
Setelah menempuh perjalanan melewati Daratan Prousos yang lumayan panjang, kini gabungan pasukan Attica dan Chandax sudah dekat dengan perbatasan Wilayah Stabia.
Karena perbatasannya dikelilingi benteng alam yang kuat yakni perbukitan yang dikenal dengan nama Avis, mereka tidak bisa sembarangan masuk ke Wilayah Stabia dengan begitu mudahnya, karena kemungkinan besar kubu pemberontak sudah menyiapkan pasukannya di sekitaran perbukitan Avis itu.
Terlebih lagi karena perbukitan inilah dalam sejarah jadi tidak pernah ada peristiwa di mana Attica berhasil menaklukkan Stabia atau sebaliknya karena setiap mereka saling bentrok di Perbukitan Avis pasti dari masing-masing kubu menderita kerugian yang sangat besar.
Rombongan Attica dan Chandax kemudian memperlambat pergerakannya sebelum masuk ke area Avis.
Bobs dan Dominic yang didampingi ajudannya masing-masing bertemu di tengah-tengah barisan pasukan terlebih dahulu untuk mendiskusikan rencana apa yang akan mereka lakukan.
"Dengan seluruh kekuatan yang kita miliki, apa kita yakin bisa menembus perbukitan ini?" tanya salah satu ajudan Bobs yang membawa panah itu.
"Mereka pasti memasang pertahanan berlapis di sana," jawab Elias sambil menunjuk ke arah Avis yang ada di depan mereka.
"Lalu? apa yang harus kita lakukan? aku tidak punya ahli strategi di pihakku, jadi keputusannya tergantung dari idemu sekarang," tanya Bobs kepada Elias.
Saat ini Chandax memang tidak memiliki seorang ahli strategi oleh karena itu Bobs menyerahkan semua rencana perang kepada rekan aliansinya Elias.
"Iya, apa yang akan kita lakukan?" lanjut Dominic.
"Kita tidak mungkin bisa menembus perbukitan itu dengan sembarangan. Oleh karena itu, kita akan menyerangnya secara bergiliran," terang Elias.
Ia berpendapat bahwa mereka harus menerobos Avis secara bertahap, idenya ini lantas membuat semua orang keheranan, dan wajar saja mereka merasa heran karena menyerang Avis dengan kekuatan penuh pun sudah sangat sulit apalagi menyerangnya secara bertahap.
"Bergilir?" ucap Dominic sambil mengerutkan dahinya, ia ingin ahli strateginya ini menjelaskan idenya dengan sangat gamblang supaya lebih masuk akal untuk diterima oleh orang lain.
"Kita tidak boleh menyia-nyiakan personel yang ada walaupun kita memiliki jumlah pasukan yang lumayan banyak, karena itu bisa menurunkan kekuatan tempur kita pada saat menyerbu Kastel Stabia nanti. Pertama-tama kita harus mengambil alih bukit yang ada satu-persatu agar kita juga memiliki jangkauan yang luas untuk melihat area sekitar."
Elias menerangkannya dengan cukup detail, ia berasalan kalau mereka tidak boleh terburu-buru untuk menerobos Avis karena musuh saat ini memiliki keuntungan yang tidak dimiliki olehnya yakni musuh memiliki jangkauan yang cukup luas untuk melihat medan tempur nanti, oleh karena itu Elias ingin secara bertahap merebut bukit-bukit yang ada terlebih dahulu.
"Tapi tetap saja itu akan sulit untuk dilakukan bukan?" ucap Bobs.
Bobs sepertinya lumayan menerima ide Elias karena memang apa yang disampaikannya cukup masuk akal, tapi tetap saja merebut bukit secara bergiliran itu sangat sulit dan tidak realistis, yang ada malah mereka akan kehabisan jumlah tentara nantinya.
"Hanya sampai 4 bukit saja," balas Elias.
"4 Bukit?" tanya Bobs yang bingung kenapa hanya 4 bukit.
"Tch, orang pulau sepertimu pasti tidak tahu apa pun tentang area di Perbukitan Avis."
Dominic kemudian meledek Bobs dengan menyebutnya orang pulau yang tidak tahu apa-apa tentang Avis.
"Sialan! Apa katamu?!"
Bobs kemudian kesal, ia menatap Dominic dengan tatapan tajamnya.
karena dikelilingi oleh hutan yang sangat lebat, wajar jika orang yang tidak pernah ke Perbukitan Avis ini sangat awam dengan letak geologisnya. Dari sekian banyak bukit yang ada di Avis terdapat 3 bukit yang paling tinggi dan salah satunya terletak setelah 3 bukit dari selatan lurus ke utara. Meski bukan yang tertinggi tapi menguasai bukit itu akan menjadi keuntungan besar untuk pasukan Dominic dan Bobs dalam menguasai area sekitar.
"Asal kau tahu, dibalik 3 bukit yang ada di depan terdapat salah satu bukit yang paling tinggi di Avis," terang Dominic.
"Ngomong dari awal sialan!" geram Bobs.
Bobs kesal karena ia dan pasukannya tidak diberitahu mengenai detail perbukitan itu sejak mereka tiba di Attica.
Di saat semuanya tengah berdiskusi, tiba-tiba muncul sekelompok pasukan menghampiri mereka yang keluar dari dalam perbukitan itu.
"Ada yang datang?!"
Salah satu ajudannya Bobs yang menggunakan panah melihat sekelompok orang dengan senjata ditangannya berlari menghampiri pasukan Chandax dan Attica berada, dengan refleksnya ia langsung membidik kelompok itu menggunakan panahnya.
"Kalem! Mana mungkin lawan menghampiri kita seperti itu!" Elias lantas menyuruh ajudan Bobs dan semua yang ada di sana untung tenang.
Sementara itu di sisi kelompok yang tengah berlari menghampiri pasukan Chandax dan Attica mereka tampak begitu antusias.
"Itu mereka! Akhirnya mereka tiba!" teriak orang yang paling depan dari kelompok tersebut.
Setelah semakin mendekat, Bobs dan yang lainnya kemudian menyadari bahwa kelompok yang menghampirinya itu adalah bagian dari tentara Stabia yang sepertinya telah melarikan diri. Hal itu terlihat jelas dari pelindung kepalanya yang memiliki lambang perbukitan.
"Sialan! untung saja anak buahku tidak menembak kalian! kenapa kalian berlarian seperti itu?!" tanya Bobs kepadanya.
"A-Ampuni saya, sa-saya adalah seorang kapten yang memimpin 56 tentara, kami baru saja melarikan diri dari kejaran musuh." Orang itu kemudian memberitahu mereka dengan gugup bahwasanya ia baru saja melarikan diri dari pertempuran bersama tentara yang ia perintah.
"Tenangkan dulu dirimu, pertama-tama siapa namamu dan siapa atasanmu?"
Elias lalu berusaha menenangkan orang itu beserta pasukan yang dipimpin olehnya, ia kemudian bertanya terlebih dahulu siapa dia dan siapa tuannya.
"Maaf, saya Ajax Traverse dan atasan kami ialah Cyrus O'Brian seorang Senechal yang mengabdi di Wilayah Stabia, ke-kemungkinan besar be-beliau telah dibunuh olehnya."
Ternyata ia adalah Ajax Traverse, seorang kapten yang memerintahkan anak buahnya untuk melarikan diri ke Wilayah Attica. Pada saat ia memberitahu siapa atasannya, Ajax tampak sedih karena ia menganggap kalau atasannya itu sekarang pasti sudah tewas dibunuh oleh musuh.
"Olehnya? siapa yang kau maksud?" tanya Dominic kepada Ajax, ia ingin tahu siapa yang dimaksud olehnya.
"Si bandit licik, Redjack Endog," jawab Ajax.
Ketika ia mengatakan namanya, Elias dan Dominic kemudian kaget, saking kagetnya bahkan sampai membuat kuda yang ditumpanginya juga ikut terkejut.
Mberrr! **Mberrr! **
"Sialan, kenapa orang sepertinya bisa masuk ke dalam kubu pemberontakan," ucap Dominic.
"Memangnya siapa orang yang bernama Redjack itu?" tanya Bobs sambil keheranan melihat reaksi Elias dan Dominic ketika mendengar nama Redjack.
"Sial! dia adalah pentolan bandit yang selama ini bersembunyi entah di mana, dia sebelumnya sering menjarah desa-desa dan membegal pedagang yang hendak lewat di sekitaran Stabia, Attica dan juga Bocotia. Tch... kenapa orang sepertinya bisa berkoalisi dengan kubu pemberontak," terang Elias kepada Bobs.
'Hehe..., Perfectum Iudicium apanya bajingan.'
Dominic kemudian tertawa kecil, ia merasa lucu ketika kelompok pemberontak yang dihadapinya menamai diri mereka Perfectum Iudicium (Penghakiman yang sempurna) tapi dilain sisi justru malah merekrut bandit yang selalu berperilaku kejam kepada semua orang yang ditemuinya.
\==============
"Whoaa (menguap)... kenapa kita malah berhenti. Panas sekali, kalau mau berhenti kenapa bukan di tempat yang teduh sih."
Dari dalam kereta yang tak memiliki atap itu, Hengki mengeluh kenapa rombongan ini malah berhenti di tempat terik yang membuatnya jadi kepanasan.
"Sepertinya mereka berdiskusi terlebih dahulu, aku juga tidak tahu kenapa bisa selama ini diskusinya," jawab Roderick sambil mengangkat kepalanya ke atas supaya bisa melihat situasi yang ada di depan, namun tetap saja pandangannya terhalang oleh pasukan yang ada di depannya.
"Tch... kenapa baru sekarang diskusinya, yang ada justru malah keburu malam," kesal Hengki.
"Wajar saja, mereka memang minim pengalaman."
Roderick lantas berusaha membuat Hengki untuk bisa lebih sabar karena yang memimpin pasukannya ini kurang pengalaman.
"Memangnya berapa lama lagi kita sampai di Stabia itu?" tanya Hengki.
"Sebenarnya bukit-bukit yang ada di depan itu adalah Wilayah Stabia," ucap Roderick sambil menunjuk ke arah Perbukitan Avis.
"Hmm... Jadi kemungkinan besar di dalam sana terdapat banyak sekali musuh yang sudah menunggu yah," ucap Hengki.
Hengki kemudian berdiri dan melihat jauh ke arah perbukitan yang ada di depan sana, ia kemudian diam sejenak sambil melihat ke arah salah satu bukit yang ada di sebalah kanan, bukit itu terlihat tidak terlalu tinggi dan terdapat sedikit pohon yang menutupi area sekitarnya, secara kasat mata bukit itu jelas sekali tidak cocok jika digunakan untuk sembunyi.
"Jadi kita harus gerilya yah," ucap Hengki.
Mendengar perkataan Hengki, Roderick kemudian melihat ke sekitar lalu berkata, "Iyah, sangat disayangkan padahal kita membawa pasukan yang sangat banyak, tapi harus bertempur di tengah hutan seperti itu, andai saja kita bertempur di dataran yang lapang ini pasti kita bisa menang dengan mudah."
Sambil mendengar perkataan Roderick, Hengki melihat ke arah Bobs dan Dominic berada sambil berjingkat. Ia diuntungkan karena menaiki kereta yang membuat pandangannya menjadi lebih luas. Ia melihat Bobs sepertinya sedang berbincang dengan pasukan dari kelompok lain.
"Siapa mereka?" tanya Hengki.
"Maksudnya?" jawab Roderick dengan menanyainya balik.
"Itu, sepertinya ada kelompok lain yang sedang berbincang dengan Bobs dan panglima dari Attica," terang Hengki.
Roderick lantas penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Hengki.
"Kau lihat saja lambang yang ada di pelindung kepalanya," jawab Roderick.
Hengki lalu menyipitkan matanya supaya bisa melihat jelas lambang apa yang ada di helmnya itu.
"Umm... Gunung? Eh... Bukan sepertinya bukit." ucap Hengki.
Roderick kemudian menjawab, "Ahh... kalau itu sepertinya mereka pasukan dari Wilayah Stabia yang masih tersisa, berapa jumlahnya?"
"1,2, Umm... kayaknya 50an," jawab Hengki.
\==============
"Kumohon... Saya ingin ikut untuk membalaskan dendam atas kematian tuan saya, Cyrus," ucap Ajax.
Ajax bilang kalau dirinya ingin ikut serta di pertempuran ini supaya bisa membalaskan dendamnya kepada Redjack karena telah membunuh tuannya.
"Boleh, kau gabung ke dalam pasukannya," jawab Dominic, ia memperbolehkan Ajax untuk ikut serta dan memerintahkannya bergabung ke dalam serdadu yang dipimpin Bobs.
"Brengsek kenapa kau berlagak seperti pemimpin tunggal sekarang!" marah Bobs.
"Ba-bagaimana jadinya, apa kami benar-benar diizinkan ikut."
Melihat Bobs yang marah kepada Dominic, Ajax kemudian bertanya lagi apa ia diizinkan untuk ikut serta.
"Ya sudah boleh, cepat masuk barisan!" perintah Bobs kepada Ajax dan pasukannya.
"Terima kasih."
Ajax dan pasukan yang dipimpinnya lantas memasuki barisan.
\==============
"Mereka masuk ke barisan ini," ucap Hengki ketika melihat kelompok dari Stabia itu berjalan ke arah barisan di sebelah kanan.
"baguslah kalau begitu, mereka bisa jadi pemandu di barisan ini."
Karena pasukan Chandax notabenenya tidak begitu familiar dengan medan tempur yang ada di Wilayah Stabia apalagi Perbukitan Avis, Roderick kemudian menanggapinya dengan positif kalau pasukan itu gabung di barisannya ini.
\==============
"Apa yang sedang dia lakukan."
Ketika hendak masuk ke dalam barisan. Pandangan Ajax kemudian teralihkan, Ia melihat ada seorang anak muda yang lagi menaiki kereta di tengah barisan itu sedang melihat ke arahnya terus dari tadi.