
"Apa aku boleh duduk di sampingmu?" Sebelum mengobrol dengannya Ajax lalu meminta izin kepada Hengki untuk duduk di sebelahnya.
"Kalau mau duduk, ya duduk saja langsung." Hengki sebenarnya lumayan merasa risi atas perlakuan yang diberikan oleh Ajax kepada dirinya, ia tidak terbiasa dihormati oleh orang lain seperti ini sebelumnya.
Ajax kemudian duduk di sebelah Hengki. Ia terus menerus menyentuh hidungnya supaya bisa menghilangkan rasa gugup ketika berbicara kepada Hengki.
"Aku ingin berterima kasih kepadamu karena sudah mengandalkanku di pertempuran kemarin," Ajax membuka obrolannya dengan mengucapkan rasa terima kasih yang sangat tulus kepada Hengki, ia mengungkapkan itu sambil melepaskan pelindung kepalanya (Helm) dan kemudian ia genggam erat pelindung kepala tersebut dan menempelkannya tepat di dadanya.
"Oke... Sama-sama..." Hengki agak terkejut setelah mendengar Ajax berterima kasih dengan sangat tulus kepadanya.
Wajar saja Hengki kaget, karena di pertempuran kemarin Hengki menganggap Ajax dan pasukan yang dipimpin olehnya itu bersedia untuk ditumbalkan olehnya asal mereka bisa membalaskan dendam atas kematian tuannya.
Jadi bagi Hengki, Ajax bisa diibaratkan tumbal supaya rencananya berjalan dengan sangat sukses.
"Sudah bertahun-tahun aku mengabdi pada tuanku dulu, Cyrus O'Brian. Bahkan pada saat beliau pertama kali menjabat sebagai Kapten IV, aku sudah menjadi bagian dari pasukannya." Ajax lantas bernostalgia sedikit tentang masa lalunya ketika ia mulai mengabdi kepada Cyrus.
Ketika Ajax membicarakan tuannya kepada Hengki, ia berekspresi dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
"Apa tuanmu mati ditangan orang yang kemarin memimpin para pemberontak?" tanya Hengki.
"Bukan, beliau tewas ditangan orang yang jauh lebih beringas daripada orang yang kemarin kita hadapi."
Ajax memberitahu Hengki kalau tuannya itu bukan dibunuh oleh Benedict, melainkan oleh orang yang lebih ganas lagi yaitu Redjack.
"Sampai sekarang, aku masih menyesali keputusanku untuk melarikan diri pada saat tuanku sedang dikepung oleh musuh, aku merasa beliau tewas akibat ulahku yang sangat pengecut ini."
Ia lantas meluapkan dilemanya serta penyesalannya kepada Hengki, ia merasa kalau orang yang telah membinanya dari kecil itu mati karena dirinya.
Ajax semakin memegang erat pelindung kepalanya itu, bahkan ia terlihat seperti mencengkeramnya dengan sangat kuat, sampai-sampai Ajax tidak memedulikan rasa sakitnya padahal tangannya masih terluka.
"Tidak perlu menyesal begitu. Kalau kau ingin menyalahkan seseorang atas kematian tuanmu, maka yang patut untuk disalahkan adalah tuanmu itu sendiri, si pembunuh atau orang yang telah menyebabkan perang ini terjadi."
Hengki berusaha untuk menenangkan batinnya Ajax yang sedang merasa gundah gulana akibat kematian Cyrus. Ia menyarankan Ajax kalau sepatutnya yang harus disalahkan itu bukan dirinya melainkan tuannya itu sendiri, atau orang yang terlibat langsung pada saat Cyrus tewas.
Setelah Hengki berkata seperti itu, mereka berdua kemudian terdiam untuk beberapa saat. Ajax berusaha untuk merenungkan kembali atas apa yang sudah membuat dirinya merasa menyesal seperti ini.
"Anggap saja kematian tuanmu itu sebagai tanda kalau kau sekarang sudah lulus dari masa pengabdianmu kepadanya. Kini sudah saat kau bebas untuk memutuskan sendiri jalan apa yang akan kau ambil," ucap Hengki.
Ia bilang kepada Ajax, supaya dirinya bisa menganggap kematian tuannya itu sebagai tanda kelulusan baginya. Kini sudah saatnya Ajax bebas untuk memilih sendiri apa yang akan ia lakukan kelak untuk masa depannya nanti.
Setelah diberi nasihat seperti itu, Ajax kemudian mengendurkan cengkeramannya. Kini batinnya sudah mulai merasa tenang.
"Anda ada benarnya juga Tuan Hengki, terima kasih atas nasihatnya," ucap Ajax, ia berterima kasih kepada Hengki karena sudah menenangkan dirinya. Tidak salah ia mencurahkan semua kegalauannya kepada Hengki.
"Bisakah kau berhenti memanggilku tuan dan juga jangan gunakan kata 'anda', aku ingin muntah setiap kali mendengarnya..."
Hengki benar-benar risi jika dirinya dihormati terus oleh Ajax.
Ketika Ajax ingin meminta maaf kepada Hengki, tiba-tiba saja datang seseorang yang dari tadi sudah memendam rasa penasaran dan rasa kesal kepada Hengki.
Dari jauh saja auranya sudah terasa sangat kuat.
"Kauuuu!..." Dengan nada panjang orang itu menegur Hengki.
Dan ternyata orang yang menghampiri mereka berdua adalah Roderick.
Waduh... Aku lupa kalau dia pasti akan penasaran dengan apa yang telah kulakukan kemarin. Setelah melihat Roderick menghampirinya dengan aura yang sangat mencekam, Hengki kemudian ingat kalau ia telah melakukan perbuatan yang akan membuat Roderick geram dan juga kesal, karena kemarin Hengki merahasiakan semua idenya kepada Roderick.
"Cepat jelaskan semuanya kepadaku..., Jangan ada yang ditutup-tutupi lagi, PAHAM!" Roderick mengatakan itu sambil mendekatkan wajahnya yang seram tepat ke depan mukanya Hengki.
Hengki kemudian mengeluarkan keringat dingin dan semua badannya menjadi kaku, ia ngeri dengan ekspresi dan aura yang keluar dari Roderick.
"Ba-baiklah, aku akan jelaskan semuanya...," sambil gugup Hengki mengiyakan perintah Roderick.
"Bagus! Kalau begitu cepat jelaskan semuanya kepadaku."
Roderick tidak menjauhkan mukanya dari depan mata Hengki, ia ingin mendengar semua penjelasan Hengki sambil menatapnya terus seperti ini.
Gila... Seram sekali.. Ajax yang melihat Hengki sedang diinterogasi oleh Roderick, hanya bisa diam tak berani untuk melerainya.
{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}{}
(っ^▿^)
Terima Kasih sudah membaca episode 41.2 yang berjudul 'Curahan Hati Ajax' ini. Bagi kalian yang mungkin bertanya, kenapa Author menulis penomoran episode itu menjadi 41.1 atau 41.2 tidak langsung saja ke episode 42 sama 43? Jawabannya karena Author merasa tiap episode itu ceritanya terlalu singkat dan peristiwa ceritanya juga masih berhubungan erat dengan episode sebelumnya, jadi author khawatir nanti kalian merasa alurnya itu menjadi sangat lambat kalau episodenya langsung loncat ke nomor berikutnya.
Jadi penomoran episode seperti ini tuh supaya nanti ketika novel ini sudah menyentuh ratusan episode, Author bisa dengan mudah memangkas jumlah episodenya dengan cara menyatukan beberapa episode menjadi satu episode saja.
Untuk kalian yang suka dengan ceritanya boleh Like, Share dan jangan lupa tambahkan ke favorit supaya kalian tidak ketinggalan dengan update cerita selanjutnya. Atau kalian juga boleh menyisihkan beberapa poin yang kalian miliki untuk hadiah.
Dan untuk kalian yang ingin memberikan saran, kritik, promosi, apresiasi dan yang lainnya, bisa sampaikan saja langsung pada kolom komentar yang ada di bawah yah.
(っ ͡~ ͜ʖ ͡°)っ🎔 またね ( Mata ne )