
"Bunuh mereka semua seperti yang kita lakukan kemarin!" perintah Benedict pada pasukannya.
Setelah menerima hambatan kecil dari hujan panah tadi. Para pemberontak tampak sama sekali tidak gentar dan tergoyahkan.
Benedict dan yang lainnya mengira kalau pasukan kerajaan tidak menghujaninya lagi dengan anak panah karena musuh sudah sadar kalau serangan yang tadi mereka berikan telah gagal total.
Padahal anggapannya tersebut salah besar. Hengki dari awal memerintahkan Ajax untuk memberikan instruksi kepada para tentaranya untuk menembakkan panah ke arah musuh bukan untuk mengurangi jumlah personel mereka melainkan untuk membasahi area sekitarnya. Lagi pula Ajax dan pasukannya harus menghemat anak panah yang dibawa untuk momen yang lebih penting nanti.
Membunuh lagi, ya? ...Bukan! tapi lebih tepatnya membunuh atau dibunuh. Mendengar musuh meneriakkan kata-kata bunuh membuat Roderick agak nostalgia dengan masa mudanya yang dipenuhi dengan peperangan yang menghasilkan korban begitu banyak.
"Mereka belum sadar seberapa berharganya nyawa seseorang," ucap Roderick.
Roderick sepertinya lumayan mengalami suatu dilema. Wajar saja di usianya yang sudah uzur dengan pengalaman perang yang tak terhitung, membuat dirinya berpikir lebih tentang apa itu makna dari sebuah kehidupan. Terlebih ia sudah melihat banyak manusia yang berhasil hidup dari kecil hingga dewasa sampai manusia yang secara mengenaskan mati di usianya yang masih muda, dan itu semua diakibatkan dari peperangan yang tak kunjung berhenti.
Tapi tetap saja, yang namanya perang tidak mungkin tidak menjatuhkan korban. Oleh karena itu Roderick harus memimpin pasukannya untuk membunuh lawan yang sedang mereka hadapi karena kalau tidak merekalah yang akan dibunuh.
"Semuanya ser-"
Ketika Roderick hendak memerintahkan para pasukannya untuk maju tiba-tiba Ajax menghentikannya. Ia memegang lutut Roderick dan berbisik, "Tunggu sebentar tuan..."
Roderick bingung kenapa Ajax menghentikannya, dan apa yang sedang ia rencanakan.
"Apa maksudmu?! Aku harus memberikan instruksi untuk menyerang balik lawan!" ucap Roderick.
Ajax sama sekali tidak mendengarkan Roderick, ia justru malah celingak celinguk melihat ke arah belakang.
Ketika Ajax melihat terus ke arah bukit tandus yang ada di belakang, tak lama kemudian ia melihat sebuah bendera berkibar.
Itu dia tandanya... Setelah melihat bendera tersebut Ajax lantas loncat dan malah ikut menumpang di kuda yang dipakai oleh Roderick dan berkata, "Perintahkan para tentara untuk mundur ke belakang."
Roderick semakin bingung dengan situasi yang sedang terjadi.
"Apa kau sudah gila?! musuh sebentar lagi akan memblokade jalan! Bagaimana kita kabur dari kejarannya!"
Ketika Ajax menyuruhnya untuk mundur, Roderick melihat ke arah musuh kalau mereka sebentar lagi sampai di jalan setapak di mana jalan tersebut adalah satu-satunya jalan untuk kembali ke markas tempat pasukan kerajaan berada.
"Bukan kabur ke sana, tapi ke arah bukit yang ada di belakang kita! Cepat! Sebelum mereka semakin mendekat!" Dengan nada panik, Ajax bilang kalau mereka harus segera kabur, bukan kabur keluar dari perbukitan ini melainkan kabur ke arah bukit tandus yang ada di belakang.
"Tidak Bis-"
"Kumohon Tuan! Ini demi kemenangan kita!"
Ketika hendak menolak untuk kabur, Ajax lagi-lagi memohon kepada Roderick agar lekas pergi ke bukit sana.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan?!" tanya Roderick.
...
Ketika pasukan kerajaan belum juga menerima perintah dari pemimpinnya.
Benedict dan para pemberontak terus melaju kencang ke arah di mana pasukan kerajaan itu berada.
"Haha... mereka sama sekali tidak bergerak! sepertinya mereka sudah mati kutu Tuan Benedict!"
Ketika melihat musuhnya yakni pasukan kerajaan sama sekali tidak melakukan suatu pergerakan. Para pemberontak lantas semakin percaya diri kalau mereka bisa menang dengan sangat mudah.
Tch! Bukankah yang memimpinnya itu adalah orang yang sangat terkenal? Kenapa mereka justru malah bersikap seperti orang bodoh begini? Benedict merasa sedikit kecewa dengan orang yang memimpin pasukan kerajaan ini yakni Roderick. Ia mulai kehilangan semangat bertarung ketika melihat musuh yang ia pikir hebat karena para ajudannya di awal tadi mengelu-elukan namanya justru malah bersikap kikuk layaknya orang bodoh.
...
"Lebih baik Tuan tanya saja nanti ke dalangnya langsung!" jawab Ajax.
Roderick bingung dengan jawabannya itu dan bertanya lagi, "Siapa dalangnya?"
"Siapa lagi kalau bukan Hengki! dia sedang menunggu di atas sana! Cepatlah!" jawabnya.
Kini sudah terkuak jelas kalau Hengki ternyata betul-betul menyembunyikan suatu rencana yang dirahasiakan olehnya dan Ajax.
Ternyata anak itu benar-benar memikirkan suatu hal aneh lagi, tapi kenapa dia malah menyembunyikannya dariku? Pikir Roderick.
Ktuplak! Ktuplak! Ktuplak!
Ketika sedang memikirkan kenapa Hengki merahasiakan rencananya, Roderick tersadar kalau para pemberontak semakin mendekat ke arahnya.
Setelah meneriakkan perintahkan, pasukan yang ia pimpin langsung memutar arah kudanya untuk pergi ke belakang sesuai instruksi yang diberikan oleh Roderick.
Ketika hendak melaju ke arah bukit itu, para tentara yang berada di bawah perintah Ajax yang tidak menggunakan kuda dari awal tiba-tiba loncat naik ke pasukan lain yang membawa kuda.
"Apa yang kau lakukan?!" tanya tentara kerajaan yang kaget karena tiba-tiba pasukan yang membawa panah itu naik di belakangnya.
"Sudahlah cepat jalan! Aku sudah diperintahkan dari awal untuk menaiki kudamu!" Tanpa tahu detail pastinya yang jelas pasukan Ajax itu dari awal memang sudah diperintahkan untuk menaiki kuda rekannya ketika perintah mundur diberikan.
karena situasi semakin mendesak, para pasukan yang kudanya ditumpangi tanpa izin terlebih dahulu itu langsung melaju kencang menjauhi musuh tanpa bertanya lebih.
"Baiklah! Kebetulan juga kau membawa panah tembaki mereka oke!" Ucapnya.
"Kebetulan kau bilang?! Hehe... aku juga agak kaget, tapi... kapten kami yang biasanya panik tidak jelas itu tiba-tiba saja memberikan perintah yang sejauh ini terlihat berjalan mulus..." Sambil berbisik, tentara itu menggunjing mengenai kaptennya yang tiba-tiba saja membuat rencana yang lumayan berjalan lancar sejauh ini.
Melihat pasukan kerajaan melarikan diri membuat para pemberontak itu mengejarnya lebih kencang lagi, para pemberontak dibuat semakin menjauh dari markas tempat mereka bersembunyi.
"Hahaha... Kejar terus orang-orang sialan itu!" perintah Benedict.
"Lihat mereka tampaknya sangat panik, Haha... mereka pasti sedang kencing di celana sambil ketakutan dikejar oleh kita, Hahaha..." "Siapa yang terlihat rendah sekarang." "Dunia benar-benar berbalik kepada kita."
Melihat pasukan kerajaan yang sepertinya kabur terbirit-birit membuat para pemberontak ketawa terbahak-bahak, mereka menganggap dunia sepertinya sudah memihak kepadanya.
Ktuplak! Ktuplak!
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Ketika sedang melakukan aksi kejar-kejaran, tiba-tiba para pemberontak itu ditembaki lagi oleh para pemanah dari pasukan kerajaan.
Clank! Clank! Cleeb!
Lagi-lagi serangan itu tidak efektif, hanya sedikit anak panah yang mengarah secara tepat sasaran mengenai musuh. Selebihnya dapat ditangkis dan juga banyak yang meleset, akan tetapi serangan panah tadi membuat pergerakan para pemberontak sedikit terhambat.
"Sialan mereka mulai menembakkan anak panah lagi ke arah kita! Kalian harus tetap fokus!" perintah salah satu ajudannya Benedict.
Sementara pemberontak itu terhambat akibat hujan panah yang diberikan oleh pasukan kerajaan, Benedict justru memacu kudanya lebih kencang lagi yang membuatnya terpisah dari tentara yang ia pimpin.
...
"Terus! Tembak mereka sampai menjauh dari kita!" teriak AJax.
"Siap Tuan!" jawabnya.
"Haha... ternyata kapten kita bisa tampak berwibawa juga yah," ledek para tentara yang dipimpin oleh Ajax.
Untung saja candanya itu tidak terdengar sampai ke telinga AJax.
Tapi juga walaupun terdengar sepertinya Ajax tidak akan marah, karena ia memiliki sifat yang sangat rendah hati terutama pada pasukan yang dipimpinnya.
\==============
Sementara itu dari perspektif para tentara kerajaan yang sedang berada dari luar perbukitan, menunggu kabar dari pasukan Roderick yang sudah masuk ke dalam cukup lama.
Tuan Roderick, kalau kau tidak mampu menghadapinya sebaiknya kau kabur saja kesini.
Bobs merasa sangat khawatir dengan apa yang terjadi di dalam sana, ia takut Roderick tidak bisa menghadapi musuhnya yang bernama Benedict itu dan akhirnya malah tewas secara mengenaskan.
"Sial! Kalau tuanku gugur, maka itu akan menjadi kesalahanmu bajingan!" ancam Bobs kepada Elias dan Dominic.
"Kenapa jadi salah kami?! Bukankah tadi pagi dia sendiri yang bilang kalau Roderick secara suka rela bersedia untuk memimpin pasukannya sendiri," jawab Dominic.
"Iya! Lagi pula untuk orang sepertinya, gugur di medan perang adalah suatu kehormatan," lanjut Elias.
Sialan! Bobs tidak terima dengan perkataannya itu, tapi ia juga tidak bisa membantahnya.
Ditengah-tengah suasana panas antara Bobs, Dominic dan Elias, tiba-tiba salah seorang ajudannya Bobs yang membawa panah melihat sesuatu yang sangat aneh keluar dari dalam perbukitan itu.
Apa itu? Herannya.
"Tuan lihat di sana! Kenapa ada asap timbul dari hutan itu?!" ucap ajudannya itu.
Setelah mendengarnya. Bobs, Dominic dan Elias sontak kaget dan merasa heran. Kenapa tiba-tiba ada asap yang sangat hitam dan juga lebat keluar dari dalam hutan sebelah kiri itu.