THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 45 - New Journey Begins



Setelah beristirahat sebentar selama satu malam. Kini matahari sudah kembali terbit, hari di mana perang besar antara Kubu Pemberontak yang dipimpin Hubert akan mempertahankan Kota Blum dari gempuran yang dilakukan oleh kubu kerajaan yang dipimpin oleh Dominic dan Bobs akan terjadi.


Dipastikan ribuan nyawa akan terlibat dalam pertempuran ini, dan kemungkinan besar dampak dari perang ini akan banyak menjatuhkan korban.


Langit sangat cerah pagi ini. Jika kita hanya melihat ke atas saja, maka kita akan terpesona sekaligus merasa nyaman karena angin pagi terasa sangat menyejukkan. Kicauan burung pun masih terdengar di pagi ini.


Akan tetapi ketika kita menurunkan sedikit pandangan kita. Maka yang akan kita lihat adalah sebuah ironi. Dari luar area kota terlihat ribuan manusia sedang berbaris menunggangi kudanya masing-masing sambil memegang senjata tajam di tangannya.


Semua orang dari kubu kerajaan sudah siap untuk menggempur Kota Blum, mereka hanya tinggal menunggu aba-aba dari atasannya saja.


Ajax yang masih diperban lengannya, tampak juga ikut serta untuk memimpin unitnya yang masih tersisa.


Tanpa pelindung kepala, rambutnya kemudian tertiup oleh hembusan angin pagi. Dirinya memandang jauh dengan tatapan tajam ke arah Kota yang biasa dirinya kunjungi itu.


Ajax dendam kepada para pemberontak, karena kota tempatnya tumbuh besar sudah dibuat luluh lantah oleh pemberontak.


"Tentaraku!" teriak Ajax, ia sepertinya akan berbicara kepada pasukannya sebelum perang dimulai.


Bawahannya itu kemudian melihat ke arah Ajax.


"Keikutsertaan kita adalah bukti kalau pelindung Stabia belum sepenuhnya dikalahkan,..."


Ketika AJax berpidato, semua orang yang menjadi bawahannya terkejut, mereka berucap di dalam hatinya, 'Sejak kapan Kapten memberikan semangat kepada kita?.' 'Ini sangat langka...'


"...Dan hari ini, kita! Pribumi asli dari Wilayah Stabia, tidak boleh menjadi beban dan harus berjuang dengan sangat keras. Seperti yang kalian tahu, selama ini aku berpikir kalau aku bukanlah orang yang layak disebut sebagai kapten oleh kalian, Tapi sekarang ada sesuatu yang ingin kukejar dan aku harap kalian tetap berada di belakangku..." Sebelum mengakhiri pidatonya, Ajax memalingkan wajahnya ke arah pasukan yang ada di belakang.


Ia berkata, "...Hari ini akan menjadi awal perjalanan kita!"


Semua pasukannya tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh kaptennya Ajax. Tapi mereka semua sadar, kalau Ajax yang selama ini terlihat selalu mengalami dilema sudah berubah, sepertinya kini kapten mereka sudah menemukan jalan mana yang akan dirinya lalui. Dan sudah menjadi tugas mereka sebagai bawahannya untuk ikut membantu Ajax.


'Kau sudah berubah tuan!' 'Akhirnya dia menemukan apa yang menjadi tujuannya sekarang!' Pikir para pasukan Ajax.


Melihat tentaranya ikut semangat dengan apa yang ia katakan, Ajax kemudian mengatakan sambil tersenyum, "Maaf, tapi aku benar-benar membutuhkan kalian untuk mewujudkannya."


Tentaranya kemudian ikut tersenyum juga, mereka lantas bersorak sambil mengacungkan senjatanya.


Woahh! Woahhh!


...


"Ada apa? Orang Stabia itu sepertinya sedang bersemangat." ucap salah satu Kapten IV dari pasukan Attica.


Barisan dari Pasukan Attica itu merasa heran, kenapa orang Stabia yang dipimpin oleh Ajax itu terlihat sedang bersemangat akan suatu hal.


...


"Barisan kelompok Stabia itu tampak berada dalam suasana hati yang berbeda dari biasanya," ucap William yang sedang berada di samping Bobs.


Barisan Pasukan Chandax juga ikut heran dengan semangat dari Pasukan Stabia.


Sementara Hengki yang ada di antara barisan Chandax, menyambut positif semangat yang di pertontonkan oleh Ajax dan pasukannya itu.


Kini Hengki terlihat agak berbeda, tampak ia sedang memegang sebuah benda yang dibalut oleh kain. Di pinggangnya juga terlihat kantong kecil yang berisi sesuatu.


"Paman, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Hengki kepada Roderick.


\= = = = = = = = = = = = = =


Ktuplak! Ktuplak!


Sedangkan dari dalam kota, kubu pemberontak tampak sudah siap untuk menghadapi serangan yang sebentar lagi akan dilakukan oleh kubu kerajaan.


Mereka semua sudah berada pada posisinya masing-masing dengan sangat teratur.


"Tuan Hubert!" teriak salah satu orang yang sedang menghampirinya dengan kuda yang ia tumpangi.


Hubert kemudian menatap ke arahnya.


"Pesan dari pasukan pengintai! Pasukan kerajaan sudah membuat barisan di luar sana!" lapor orang tersebut.


Jadi mereka benar-benar tidak mau buang-buang waktu ya, pikir Hubert.


Hubert sadar kalau kubu kerajaan tidak mau membuang waktu terlalu banyak.


"Baiklah, kalau begitu kita sambut mereka dengan sangat baik!" perintah Hubert kepada para Kapten yang ternyata sedang ada di belakangnya.


"Siap!" sautnya.


...


Setelah beberapa saat berlalu, tibalah waktu perang dimulai.


Ktuplak! Ktuplak!


Di luar dugaan, sebagian dari pasukan pemberontak keluar untuk menyerang terlebih dahulu kubu kerajaan. para pemberontak yang keluar itu di pimpin oleh si kapten muda, Elliot Lascaris dan Kapten yang sedang berduka, German Rainer. Mereka berdua memimpin tentara dengan jumlah kurang lebih 30.000 personel.


Entah kenapa Hubert sering menempatkan sebagian pasukannya di depan untuk menghalau serangan musuh. Kemungkinan ia menganggap bawahannya itu sebagai pion miliknya.


(Note: Jumlah personel yang tersisa dari masing-masing kubu kurang lebih. 35.100 dari kubu kerajaan. 52.000 dari kubu pemberontak.)


Haaaa!


Jawab pasukannya dengan berteriak.


"Panglima Dominic! Ada Masalah!" Teriak ajudannya dengan sangat panik kepada Dominic.


Ketika Dominic menoleh ke arahnya, Si ajudan itu lantas menunjuk ke suatu sudut, sambil berkata, "Ada sebuah barisan yang mengabaikan perintah dan menyerang ke depan!"


Ktuplak! Ktuplak!


"Apa!" marah Dominic.


ketika ia melihat pelindung kepala dari tentara itu, ia sadar kalau yang mengabaikan perintahnya adalah.., "Satuan Stabia?!"


Beberapa saat kemudian, pembawa pesan melapor kepada Dominic.


"Panglima Dominic! Aku punya laporan dari Tentara Stabia yang dipimpin Ajax Traverse! Satuan Stabia sekarang akan bertindak sendiri sebagai satuan independen. Dan mereka akan membuat keputusannya sendiri!" lapornya.


"Apa yang kau katakan!" Dominic lantas kaget sekaligus geram setelah mendengar laporan tersebut.


Semua orang menganggap orang Stabia saat ini sudah menjadi gila, dengan gegabahnya jumlah pasukan yang sangat sedikit itu malah maju duluan untuk menghadapi barisan yang jumlahnya jauh lebih banyak dari mereka.


"Lihat! Mereka sudah membuat kita bisa membunuhnya lebih mudah dengan maju seperti itu!" teriak salah satu kapten unit dari kubu pemberontak.


"...Kelilingi mereka dan habisi setelahnya!" perintahnya.


Melihat ada satu kelompok dari kubu kerajaan bergerak menghampirinya, si kapten itu kemudian berniat untuk mengelilingi Ajax dan pasukan yang dipimpin olehnya.


Srett! Srett!


Karena adrenalinnya sedang memuncak, Ajax menjadi sangat beringas dan percaya diri untuk menggunakan pedangnya. Meski tangannya masih cedera.


Sambil bergerak dengan sangat cepat, ia bisa menebas semua lawan yang mendekatinya.


Tentara yang dipimpin olehnya juga tak kalah semangat. Melihat kaptennya berjuang seperti itu, adrenalin mereka pun menjadi ikut membara.


Seketika kekuatan yang sepertinya di kekang dalam diri mereka selama ini menjadi meluap-luap.


Tentara Pemberontak yang menyaksikan itu seketika menjadi sangat gemetar.


Srett! Srett!


Akhirnya setelah menebas banyak musuhnya, Ajax dan pasukannya berhasil menembus lapis pertama dari barisan pemberontak.


"Tentaraku! Menukik ke kanan!"


Setelah berhasil keluar dari lapisan pertama musuh, Ajax memerintahkan pasukannya untuk bergerak ke kanan.


Haaaa! teriak pasukannya.


Ketika mereka mulai belok ke arah kanan, Ajax kemudian melihat satuan yang kemungkinan besar adalah pemimpin dari kubu pemberontak.


"Tuan German, ada satu unit musuh yang maju ke arah kita!"


Dan ternyata benar, unit yang didatangi oleh Ajax adalah unit dari pasukan German Rainer.


"Apakah bajingan itu yang telah membunuh Benedict?!"


Dengan tatapan menyeramkannya, German bertanya, apakah unit yang menghampirinya itu adalah unit yang sama dengan yang telah membunuh Benedict.


...


"Tuan sepertinya pasukan dari tuan German sedang diserang oleh lawan!" ucap ajudan Elliot.


Sementara dari sisi Elliot, mereka sedang menyaksikan perjuangan Ajax dan pasukannya yang sedang mengarah ke unitnya German.


"Oh? Kenapa mereka melakukan strategi seperti itu? Sial bagi mereka karena telah bergerak ke arah German yang sedang berduka cita atas kematian Benedict. Apa yang orang itu lakukan adalah bunuh diri saja." ucap Elliot.


...


Sementara dari kejauhan Hengki yang menyaksikan Ajax bergerak seperti itu menjadi lumayan tegang.


Roderick yang melihat Hengki tegang seperti itu menjadi sangat khawatir, karena ini adalah pertama kalinya ia melihat Hengki berekspresi sampai keringatan begitu.


(Jumlah korban di episode ini : -+200)


{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}


*(っ^▿^) *Terima Kasih sudah membaca episode 45 yang berjudul 'New Journey Begins*' ini.


Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.


Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.


(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ à plus tard.