THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 46.1 - Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing (1)



Sadar kalau ada yang menghampirinya, German langsung menarik dua senjata miliknya yang menempel di masing-masing pinggang.


Teknik Suku Makhil memang khas sekali dengan penggunaan senjata di kedua tangannya.


Sambil menarik senjata tersebut, German berkata tanpa melihat siapa lawannya, "Walaupun kalian berhasil menarik pasukanku. Itu semua belum cukup untuk menyebabkan kekalahanku."


Jan yang mendengar perkataan itu merasa kesal sekaligus tegang, ia masih belum merasa percaya diri untuk menghadapi pemimpin lawan yang ada di hadapannya ini, yakni German.


German langsung memosisikan kedua senjatanya di bawah.


...


Jleb! Jleb!


Sementara Hengki dan yang lainnya masih sibuk bertarung. Di pertarungan itu belum terlihat siapa yang paling unggul dan yang paling menderita. Karena sejauh ini pertempuran masih berjalan dengan sangat seimbang.


Tetapi Roderick masih bisa melawan musuh-musuhnya dengan sangat mudah. Sedangkan Hengki harus pintar-pintar mencari posisi supaya tetap jauh dari jangkauan musuh, karena dirinya hanya menggunakan senjata jarak jauh saja.


"Hengki!" Di tengah carut marut itu, tiba-tiba Roderick berpapasan dengan Hengki.


Setelah disapa oleh Roderick, Hengki langsung bertanya kepadanya, "Apa kau baik-baik saja, Paman?"


"Pastinya baik-baik saja,..." Dengan percaya diri, Roderick berkata kalau dirinya baik-baik saja.


Setelah menjawab kekhawatiran Hengki, ia kemudian bertanya, "...Apa lagi yang akan kita lakukan?! Apa kita akan langsung bergerak ke markas musuh?!"


Meski keadaan sangat kacau. Tapi Roderick tampak masih mengandalkan Hengki. Ia percaya kalau rencana yang dipikirkan oleh Hengki masih berjalan dengan mulus.


"Tidak, kita akan tetap bertarung di sini. Akan sangat berisiko kalau kita langsung bergerak ke markas musuh di situasi seperti ini. Karena bisa saja pasukan pemberontak yang lain justru malah mengikuti kita." ucapnya kepada Roderick.


Hengki pikir saat ini mereka harus menahan semua pemberontak agar tidak membantu tuannya yang sedang bertarung dengan Jan.


"Jadi kita serahkan semuanya kepada Jan, yah?" tanya Roderick.


Akhirnya Hengki tahu siapa nama orang yang dipanggil manusia kelaparan olehnya itu.


"Oh.. Namanya Jan. Menurutmu apakah dia bisa mengatasi orang yang ada di depan sana?" tanya Hengki.


Hengki ingin memastikan apakah Jan mampu melawan German.


"Entah... Aku curiga orang yang ada di depan sana adalah orang yang telah membuat Bobs babak belur beberapa hari yang lalu. Akan tetapi kita juga tidak bisa meremehkan kemampuan bertarung anak itu. Karena hanya Alfred saja yang tahu kenapa Jan bisa menjadi kapten di usianya yang sangat muda ini."


Roderick sebenarnya merasa pesimis karena ia curiga orang yang dihadapi oleh Jan adalah orang yang telah membuat Bobs terluka parah. Tapi ia juga tidak mau meremehkan kemampuan bertarungnya Jan.


...


Kembali ke tempat di mana German dan Jan saling berhadap-hadapan.


"Oh? Ada lambang gelombang air di kepalamu. Kau pasti pasukan yang berasal dari Chandax bukan?"


Ketika German melihat ke arah lawannya. Ia sadar kalau di pelindung kepalanya itu ada lambang khas dari Wilayah Chandax.


"Aku adalah Jan!" Ia kemudian memperkenalkan siapa dirinya.


"Hmm... Bagaimana keadaan panglimamu itu?" Seperti biasa, German berusaha untuk memprovokasi lawannya sebelum mulai bertarung.


Dan benar saja, provokasinya itu lumayan membuahkan hasil.


Jan yang mendengar perkataan German langsung sadar kalau orang yang telah membuat panglima tertinggi Chandax babak belur adalah orang yang ada di hadapannya.


"Apa yang kau tanyakan itu?!" Jan yang sadar kalau dirinya sedang di provokasi berusaha untuk tetap tenang. Ia menanyakan maksud dari perkataan German supaya dirinya tidak terlihat seperti orang yang sedang ketakutan.


"Haha... Harusnya kau sadar bukan apa yang sedang kulakukan!"


Setelah diberi pertanyaan seperti itu oleh Jan.


German tahu kalau musuhnya sedang mencoba untuk keluar dari provokasi yang ia berikan.


Mau bagaimanapun Jan yang seorang Kapten II pasti ketakutan ketika tahu orang yang akan berduel dengannya pernah membuat panglimanya babak belur.


"Jangan banyak bicara bajingan!" kesal Jan.


Meskipun sedang ketakutan, tetapi Jan masih bisa berpikir dengan jernih. Ia dari tadi berusaha terus untuk tidak terpancing dengan omongannya German.


Meski Jan terus berusaha untuk menghindar.


Tapi German masih terus mencoba untuk menjatuhkan mental Jan.


Ia bilang Jan harusnya sadar kalau musuhnya memiliki kekuatan yang sangat hebat. Tapi kalau dipikir-pikir apa yang diucapkan oleh German juga bisa di balikan ke dirinya.


Karena di sini German juga tidak tahu seberapa kuat lawan yang ada di hadapannya itu.


Ketika German masih tidak mau untuk menutup mulutnya. Jan tampak menjadi sangat kesal, ia menatap German dengan sangat tajam.


Tahu kalau Jan masih belum jatuh mentalnya dan juga sulit untuk di provokasi. German membalas tatapannya itu dengan tajam juga.


"Hentikan! Omong kosongmu itu bajingan!" teriak Jan sambil menggerakkan kudanya dengan sangat cepat ke arah German.


Melihat Jan menghampirinya dengan sangat cepat. German langsung mengangkat kedua senjatanya itu.


German terlihat seperti sedang akan terbang karena ancang-ancangnya mirip sekali dengan burung yang lagi mengepakkan sayapnya.


Ketika sudah semakin dekat, Jan langsung mengangkat pedangnya jauh ke belakang.


Kalau kau ingin cepat mati, maka aku tidak punya pilihan lagi. pikir German.


...


Dari kejauhan. Hengki dan Roderick bisa melihat kalau Jan dan musuhnya itu sudah mulai bertarung. Mereka berdua terlihat tegang ketika menyaksikan hal tersebut.


...


Hyahhh! JRENNNNG!


Dan tiba-tiba saja hal yang di luar dugaan terjadi.


Ketika Jan menyerang German dengan sekuat tenaga. German mampu menahan serangannya tersebut, akan tetapi ia terpental jauh ke belakang. Dan hal ini membuat German dan semua orang yang menyaksikan kejadian itu kaget.


Saking jauhnya terpental, German bahkan sampai hampir terjatuh dari kudanya.


Tentara pemberontak dan pasukan kerajaan yang menyaksikan peristiwa itu langsung menganga.


Ktuplak! Ktuplak Mberr!


Kuda yang ditumpangi German hampir hilang kendali.


"Yang tidak tahu kekuatan lawannya itu adalah kau sendiri!..." ucap Jan sesaat setelah German kembali bangkit.


Dan ketika German mulai merasa panik. Jan mengacungkan pedang ke arahnya sambil berkata, "Aku akan menjelaskan siapa yang paling kuat sesaat setelah pedang ini menancap di dalam tengkorakmu itu!"


\= = = = = = = = = = = = = =


Sementara dari kejauhan. Dominic dan pasukan Attica yang lainnya sedang mengalami gundah gulana.


"Apa yang sedang terjadi di depan sana?!" tanya Elias dengan nada kesal.


"Brengsek! Aku tidak bisa melihat apa-apa karena semuanya tertutup oleh debu ini!" marah Dominic.


Pasukan Attica yang masih diam di belakang merasa sangat geram, karena penglihatan mereka tertutup oleh debu hitam yang semakin menghalangi pandangannya.


Kehadiran mereka ini benar-benar tidak berguna sama sekali.


Pasukan Attica itu seperti patung saja dalam pertempuran kali ini.


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


(っ^▿^) Terima Kasih sudah membaca episode 45.2 yang berjudul 'Jan, German dan Dendamnya Masing-Masing' ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard. :v