
Singkat cerita, keesokan harinya para pemberontak dibawah pimpinan Hubert de Hatters yang telah diberi tugas untuk mempertahankan area Perbukitan Avis mundur jauh ke dalam Kota Blum.
Mereka terpaksa mundur karena asap tebal yang menutupi tempat persembunyiannya itu tak kunjung hilang bahkan sampai hujan sudah reda. Mereka merasa asap tersebut justru membuat mata mereka merasa perih dan khawatirnya saluran pernapasan mereka menjadi rentan terkena penyakit fatal jika terlalu lama berada dalam kebulan asap tersebut.
Oleh karena itu Hubert dan Redjack sepakat untuk memilih mundur saja ke Kota Blum.
Keputusan yang diambil olehnya ini jelas membuat pihak kerajaan seakan-akan telah memenangkan pertempurannya di Perbukitan Avis dengan sangat telak.
Padahal di hari pertama perang dimulai. Pihak pemberontak jauh lebih unggul dibanding pihak kerajaan karena mereka dengan mudahnya membunuh 2 kapten IV sekaligus dari pihak kerajaan yakni Alfred dan Cassius.
Sial bagi mereka karena kekalahan telak Perfectum Iudicium ini juga akan tercatat dalam buku-buku sejarah nanti, karena baru pertama kali ada pihak yang menang dengan sangat telak ketika bertempur di dalam area Perbukitan Avis.
Namun sangat amat disayang sepertinya yang akan tercatat sebagai pahlawan bukanlah sosok asli yang menjadi otak dibalik terbentuknya strategi ketika pertempuran terjadi (Hengki) melainkan yang akan tercatat sebagai pahlawan adalah...
Prok.. Prok..
"Aku tidak menyangka di usiamu yang sudah sangat senior ini, anda dapat memenangkan pertempuran dengan amat sangat cerdik, maaf jika sebelumnya saya terlalu menganggap anda remeh tuan." puji Elias.
Elias terlihat menyanjung Roderick, ia memuji kecerdikan Roderick karena telah berhasil mengalahkan musuh dengan cara yang sangat cerdik.
"Tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya untuk membakar pepohonan yang ada supaya musuh yang sedang bersembunyi merasa panik dan ketakutan. Hahaha... Sepertinya taktik untuk menghadapi jelata memang harus menggunakan cara kotor yah."
Meskipun Dominic menyebut membakar hutan adalah cara yang kotor, tapi ia merasa kalau memang harus seperti itu untuk menghadapi rakyat jelata yang bisanya hanya sembunyi dibalik perbukitan dan tak berani untuk tempur di medan terbuka.
Prok.. Prok..
Semua yang ada di sana kemudian tepuk tangan kembali ke arah Roderick, mereka lantas menganggap bahwa Roderick memang layak disebut legenda hidup.
Sementara Roderick yang menerima sanjungan itu ingin sekali menyanggah seraya berkata kalau sebenarnya dalang dari ini semua adalah anak muda yang selalu mendampinginya yakni Hengki.
Tapi ia tak bisa mengungkapkan hal tersebut karena tepat disebelahnya berdiri, ada Hengki yang justru ikut bertepuk tangan ke arahnya.
"Anda sangat hebat." ucap Hengki dengan nada yang sengaja di buat keras olehnya.
Bagi Roderick yang tahu tentang kebenarannya ia sadar dengan jelas kalau Hengki sedang berakting pura-pura tidak tahu dan malah ikut memuji-muji dirinya.
Bobs yang melihat kalau orang yang dikagumi ternyata mampu menang dengan mudah merasa malu karena sebelum pertempuran dimulai sudah mengkhawatirkan keselamatan roderick yang seakan-akan ia sudah meremehkannya.
Kenapa aku malah meremehkan beliau? Apa aku sudah merasa paling hebat karena menjabat sebagai panglima!? pikirnya sambil memandang ke arah Roderick, rasa kagum Bobs terhadapnya kemudian semakin meningkat.
"Ha-Haha... Te-terima kasih, Terima kasih."
Roderick dengan kikuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah memuji kinerjanya.
"Pfft.."
Berdiri di sebelah Roderick, Hengki yang melihatnya kikuk berusaha untuk menahan tawa dengan menutup mulut menggunakan kepalan tangan kanannya.
"Untuk merayakan kemenangan karena telah merebut area yang sebelumnya belum pernah ditaklukkan ini, Bagaimana kalau kita adakan pesta di malam hari nanti?"
Ajudan Bobs yang selalu membawa panah itu kemudian memberi sebuah saran untuk mengadakan pesta besar di malam nanti sebagai simbol perayaan atas kemenangan kubu kerajaan karena telah berhasil merebut area Avis.
Dominic menyambut positif ide yang diberikan olehnya, ia lantas menyuruh semua orang agar menyiapkan kebutuhan untuk pesta malam nanti.
Ia menyuruh anak buahnya mengumpulkan batang pohon yang tergeletak di tanah sebanyak-banyaknya untuk dibuat api unggun nantinya.
Sedangkan Bobs menyuruh ajudannya yang membawa panah berburu hewan liar untuk dijadikan santapan pada saat pesta berlangsung nanti malam.
Terlihat semuanya sangat antusias sekali, kecuali Hengki.
Bukannya tidak antusias, tetapi Hengki memang tidak terlalu nyaman dengan suasana yang ramai. Ia kemudian menjauh sedikit dari keriuhan yang sedang terjadi.
Tadinya Roderick yang melihat Hengki pergi seorang diri berniat untuk menghampirinya dan memintanya untuk menjelaskan kenapa ia membuat suatu rencana tanpa sepengetahuannya terlebih dahulu.
Namun sepertinya momennya masih belum tepat, karena kini Roderick sedang dikerubungi oleh beberapa tentara yang telah menjadi pengagum beratnya. Mereka terdengar memuji-muji kecerdikan Roderick.
Ketika yang lainnya sibuk satu sama lain untuk menyiapkan pesta, Hengki justru malah menghampiri kereta kuda yang telah digunakan olehnya semenjak berangkat dari Kastel Naupaktos.
Tadinya ia berniat untuk istirahat siang terlebih dahulu, namun ternyata keinginannya itu sirna karena kereta kuda yang digunakan untuk mengangkut penumpang telah dialih fungsikan menjadi wagon darurat yang dipakai untuk menampung para petinggi sekelas kapten yang sedang terluka parah dan juga kuda yang dipakai untuk mendorong kereta tersebut sudah tidak ada lagi.
\==============
"Apaaa?!"
Sedangkan jauh di Kastel Stabia sana.
Gui Champernon yang diam menunggu pesan sudah mendengar kabar buruk tentang mundurnya pasukan yang dipimpin oleh Hubert ke Kota Blum, dan ia sangat terkejut karena ini menjadi kekalahan pertamanya semenjak memberontak kepada kerajaan.
"Apa Hubert sudah gila?! Kenapa dia malah mundur bak pecundang seperti itu?!"
Ia benar-benar marah karena Gui merasa apa yang telah dilakukan oleh Hubert sudah mencemari kejayaan yang sedang dibangun olehnya.
Apalagi ini akan menjadi sejarah baru dimana pertama kali ada pasukan yang kalah dengan sangat telak pada pertempuran yang terjadi di Avis.
"Sialan!... Kenapa dia bisa-bisanya kalah dengan sangat mudah seperti ini?!" bentaknya lagi sambil bertanya kenapa Hubert yang biasanya menang dengan sangat cerdik malah dipaksa untuk mengalah dan memutuskan mundur terlebih dahulu dengan waktu yang sangat singkat.
"Ada kabar kalau hutan yang ada di perbukitan itu dibakar oleh kubu kerajaan tuanku," jawab si pembawa pesan itu tanpa mengangkat kepalanya yang masih menunduk ke arah Gui.
Mendengar jawaban darinya membuat Gui bingung dan bertanya lagi, "Bagaimana caranya mereka membakar hutan itu?! Bukankah akan sangat mudah bagi pasukan kita untuk memadamkan api ketika kubu kerajaan mencoba untuk membakar pepohonan yang ada."
Gui mengira kalau pasukan kerajaan membakar pohon yang ada di sana satu demi satu, jadi ia pikir akan sangat mudah ketika kubu kerajaan mencoba untuk membakar hutan, karena ketika ada asap kecil yang keluar dari terbakarnya beberapa pohon yang muncul mereka harusnya dengan sigap memadamkan api tersebut.
"Kami tidak tahu kenapa hutan itu bisa terbakar dengan sangat hebat seperti itu tuan, karena tuan Benedict dan pasukannya yang menjaga di garda terdepan juga belum ada yang kembali satu pun," jawabnya.
"Hah? Tidak mungkin Benedict bisa dikalahkan dengan sangat mudah, setidaknya dia pasti bisa mundur meski terluka cukup parah. Tidak.. Itu tidak mungkin."
Gui sangat kebingungan dengan keadaan yang sedang terjadi, ia tidak ingin percaya dengan apa yang dikatakan oleh pembawa pesan tersebut.
Sampai kapan pun ia tidak akan mengetahui bagaimana caranya hutan itu bisa terbakar dengan sangat cepat.
Karena dalam sejarahnya di dunia ini belum pernah ada orang yang berpikir dan menerapkan strategi untuk membakar hewan supaya bisa digunakan sebagai taktik dalam suatu peperangan.