
Setelah lumayan dalam memasuki area perbukitan, Roderick beserta pasukannya hampir mendekat ke bukit yang menjadi target mereka.
Dan dari sisi lain juga Benedict sudah melihat keberadaan pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Roderick.
"Itu mereka?!" teriak ajudan Benedict yang berdiri di sampingnya itu ketika melihat gerombolan pasukan kerajaan muncul dari balik pepohonan.
Salah seorang pemberontak yang lain langsung melihat jauh ke arah pasukan itu, ketika ia mulai melihat jelas siapa yang ada di paling depan dalam memimpin tentara itu sontak ia terkejut dan berkata, "Itu adalah Roderick yang terkenal! Yang memimpinnya adalah seorang pahlawan dari Chandax, Tuan Benedict!"
Setelah mendengar ucapan dari salah satu personelnya yang terkejut kalau orang yang memimpin pasukan kerajaan adalah salah satu orang terkenal dari Wilayah Chandax, Benedict langsung tergugah dan sangat bersemangat, ia langsung menyuruh pasukannya untuk bersiap.
Benedict mengangkat senjatanya dan berteriak, "Semuanya musuh sudah terlihat! Bersiaplah!"
"Siap!" Balas pasukannya.
Teriakan itu lantas terdengar sedikit ke tempat di mana Roderick dan pasukannya berasal. Sialnya pasukan kerajaan tidak bisa melihat dengan jelas dari mana para pemberontak itu berteriak, Roderick dan para tentara kerajaan sontak menghentikan langkah kudanya untuk bersiap menyambut serangan musuh.
"Semuanya! Hati-hati! Bersiap menerima serangan, kita tidak tahu dari mana mereka berteriak tapi sepertinya mereka sudah tahu keberadaan kita!" perintah Roderick kepada pasukannya.
"Siap!"
Setelah mengetahui pasukan kerajaan berhenti untuk menyusun formasi bertahan, tanpa pikir panjang Benedict memerintahkan pasukannya.
Mereka tidak akan menyerang kita terlebih dahulu. Haha... sepertinya orang yang bernama Roderick itu cenderung menggunakan otaknya. pikir Benedict.
Benedict ingat kalau kemarin ketika pasukan kerajaan menyerang bukit Avis, orang yang memimpinnya (Cassius Gardner) tanpa pikir panjang langsung berteriak dan dengan sengaja membangkitkan amarah para pemberontak. Namun kini ia justru dihadapkan dengan orang yang memimpin pasukannya dengan sangat teliti.
"Semuanya! Kita serang mereka!" teriak Benedict untuk memerintahkan pasukannya turun dan menyerang pasukan kerajaan yang sudah terlihat di depan matanya.
Seketika Ajax yang berada di samping Roderick melihat gumpalan asap dari arah kiri tempat di mana bukit yang mereka tuju berada. Setelah beberapa saat ia sadar kalau gumpalan asap itu berasal dari hentakkan kuda yang ditumpangi oleh para pemberontak.
"Itu mereka! Mereka berlari ke arah kita!" teriak Ajax.
Roderick dan semua tentaranya lantas melihat ke arah kiri, dan benar saja para pemberontak itu ternyata sedang menuju ke arahnya dengan sangat cepat.
"Semuanya ambil posisi bertahan!" perintah Roderick.
"Sial! Kalian semua bersiap untuk menembakkan panahnya!" perintah AJax kepada pasukan yang semuanya menggunakan panah itu untuk bersiap menunggu aba-abanya.
Seluruh pasukan kerajaan yang membawa tameng langsung mengambil posisi bertahan di paling depan, mereka menutup seluruh tentara yang tak membawa tameng untuk berlindung di belakang.
"Semuanya bersiap!" teriak Ajax kepada bawahannya.
Ajax bersiap memberikan aba-aba kepada pasukannya untuk menembak panah ke arah kiri depan di mana musuh berada.
Setelah semua selesai mengambil anak panahnya masing-masing, AJax bersiap untuk memberikan aba-abanya lagi.
Tapi sebelum itu, sepertinya ada yang unik dari anak panah yang dipakai oleh pasukan AJax, uniknya adalah terlihat ada kantong kecil yang terikat erat di setiap anak panahnya itu.
"Semuanya... bidik!" Perintah Ajax.
Mereka lantas memasang anak panah pada stringnya masing-masing. Mengangkat busur jauh ke atas dan langsung menariknya dengan menggunakan 3 jari.
Ketika melihat pasukannya sudah menahan busur dan mulai membidik, Ajax langsung mengangkat tangannya dan berteriak, "Tembak!"
Swoosh! Swoosh! Swoosh!
Pasukannya dengan kompak melepaskan tembakan ke arah lawan.
Para pemberontak yang sedang berlari kencang dengan kudanya itu dibuat terkejut dengan anak panah yang terbang menghampirinya.
Clank! Clank!
Beruntung mereka memiliki refleks yang sangat bagus. Dari banyaknya anak panah itu hanya sedikit yang berhasil menembus badan pasukan pemberontak dan itu pun hanya mengenai area yang tidak mengancam nyawa, banyak anak panah yang sekedar menyerempet dan yang kena juga hanya melukai kaki saja dengan luka yang tidak cukup dalam.
"Haha... Mereka lebih payah dari yang kita lawan kemarin."
Ejek para pemberontak itu.
Wajar saja serangan panahnya itu tidak memiliki akurasi yang bagus, karena pasukan yang ada di bawah perintah Ajax pada dasarnya bukanlah pasukan pemanah, mereka hanya sekedar tahu dasarnya saja mengenai panahan.
Namun, meski serangan itu dianggap gagal, akan tetapi kantong kecil yang terikat di anak panah itu berhasil terbuka ketika anak panahnya menancap di pohon atau terjatuh di tanah dan ternyata di dalamnya terdapat sebuah cairan yang lumayan membasahi pepohonan dan tanah yang ada di sekitar sana.
Hal ini sialnya tidak disadari oleh para pemberontak. Mereka telah terlena karena serangan panah tadi mereka anggap sebuah serangan bodoh yang sudah gagal total.