ia juga pikir apa yang telah dilakukan oleh lawannya sudah sangat berlebihan, Ia pikir akan lebih baik kalau pasukannya kabur ke Wilayah Attica.
Setelah beberapa jam berlalu, Redjack dan pasukannya kembali ke tempat di mana mereka menancapkan mayat pada kayu yang dipasang di pinggiran jalan dekat belokan. Ia terkejut pada saat melihat mayat-mayat itu kini sudah dilepas dan telah dikubur dengan layak di tanah lapang dekat jalan tersebut.
"Mari kita lanjutkan perjalanannya."
Redjack tampaknya tidak begitu peduli dengan mayat musuh yang telah dikubur tersebut, ia lantas menyuruh pasukannya untuk lanjut berjalan.
"Aku salut mereka menyempatkan waktu untuk menguburnya."
Sambil jalan, Redjack memuji ketabahan lawannya itu.
"Ya," jawab ajudan perempuannya.
"Boss!"
Ketika hendak berbelok, tiba-tiba datang salah satu pengintainya hendak melaporkan sesuatu.
"Rupanya ada 50an pasukan yang melarikan diri! Mereka bergerak ke arah Bukit Avis!" lapornya.
Ketika mendengar laporan tersebut, semuanya hanya terdiam, mereka kira bosnya Redjack akan mengejar pasukan yang kabur itu.
"Jadi mereka kabur ke Attica ya... Biarkan saja, toh habis ini kita juga akan menuju wilayah itu."
Redjack tak ambil pusing jika ada pasukan musuh yang melarikan diri di tengah-tengah peperangan, karena ketika mereka sudah selesai menghabisi musuh yang tersisa di Wilayah Stabia, mereka dengan cepat akan langsung menyerbu Wilayah Attica.
"Juga, aku sudah mendapatkan laporan dari beberapa pengintai kalau ternyata markas musuh ada di sebelah sana!"
Sambil menunjuk ke arah barat, si pemgintai bilang kalau dirinya telah mendapatkan laporan dari beberapa pengintai lain kalau mereka tahu di mana posisi markas musuh berada.
"Bagus," jawab Redjack.
\==============
Cyrus, pasukan dan para bangsawan yang selamat saat ini sedang memakan buah-buahan untuk menenangkan pikiran, pada momen seperti ini hal yang perlu diutamakan adalah jangan panik, karena jika mereka panik mereka dengan mudahnya melakukan hal yang gegabah.
"Laporan!" Tiba-tiba datang segerombolan orang menghampirinya untuk melapor.
"Ada kabar buruk! Tampaknya pasukan yang ada di garda terdepan sudah melarikan diri ke Wilayah Attica! Mereka terlihat bergerak ke arah bukit Avis!" lapornya.
"Hah! Yang benar saja?! Kenapa mereka malah kabur. Siapa kaptennya? Ah, Ajax Traverse yah... Sialan!" salah satu ajudannya menanggapi laporan tersebut dengan sangat marah dan juga panik karena ditinggalkan oleh sebagian tentaranya.
Sementara Cyrus berusaha untuk tetap tenang, ia masih melanjutkan menyantap buah-buahan dan tidak menengok ke arah pelapor yang jumlahnya lumayan banyak itu.
"Sudah... Tenangkan pikiran kalian, biarkan saja mereka melarikan diri," ucap Cyrus yang sedang berusaha untuk tenang.
"Tapi tuan..."
Ajudannya itu berniat untuk menyanggah tuannya itu tapi terhenti karena ia tidak cukup berani.
"Saat ini kita tidak boleh panik dan takut, kita harus tetap percaya diri, lagian musuh tidak tahu di mana kita berada."
Cyrus lantas menghentikan makannya, ia mulai menengok ke arah para pelapor itu.
"Hmm?" Cyrus kemudian melihat para pelapor itu dan merasa ada hal yang aneh.
"Tunggu, jika pasukan yang ada di garda depan melarikan diri lantas kalian tahu dari mana informasi tersebut?" Ia merasa janggal karena jika pasukan yang ada di depan kabur terus mereka tahu dari mana informasi yang mereka laporkan ini.
Setelah mendengar kejanggalan yang dilontarkan oleh Cyrus, semua orang yang di sana juga kemudian sadar jika laporan ini cukup janggal.
"Hehe... Kau memiliki mata yang bagus ya," ucapnya.
Slash! Slash! Cleb!
Dalam sekejap semua orang yang ada di markasnya itu tewas seketika dan hanya menyisakan Cyrus seorang.
Saking kagetnya, Cyrus hanya berdiri tegak tak bergeming sama sekali, sambil melotot urat matanya tampak menonjol.
Clang!
Ketika Redjack menghampiri Cyrus ia menarik pedangnya sambil menjatuhkan helm yang dikenakannya untuk menyamar ke tanah.
"Redjack?" ucap Cyrus.
"Benar, ada kata-kata terakhirkah?" Redjack menjawabnya sambil bertanya kepada Cyrus sebelum ia mengeksekusinya.
"Untuk siapa kata-kata terakhirku, toh kalian sudah membunuh semua orang yang kukenal," ucapnya.
Cyrus tampak sedih.
"Benar juga, lagian aku sebenarnya tidak peduli juga sih."
Slash!
Sambil berbicara, Redjack langsung memenggal kepala Cyrus.
Kejadian ini kemudian menjadi sebuah tanda bahwa Wilayah Stabia sudah 100% di kuasai oleh Perfectum Iudicium sang penghakim yang sempurna.
Sekarang saatnya mereka bergerak menyerang Wilayah Attica.