THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 37 - Darah



Slash!


Benedict melancarkan serangan pamungkasnya kepada Ajax.


Meski serangannya itu berhasil melukai dadanya, tetapi Ajax masih bisa menghindar ke belakang dengan refleksnya yang sangat bagus, jadi serangannya tadi tidak membuat ia mengalami luka yang cukup dalam hingga menyebabkan luka yang sangat fatal.


Namun karena ia dari tadi terus menerus menerima gempuran dari musuhnya, Ajax tampak sudah tak berdaya lagi.


Kemungkinan besar di serangan berikutnya ia sudah tidak bisa menahan dan menghindarinya lagi. Bahkan sepertinya Ajax akan kehilangan kesadarannya sebentar lagi melihat kini ia sudah sempoyongan cukup parah dengan darah yang mengucur dari sekujur tubuhnya.


Bruk!


Dan benar saja, Ajax langsung terkapar tak berdaya di hadapan Benedict.


"Selamat tinggal."


Melihat Ajax sudah terkapar di hadapannya, Benedict tanpa pikir panjang lagi akan langsung mengeksekusi mati lawannya tersebut.


Cleb!


Namun sial baginya. Ketika ia sedang mengacungkan senjatanya untuk membunuh Ajax, tiba-tiba anak panah menancap tepat di paha bagian kirinya.


Luka yang ditimbulkan dari anak panah itu sangatlah dalam. Tapi hebatnya Benedict tidak menjerit sama sekali, namun meski begitu tetap saja kesempatannya untuk mengeksekusi mati Ajax jadi sirna, karena kini ternyata ia sudah dikepung oleh pasukan kerajaan dengan jumlah yang sangat banyak.


...


Sementara Roderick yang masih berlari di barisan paling depan tiba-tiba sadar kalau orang yang dari tadi menumpang di belakangnya yakni Ajax tiba-tiba menghilang.


Ia masih belum mengetahui kalau Benedict dari tadi sedang mengobrak-abrik tentaranya yang ada di barisan belakang dan Ajax ketika mengetahui hal itu tanpa pikir panjang lagi langsung loncat dan bergerak ke belakang sana.


Namun, karena situasi di belakang semakin menggila, salah satu tentara yang ada tepat di sebelah Roderick seketika sadar ketika mendengar suara gemuruh yang berasal dari belakang, ia sadar kalau sepertinya ada yang tidak beres dengan pasukan yang berada di barisan belakang sana.


"Suara ribut apa itu?" tanyanya kepada pasukan yang ada tepat belakangnya.


"Hei! Ada ribut apa di sana!?"


Orang yang ditanyai itu juga ternyata tidak tahu ada ribut apa di belakang, ia lantas meneriaki orang-orang yang ada di belakangnya supaya memberikan informasi apa yang sedang terjadi di sana.


Roderick yang melihat ada suara ribut dari para tentara yang ada di sampingnya lantas berhenti dan bertanya, "Sedang meributkan apa kalian?"


"Entah Tuan, tapi sepertinya ada yang tidak beres di belakang sana." jawab salah satu tentaranya.


Ketika mereka semua kebingungan dengan keributan apa yang terjadi tiba-tiba saja salah satu tentara yang berada di barisan belakang berteriak, "Kapten Ajax telah tumbang! Kapten Ajax telah tumbang!"


Teriakan itu lantas membuat tentara yang lain membeku untuk sesaat, Roderick juga terlihat panik ketika mendengar teriakan itu.


"Apa? Apa yang terjadi?!" tanya Roderick.


"Pemimpin lawan berhasil menerobos barisan belakang kita, dan tiba-tiba saja kapten Ajax muncul untuk menghadapinya."


Jawab salah seorang tentara setelah mendengar informasi dari tentara lain yang ada di belakang.


Roderick diam sesaat setelah mendengar kabar tersebut, ia memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil untuk menghadapi kejadian ini.


Ia lantas menarik nafas dan langsung membuangnya supaya ia bisa lebih tenang.


Setelah lumayan tenang, Roderick memejamkan matanya sebentar dan langsung berkata, "Kalian segera pergi ke bukit tandus itu. Aku akan mengurus terlebih dahulu hal yang ada di barisan belakang sana."


Dengan nada tegas, Roderick memberi perintah kepada anak buahnya agar segera pergi ke bukit sana supaya mereka bisa aman dari kobaran api yang semakin lama semakin menjalar ke seluruh area hutan yang ada.


Sementara Roderick berniat untuk menghadapi musuh yang sedang mengobrak-abrik pasukannya yang ada di belakang sana.


"Tidak Tuan! keselamatan anda adalah prioritas kami," sanggah tentaranya yang menolak perintah Roderick.


"Sudah! Laksanakan apa yang sudah kuperintahkan," jawab Roderick.


"Tapi kami sudah diperintahkan oleh tuan Bobs untuk menjamin keselamatan anda hingga pertempuran ini selesai," sanggahnya lagi.


Roderick lantas menatap tajam mata tentara yang dari tadi menahan dirinya itu untuk pergi ke belakang sambil berkata, "Perintah dari orang yang memimpin di medan perang jauh lebih penting dibanding apa pun itu bahkan perintah raja sekalipun tidak berarti sama sekali kalau sudah ada di medan perang."


Secara prinsip apa yang dikatakannya ini memang masuk akal. Karena yang tahu persis apa yang harus para pasukan lakukan ketika sedang berperang adalah pemimpin yang berada langsung di medan perang tersebut bersama dengan pasukan yang dipimpinnya.


Mendengar hal itu, tentara yang dari tadi menahannya untuk pergi langsung diam tak tahu harus menyanggah dengan perkataan apa lagi, karena ia tahu kalau kini orang yang harus ia patuhi adalah Roderick.


Tanpa berlama-lama lagi, Roderick langsung bergerak ke belakang bersama beberapa ajudannya yang disiapkan khusus untuk gelombang ke-2 ini.


Sementara yang lain melanjutkan pergerakannya untuk berlari ke arah bukit tandus yang sedang mereka tuju.


...


Sedangkan kini situasi yang ada di barisan belakang sedang kisruh sekali.


Benedict yang baru saja berhasil membuat Ajax terkapar tiba-tiba mendapatkan serangan dari pasukan kerajaan.


Ia ternyata sudah dikerubungi oleh pasukan kerajaan yang dari tadi sedang menunggu momen agar bisa menyerang Benedict dengan tepat sasaran sehingga tidak meleset ke arah kaptennya Ajax.


Setelah melihat Benedict bertarung dengan begitu beringas, para tentara kerajaan jadi tidak berani maju sendiri-sendiri.


Mereka langsung berlari ke arah Benedict secara bersamaan untuk mengeroyoknya langsung.


Melihat dirinya akan di keroyok oleh pasukan kerajaan, Benedict tampak tidak gentar padahal ia sudah sempoyongan akibat luka yang ada di pahanya.


Hyahh!


Slash!


Ketika ada pasukan kerajaan yang berusaha untuk menerkam punggungnya dari belakang dengan meloncat ke arah Benedict.


Ia dengan mudah langsung membalikkan badan dan seketika membuat tubuhnya terbelah menjadi 2 bagian.


Swoosh! Swoosh!


Tak lupa dari jauh pasukan panah menembak anak panahnya ke arah Benedict secara bersamaan.


Clank! Clank!


Lagi dan lagi, tidak mudah untuk mengalahkan pemimpin dari kubu pemberontak ini, karena ternyata orang ini masih bisa menangkis semua anak panah yang mengarah tepat kepada dirinya.


Namun tampaknya pengeroyokan dari pasukan kerajaan perlahan membuahkan hasil.


Karena Kaki yang terluka cukup dalam itu tampak sudah tidak kuat lagi untuk menopang tubuh besarnya Benedict.


Terlihat kakinya sudah bergetar dengan begitu hebat.


Akan tetapi Benedict masih berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan semua musuh yang ada di hadapannya saat ini.


Slash! Slash!


Satu persatu tentara kerajaan yang mendekatinya langsung tewas seketika, bahkan tak jarang ia langsung menewaskan 2-3 tentara secara sekaligus hanya dalam satu serangan.


Slash! Slash!


Meskipun ia masih bisa bertahan, Tapi pasukan kerajaan yang ia hadapi ini tampak seperti tidak ada habisnya karena semakin lama ia bertarung jumlah musuh yang datang justru malah semakin banyak.


Dengan nafas yang sudah terengah-engah Benedict mulai merasa pusing, pandangannya lama kelamaan menjadi buram.


Tak jauh dari tempat Benedict bertarung. Roderick terlihat menghampiri kerumunan tersebut sambil memacu kudanya dengan sangat kencang.


Roderick melihat banyak sekali darah yang mengalir di kaki kuda yang ia tumpangi itu.


Semakin lama darah yang mengalir itu semakin banyak.


Roderick merasa kalau lawan yang sedang dihadapi pasukannya ini bukanlah lawan yang sembarangan.


Sementara Ajax yang telah terkapar tak berdaya terlihat sudah berlumuran darah. Bahkan sebagian badannya sudah tertutupi oleh darah yang menggenang.