
Tak! Tak! Tak!
"...Oooh, Oooh You been in this fight, I can see it in your eyes, like Uhmm Uhmmm Uhm Uhm Uhm, Nanana na nana na nana na..."
Sambil diiringi ketukan jari Hengki bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosannya.
Saat ini ia tidak tahu harus melakukan apa, pada pagi buta ini Hengki terlihat sedang duduk menyender di pinggir tembok koridor yang berada tepat di sebelah kamar yang disiapkan oleh pelayan Naupaktos untuknya beristirahat. Kamarnya ini terletak di bangunan berlantai dua yang lumayan besar dan Hengki menempati kamar yang ada di lantai 2 paling ujung.
"Na Nana Naaa..." Hengki melanjutkan nyanyiannya.
Ketika Hengki tengah bersantai, ia menengok ke bawah yang langsung mengarah ke jalanan yang biasa dilalui oleh para tentara Attica berlalu lalang, tiba-tiba jalanan itu tampak sangat ramai, area luar kastel yang tadinya gelap tiba-tiba menjadi terang, obor yang terpasang di sekitar jalan menuju gerbang masuk tampaknya baru saja dinyalakan.
"Mereka sudah sampai."
Pada saat Hengki masih penasaran dengan keadaan yang sedang terjadi, tiba-tiba Roderick datang menghampirinya dan berkata kalau 'mereka sudah sampai'.
Sementara itu di luar gerbang, Bobs dan pasukannya sedang bergerak menuju Kastel Naupaktos.
Ribuan pasukan yang ada di bawah perintahnya berbaris begitu rapi dan berjalan dengan sangat terbit hingga membuat suara hentakan kakinya terdengar begitu kencang.
Ketika Bobs melihat kalau kastel yang ditujunya sudah tampak di depan mata, ia lantas tersenyum sambil menaruh badan tombak miliknya di pundak sambil berkata, "Pemandangan yang sangat menakjubkan," ucapnya sambil tertawa.
Ia begitu antusias menyambut peperangan yang akan dihadapinya.
"Yeahhh!" Teriak pasukannya ketika mereka melihat gerbang kastel sudah ada di depan matanya.
Misi ini, yaitu memberantas para pemberontak, untuk mengamankan Wilayah Attica ada 2 opsi yang bisa diambil, yakni bertahan sampai para pemberontak itu datang atau menyerang duluan ke Wilayah Stabia yang telah dikuasai oleh kubu pemberontak.
Wilayah Attica memiliki total personel sebanyak 35.000 yang siap untuk bertempur ditambah dengan bantuan dari Zeno sebanyak 20.000 personel dengan begitu total ada 55.000 pasukan, tujuannya adalah untuk menahan serangan para pemberontak bahkan kalau bisa menghentikannya, apalagi bagi Bobs misi ini sangat penting karena jika Attica jatuh ke tangan pemberontak pelabuhannya bisa langsung mencapai Wilayah Zeno dengan cukup mudah.
"Yeahh!" Para pasukannya itu masih lanjut berteriak.
Ketika mengetahui kalau pasukan penolongnya telah tiba, Nasos, Josh dan para ajudannya beserta pasukan yang ada membuka gerbang dan menyambut kedatangan pasukan yang dipimpin oleh panglima tertinggi Wilayah Chandax, Bobs Pintarr.
"Hahaha... aku tahu kau akan membantuku, Zeno Spanner! Dia benar-benar tahu apa yang harus dilakukannya!" ucap Nasos sambil tertawa lepas.
Semua yang mendampinginya juga ikut tertawa bersama, mereka merasa sangat lega pasukan yang ada untuk mempertahankan Wilayahnya itu sekarang sudah bertambah sebanyak 20.000 personel.
\==============
Pada waktu yang sama di Wilayah Stabia, Gui Champernon yang sedang didampingi penasihatnya Hubert de Hatters tengah memimpin rapat bersama para kapten dari kubu pemberontak salah satunya yang hadir yaitu si bandit Redjack.
"Meskipun mereka dibantu oleh Zeno Spanner, anda tetap ingin menyerang Attica besok, Tuan Gui?" tanya salah satu kapten dengan perawakan yang gemuk itu kepada Gui.
Sepertinya Gui berencana menyerang Attica meskipun ia tahu kalau Attica baru saja mendapatkan sokongan dari Zeno dengan ribuan pasukannya itu, ia bersikukuh ingin menyerang Attica besok, mengingat sudah tidak ada lagi bangsawan atau orang yang ada hubungannya dengan kerajaan di Wilayah ini.
Sepertinya bawahan yang dipimpin Gui ini sedang merasakan ketidakpercayaan diri ketika mereka tahu kalau Attica dibantu oleh Doux Wilayah Chandax Zeno apalagi yang dikirim untuk memimpin pasukannya itu adalah panglimanya langsung yakni Bobs.
Mendengar semua keluhannya itu, Gui hanya terdiam sambil memejamkan matanya, ia sepertinya tidak tahu apa yang harus dilakukan pada situasi seperti ini, tapi ia tetap ingin menaklukkan Wilayah Attica dengan cepat.
"Hentikan! Kalau kita hanya diam saja di sini, justru tentara yang ada di Attica akan menyerbu kita terlebih dahulu! apa kalian tidak takut akan hal itu?"
Hubert lantas menyanggah semua keluhan yang dilontarkan oleh para kapten yang ada itu, ia mengingatkan kalau mereka diam terlalu lama maka pasukan Attica yang sekarang jumlahnya bertambah banyak dengan percaya diri bakal menyerang mereka terlebih dahulu
Ketika mendengar pernyataannya itu, semua yang ada di sana lantas terdiam, mereka pikir ada benarnya juga apa yang dibilang oleh si kurus Hubert ini.
"Justru jika kita mengambil langkah lebih awal dengan menyerang Wilayah Attica kita bisa mendapatkan keuntungan yang akan memudahkan peperangannya nanti," ucap Hubert.
Mereka yang mendengarnya penasaran keuntungan apa yang dimaksud oleh Hubert ini.
Ketika melihat respons yang diberikan oleh para kapten yang ada, Hubert lalu melirik salah satu pelayan yang bertugas untuk mengambil peta sebagai kode untuk menyiapkan peta kerajaan bagian selatan.
Setelah peta yang ukurannya cukup besar itu sudah di hamparkan di atas meja, Hubert bersiap-siap menjelaskan apa yang ia maksud tadi.
Semua yang ada di ruangan itu kemudian berdiri untuk memperhatikan penjelasan yang akan diberikan oleh Hubert
"Kalian lihat ini..." Hubert lantas melingkari area yang menjadi Wilayah Attica dan Stabia, dalam peta itu terlihat Stabia ada di atasnya Attica.
"Jika kita menyerang terlebih dahulu maka kita akan langsung menguasai daratan bernama Prousos ini atau setidaknya kita bisa mengamankan area Bukit Avis ini," terangnya sambil menandai Daratan Prousos yang ada di area paling atas Wilayah Attica yang berbatasan langsung dengan Bukit Avis yang ada di area paling bawah Wilayah Stabia.
"Tunggu, bukankah kalau kita bertempur di area terbuka seperti ini kemungkinan besar kita akan kalah, karena mau bagaimanapun senjata yang dimiliki oleh pasukan Attica dan Chandax jauh lebih canggih dibanding yang kita pakai," bantah kapten yang berperawakan gemuk itu sambil menunjuk Daratan Prousos.
Sebenarnya bukan hanya senjata yang lebih modern saja yang ditakutkan oleh mereka, tapi pengalaman bertempur juga menjadi masalah penting kalau mereka menghadapi pasukan kerajaan di peperangan terbuka.
"Maka dari itu setidaknya kita harus mengamankan Bukit Avis ini, kalau kita tidak bergerak dengan cepat bisa-bisa mereka menguasai bukit ini, dan ketika mereka menguasainya, maka habislah kita."
Hubert menerangkannya sambil menyoret area Bukit Avis lalu menarik lurus melewati area Kota Blum menuju Kastel Stabia tempat mereka diskusi saat ini.
"Apa yang diomongkan olehnya itu betul, kelemahan kita adalah area terbuka sementara kelemahan mereka adalah area tertutup jadi kalau kalian terlalu takut menghadapi pasukan Attica dan Chandax di Prousos maka kita harus menempatkan pasukan kita terlebih dahulu di sini. Apa kalian mengerti?"
Gui akhirnya buka suara, ia berusaha untuk meyakinkan tekad bawahannya ini supaya tidak gentar menghadapi musuh yang akan mereka hadapi, Gui lalu menyuruh mereka untuk menaruh pasukan yang mereka pimpin di Bukit Avis secepatnya karena akan bahaya jika pasukan Attica menguasai area itu terlebih dahulu. Ia kemudian mengakhiri kata-katanya sambil melirik ke arah Redjack, itu adalah kode kepadanya kalau orang yang paling menguasai area tertutup seperti Bukit Avis ini ia;ah Redjack jadi ia ingin Redjack bertarung dengan mengerahkan seluruh kemampuannya yang ada.
"Baiklah, saya akan melaksanakannya Tuan Gui," jawab si kapten gemuk yang dari tadi membantah terus.
"Siap, kami juga akan bertarung dengan sangat serius, maaf jika tadi kami sempat merasa ragu, Tuan Gui." Kapten yang lain kemudian menyetujui apa yang diperintahkan oleh ketuanya itu.
"Maafkan saya juga," tunduk kapten gemuk tersebut.