
Setelah menunggu sekian lama akhirnya pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Roderick sudah di perintahkan untuk memasuki area perbukitan, Roderick yang memimpin di depan mengatur para pasukannya sambil dipandu oleh Ajax Traverse.
Akan tetapi ada hal yang membuatnya bingung yakni setelah memasuki area perbukitan ia sama sekali tidak melihat kehadiran 'Asistennya' Hengki.
Roderick lantas bertanya kepada pemandunya Ajax, "Ke mana anak itu?"
Ajax yang mendengar pertanyaan dari Roderick lantas diam sesaat sebelum menjawab, "Umm... Maksudnya Hengki? Aku tidak tahu."
Ya, lagi-lagi dengan jelas Ajax menampakkan ekspresi kalau ia sedang berbohong. Roderick tambah penasaran dengan jawaban dustanya ini padahal tadi pagi Hengki dengan percaya diri bilang kalau pertempuran ini akan dimenangkan oleh kubu kerajaan, akan tetapi sekarang justru ia malah menghilang.
Apa itu hanya bualannya saja? pikir Roderick sambil mengingat percakapannya pagi tadi bersama Hengki.
"Setidaknya dia tidak akan mati di usia muda."
Walaupun agak merasa kecewa karena ia menganggap Hengki hanya membual mengenai kemenangan pasukan kerajaan, akan tetapi Roderick mensyukuri ketidakhadiran Hengki karena itu akan membuatnya terhindar dari ancaman kematian di usianya yang masih sangat muda.
"Terus? Apa yang kalian bicarakan semalam?" tanya Roderick.
"Umm... Bukankah sudah dijawab kalau semalam kita hanya membicarakan langit yang sangat indah," jawabnya.
"Kau ini!?"
Roderick kesal karena Ajax masih saja berbohong dan menutupi apa yang mereka bicarakan semalam, tapi ia juga tidak mau memaksa Ajax untuk membuka obrolan rahasianya itu, karena Roderick menganggap mungkin saja itu hanyalah obrolan biasa yang berkaitan dengan hal pribadi yang sifatnya aib.
Belum selesai dengan rasa penasarannya mengenai kelakuan Hengki dan AJax, Roderick juga kini lagi dan lagi dibuat heran karena pemandunya ini Ajax dan pasukannya terlihat sama sekali tidak membawa satu pun kuda, padahal kemarin mereka terlihat jelas menunggangi kuda bahkan yang membuatnya heran lagi adalah mereka malah membawa panah sebagai senjatanya, bukan tameng ataupun tombak padahal mereka hanya berjalan kaki di mana mobilitasnya pasti sangat rendah maka dari itu sudah sewajarnya mereka membawa tameng kalau tidak menggunakan kuda.
"Di mana kuda-kuda kalian!?" tanya Roderick.
"I-itu mereka sedang sakit jadi tidak bisa kami bawa," jawabnya.
"Tch, ada apa sih dengan kalian ini!" Roderick mulai kesal dengan sikap Ajax ini.
"Ma-maafkan saya tuan, tapi ini demi kemenangan kita juga."
Kali ini Roderick melihat apa yang diucapkan oleh Ajax bukanlah sebuah bualan atau alasan belaka. Meski omongannya terbata-bata karena gugup tetapi ketika ia bilang 'demi kemenangan kita...' jelas sekali apa yang diucapkannya ini didasari dengan rasa percaya diri yang cukup tinggi. Walaupun badannya tertunduk merasa bersalah karena menyembunyikan sesuatu seperti itu akan tetapi matanya menyala seperti siap menyambut kemenangan yang ia yakini akan tiba.
Melihat ekspresinya itu membuat Roderick kembali dibuat semakin penasaran.
Meskipun Roderick sudah semakin kehilangan harapan untuk memenangkan pertempuran ini, akan tetapi mau tidak mau ia harus bersikap berani dan terlihat gagah di depan para tentara yang dipimpinnya apalagi ia adalah pemimpin tunggal di sini.
\==============
Sementara di kubu pemberontak. Benedict dan para pasukannya sedang bersiap memantau situasi di sekitar perbukitan.
"Mereka bergerak cukup lambat hari ini."
Salah satu personelnya bilang kalau pasukan kerajaan bergerak cukup lambat hari ini karena mereka masih belum melihat adanya tanda-tanda penyerangan.
"Bodoh! Mana mungkin orang-orang angkuh seperti itu dengan mudahnya menyerah!"
Akibat dari pertanyaan yang tidak masuk akal itu ia jadi kena omel Benedict, dari hasil pertempuran kemarin sudah bisa ia simpulkan kalau orang dari Wilayah Attica ini memiliki karakter yang sangat sombong dan jemawa. Ia yakin kalau mereka tidaklah mungkin akan menyerah semudah itu.
"Maafkan aku bos," ucapnya minta maaf.
\==============
Sedangkan dari sisi lainnya, terlihat ada satu orang misterius sedang menyiapkan sesuatu dari dalam hutan. Ia tampak sedang membawa air yang lagi dituangkannya di sekitar pepohonan.
Setelah selesai menuangkan cairan itu, ia lantas menghampiri seseorang yang dari tadi mengawasinya.
"Apa sudah sesuai dengan apa yang kau mau?" tanyanya.
"coba kulihat dulu."
Ketika orang itu menampakkan dirinya dari balik pohon besar, ternyata orang yang mengawasi dari tadi adalah Hengki, mereka berdua sepertinya sedang menyiapkan sesuatu.
"Baiklah, Kerja bagus, karena kau sudah selesai menuangkannya aku akan langsung pergi ke bukit tandus itu. Kau tunggu aba-abanya dulu baru mulai bergerak." Perintah Hengki kepada orang tersebut.
Ketika hendak pergi, Hengki lantas ditanyai oleh orang tadi sebuah pertanyaan, "Apa kau yakin rencana ini akan berhasil?"
Mendengar pertanyaannya itu, Hengki tanpa pikir panjang dan dengan percaya diri menjawab, "Ya iyalah, kalau ini tidak berhasil tidak mungkin Kublai Khan bisa mengontrol klannya."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, tapi selama ini bisa membalaskan dendam kami, apa pun risikonya akan kita lakukan," jawabnya dengan sangat tegas.
"Tapi... Apa kau yakin akan melakukannya? kau sama saja bunuh diri loh."
Hengki mengingatkan kembali orang itu kalau risiko dari apa yang akan ia lakukan ini kemungkinan besar bakal merenggut nyawanya.
"Sudah kubilang, selama kita bisa balas dendam kepada para pemberontak itu apa pun akan dilakukan," jawabnya lagi.
"Ya sudah, tapi alangkah baiknya tinggalkan namamu dulu," ucap Hengki kepadanya.
"Louie Lane," jawab orang itu yang ternyata bernama Louie Lane.
"Baiklah Louie Lane, semoga kau bisa selamat meski kemungkinannya sangat kecil, tapi jika kau gugur nanti akan kujamin namamu terpampang jelas di gerbang kastel yang akan kita rebut nanti."
Hengki lantas membuat janji kepada orang yang bernama Louie itu, sebagai ucapan perpisahannya Hengki bilang kalau jika Louie ini tewas nanti maka namanya akan di kenang sebagai pahlawan dalam upaya merebut Kastel Stabia.
"Terima kasih tuan yang sangat terhormat."
Louie lantas menunduk kepada Hengki, lagi lagi orang menganggap kalau Hengki adalah ajudannya Roderick yang otomatis memiliki jabatan tinggi padahal bukan. Apalagi wibawa Hengki terlihat sangat kuat.