THE CONQUEROR

THE CONQUEROR
Episode 27 - Gelombang I



"Lihat di sana semuanya! Pasukan kerajaan sudah mendekat!" Teriak salah satu ajudan yang ada di bawah perintah Benedict.


Dari salah satu tebing tempat Benedict dan pasukannya bersiaga, ia melihat pasukan kerajaan sudah memasuki area Perbukitan Avis. Benedict bisa melihat mereka keluar dari balik pepohonan karena ia adalah kapten yang ditugaskan berada di sisi paling depan yakni bukit yang menjadi sasaran utama pasukan kerajaan.


"Kenapa jumlah mereka lebih sedikit dibanding yang kita perkirakan?" Heran Benedict.


Benedict menyadari satu hal yang membuatnya bertanya-tanya, yaitu ia merasa heran kenapa jumlah pasukan kerajaan yang menyerang Stabia jauh lebih sedikit dibanding yang telah mereka kira.


"Bahkan jumlah itu jauh lebih kecil dibanding tentara yang ada di Attica," lanjut ajudannya.


Apa bala bantuan yang diberikan oleh Chandax hanyalah rumor belaka? Kenapa mereka berani masuk area ini dengan pasukan yang sedikit seperti itu? pikir Benedict.


Walaupun secara kasat mata hal ini adalah suatu keuntungan bagi pihak pemberontak, akan tetapi instingnya merasakan ada hal yang sangat janggal sedang terjadi.


\==============


Sementara itu di luar area Avis, pasukan kerajaan yang tersisa sedang menunggu giliran untuk memasuki area perbukitan, satu gelombang yang secara bertahap maju berisikan 14.000 personel dengan 7 kaptennya masing-masing.


Ktuplak! Ktuplak! Ktuplak!


Dari salah satu sudut terlihat Roderick sepertinya berperan sebagai kapten kehormatan karena situasi darurat yang mengharuskannya untuk mengambil bagian penting dalam peperangan ini, Hengki yang sedari awal telah menemaninya semenjak datang ke Wilayah Attica otomatis menjadi bagian pasukan yang dipimpin oleh Roderick. Bahkan saking seringnya Hengki mendampingi Roderick selama beberapa hari ini membuat orang asing mengira Hengki adalah ajudannya.


"Tuan Roderick!"


Ketika pasukan Roderick sedang bersiap-siap tiba-tiba datang Bobs beserta tentaranya menyapa Roderick lalu menghampirinya.


"Maafkan aku karena telah melibatkanmu ke dalam pertempuran ini tuan," ucap Bobs kepada Roderick.


"Tak apa! Lagi pula aku mungkin akan merasa bosan jika hanya berdiam diri dan melihat dari kejauhan," jawab Roderick.


Ucapannya ini bukan hanya sekedar pemanis bualan saja, Roderick dari awal perjalanan memang merasa ingin sekali berpartisipasi di dalam peperangan menghadapi pemberontak ini.


"Apa benar begitu?" tanya Bobs.


Sepertinya Bobs mengira Roderick tengah berbohong, ia tidak ingin membuat orang yang ia hormati ini merasa tidak enak karena terpaksa ikut dalam peperangan.


"Iya, lagi pula aku penasaran akan satu hal," ucap Roderick.


Ketika ia mengatakan 'penasaran akan satu hal' matanya melirik ke arah kanan di mana Hengki berada, meski Roderick tidak memalingkan wajahnya tapi matanya jelas sekali melirik ke arah Hengki yang sedang celingak celinguk melihat bukit tandus yang terus ia tatap sejak tiba di sini.


"Baiklah kalau begitu, jika ada sesuatu yang anda butuh kan langsung saja kirim pesan kepadaku."


Bobs sepertinya tidak sadar kalau Roderick tadi melirik ke arah Hengki, ia tampak masih merasa tidak enak hati kepada seniornya ini.


Setelah obrolannya berakhir, Bobs lantas bergerak kembali untuk mengarahkan pasukannya yang lain.


Sementara di lain sudut Dominic sedang berdiam diri ditemani sang ahli strateginya Elias.


"Ya ampun, sepertinya sebentar lagi akan banyak pertumpahan darah di depan sana. Sialan... bisa-bisanya jelata seperti mereka dapat memberikan perlawanan ketat sampai-sampai bisa menguasai Stabia," ucap Dominic.


"Tampaknya kita terlalu meremehkannya selama ini, tapi tetap saja wilayah kita tidak mungkin bisa ditaklukkan oleh mereka, haram hukumnya bagi rakyat jelata seperti mereka menginjakkan kakinya di Kastel Naupaktos yang sangatlah mulia." balas Elias dengan sangat percaya diri.


\==============


Dari dalam area perbukitan, pasukan kerajaan yang telah memasuki area Avis semakin mendekat ke tempat di mana Benedict dan pasukannya berjaga.


Pasukan yang dipimpin oleh Benedict berjumlah 20.000 personel sementara lawan yang sedang mendekatinya sebanyak 14.000, di atas kertas jelas Benedict sangat diunggulkan karena jumlah personel yang lumayan jauh lebih banyak dibanding lawannya, akan tetapi ketika peperangan berlangsung semua hal dapat terjadi.


"Mereka datang!" ucap ajudan Benedict sambil menunggangi kuda di samping tuannya ketika melihat pasukan kerajaan sudah semakin dekat.


Hubert telah menempatkan kapten-kapten yang mendampinginya di Avis pada beberapa titik di dalam perbukitan Avis ini sesuai strateginya dan Benedict adalah kapten yang ditunjuk sebagai pemimpin yang berada di garda paling depan. Alasannya masih belum diketahui.


"Tuan Alfred!"


Dari sisi Pasukan Chandax yang sebentar lagi akan berhadapan dengan Benedict, terlihat ada yang memanggil satu sosok dengan nama Alfred.


"Setelah melihat bukit yang ada di depan sana, sepertinya ada musuh dengan jumlah yang lumayan banyak sedang bersiap untuk menyambut kedatangan kita."


Ternyata ia adalah seorang pembawa pesan yang mengabarkan kalau di depannya sudah ada pasukan pemberontak yang siap menyambut kedatangannya.


"Tentu saja aku tahu, Aku merasakan banyak mata yang sedang melihat ke arah kita dari bukit itu sejak kita memasuki area ini," jawab Alfred.


"Apakah kita akan pergi duluan untuk melawannya?" tanya kapten lainnya kepada Alfred.


"Tunggu, Jan. Bukan kita yang berhak memulai pertempuran ini," jawab Alfred.


"Apa?" bingung Jan.


Jan tampak bingung kenapa Alfred tidak berhak memulai peperangan duluan padahal ia adalah kapten dengan jabatan paling tinggi dari pasukan Chandax yang berangkat di gelombang pertama ke dalam perbukitan ini.


( Penjelasan mengenai jabatan kapten :


Kapten I = Memimpin 60 personel.


Kapten II = 120 personel.


Kapten III = 180 Personel.


Kapten IV = 240 personel.


Contoh : Alfred Kapten IV, Ajax Kapten I dan Jan Kapten II. Sementara itu orang yang disebut Ajudan bisa dibilang setara dengan Kapten IV dimata politik namun yang menjadi pembedanya adalah Ajudan tidak memiliki jumlah personel yang terbatas seperti kapten pada umumnya, Sang Ajudan bisa memimpin dengan yang sangat banyak atau bahkan sangat sedikit.)


*Note jabatan ini hanya ada di sisi kubu Kerajaan Socotre dan tidak berlaku bagi kubu lainnya seperti kubu pemberontak.


"Kau harus mementingkan aspek politik! Saat ini pemeran utamanya bukan kita. Orang-orang Attica memiliki sifat sombong yang lumayan akut dan saat ini peran kita hanyalah pemberi bala bantuan jadi mereka yang harus memulai pertempuran terlebih dahulu." ucap Alfred kepada Jan.


Sesaat setelah mengucapkan itu, pasukan Chandax lalu diam serentak sebagai kode untuk menunggu aba-aba yang akan diberikan oleh pihak dari pasukan Attica.


"Gila! Apa-apaan suara itu?!" "Suaranya menggema sampai sini!" Mendengar ada teriakan dari kubu kerajaan membuat pihak pemberontak menjadi lumayan gentar, wajar mereka merasa kaget karena dengan jarak seperti itu bisa ada teriakan yang sampai ke telinga kubu pemberontak adalah suatu hal yang sangat tidak mereka kira sebelumnya.


"...DENGAN INI, MEREKA AKAN KITA LENYAPKAN! KITA HARUS HENTIKAN MEREKA SEBELUM SEJARAH MENCATAT PERISTIWA MEMALUKAN INI LEBIH LANJUT LAGI! DAN ORANG YANG AKAN MENGHENTIKANNYA ADALAH KITA! PASUKAN DARI ATTICA!"


Dengan pidatonya yang sangat kencang itu, ia menggenjot mental pasukannya agar lebih semangat dalam memberangus para pemberontak yang akan mereka hadapi.


Akhirnya waktunya telah tiba, pikir salah satu kapten muda yang mengenakan tombak dari Pasukan Attica.


"YEAHHH!" kapten yang lainnya kemudian menjadi lebih semangat setelah mendengar pidato atasannya tadi.


"AKU KAPTEN IV DARI WILAYAH ATTICA! CASSIUS GARDNER! TELAH MENDAPATKAN WEWENANG UNTUK MEMULAI PERTEMPURAN INI! APA KALIAN SIAP?! SEMUANYA SEEER-"


"MAJUUUUU!"


Kesal karena sedari tadi musuhnya yang bernama Cassius itu berteriak dengan sangat kencang, Benedict tanpa pikir panjang langsung menyela pidatonya tersebut dengan memerintahkan pasukannya untuk maju melawan pasukan kerajaan, ia langsung turun dari bukit tempatnya jaga ke bawah menuju barisan pasukan kerajaan berada.


"Huh?" Cassius kemudian kaget ketika pidatonya yang membara itu momennya telah di curi oleh musuh.


MBERRR! KTUPLAK! KTUPLAK!


Benedict langsung maju menggunakan kudanya lari ke arah pasukan kerajaan berada.


"IKUTI KAPTEN KITA!" Teriak ajudan Benedict yang memerintahkan pasukannya untuk maju mengikuti pemimpinnya itu.


"YEAHHHH!" Teriak pasukan pemberontal.


Kini mental tempur dari kubu pemberontak justru malah kembali membara ketika kaptennya Benedict merusak momen dari pidato musuh dan langsung memerintahkan pasukannya untuk menerjang lebih awal.


"A-apa yang terjadi?" tanya Jan.


"Sial! Sepertinya orang yang memimpin pasukan pemberontakan itu merasa kesal dengan pidatonya!" ucap Alfred.


Alfred kemudian menarik pedang dari punggungnya dan berteriak, "Semuanya! Bersiap!"


"Yeah!" teriak pasukan Chandax.


"SIALAN! SEMUANYA MAJUUUU! KITALAH YANG SEHARUSNYA MEMULAI PERANG INI!" teriak Cassius kepada pasukannya.


KTUPLAK! KTUPLAK!


Sial situasinya menjadi tidak karuan begini, pikir Jan yang juga sedang bergerak maju untuk bertempur menghadapi para pemberontak.


\==============


Debu dari hentakan kaki kuda yang berjumlah sangat banyak itu terbang jauh di udara yang membuatnya bisa terlihat hingga ke tempat di mana pasukan kerajaan yang lain sedang bersiap-siap.


"Sepertinya mereka sudah mulai bertarung," ucap Roderick.


"Menurutmu siapa yang akan menang?" tanya Hengki.


\==============


"Gawat, barisan kita menjadi acak-acakan."


Kembali ke medan pertempuran. Jan tampak sedang panik karena barisan dari pasukan kerajaan saat ini menjadi acak-acakan setelah komando yang diberikan oleh Cassius gagal tadi yang membuat komunikasi antar lini menjadi kurang jelas dan tidak kompak.


"Mereka datang, siapkan senjata kalian!" teriak pasukan kerajaan yang ada di paling depan.


"Jangan ragu! Kita bisa menembusnya!" perintah ajudan Benedict kepada pasukannya.


"HYAHHH!" gertak Benedict.


DUWARRR!


Dengan perawakannya yang sangat gempal membuat tenaga yang diberikan oleh Benedict menjadi sangat besar, dengan sekali terjang ia langsung mementalkan pasukan kerajaan yang sudah bersiap untuk menghadangnya.


"HWAAAH!" teriak Benedict sesaat setelah berhasil masuk ke barisan musuh.


BUKK! DAKK!


Bukan hanya tombaknya saja yang mematikan bahkan kuda yang ditumpangi oleh Benedict juga ikut menyerang musuh dengan cara menginjak badan dan kepalanya hingga tewas.


Dan setelah itu tentara pemberontak yang lainnya juga ikut masuk ke barisan lawan dengan sangat mudah.


CLEB! SLEB! CLEB!


Satu persatu tentara kerajaan jatuh dari kudanya lalu dengan mudah senjata musuh menembus tubuhnya.


Hanya dalam satu serangan pasukan kerajaan yang berjumlah 14.000 itu sudah mengalami kerugian yang sangat besar.


Melihat pasukan yang ada di baris depan keteteran ketika menghadapi musuh, Alfred sontak memerintahkan pasukannya untuk berhenti dengan cara mengangkat pedangnya ke atas.


Sial! Mereka sudah masuk ke dalam barisan kita... pikir Alfred.


Sepertinya ia melihat sudah tidak ada lagi jalan menuju kemenangan disisi pasukan kerajaan di gelombang pertama ini.


\==============


HWAAAH!


Teriakan yang berasal dari dalam perbukitan itu bahkan sampai ke telinga pasukan kerajaan lain yang masih ada di luar area Avis.


"Sepertinya yang menang kubu pemberontak," jawab Roderick kepada Hengki yang sebelumnya bertanya siapa yang akan menang.


"Hmm..." Kalau begini yang ada malah membuang-buang jumlah tentara saja, pikir Hengki sambil melirik ke arah Elias yang berperan sebagai ahli strategi.